Shafiya Alifa gadis manis dan shalehah yang terlahir di keluarga sederhana. Kerja kerasnya yang tinggi menjadikan ia karyawan di sebuah perusahaan besar. Namun siapa sangka itu awal dari hujan ujian hidup baginya. Pertemuan dengan Fatih menjadi awal mendung baginya. Namun yakinlah tidak semua hujan itu buruk, akan ada pelangi setelahnya. Warna warni perjalanan cinta Shafiya hadir di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shakila kanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban
Malam mulai menyapa, Azan magrib sudah berlalu, di Rumah Sakit di salah satu ruangan VIP nampak pemuda yang tengah gelisah menunggu kedatangan seseorang.
Fatih gelisah menunggu Shafiya perutnya keroncongan, karena dia tak mau makan makanan rumah sakit. Tadi siang dia hanya makan sedikit dan rasanya hambar sekali.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, nampak Shafiya dan Ade masuk, membawa rantang dan buah.
Ada sadikit cemburu pada diri Fatih melihat keduanya, membayangkan Shafiya di boncengkan Ade membuat hatinya panas, namun apa daya, membiarkan Shafiya malam-malam naik motor sendiri lebih membuat dia takut jika kenapa-kenapa.
" Assalamuallaikum... " Salam Shafiya.
" Walaikumsalam... lama sekali, perutku sakit... " Kata Fatih, sedikit merajuk.
" Maaf... " Kata Shafiya pelan, dia sedikit malu dengan sikap Fatih padanya di depan Ade Kakak sepupunya itu. Ade hanya tersenyum melihat sikap kekanakan Fatih.
" Ini makanlah... " Shafiya mengambilkan bubur ayam dan memberikannya pada Fatih.
" Ak... " Fatih membuka mulutnya meminta Shafiya menyuapnya.
Shafiya sedikit menarik nafas , ada sedikit rasa kesal melihat sikap Fatih, namun bagaimana lagi tangan kanan pria itu patah.
Fatih memakan makanan Shafiya dengan lahapnya, matanya berbinar bahagia, senyumnya di bibirnya mengembang.
" Ah... sepertinya aku perlu bersyukur dengan kecelakaan ini, karena ini aku dan Shafiya semakin dekat. " Batinnya.
Fatih memakan makanan itu hingga habis, Ade yang melihat pun tersenyum namun ada sedikit rasa iri di hatinya.
" Hem... bahagianya pasangan ini, ah seandainya kau bukan saudara sepersusuan dengan ku Fiy... akan ku perjuangan perasaan di hati ini. Tapi apa daya, takdir hanya menjadikan ku Kakakmu. " Batin Ade getir.
Shafiya membantu Fatih minum dan meminum obatnya. Shafiya merasa senang makanan yang dia bawa habis di makan Fatih, itu tandanya makanannya enak.
" Bagaimana kondisi Anda sekarang? " Tanya Ade pada Fatih.
" Alhamdulillah, aku merasa lebih baik. " Jawab Fatih.
" Syukurlah... " Kata Ade menimpali.
Waktu begitu cepat jam sudah menunjukan jam 9 malam. Ade pamit pulang kepada Fatih, Shafiya ingin pulang namun di cegah oleh Fatih.
" Karena sudah malam, kami pamit pulang, silahkan Anda beristirahat. " Kata Ade.
" Iya beristirahatlah... " Kata Shafiya.
" Fiy... apa kau tega meninggalkanku sendiri di sini... ku mohon... malam ini temani aku... Papa dan Deni baru besok ke sininya... " Bujuk Fatih.
Shafiya meminta persetujuan Ade dengan memandang Ade, Ade yang di pandangpun hanya mengangkat bahu.
" Terserah kamu saja, tapi baiknya kamu minta izin Kakek dulu. " Kata Ade.
Shafiya mengangguk dan ingin menghubungi Kakeknya. Shafiya keluar ruangan untuk menelpone Kakeknya.
" Assalamuallaikum Kek... "
" Shafiya Ijin menginap di Rumah Sakit menemani Pak Fatih ya, keluarganya baru datang besok. Bagaimana Kakek ? Boleh?" Kata Fiya.
