Karena tidak selamanya pernikahan karena perjodohan itu berakhir menyedihkan, dua insan dengan perbedaan usia yang cukup jauh ini pun berusaha untuk menjadikan pernikahan mereka agar berakhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan Serius
"Mau permen kapas?", tanya Arga kepada Nisa yang sedari tadi masih diam.
Nisa menatap Arga dengan pandangan penuh tanya. Apa yang sebenarnya sedang Arga lakukan? Kenapa dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa?
"Lu bilang mau nungguin gue, ga mau nyerah sama gue, tapi dari tadi lu diem aja"
"Aku... aku cuma..."
"Kalo lu ga mau nyerah sama gue, lu harus bantu gue keluar dari masalah ini. Kalo lu diem kayak gini, enggak akan berhasil Nis", Arga memotong perkataan Nisa. Dia segera mengeluarkan dompet dan membelikan permen kapas untuk Nisa.
"Satu doang, Ga?", tanya Nisa lirih.
"Iya, buat berdua. Jangan kebanyakan, nanti batuk", jawab Arga dengan santai dan kembali melangkahkan kakinya.
"Jadi... Salma ngajar di sekolah juga... karena kamu ya, Ga? Itu kan sekolah milik paman kamu"
Arga mengangguk. "Ya karena teman yang lain ga ada yang mau. Kenapa tanya? Tadi lu bilang ga akan tanya-tanya soal yang lain". Senyuman yang terurai dari bibir Arga benar-benar meruntuhkan pertahanan Nisa.
"Maaf, Ga"
"Ga perlu minta maaf", jawab Arga dengan senyum yang masih terulas dibibirnya.
🎎🎎🎎🎎🎎
"Papa mah gitu mas, kalo ada temennya ngobrol bisa ga inget waktu", ucap Salma sambil membaringkan tubuhnya di kasur.
"Gapapa sayang, jarang-jarang juga kan aku bisa ngobrol sama papa mama kayak barusan"
"Tapi kan bisa besok mas, sekarang udah malem. Apalagi mas Adit habis demam, tadi juga habis jalan-jalan, ga perlu maksain diri"
Adit memiringkan badannya mengarah ke Salma dan mengerutkan dahinya. "Siapa yang terpaksa? Aku beneran seneng kok bisa ngobrol sama orangtua kamu, bukannya hubungan mertua dan menantu juga harus dekat kan, Sal?", ucapnya sambil membelai pipi Salma.
"Iya, tapi kan mas Adit habis sakit"
"Aku udah sehat, sayangkuuuu...", jawab Adit sembari menjepit hidung Salma. "Oiya Sal, kenapa kamu ga mau nerusin perusahaan papa?"
Salma menggelengkan kepalanya. "Dari dulu emang Salma ga tertarik, mas. Kalo aku tertarik, ngapain aku jadi guru"
"Trus nanti perusahaan papa gimana? Papa kan juga butuh istirahat dari rutinitas kerjanya"
"Kan ada mas Adit"
"Aku?"
Salma menganggukkan kepalanya. "Perusahaan papa dan mas Adit bergerak dibidang yang sama, mas Adit bisa kan ambil alih perusahaan papa. Nanti kalo anak kita udah gede, baru dikasih ke anak kita satu-satu biar adil"
"Sal, itu perusahaan loh. Kok kamu seenaknya gitu percayain sama orang? Trus kalo kamu nikahnya bukan sama aku, tapi sama orang yang ga ngerti bisnis, habis itu perusahaan papa dijual untuk memperkaya dirinya sendiri gimana? Itu hasil kerja keras papa loh, Sal"
"Tapi kan aku nikahnya sama mas Adit", jawab Salma santai dengan tersenyum lebar. "Alasan utamaku dulu mau nikah sama mas Adit ya karena mas Adit ngerti urusan pekerjaan papa ini, makanya aku ga khawatir soal perusahaan papa kalo papa pensiun nanti"
"Segitu yakinnya kamu sama aku?"
