NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Hijjatul Helna

Menikah kemudian bahagia adalah impian semua orang. Begitu juga dengan Soraya. Namun dapatkah dia bahagia saat menikah dengan seorang player?
Apakah harapan Soraya bahwa Ardan akan berubah bisa menjadi kenyataan?
Ataukah pernikahan mereka akan kandas karena wanita lain?

Lalu siapa Soraya sebenarnya? Benarkah dia hanya seorang wanita sebatang kara? Bagaimana jika seandainya waktu mengungkapkan jati dirinya?


Cerita ini penuh dengan intrik, dendam, perselingkuhan, perebutan kekuasaan dan kekuatan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijjatul Helna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maaf, Aku Menyerah!

Tim kuasa hukum Ardan merasa di atas angin. Bahkan mereka belum mengeluarkan kartu terakhir, tapi sepertinya hakim sudah mulai berdiri di pihak mereka.

Pria tua yang menjadi juru bicara tim kuasa hukum Ardan memutuskan untuk melakukan langkah akhir yang mereka prediksi akan menjadi penentu kemenangan mereka atas sidang ini.

"Maaf, Yang Mulia. Tergugat tidak ingin menceraikan penggugat bukan hanya karena trauma yang kami sebutkan tadi. Tapi karena alasan yang lebih kuat. Karena penggugat yaitu Nona Soraya sedang hamil. Jadi, kami mohon kebijakan Yang Mulia untuk menolak gugatan ini."

Salah satu anggota tim menyerahkan bukti pernyataan kehamilan Soraya dari rumah sakit tempat dia memeriksakan diri bersama dengan Ardan.

Hakim terlihat terkejut mendapatkan fakta baru ini. Dia mengarahkan pandangan pada tim kuasa hukum Soraya yang terlihat tenang.

Ardan memperhatikan tim kuasa hukum Soraya yang terlihat tenang dengan hati heran. Mengapa mereka tidak terkejut? Apakah mereka sudah menyiapkan alasan untuk meneruskan gugatan ini meskipun Soraya dalam keadaan hamil?

Soraya terlihat agak pucat. Ardan tidak dapat mengartikan ekspresi wajah istrinya saat ini.

"Apakah kuasa hukum penggugat akan menyampaikan sanggahan atas fakta ini?"

Juru bicara tim kuasa hukum Soraya berdiri dan menyerahkan sebuah map ke meja hakim.

"Ini sanggahan kami Yang Mulia. Klien kami yaitu Nona Soraya tidak dalam keadaan hamil. Berkas itu berisi pernyataan dokter kandungan kalau Nona Soraya benar-benar tidak hamil. Kalau benar Nona Soraya hamil, kami tidak akan melayangkan gugatan perceraian ini, karena hal itu pasti akan sia-sia. Hakim akan langsung menolak gugatan perceraian jika si istri dalam keadaan hamil. Kita semua sudah tahu hal itu."

Hakim mengangguk membenarkan perkataan juru bicara itu.

What!!!

Apa-apaan itu? Apakah mereka bermaksud mengatakan kalau istrinya - Soraya - tidak hamil?

Ardan mengalihkan pandangannya ke arah Soraya. Tampak Soraya sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Dari mulutnya terlihat dia mengucapkan kata 'maaf' berulang kali.

Apa maksudnya mengatakan maaf?

"Apa yang telah kau lakukan, Soraya? Apakah kau telah menggugurkan kandunganmu? Apakah kau benar-benar membunuh anak kita?"

Ardan lepas kendali. Dia bermaksud menerjang ke arah Soraya tapi beberapa tangan menahan tubuhnya.

"Soraya ... Katakan padaku ... Huu ... Huu ... Katakan bahwa itu tidak benar! Huu ... Huu ... Katakan bahwa anak kita masih ada di rahimmu! Huu ... Huu ... "

Ardan menangis seperti anak kecil di depan pengadilan. Tubuhnya luruh ke lantai. Tak ada lagi Ardan yang gagah dan berwibawa. Yang ada hanyalah pria yang kehilangan cahaya hidupnya.

Karena kekacauan yang terjadi, sidang ditunda sampai kamis depan.

Ardan dipapah oleh dua orang bodyguard Permana yang membawanya keluar dari ruang sidang. Di pintu dia berpapasan dengan rombongan Soraya yang juga akan meninggalkan tempat itu.

"Tunggu ...!"

Ardan menghentikan langkah Soraya.

Soraya berdiri dengan tangan terkepal. Dia harus kuat. Semua ini dia lakukan untuk mereka, untuk orang-orang yang dia sayangi. Jangan sampai pengorbanan yang telah dia lakukan menjadi sia-sia.

