NovelToon NovelToon
Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Perjalanan Menjadi Seorang Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Slice of Life / Karir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: MR. IRA

Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.

Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.

Namun Ivan tak menyerah.

Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.

Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...

Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Keributan di Babak Pertama

Peluit ditiup, aku langsung melakukan kick-off. Bola lalu ku umpan ke Kak Alfian, aku langsung berotasi ke depan dengan cepat. Bola terus mengalir di area pertahanan timku, Kak Alfian memindahkan bola ke Kak Ardi. Tapi, pressing tinggi dari Fikri, dia hampir berhasil merebut bola. Beruntung, Kak Ardi langsung mengoper ke depan.

"Nyaris!!" ujar Kak Ardi.

Bola yang menuju ke Kak Reno itu dengan cepat dipotong oleh pemain lawan dengan nomor punggung 12, ia menggiring bola langsung menuju ke area kota penalti timku.

"Ya, nomor punggung 12 berhasil merebut bola, dan sekarang membawanya menuju ke kotak penalti!!" komentator.

Putra yang berada di dekatnya langsung menekel keras, pemain lawan terjatuh ke tanah dengan agak keras. Beruntung itu tidak menyebabkan pelanggaran, bola berhasil diterima Kak Teo. Dengan cekatan, dia langsung menggiring bola ke depan, menyusuri bagain kiri pertahanan lawan. Aku ikut berlari ke depan, demi menunggu umpan yang akan diberikannya.

Kak Teo terus maju, sambil dibayang-bayangi 2 pemain lawan. Pemain lawan bernomor punggung 7, dengan berani dia menekal Kak Teo dari belakang. Kak Teo terjatuh dengan agak keras ke rumput. Disaat itu juga, wasit meniup peluit pelanggaran.

"Prittt!!!" suara peluit.

Wasit lalu mengeluarkan kartu kuning dari sakunya.

"Tapi sit?!" berontak nomor punggung 7.

"Tanpa tapi-tapi, ini sudah jelas!!" ucap wasit sambil menulis nama pemain itu.

"Ya, nampaknya free kick untuk Medika Jaya. Jaraknya mungkin sekitar 27 meter!!" ucap Komentator.

"Van!! Ambil nih free kick!!" teriak Kak Reno.

Aku langsung bersiap-siap mengambil free kick dari jarak yang relatif agak jauh. Kak Teo mendekati ku, lalu berbisik pelan.

"Kalau nggak yakin bola masuk ke gawang, mending umpan aja!!" bisiknya.

Aku mendengarkan saran dari Kak Teo, tapi keinginanku untuk membuat gol lebih besar dari pada membuat assist. Aku mundur beberapa langkah, melihat pagar hidup di depanku.

"Free kick dari jarak 27 meter. Apa Ivan akan bisa mencetak gol?" seru komentator.

Ivan menatap bola di depannya, bernapas agak panjang. Detak jantung dan adrenalinnya menaik drastis "Ini gol, aku dipuji. Ini nggak gol aku dicaci!!" batinku sebelum menendang bolanya.

"Ivan... Ivan... Ivan..." teriak para supporter dari tribun.

"Prittt!!!" suara peluit.

Aku berlari sekuat tenaga ke bola, mengayunkan kaki kananku dengan cepat. Lalu menendang bola dengan punggung kaki.

"Dus!!!" suaraku menendang bola.

Bola melesat dengan cepat, melambung agak tinggi melewati pagar hidup. Lalu melengkung indah yang langsung menuju ke arah pojok kanan gawang. Kiper melompat dengan sekuat tenaga hanya demi menggapai bola, namun sayang. Kiper hanya mampu menggapai angin yang dihasilkan bola itu, bola itu masuk dan bersarang ke gawang. Stadion seakan-akan berhenti, lalu meledak karena sorak-sorai penonton.

"Yeeee!!!"

"Prak... Prak... Prak..."

"Ivan... Ivan... Ivan..."

"Jaya... Jaya... Jaya..."

Aku langsung berlari ke pinggir untuk melakukan selebrasi, aku melakukan selebrasi seolah-olah sedang membawa tong.

"Ini dia, gol pertama Medika Jaya di menit ke 36... Nomor punggung 17, Ivan Alfarizi menciptakan gol spektakuler dari tendangan bebas. Sungguh luar biasa!!" ucap komentator.

"Mantap!!!" celetuk Kak Teo.

Seusai berselebrasi, aku kembali ke posisi untuk melakukan kick-off bagi lawan. Namun, tanpa sengaja aku melihat raut wajah Fikri yang marah. Dengan mata tajam melihat langsung kearahku, seakan-akan dia ingin menyampaikan kalau dia bisa membuat lebih baik dariku.

Pak Slamet meninju udara kosong, dari raut wajahnya, dia sangat senang dengan gol Ivan "Sudah kuduga, latihan tong itu pasti akan berguna!!" ucap Pak Slamet dari pinggir lapangan.

Pak Nur yang duduk di bench, dia tersenyum lebar ke arahku "Hahaha... Tidak salah, dia pasti bisa membuat Medika Jaya menang!!" ucap Pak Nur.

Kami kembali ke posisi masing-masing, aku masih sangat bahagia bisa membuat gol indah dari jarak yang cukup jauh itu.

"Prittt!!!" suara peluit kembali ditiup.

