NovelToon NovelToon
Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Diam-Diam Cinta
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.

Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin

Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.

Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya

Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Agnes Dirawat

Malam itu, suasana rumah Tante Isabel dipenuhi keheningan.

Semua koper telah tersusun rapi di ruang tamu.

Tina berdiri sambil memandangi setiap sudut rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya selama delapan belas tahun.

Rumah itu bukan sekadar tempat berteduh, di sanalah ia tumbuh.

Di sanalah ia belajar berjalan, berbicara, tertawa, dan mengejar cita-citanya.

Isabel menghampiri Tina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Sudah siap, Sayang?" Ucap Isabel

Tina mengangguk pelan.

"Sudah, Omah."

Fisya yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya memperhatikan dengan senyum tipis.

Ia tahu...

Perpisahan ini tidak akan mudah.

Bik Lili membawa koper terakhir menuju mobil.

"Bu, semua barang sudah masuk."

Fisya mengangguk.

"Baik."

Beberapa menit kemudian mereka berempat keluar rumah.

Sebelum pintu ditutup... Tina menoleh sekali lagi.

Matanya memandang rumah yang selama ini memberinya begitu banyak kenangan.

"Ayo, Sayang," ucap Fisya lembut.

Tina mengangguk dan mereka masuk ke dalam mobil dan Isabel memilih menyetir sendiri menuju bandara.

Sepanjang perjalanan... Tidak ada yang banyak berbicara.

Suasana begitu sunyi, sesekali Isabel melirik Tina melalui kaca spion, dadanya terasa sesak.

Ia tahu...

Mulai malam ini rumahnya akan terasa sangat sepi.

Sementara Tina menggenggam tangan Fisya.

"Mama..."

"Iya, Sayang." Jawab Fisya

"Aku pasti akan sering menelepon Omah" ucap Tina

Fisya dan Isabel tersenyum

"Tentu." Ucap Fisya

"Omah juga pasti sering menghubungimu." Jawab Isabel sambil menyetir

Tak lama kemudian mobil memasuki area bandara.

Bik Lili menurunkan koper dan Fisya mengurus proses keberangkatan.

Sementara itu... Isabel memeluk Tina erat, pelukan itu berlangsung cukup lama.

"Omah..." Suara Tina mulai bergetar.

Isabel mengusap rambut gadis itu.

"Omah bangga sama kamu jadilah anak yang selalu mendengarkan Mama, jaga diri baik-baik."

"Dan jangan pernah berubah menjadi anak yang sombong."

Air mata Tina akhirnya jatuh.

"Aku pasti kangen sama Omah"

"Begitu juga Omah! Kalau ada waktu, pulanglah kesini dan Omah akan selalu menunggumu." Ucap Isabel

Tina mengangguk sambil menangis.

"Aku janji."

Isabel lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.

"Ini untukmu."

Tina membukanya perlahan, di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana.

"Ini milik Almarhumah nenek mu Omah menyimpannya selama bertahun-tahun sekarang saatnya kalung ini menjadi milikmu."

Tina langsung memeluk Isabel kembali.

"Terima kasih, Omah"

"Aku akan menjaganya."

Bik Lili yang melihat pemandangan itu ikut mengusap air matanya.

"Nyonya Isabel, terima kasih atas semua kebaikan nyonya selama delapan belas tahun ini saya disini"

"Ya bik, saya yang seharusnya berterima kasih karena bibi telah banyak membantu menjaga cucuku Tina" Ucap Isabel sedih

Isabel memeluk bik Lili karena baginya bik Lili bukan hanya sekedar seorang pembantu melainkan keluarga

Pengumuman keberangkatan mulai terdengar dan Fisya mendekati mereka.

"Tan... Saatnya kami masuk." Ucap Fisya

Isabel mengangguk meski berat.

"Jaga Tina."

Fisya menggenggam tangan Isabel.

"Terima kasih sudah menjaga putriku selama ini."

Isabel tersenyum.

"Tidak perlu berterima kasih karena Tina juga cucu Tante."

Mereka pun saling berpelukan.

Tak lama kemudian...

Fisya, Tina, dan Bik Lili memasuki ruang keberangkatan.

Isabel masih berdiri memandangi mereka hingga ketiganya menghilang di balik pintu pemeriksaan.

