Avelin, seorang gadis muda yang menikah dengan pria matang bernama Zayn, kini harus menelan pil pahit ketika ia mendapati sang suami telah berselingkuh dengan cinta pertamanya.
Bukannya melabrak, Avelin justru menyusun rencana untuk membalas perbuatan mereka dengan cara yang lebih kejam.
Setelah ia mendapati wanita itu memiliki anak seusianya, ia menjadikan putra satu satunya wanita itu sebagai alat balas dendamnya.
" Velin, aku tahu kamu mendekati aku hanya sebagai alat balas dendammu kepada ibuku. Aku terima semua itu asalkan aku bisa tetap bersamamu. Aku mencintaimu Velin, maukah kau tetap bersamaku meskipun hanya sebagai pionmu?"
Apakah kedekatan mereka selama ini mampu menumbuhkan perasaan cinta di dalam hati Avelin, atau justru hanya kebencian yang mendarah daging dalam dirinya?
Yuk dukung kisah mereka hanya di sini!
Di sarankan membaca dari awal sampai akhir agar tidak mempengaruhi performa karya ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon swetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRAGEDI BENCANA
" Aku akan memaafkanmu kalau Velin memaafkanmu. Tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau Velin juga tidak mau memaafkanmu. Maafku tergantung bagaimana Velin memaafkan semua perbuatanmu." Ujar Bram menatap Velin.
Ibu mana yang tidak sakit hati mengetahui sang putra lebih memihak kepada orang lain.
" Velin, aku mohon maafkan aku demi putraku! Aku akan menerima apapun hukumanmu asalkan kamu mau memaafkanku dan mengembalikan putraku." Pinta Siska menatap Velin.
" Sayangnya aku tidak sebaik itu." Sahut Velin. " Aku tidak sudi memaafkan kalian berdua. Hubunganku dengan kalian akhiri saja sampai di sini. Kedepannya jika bertemu denganku, anggap saja kita tidak pernah saling kenal."
Setelah mengatakan itu Velin segera meninggalkan ruang tamu itu.
" Sayang tunggu!" Zayn ingin mengejar namun Daniel menghalanginya.
" Saat ini emosi Velin sedang labil, biarkan dia tenang dulu baru anda bisa menemuinya tuan." Ujar Daniel.
Dipikir ucapan Daniel ada benarnya, Zayn pun menyetujuinya. Ia akan membereskan Siska lebih dulu.
Daniel pun segera menyusul Velin. Di depan halaman rumah Zayn, nampak Bram mencekal tangan Velin. Ia menghentikan langkahnya memberi waktu untuk mereka berdua. Meskipun ia mencintai Velin, namun ia harus bisa menghargai pilihan Velin.
" Velin, aku tahu kamu sengaja menjadikan aku alat balas dendammu kepada ibuku. Sekarang dendammu sudah terbalaskan, aku mohon tetap ijinkan aku berada di sisimu meskipun hanya sebagai pionmu."
Velin tidak menjawab ucapan Bram, ia merasa bimbang. Di sisi lain ia ingin meninggalkan masa lalunya, namun di sisi lain lagi ia merasa bersalah kepada Bram.
Bram menggenggam tangan Velin, " Aku tahu ibuku sudah membuatmu menderita. Maka dari itu, ijinkan aku tetap bersamamu. Aku akan menebus semua penderitaanmu akibat perbuatan ibuku. Aku janji, aku akan selalu memberikan kebahagiaan kepadamu. Aku mohon jangan putuskan aku apalagi meninggalkan aku. Aku tulus mencintaimu. Andai kamu tahu bagaimana aku memendam perasaan ini selama satu tahun lebih, aku yakin kamu pasti bisa mempertimbangkannya." Ujar Bram.
" Satu tahun?" Velin mengerutkan keningnya. " Apa maksudmu satu tahun? Kita baru kenal beberapa bulan kak." Imbuh Velin.
Bram tersenyum menatap Velin, " Kamu ingat pria bermasker yang kamu semangati ketika dia terpuruk tidak mau hidup lagi?"
Velin mencoba mengingat ingat apa yang Bram bicarakan.
" Aku tidak mengingatnya." Sahut Velin menggelengkan kepala.
Bram mencoba mengucapkan kalimat yang sama dengan apa yang Velin ucapkan waktu itu.
Velin kembali mengingatnya, sepotong kepingan peristiwa waktu itu terbayang di kepalanya.
" Ya, aku ingat sedikit." Ujar Velin. Ia menatap Bram, " Apa kakak tampan itu kamu?" Tanya Velin.
" Iya, itu aku." Sahut Bram kembali menggenggam tangan Velin. Entah mengapa ia tidak rela jika genggaman itu lepas begitu saja.
" Apa kamu tahu?" Velin menggelengkan kepalanya.
