Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
peta yang terbuka
Pukul dua siang tepat, kabut telah sepenuhnya terangkat, digantikan oleh berkas cahaya matahari yang memantul di atas kap mobil sedan hitam. Sesuai jadwal baru yang diberikan Pak Bara, aku melangkah keluar dari mansion dengan kondisi fisik yang jauh lebih segar setelah sempat memejamkan mata selama beberapa jam.
Pergelangan tangan kananku juga sudah tidak lagi bengkak berkat formula salep dingin yang diberikan Axel subuh tadi.
Perjalanan menuju kampus terasa sangat lengang. Sopir berjas hitam di depan mengemudikan kendaraan dengan kecepatan konstan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Keheningan itu justru memberiku ruang untuk kembali merapikan pikiran. Aku harus memastikan bahwa di kelas evaluasi nanti, tidak ada lagi kecerobohan yang bisa memicu perhatian Axel atau orang-orangnya.
Begitu mobil berhenti di area penurunan biasa, aku segera turun. Atmosfer kampus siang ini tampak jauh lebih kondusif dibandingkan kemarin tidak ada lagi iring-iringan mobil dinas dari otoritas pusat, yang berarti Axel dan rombongannya sudah menyelesaikan inspeksi mereka.
Aku berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju ruang dosen untuk mengumpulkan draf analisis media yang baru. Di dalam tas, lembar laporan ketujuh belas yang kuketik manual semalaman telah tersusun rapi di dalam map baru yang bersih.
"Aira," sebuah suara familier memanggilku dari arah belakang.
Aku refleks menegang, menghentikan langkah tepat di depan pintu ruang dosen. Saat aku berbalik, aku mendapati Devan sedang berdiri di sana. Namun, ada yang berbeda dari penampilannya hari ini.
Sudut bibir kirinya tampak sedikit kebiruan seperti bekas benturan kecil, dan ekspresi wajahnya tidak lagi seberani kemarin. Ada kilat kecemasan dan ketakutan yang nyata di sepasang matanya.
Jantungku mendadak berdegup kencang. Apakah Axel benar-benar melakukan sesuatu padanya?
"Devan... wajah lo kenapa?" tanyaku, mencoba menahan intonasi suaraku agar tidak terdengar panik di tengah koridor yang sepi.
Devan menggeleng cepat, melirik waspada ke arah tangga tempat seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja kasual yang kuyakin adalah pengawal kiriman Axel sedang berdiri mengawasi kami dari kejauhan.
"Gue nggak apa-apa, Ai. Cuma... salah paham kecil di area parkir tadi pagi," jawab Devan, suaranya agak bergetar, sangat berbeda dengan pembawaannya yang biasanya santai.
Dia menyerahkan sebuah amplop putih kecil padaku. "Gue cuma mau bilang... buat proyek akhir kelompok, gue udah minta dosen buat mindahin nama gue ke tim lain. Ini data sisa yang lo butuhin setelah ini, gue nggak bakal ganggu lo lagi."
Aku menatap amplop itu dengan tenggorokan yang mendadak terasa kering. "Dev, maaf..."
"Nggak usah minta maaf, Ai. Orang-orang di sekitar lo... mereka bukan orang sembarangan. Gue cuma mahasiswa biasa yang mau lulus dengan tenang," bisik Devan lirih sebelum akhirnya membalikkan tubuh dan berjalan cepat meninggalkan koridor, tanpa menoleh lagi ke belakang.
Aku berdiri mematung di tempat, meremas amplop putih itu di dalam genggamanku. Rasa bersalah yang teramat sangat menjalar di dadaku, berbaur dengan kesadaran baru yang mengerikan Axel Reynard tidak pernah menggertak.
Ancaman halusnya semalam tentang pihak legal atau tindakan langsung benar-benar nyata. Pria itu telah menutup seluruh celah sosialku di kampus ini, memastikan bahwa aku benar-benar terisolasi dan hanya bergantung pada kendalinya.
Dengan langkah yang terasa berat, aku menyelesaikan urusan pengumpulan tugas di ruang dosen, lalu langsung berjalan kembali menuju gerbang depan. Aku tidak ingin berada di luar sangkar lebih lama jika itu berarti membahayakan orang-orang di sekitarku.
Begitu aku masuk kembali ke dalam kabin sedan hitam, ponsel di saku gaun lavenderku bergetar pendek. Sebuah pesan baru masuk dari nomor yang sama dengan semalam.
"Pilihan yang bijak untuk langsung kembali. Pak Bara telah menyiapkan ruang tengah untuk agenda belajarmu sore ini."
Aku memejamkan mata, menyandarkan kepala pada sandaran jok kulit yang dingin saat mobil mulai bergerak membelah jalanan. Rantai tak kasatmata yang diikatkan Axel di leherku kini terasa semakin solid, mengencang di setiap sudut pergerakan yang kucoba lakukan di luar kendalinya.