Salma mengangguk. "Aku emang ga suka sama sikap mas Adit diawal pertemuan, tapi aku yakin untuk urusan pekerjaan mas Adit bisa diandalkan. Aku percaya sama mas Adit"
Adit menarik Salma dan mendekapnya dengan erat. "Aku akan bantu kamu urus perusahaan papa, aku akan ada dibelakangmu, Sal. Kamulah yang harus meneruskan perusahaan papa, bukan aku"
"Kenapa?", tanya Salma sambil mendongakkan kepalanya.
"Papamu bekerja sangat keras karena ingin kamu menikmati hasil kesuksesannya. Aku akan bantu kamu, karena kamulah satu-satunya harapan papa untuk meneruskan perusahaan itu"
"Tapi... papa ga maksa, mas. Bahkan ketika aku memilih jurusan kuliah sebagai pendidik, papa juga ga keberatan"
Adit tersenyum dan mengelus rambut Salma. "Setiap orangtua ingin anaknya bahagia, Sal. Kamu harus bersyukur karena orangtuamu tidak pernah memaksakan kehendaknya. Tapi meneruskan perusahaan papa, bisa jadi jalanmu yang lain untuk lebih menjadi anak yang berbakti pada orangtua"
Salma hanya diam saja mendengar penjelasan Adit, matanya masih menatap Adit dengan lekat.
" Papa memang ga mempermasalahkan soal jurusan kuliah yang kamu ambil, Sal. Tapi papa pasti sangat ngarepin kamu untuk ambil alih perusahaan papa, kamu anak satu-satunya. Kalo bukan kamu, sama siapa lagi papa harus berharap"
"Tapi... aku baru aja ngerasain jadi guru, mas. Itu kan cita-citaku, ga mungkin aku lepas sekarang juga"
Adit menaikkan satu alisnya dan tersenyum. "Siapa yang suruh kamu lepas itu sekarang? Maksudku ga gitu sayaaaang hahahaha... Papa kan juga masih aktif kerja, kamu belajar dulu pelan-pelan, aku akan bantuin kamu. Sekarang kamu nikmatin aja ngajar di sekolah, sebelum akhirnya aku memintamu untuk jadi guru anak-anak kita di rumah. OK?"
Salma tersenyum dan mengangguk. "Maaf ya, mas"
"Maaf untuk?"
"Kemarin aku masih mens, jadi... belum bisa... ngasih keturunan untuk mas Adit"
"Yaa Allah, Sal. Kita nikah baru 2 minggu loh. Masak kamu ngomongnya kayak gitu? Aku ga masalah sayang, itu berarti memang Allah belum ngasih ke kita. Kamu sendiri juga pernah bilang pengen ngerasain kerja dulu, yaudah sekarang dijalanin aja. Aku sama sekali ga mempermasalahkan itu, Sal. Kita punya waktu untuk saling mengenal dan belajar. Allah lebih tau apa yang kita butuhkanSal, Allah akan kasih segala sesuatunya diwaktu yang tepat. Percayalah"
Salma tidak dapat membendung airmatanya, lalu tangannya bergerak mengeratkan dekapannya pada Adit.
"Jangan nangis ya. Semuanya butuh proses Sal, karena disetiap proses itu ada pembelajaran. Jika dipercepat, berarti Allah ingin kita bersyukur. Jika diperlambat, Allah ingin kita bersabar. Nanti pasti ada masanya kita akan menimang bayi yang wajahnya mewarisi sebagian parasmu dan sebagian sifatku", sambung Adit dengan membalas dekapan erat Salma dan mencium puncak kepala istrinya.
🎎🎎🎎🎎🎎
Salma lebay ga sih? 😅
Dulu saya gitu loh, baru seminggu nikah udah beli testpack dan nangis karena ternyata belum dapet dua garis. Trus suami bilang kayak yang dibilang Adit gitu. Adakah yang sama kayak saya? Hehehehe....
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan comments dan like-nya ya readers, terimakasih banyak 😘