"Semoga Tuhan menjaga kalian."

Beberapa saat setelah duduk di ruang tunggu... Fisya mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Sebastian

("Selamat malam, Bu.") Ucap Sebastian

Di indonesia menunjukan waktu jam dua pagi

("Sebastian.") Panggil Fisya

("Iya, Bu.") Jawab Sebastian

("Maaf ganggu, ada sedikit perubahan jadwal, Pesawat kami kemungkinan baru mendarat sore hari.") Ucap Fisya

("Baik, Bu. Besok sore saya akan menjemput Ibu dan Non Tina.") Jawab Sebastian

("Lalu... Kalau Jason bertanya apa pun... Biarkan saja dan jangan jelaskan apa pun.") Tegas Fisya

Sebastian langsung mengerti.

("Baik, Bu. Saya paham.")

Telepon pun ditutup.

Fisya tersenyum kecil, permainannya baru saja dimulai.

***

Keesokan paginya.

Jason bangun jauh lebih awal dari biasanya, ia mengenakan pakaian terbaiknya, hari itu hanya ada satu tujuan di kepalanya.

Bertemu Tina.

"Akhirnya... Ayah akan bertemu denganmu."

Ia segera menuju bandara, sesampainya di sana...

Jason berdiri di dekat pintu kedatangan internasional.

Matanya terus memperhatikan setiap penumpang yang keluar.

Di dalam pikirannya sudah tersusun berbagai rencana.

Kalau nanti Fisya datang... Ia akan berpura-pura tidak sengaja bertemu.

Kalau Fisya bertanya... Ia akan mengatakan sedang menunggu seorang teman.

Dengan begitu... Fisya tidak akan curiga.

Jam demi jam berlalu namun... Fisya tidak juga muncul dan Tina juga tidak terlihat.

Jason mulai gelisah, ia kembali melihat layar informasi penerbangan.

Semua penerbangan dari Swiss sudah selesai.

Tetapi... Nama Fisya tidak juga muncul.

Sementara itu... tidak berapa jauh dari tempat Jason menunggua

Salah satu orang kepercayaan Fisya sedang memperhatikan Jason

Ia segera mengirim pesan.

**Bu, Tuan Jason sudah berada di bandara sejak pagi. Beliau terus menunggu di pintu kedatangan.**

Tak lama kemudian...

Balasan dari Fisya masuk.

**Tetap awasi. Jangan sampai dia tahu kita sedang mengamatinya.**

Orang itu kembali membalas.

**Baik, Bu.**

Saat membaca laporan itu...

Fisya hanya tersenyum.

Ia menatap Tina yang sedang membaca buku di ruang VIP bandara transit.

Lalu bergumam dalam hati.

*"Silakan tunggu aku, Jason."*

*"Kalau perlu tunggu sampai malam."*

*"Hari ini kamu tidak akan bertemu aku."*

*"Tidak juga bertemu Tina."*

*"Kita akan bertemu besok pagi..."*

*"Di kantor."*

Senyumnya semakin lebar.

***

Sementara itu... Jason mulai kehilangan kesabaran.

Sudah hampir siang dan ia berkali-kali melihat jam tangannya.

"Kenapa belum datang? Dan Sebastian juga tidak kelihatan."

"Sebenarnya ada apa?"

Ia mencoba menghubungi Sebastian namun teleponnya tidak diangkat.

Jason semakin kesal hingga akhirnya, ia mengepalkan tangan.

"Brengsek! Aku dikerjai!"

Dengan wajah penuh amarah... Jason meninggalkan bandara dan mobilnya melaju kencang menuju kantor.

***

Beberapa jam kemudian...

Jason tiba di kantor dan tanpa membuang waktu, ia langsung berjalan menuju ruang kerja Fisya.

Pintu dibuka.

Kosong.

Ia lalu menuju ruang Sebastian, ruangan itu juga kosong.

Jason mulai kesal.

Saat itulah ia melihat seorang karyawan sedang membawa beberapa berkas.

"Sella." Panggil Jason

Wanita itu langsung berhenti.

"Selamat siang, Pak Jason."