" Saat itu aku merasa hidupku tidak berguna. Aku hanya akan menyusahkan om Zayn atau pun orang lain. Tapi setelah kamu memberiku semangat, tiba tiba aku begitu bersemangat untuk bangkit. Alasanku ingin bangkit dan meraih kembali impianku yaitu karena aku ingin bertemu denganmu suatu hari nanti. Aku ingin meminta janjimu yang mau menjadi teman hidupku. Aku tidak menyangka pada akhirnya Tuhan mempertemukan kita lagi. Mungkin sudah menjadi jalan jodoh kita untuk bersama. Dan mungkin sekarang saatnya kamu menepati janjimu padaku." Ucap Bram merapikan anak rambut Velin.
" A.. Aku.." Velin menjeda ucapannya.
" Jika kamu ingkar janji, maka aku akan mengembalikan nyawa ini ke masa itu. Aku tidak akan hidup lagi karena tujuanku hidup itu kamu." Ucap Bram. " Hanya kamu." Imbuh Bram.
" Tapi aku bukan wanita baik seperti yang kamu kira selama ini. Aku wanita licik yang dengan kejamnya membalas perbuatan ibumu dan suamiku. Aku telah menjadikan mereka gelandangan tanpa uang sepersen pun. Aku rasa, kamu akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku. Balas dendamku sudah terbalas, maka aku juga harus membebaskanmu." Ucap Velin.
" Aku lebih memilih di penjara bersamamu. Aku rela menjadi budakmu yang siap melayanimu kapan saja asalkan aku bisa tetap bersamamu. Aku mohon Velin! Aku benar benar tidak bisa hidup tanpamu." Ujar Bram.
Velin tetap diam, ia tidak tahu harus bagaimana.
" Aku tahu kamu wanita baik. Bahkan wanita terbaik yang pernah aku kenal selama ini. Kalau kamu benar benar wanita licik, kamu pasti akan menutup tempat usahaku. Aku tahu kamu pasti sudah menemukan bisnis usahaku selama ini. Kamu pasti juga tahu kalau bisnis yang aku jalani selama ini berasal dari uang suamimu. Tapi apa? Kamu tidak memintanya, itu artinya kamu wanita berhati baik Velin." Ucap Bram.
Velin menarik tangannya lalu menatap Bram, " Aku sengaja tidak memintanya karena kamu harus menafkahi ibu dan calon adikmu. Tapi bukan berarti aku menyimpan perasaan padamu. Sadarlah Bram! Kau hanya alat balas dendamku. Jadi mulai sekarang, jangan pernah temui aku lagi."
Cesss...
Hati Bram terasa di sayat pisau. Sakit namun tidak berdarah.
" Baiklah kalau itu mau kamu, aku tidak mau hidup lagi. Kau akan lihat kematian di depan matamu. Kau yang memberi hidup ini maka kau juga yang harus mengambil hidup ini."
Setelah mengatakan itu, Bram langsung berlari meninggalkan halaman rumah Zayn menuju jalan raya di depan gerbang. Velin nampak bengong sebelum akhirnya Daniel menghampirinya.
" Kejar dia Vel! Takutnya dia berbuat nekat."
" Hah???" Velin seperti orang linglung.
Daniel menarik tangan Velin, keduanya berlari mengejar Bram. Tepat ketika mereka sampai di depan gerbang, mendadak tubuh Velin terasa kaku begitu melihat Bram berdiri di tengah tengah jalan raya, sedangkan banyak kendaraan berlalu lalang.
" Astaga, dia beneran nekat Vel." Ucap Daniel.
" Haduh gimana ini Niel." Ucap Velin panik.
Tin.. Tin..
Suara klakson mobil terdengar begitu memekakkan telinga.
" Bram!!!" Teriak Velin namun tidak di indahkan oleh Bram.
" Velinnnnnn.. Aku mencintaimu. Kita akan bertemu di syurga nanti." Teriak Bram merentangkan kedua tangannya. Nampak sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah depan, Velin semakin panik. Ia tidak mau sampai tindakannya memakan korban.
" Awas Bram!!!" Teriak Velin.
Entah mengapa hati Velin semakin cemas, ia takut Bram kenapa napa. Tanpa sadar, ia menapakkan kakinya hendak menghampiri Bram, namun Daniel segera menyeretnya dan...
Brak...
Deg..
Jantung Velin terasa berhenti berdetak, ia menoleh ke belakang dan..
" Braaaaammm" Teriak Velin begitu melihat Bram tergeletak di atas aspal dengan tubuh berlumuran darah.
Tubuh Velin luruh, otot otot sendinya terasa lemas tak berdaya.
" Daniel, apakah ini mimpi? Bram baik baik saja kan." Lirih Velin.
" Tidak Vel, ini nyata. Kita terlambat menyelematkannya."
Mendengar itu Velin kehilangan kesadaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Velin membuka matanya perlahan. Ruangan khas bernuansa biru membuatnya mengerutkan keningnya.
" Vel kamu sudah sadar." Ucap Daniel.
" Aku dimana kak?" Tanya Velin.
" Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan karena syok." Sahut Daniel.
" Di.. Dimana Bram kak? Apa dia baik baik saja?" Tanya Velin khawatir.
" Dia.. Dia... " Daniel menjeda ucapannya.
" Katakan kak! Dia kenapa?" Desak Velin.
" Dia.... "
TBC...