Bola bergulir ke lawan, mereka mengubah strategi. Sekarang, mereka bermain menyerang yang agak cepat. Dengan Fikri sebagai target man, Fikri berlari tepat di sampingku. Dari situ, aku melihat sesuatu yang sulit dipercaya dari auranya.

Nomor punggung 13 membawa bola, ia menggiring bola maju ke depan. Ia lalu mengoper ke Fikri depan diagonal. Fikri menerima umpan, berlari dengan cepat ke depan. Di depan ada Kak Ardi yang siap. menghadang, dia mencoba menekel Fikir. Namun, dengan lincah dang cepat, Fikri melompati Kak Ardi.

"Hah?!" ujar Kak Ardi bingung.

Sebelum Fikri benar-benar mendarat, Putra—yang terlambat membaca gerakan—meluncur dengan brutal! Tubuhnya menabrak Fikri di udara. "UGH!" Fikri terjatuh ke tanah dan berguling-guling menahan rasa sakit. Suara benturan itu keras dan mengerikan.

"Priittt!!!" peluit wasit menjerit nyaring, memecah udara.

Para pemain-pemain lawan langsung berkerumun. Nomor punggung 17 mendorong dada Putra dengan amarah.

"Lu mau bunuh orang, ha?!" teriaknya, wajahnya merah padam.

Dalam sekejap, lapangan berubah menjadi laut keributan. Aku hanya berdiri membeku, jantung berdebar kencang. Ini buruk. Ini sangat buruk. Wasit menerobos kerumunan, kartu merah sudah teracung di tangannya sebelum keributan benar-benar reda. Keputusannya sudah bulat.

Satu kartu merah diberikan ke Putra, dan dua kartu kuning diberikan ke pemain lawan yang dianggap sebagai provokator.

Tim medis langsung masuk ke lapangan, semua panik, komentator pun iku panik.

"Apa yang tengah terjadi? sungguh situasi buruk!!!" ucap komentator.

Putra keluar dari lapangan dengan berlinang air mata serta menundukkan kepalanya. Tim medis lalu mengecek Fikri, setelah beberapa saat. Mereka memberikan kode aman ke tim.

"Aman!!" teriak tim medis.

"Ya, tim medis memberikan kode aman. Dan ini akan menjadi free kick untuk Putra Cahya di jarak yang sangat dekat!!" ucap komentator.

Aku lalu mendekat, melihat Fikri yang mencoba berdiri dengan sekuat tenaga. Kami lalu membuat pagar hidup untuk mengatasi free kick.

"Woy!! agak ke kanan!!" teriak Andika sebagai kiper.

Setelah Fikri berdiri, dia lalu mencoba mengambil free kick. Aku hanya terpaku diam saat menjadi pagar hidup, karena melihat betapa kuatnya Fikri. Padahal dia sudah dilanggar dengan keras oleh Putra.

"Ugh... Ini sulit, tapi harus gol!!" ujarnya.

Fikri melangkah ke belakang untuk mengambil ancang-ancang. Langkahnya agak pincang.

"Priiitt!!" peluit ditiup.

Fikri berlari ke arah bola, mengayunkan kaki kirinya dengan cepat.

"Dus!!!" suara bola menggema.

Bersambung...

1
Protocetus
wkwk 🤣
Protocetus
Euy kapan update lagi?
Protocetus: Ya udah mampir ya bang ke novel baru Remontada. Bab 3 sama 4 belum selesai revisi
total 4 replies
PORGALIARG 77
Gokillll
Protocetus: Gk update2 nih novel padahal dah tak tunggu
total 1 replies
Crimson
wkwkw/Grin/
Crimson
woa jancok baru baca kalimat paragraf pertama langsung ada karakter toxik. kwkwk
IRAWAN: Author lagi emosi pas nulis /Joyful/
total 1 replies
Crimson
lama banget up nya min, emang nya akhir2 ini ngapain?
Crimson: yoi./Facepalm/
total 4 replies
Crimson
udah up aja nih/Chuckle/
IRAWAN: Wah, ternyata di pentengin terus nih /Shy/
total 1 replies
Anul Pendekar
mantap thor
IRAWAN: Makasih bro😭😭
total 1 replies
IRAWAN
Makasih broo/Sob//Sob//Sob/
Crimson
semangat bro
Crimson: santai bro wkwkwk
total 6 replies
IRAWAN
Buat kalian yang mau kasih masukan ke novel ini, boleh banget kok. Kalian bisa comment di bawah ya 👇👇
Khunaiv Mumtaz
masih sama, Pak Slamet tegas
Ira Wan
Bagus, akhirnya nemu novel bola yang nggak gitu-gitu aja ceritanya
PORGALIARG 77: lah inikan akun sendiri
total 1 replies
Khunaiv Mumtaz
Kasian Ivan, sampai pingsan. Pak Slamet tegas banget
IRAWAN
Sabtu
Protocetus
kapan min kejuaraannya?
aurel
hai Thor aku sudah mampir, yuk mampir juga di karya aku " istriku adalah kakak ipar ku"
Protocetus
min up spesial Agustus 😁
IRAWAN: Ehm... Iya, tamat chapter 1 di bab 20 nanti. Chapter 2 menunggu
total 5 replies
IRAWAN
Maaf bang, masih sibuk ngurusin proker
Protocetus
min up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!