"Sebastian masuk hari ini?" Tanya Jason

"Iya, Pak." Jawab Sella

"Mana dia?" Tanya Jason lagi sambil celangak celinguk

"Pak Sebastian baru saja keluar." Ucap Sella

"Keluar ke mana?" Tanya Jason lagi penasaran

"Beliau tadi memimpin rapat mewakili Bu Fisya dan setelah rapat selesai, beliau langsung pergi karena mendapat tugas dari Bu Fisya." Jelas Sella

Jason langsung membeku.

"Apa?"

"Iya, Pak maaf hanya itu saja yang saya tahu." Ucap Sella

Sella pun kembali bekerja.

Sementara Jason berdiri dengan wajah memerah.

"Brengsek kalian"

Lalu Jason berjalan cepat menuju ruangannya.

Brak!

Pintu dibanting keras.

Ia langsung mengambil ponselnya dan nama Kasandra muncul di layar.

Telepon segera tersambung.

("Halo, Sayang.") Suara Kasandra terdengar ceria.

("Aku gagal.") Jason menggertakkan giginya.

("Gagal kenapa dan ada apa?") Tanya Kasandra yang belum mengetahui apapun

Jason menjelaskan semuanya pada Kasandra tentang percakapan Sebastian di telpon dengan Fisya

("Apaaa! Tina kembali kesini hari ini") Ucap Kasandra dengan nada terkejut

("Ya tapi Fisya mengubah jadwal, aku menunggu di bandara dari pagi sampai siang tapi dia tidak datang.") Jelas Jason

Kasandra terdiam beberapa detik.

("Lalu?")

("Aku yakin dia sengaja melakukannya, dia pasti sudah tahu aku menunggu.") Ucap Jason

Jason mengepalkan tangannya.

("Tapi... Sekarang aku sudah tahu satu hal.")

("Apa itu?") Jawab Kasandra

("Tina benar-benar kembali ke Indonesia? Kita tinggal menunggu waktu dan tidak lama lagi... kita akan bertemu dengannya.") Ucap Jason

Di ujung telepon...

Kasandra langsung tersenyum lebar.

("Benar juga?")

("Akhirnya, Aku sudah menunggu hari ini selama delapan belas tahun.") Suara Kasandra dipenuhi kegembiraan.

("Aku ingin melihat wajah Tina dan aku ingin dia memanggilku Mama.") Ucap Kasandra

Jason ikut tersenyum penuh arti.

("Itu akan segera terjadi dan saat hari itu tiba... permainan kita memasuki babak baru dan kita akan menjadi orang kaya dan akan kita usir Fisya dari rumahnya sendiri")

("Ya aku sudah tidak sabar menunggu akan hal itu") Ucap Kasandra

Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari balik pintu kamarnya.

Tok... tok... tok...

Dengan wajah kesal, Kasandra mematikan layar ponselnya, lalu berjalan menghampiri pintu.

Ceklek...

Pintu terbuka.

"Ada apa? Mengganggu saja!" tanya Kasandra dengan nada tidak sabar.

Di depan pintu, Bik Nisa berdiri dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca.

"Maaf, Bu... Non Agnes panasnya sangat tinggi. Tolong, Bu... bawa Non Agnes ke rumah sakit," ucap Bik Nisa memohon.

Kasandra hanya melipat kedua tangannya di dada.

"Aku tidak peduli. Aku mau istirahat."

"Bu... saya mohon, badannya sangat panas, saya takut terjadi apa-apa," pinta Bik Nisa lagi.

"Kamu saja yang bawa dia berobat. Aku tidak mau membawa dia. Nanti mobilku kotor." Ucap Kasandra ketus

Ucapan itu membuat hati Bik Nisa semakin sesak.

"Tapi Bu, saya..."

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Kasandra sudah menunjuk ke arah luar.

"Cepat keluar dari sini! Aku mau istirahat!"

Brak!

Pintu ditutup begitu saja di depan wajah Bik Nisa.

Wanita paruh baya itu hanya mampu mengusap air matanya, tanpa membuang waktu, ia segera berlari menuruni tangga menuju kamar Agnes.

Agnes masih terbaring lemah, wajahnya memerah karena demam tinggi, sementara napasnya terdengar berat.

"Yang kuat ya, Non... kita pasti cari pertolongan," bisik Bik Nisa sambil mengelus kening Agnes.