"Terima kasih."

Kata pertama yang diucapkan Ardan membuatnya menoleh dan menatap Ardan lekat-lekat. Apa maksud ucapannya?

Begitu matanya bersirobok dengan mata Ardan, Soraya dapat melihat betapa terluka pria itu. Dan itu juga melukainya.

"Ya ... Terima kasih karena telah mendampingiku selama ini. Aku sadar sebanyak apa dosaku padamu. Aku tak pantas mendapatkan maaf darimu. Tapi ... Aku tetap akan mengucapkannya. Maaf! Maafkan aku!"

Ardan menjeda pembicaraan searah itu karena Soraya tak menanggapi sama sekali. Tapi tak apa. Setidaknya wanita itu masih mau mendengarkan perkataannya.

"Aku juga berterima kasih karena kehadiranmu membuatku sembuh dari trauma yang berkepanjangan. Terima kasih karena bersabar selama ini. Terlalu banyak luka dan penderitaan yang aku torehkan di hatimu. Ya, aku layak mendapatkan hal ini. Dicampakkan! Selamat kau berhasil membalas ku! Mungkin akan sangat sakit untuk melepaskanmu, tapi aku lebih kecewa ... Kecewa karena kau membunuh anak kita. Apa salahnya padamu? Begitu besarkah kebencianmu padaku hingga kau membalasnya pada janin yang tak berdosa? Jika kau katakan padaku, aku yang akan merawatnya setelah dia lahir. Kau tak perlu menyingkirkannya seperti ini."

Ardan mendongak menahan airmatanya yang menggenang.

"Baiklah. Jika memang itu yang kau inginkan. Sebuah kebebasan! Benarkan? Aku tak akan menghalangimu lagi. Aku akan memberimu kebebasan. Pengikat di antara kita sudah tak ada lagi. Kau telah menghilangkannya. Kau membunuh anak kita! Kita tak perlu melakukan sidang lagi. Akan aku kabulkan gugatan cerai mu. Tak ada yang dapat dipertahankan lagi. Maaf! Aku Menyerah!"

Ardan meninggalkan Soraya tanpa menoleh lagi. Dan itu disyukuri oleh Soraya karena Ardan tak perlu melihatnya yang kehilangan kesadaran saat Ardan mengucapkan kalimat terakhirnya. Kalimat yang membuat dunianya seakan runtuh. Tubuhnya luruh dan ditangkap oleh bodyguard nya sebelum mencapai lantai.

Mereka berdua sama-sama sakit. Hanya saja Ardan tak tahu! Dia mengira hanya dirinya yang terluka. Dia tak tahu kalau Soraya jauh lebih terluka.

*****Helna*****

Alena menyambut kedatangan suami dan anaknya yang baru pulang dari sidang. Hari ini dia memang tidak ikut karena sedang tidak enak badan.

"Bagaimana? Apa yang terjadi?"

Ardan tak menyahut. Dia langsung menuju kamarnya di lantai atas. Wajahnya terlihat sangat muram.

Permana menggeleng, membuat hati Alena mencelos. Kasihan Ardan!

"Lalu apa yang akan kita lakukan? Bagaimana Soraya meminta perceraian sedangkan dirinya sedang mengandung anak Ardan? Aku tidak mengerti sama sekali." gumam Alena.

Permana tidak tega menceritakan kepada istrinya apa yang terjadi di pengadilan tadi. Mengetahui itu hanya akan menyakiti hatinya. Permana tahu, Alena juga sangat menyayangi Soraya. Ketika seseorang yang sangat kita cintai menyakiti, maka rasa sakit itu berlipat kali sakitnya.

Permana menghembuskan napas berat.

"Sebaiknya kau menemani Ardan. Dia benar-benar terpukul."

Terpukul? Tentu saja! Alena tahu sebesar apa rasa cinta Ardan pada Soraya. Apalagi sekarang Soraya mengandung anaknya. Tak dapat dibayangkan bagaimana hancur dirinya harus kehilangan istri sekaligus anaknya.

Alena mengangguk dan melangkah ke lantai atas untuk menemani Ardan.

Perlahan didorongnya pintu kamar yang tak dikunci. Tampak Ardan menelungkup di atas ranjang. Alena mendekat dan duduk di samping Ardan. Terdengar isakan Ardan di sela bantal yang menutupi kepalanya.

"Mama yakin kamu akan kuat menghadapi cobaan ini." Alena menepuk-nepuk lembut belakang Ardan.

Ardan berbalik dan duduk menghadap momy nya.

"Aku kehilangan semuanya, Mom! Dia meninggalkanku. Dia bahkan menggugurkan bayi kami."