" Walaikumsalam Fiy, Ya... tapi hati-hati ya... Kamu tahu batasan kamukan... " Jawab sang Kakek melalui telepone.
" Baik Kek... terimakasih... " Shafiya menutup teleponenya dan masuk ke ruangan kembali.
" Bagaimana Fiy? " Tanya Ade.
" Boleh Mas... " Jawab Shafiya.
" Baiklah, kalau begitu Mas Ade pulang ya, baik-baik di sini. " Kata Ade.
" Saya pulang dulu, semoga Anda lekas sembuh, Assalamuallaikum... " Kata Ade pada Fatih.
" Walaikumsalam... " Jawab Shafiya dan Fatih berbarengan.
Ade keluar ruangan untuk pulang, tinggalah Fatih dan Shafiya di ruangan itu. Shafiya menyelimuti Fatih lalu dia duduk di sofa. Setelah memastikan Fatih tidur Shafiya membaringkan dirinya di sofa.
***
Azan subuh berkumandang, Shafiya pergi ke musola untuk melaksanakan shalat subuh. Fatih masih tidur ketika Shafiya keluar, nampaknya dia tidur nyenyak sekali.
Di musola Shafiya berkali-kali menguap, tidurnya tidak nyenyak, karena berkali-kali bangun mengecek infus Fatih jika habis, dan lagi Shafiya tidak nyaman tidur di rumah sakit.
Setelah shalat Shafiya kembali ke ruang rawat Fatih. Ketika sampai dia melihat Fatih nampak ke susahan mengambil gelas air putih. Melihat itu Shafiya langsung mengambil gelas itu dan membantu Fatih untuk minum.
" Terimakasih Fiy... " Kata Fatih.
Shafiya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu mengambil buah di kulkas, mengupas apel dan memotongnya lalu memberikannya pada Fatih, sesekali dia juga ikut memakannya, Fatih bahagia mendapat perhatian dari Shafiya.
" Kemana Pak Bandi ? kok saya tidak melihatnya... " Tanya Shafiya.
" Dia sudah boleh pulang, aku yang minta dia istirahat di rumahnya. " Jawab Fatih.
Shafiya mengangguk tanda paham lalu memberikan potongan apel pada Fatih lagi.
" Fiy... " Panggil Fatih
" Hem... " Jawab Shafiya menunduk mengupas apel lagi.
" Ku tagih janjimu... katanya kau akan memberi jawabannya... " Kata Fatih.
Deg
Shafiya terkejut mendengar pertanyaan Fatih, dia tidak menyangka Fatih masing ingat itu. Ada desiran di hati Shafiya, mendadak bibirnya menjadi kelu untuk berbicara, namun tangannya tak berhenti mengupas apel.
" Fiy... " Desak Fatih.
" Huft... " Shafiya menarik nafas dan membuangnya pelan menata gejolak di hatinya.
" Fiy... bagaimana... " Desak Fatih lagi.
" Ehm... sepertinya saya sudah mulai memiliki rasa yang sama. " Kata Shafiya pelan, tangannya sedikit gemetar.
" Ah... benarkah ??? " Fatih terkejut bahagia , matanya berbinar memandang Shafiya, namun yang di pandang hanya menunduk, dan mengangguk.
" Apa itu artinya kamu menerima lamaranku??? " Tanya Fatih antusias.
Shafiya mengangguk, pipinya memerah, ingin rasanya dia menyembunyikan wajahnya.
" Ah.... Terimakasih Fiy... terimakasih karena kamu memberiku kesempatan, terimakasih karena sudah mau menepati janjimu... " Kata Fatih senyumnya mengembang.
Akhirnya perjuangan dan pengorbananya tidak sia-sia, Fatih berjanji dalam hati akan membuat gadisnya bahagia.
Ada rasa hangat dalam diri Shafiya, ada perasaan lega saat dia mulai jujur pada dirinya sendiri.
Entah sejak kapan rasa itu ada Shafiya tidak tau , namun dia berharap, jalan yang dia pilih tidak salah.
.
.
.
.
.
Dukung terus karyaku ya teman-teman...
jangan lupa jejak kalian...😍🙏
merajok tuee..
restu sudah didapat tidak ada yg merintangi...
tinggal hati yg belum mantap