Dengan tangan gemetar, Bik Nisa mengeluarkan ponselnya

Orang pertama yang terlintas di pikirannya hanyalah Fisya.

Telepon pun segera tersambung.

("Halo, Bik Nisa?") suara Fisya terdengar dari seberang.

("Nona Fisya...") suara Bik Nisa langsung bergetar.

("Ya Bik, ada apa?") Tanya Fisya

("Bu tolong Non Agnes... panasnya sangat tinggi. Saya sudah meminta Bu Kasandra mengantar ke rumah sakit, tapi beliau menolak.") Ucap Bik Nisa

Wajah Fisya langsung berubah serius.

("Bagaimana keadaan Agnes sekarang?")

("Badannya sangat panas bu, saya takut terjadi sesuatu.") Jawab bik Nisa

("Tenang, Bik.") Nada bicara Fisya tetap tenang, tetapi penuh ketegasan.

("Saya akan mengirim orang sekarang juga. Jangan biarkan Kasandra tahu. Tetap tunggu di depan rumah bersama Agnes") Ucap Fisya

("Baik, Nona. Terima kasih... terima kasih banyak.") Ucap bik Nisa terharu

("Jangan khawatir. Agnes akan segera mendapat pertolongan, nanti setelah saya sampai Indonesia, saya akan segera kerumah sakit dan akan membawa Agnes keluar dari rumah neraka itu") Ucap Fisya dengan tegas

Mendengar ucapan Fisya, Nisa langsung meneteskan air mata

("Ya bu, sekali lagi terima kasih")

Setelah panggilan berakhir, Fisya langsung mengambil ponselnya yang lain.

("Saya ingin kalian segera menuju alamat yang saya kirim. Jemput Bik Nisa dan Agnes sekarang juga.")

("Baik, bu.")

("Ingat, lakukan diam-diam. Jangan sampai Kasandra mengetahui kalian datang.") Perintah Fisya

("Siap.")

Tak sampai lima belas menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter dari rumah Kasandra agar tidak menarik perhatian.

Dua orang kepercayaan Fisya turun dengan sigap.

"Bik Nisa?" tanya salah seorang dari mereka.

"Iya... saya." Jawab bik Nisa

("Kami diperintahkan Nona Fisya untuk menjemput Anda dan Non Agnes.") Ucap orang suruhan Fisya

Mereka segera membantu menggendong Agnes yang tubuhnya masih panas dan tidak sadarkan diri.

Mobil itu kemudian melaju meninggalkan rumah dengan tenang, sementara lampu kamar Kasandra masih padam.

Wanita itu sama sekali tidak menyadari bahwa Agnes telah dibawa pergi untuk mendapatkan pertolongan.

Sesampainya di rumah sakit, petugas medis langsung membawa Agnes ke ruang penanganan darurat.

Beberapa tenaga medis segera memeriksa suhu tubuh, tekanan darah, dan memasang infus untuk menstabilkan kondisi Agnes.

Bik Nisa melihat Agnes sudah mendapatkan penanganan, ia mengembuskan napas lega.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya bik Nisa penuh khawatir.

Dokter yang baru selesai memeriksa Agnes menatap bik Nisa dengan wajah serius.

"Untung ibu membawanya tepat waktu, demamnya sangat tinggi kalau terlambat beberapa jam lagi, kondisinya bisa jauh lebih berbahaya, untuk sementara, kami akan merawatnya sampai kondisinya benar-benar stabil." Ucap Dokter menjelaskan

Mendengar penjelasan itu, Bik Nisa langsung menangis haru.

"Syukurlah"