Alena tampak sangat terkejut. Tapi dia menguatkan diri. Ardan memerlukannya sekarang. Anaknya yang sudah dewasa tapi tetap seorang anak yang rapuh, yang memerlukan pelukannya untuk berlindung dari kejamnya dunia.

"Apakah dia begitu membenciku, Mom? Mengapa dia tega membunuh anakku? Kehilangan dirinya membuatku sangat terluka. Tapi kehilangan anak kami membuatku hancur. Huu... Huu... ." Ardan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.

"Apakah kau yakin Soraya sudah menggugurkan kandungannya?" tanya Alena hati-hati. Dia merasa cukup mengenal Soraya. Dan dia yakin Soraya tak akan pernah melakukan hal itu.

"Dia mengucapkan kata maaf. Untuk apa dia mengucapkannya jika dia tidak melakukannya? Erghhh ... Sakit sekali, Mom! Huu ... Huu ... Mengapa sakit sekali di sini? Dadaku sakit sekali! Rasanya mau pecah. Aku merasa akan mati. Huu ... Huu ..."

Tangan Ardan meremas dadanya. Tubuhnya terguncang-guncang karena ledakan emosi.

Alena memeluk Ardan dan menepuk-nepuknya dengan lembut.

"Menangislah, sayang! Meski kau seorang pria, tapi terkadang menangis bukanlah hal yang memalukan. Kita harus menangis untuk melepaskan semua sesak di dada."

Ardan menangis dalam pelukan Alena. Dia meraung seperti hewan yang terluka.

"Arghhh ... Soraya! Mengapa kau lakukan itu? Mengapa kau membunuh anak kita? Aku membencimu! Aku tak akan memaafkan dirimu yang telah membunuh anakku."

"Soraya ... Mengapa kau tega sekali? Huu ... Huu ... Aku benci dia, Mom! Aku benci!"

"Shhhh ... Sudah. Tenanglah, sayang! Kami masih bersamamu. Kau tak sendiri." Alena membelai lembut kepala Ardan.

"Aku kehilangannya, Mom! Aku kehilangan anak kami. Aku kehilangan semuanya. Huu ... Huu ... ."

Ardan menangis sepanjang waktu. Alena terus menemani dan menghiburnya.

Karena kelelahan, Ardan jatuh tertidur.

Alena merapikan selimut Ardan dan memandangnya dengan sedih sebelum keluar dari kamar anaknya.

Bersambung...

**Jangan lupa like dan krisan ya!

Maaf, semalam ga bisa update karena pundak aku nyeri.

ini habis pijet. diusahakan update biar reader ga kecewa.

Terima kasih sudah mampir di work pertama aku. Terima kasih juga sudah kasih like. Senang banget aku tuh, apalagi kalau kalian masukin cerita ini ke favorit**.

1
Ghiffari Zaka
iZhin mampir Thor🙏🙏🙏
Nelly oktavia
siapa yng bersma soraya
Nelly oktavia
banyak cerita yang belom terungkap
Nelly oktavia
ada pa ini semua rencana Soraya
Nelly oktavia
perpisahan itu membuat kamu bahgi lakukan
Siti Masitah
terlalu mudah luluh
Siti Masitah
trauma sih trauma tapi doyan ngelonte...
Siti Masitah
gitu aja....
Siti Masitah
q rasa soraya wanita yg sangaaat botol
Rehan Rehan
👍👍
Yenisia Afila
Datang2 ngaku nenek mau ambil hal selama ini gk ada konstribusi dlm hidupnya, dasar wanita edan
Wasdiah Mahfud
Kecewa
Raden Roro Natasya
aku punya temen persis dlm cerita ini, tp terbalik, papi nya asli brazil, maminya Tionghoa kelahiran Indonesia... wajah nya lbh ke Amerika latin dr pd ke Tionghoa... cakep kok dia muslim sekeluarga...
Rini Haryati
ceritanya keren
sukses
semangat
mksh
Dewi Kesumawati
tapi kamu tetap masih terlalu baik. karena siksaan itu tidak lama dirasakan marsha. hehe, sayang sekali
NAZERA ZIAN
aku mampir ya Thor. mampir juga di karya ku. "GADIS MASA LALU" Siapa tahu suka.. 😊😊🙏🙏
cocoms
bagus alur ceritanya
Fe☕
Done 💃
mksh cerita nya kk 🤗
kerennnn 👌👍
tetap semangat berkarya ✍️✊
Nur Adam
smgt untuk krya mu thoor lnjjt
Sri Wahyuni
yg slah anak y yg d hancurkn perusahaan ortu y ga etis lah sm az jhat y mlah soraya kya iblis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!