Mansion batu hitam menyambut kepulanganku dengan keheningan yang biasa, namun sore ini atmosfernya terasa lebih menekan. Setelah meletakkan tas kuliah di kamar, aku segera turun ke ruang tengah sesuai dengan instruksi yang tertera di pesan singkat tadi.
Di atas meja kaca besar, beberapa tumpukan dokumen baru bersampul biru tua telah disiapkan. Di sampingnya, sebuah laptop perak milik yayasan dalam posisi menyala, menampilkan halaman dasbor sistem informasi logistik yang dipenuhi dengan grafik dan angka-angka digital yang rumit.
Aku duduk di sofa beludru abu-abu, menatap layar itu dengan kening berkerut. Ini bukan lagi materi kuliah jurnalistik biasa ini adalah data internal perputaran arus informasi yang dikelola oleh Yayasan Reynard di permukaan.
"Itu adalah peta pergerakan opini publik di tiga distrik utama minggu ini," sebuah suara bariton yang berat terdengar dari arah pintu penghubung ruang kerja.
Axel melangkah masuk. Dia telah berganti pakaian menggunakan kaus hitam kasual berlengan panjang yang pas di tubuh tegapnya, memberikan kesan yang sedikit lebih santai namun tetap tidak mengurangi aura intimidasi yang melekat padanya. Dia berjalan mendekat, lalu duduk di sofa panjang yang berada di seberang meja kaca, memotong jarak aman di antara kami tanpa suara.
"Tuan Axel," aku menegakkan punggungku, refleks menyembunyikan pergelangan tangan kananku di bawah lipatan gaun.
Axel melirik sekilas ke arah tanganku, memastikan bahwa salep yang dia berikan telah bekerja dengan baik, sebelum pandangannya beralih ke layar laptop.
"Tugasmu sore ini adalah menyaring seluruh artikel digital yang menyebutkan kata kunci dan mengelompokkannya berdasarkan sentimen negatif atau positif. Aku ingin melihat sejauh mana analisis mediamu bisa membaca pergerakan informasi sebelum tim legal mengambil tindakan."
Aku menelan ludah, mencoba mengumpulkan fokusku di tengah debaran jantung yang tidak beraturan. "Mengapa Anda memberikan data se sensitif ini kepada saya, Tuan? Saya pikir... tugas saya di sini hanya sebatas administrasi luar."
Axel bersandar pada sofanya, melipat tangan di depan dada. Sepasang mata hitamnya yang sehitam jelaga menatapku dengan tatapan kosong namun penuh perhitungan.
"Kau telah menandatangani kontrak eksklusivitas semalam, Itu berarti kau bukan lagi orang asing di permukaan. Kau adalah bagian dari sistem pengawasan yang kubangun. Semakin cepat kau memahami bagaimana duniaku bekerja, semakin kecil kemungkinanmu untuk membuat kesalahan bodoh seperti kemarin."
Kata kemarin membuat bayangan wajah cemas Devan kembali terlintas di kepalaku. Aku memberanikan diri menatap mata Axel langsung, mencoba mencari sisa-sisa kemanusiaan di balik dinding esnya.
"Apakah... Anda yang membuat Devan terluka di area parkir tadi pagi?"
Ruang tengah mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara detik jam dinding marmer yang konstan. Rahang tegas Axel tampak mengetat sesaat, dan tato ular di lehernya menegang seiring dengan perubahan atmosfer di antara kami yang kembali mendingin.
"Aku tidak menyentuh teman kuliahmu," ucap Axel, suaranya merendah menjadi sebuah desisan yang penuh penekanan mutlak.
"Orang-orangku hanya memberikan teguran administratif yang semestinya kepada siapa saja yang mencoba melanggar batas perimeter pengawasanku. Jika dia terluka, itu karena dia tidak cukup cerdas untuk memahami isyarat untuk mundur lebih cepat."
Pernyataan itu terdengar begitu dingin dan logis di dunianya yang keras, namun bagiku, itu adalah konfirmasi nyata bahwa kebebasan di sekitar tempat ini hanyalah ilusi. Axel tidak perlu menggunakan kekerasan fisik secara vulgar untuk menghancurkan seseorang; dia cukup menggunakan pengaruh dan otoritasnya untuk menciptakan tekanan yang membuat orang lain mundur dengan sendirinya.
"Sekarang, buka dokumen pertama dan mulailah bekerja," perintah Axel kembali ke nada suaranya yang datar tanpa kompromi. "Aku akan berada di sini untuk memastikan investasiku pada kemampuan analisismu tidak terbuang sia-sia."
Aku tidak membantah lagi. Aku menarik laptop itu mendekat dan mulai menggerakkan jemariku di atas papan ketik, membuka lembar demi lembar artikel berita distrik di bawah pengawasan langsung dari sepasang mata hitam sang naga. Di luar, langit sore kota perlahan mulai menggelap, mengurung kami berdua dalam keheningan yang rumit, di mana batas antara perlindungan hukum dan penahanan mutlak semakin lama semakin mengabur tak bersisa.
kalo berkenan mmpir juga thor😉