1
Ma Em
Arman awas jgn lalai jaga Sebastian ada orang datang untuk mencelakai Sebastian lagi , Arman hrs waspada .
Ma Em
Semua ga Sebastian cepat sadar jgn sampai Baron bisa celaka lagi untuk kedua kalinya , Jason kamu terlalu ambisi untuk menguasai harta orang sehingga Jason melalukan segala cara agar TDK ada orang yg menghalangi niat busuknya , semoga kejahatan Jason dan Kasandra segera terungkap dan membusuk dipenjara .
Ma Em
Semoga Sebastian selamat dan cepat sehat kembali , dan Baron cs segera tertangkap agar terbongkar siapa yg membayar Baron untuk membunuh Sebastian .
Yeni Astriani: udah jelas yg Jason yg menyuruh Baron untuk mencelakai Sebastian, semoga orang kepercayaan Sebastian bertindak.
nanti pas ultah Tina seret Jason dan Kasandra ke dalam penjara apalagi hukuman Jason berlapis.
total 1 replies
sunaryati jarum
Jangan.lupa dikunci , ruangan Fisya dan pengawasan terhadap Jason dan Kasandra.Kamu.telpon dulu Tina , jangan buru-buru
Ma Em
Sebastian kena jebakan Jason dan Kasandra , hati2 Sebastian kamu hrs waspada kalau kamu celaka Jason akan senang karena TDK ada lagi penghalang untuk melakukan apapun pada Fisya dan Tina .
sunaryati jarum
Nah sudah ada sedikit jalan untuk mengetahui ayah Tina, sebenarnya Kasandra tahu,dia kan dalangnya.Delspsn belas tahun tersimpan rapat ,maka sekarang sesuai rencana Fisya akan dibongkar.Untuk memastikan Tina itu putri kamu Sebastian ,segera tes DNA.Emak sudah tidak kali ini usul ,Nak Bastian.😄😄😄
sunaryati jarum
Emak tidak sabar melihat Jason dan Kasandra hancur dikuliti karena kejahatannya dibongkar Fisya di depan umum.Ada ya ibu yang hanya demi harta bukan haknya tega menyuruh seseorang untuk membunuhnya.Agnes sekarang tidak bisa kau sentuh Kasandra , karena orang - orang Fisya dan Sebastian selalu melindunginya.Kamu tidak tahu jika telepon kamu telah diretas oleh orang - orang Fisya dan gerak - gerikmu juga tak lepas dari pengawasan mereka.Jadi makin kau banyak melakukan rencana kejahatan pada Agnes dan Fisya maka makin banyak bukti kejahatan kamu di tangan Fisya
Ma Em
Semoga Sebastian segera bisa membuktikan bahwa wanita yg tidur dgn Sebastian adalah Fisya dan Tina adalah anak kandung Sebastian .
Ma Em
Sudah tdk sabar nunggu waktu terbongkarnya kejahatan Jason dan Kasandra , Kasandra skrg suruh orang untuk menculik Agnes bahkan Agnes untuk dibunuh , Kasandra setelah tau kebenaran nya bahwa Agnes anak kandung nya pasti Kasandra dan Jason akan menyesal sampai mati .
Queen_Fisya08: sebentar lagi kak akan ketahuan
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
sunaryati jarum
Selain Agnes yang mendengar omongan Kasandra,tidak tahu kebenarannya.Karena yang tahu kebenarannya antara Agnes da Tina,hanya Fisya,Bi Lili,dan Bi Nisa .Masa Kasandra tidak curiga pada Tina yang wajahnya mirip Fisya,dasar bodoh karena hanya terobsesi memiliki harta Fisya,sampai mengabaikan kenyataan.
Ma Em
Thor jgn sampai Agnes bertemu Kasandra takut dicelakai .
sunaryati jarum
Jangan sampai Agnes ketangkap Kasandra
sunaryati jarum
Bagus Fisya itu juga cara mempermalukan Jason dan Kasandra.
sunaryati jarum
Segera tes DNA Bastian dengan Tina,emak sudah usul dua kali ini Lho, jangan sampai Angel mengaku putri kamu
sunaryati jarum
Baik Sebastian dan Fisya tahu siapa pasangan yang membuat hadirnya Tina
sunaryati jarum
Ternyata Fisya sudah tes DNA sungguh cerdas,dan rencana yang bagus
Datu Zahra
wes dah nongol masalah Angel. Kalau sampe Sebastian bisa masuk jebakan Angel, bodoh sih berarti. percuma kaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Jangan sampai sampai Angel berbuat buruk untuk menipu Sebastian yang ada dia malah masuk penjara.Tidak mudah membohongi Sebastian.Semoga Sebastian segera melihat tana lahir kupu kupu di paha Fisya,atau segera tes DNA dengan Tina
Anonim: ANGEL HARUS DIBUNUH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!