NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Rencana Baru Bu Mirna

 

Malam itu berakhir tanpa ada yang berbicara lagi.

Aku masuk ke kamar lebih dulu.

Saat sedang mengoleskan salep di pipiku, Mas Viyan duduk di sampingku.

"Perih?"

Aku tersenyum tipis.

"Sedikit."

Mas Viyan menundukkan kepala. "Maaf ya sayang."

"Kenapa minta maaf?"

"Mas telat pulang. Kalau Mas lebih cepat...mungkin kamu enggak akan ditampar."

Aku memegang tangannya.

"Mas."

"Iya?"

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena hari ini..aku akhirnya suamiku selalu berpihak padaku."

Mata Mas Viyan langsung berkaca-kaca.

Ia menggenggam tanganku erat.

"Maaf ya, Sayang. Mas memang terlambat sadar. Tapi Mas janji. Mulai sekarang...Mas enggak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi." jelas Mas Viyan.

Aku tersenyum sambil mengangguk.

Namun...

Di balik pintu kamar kami yang sedikit terbuka... Ternyata ada seseorang yang mendengar semua percakapan itu. Bu Mirna berdiri dengan wajah penuh amarah. Tangannya mengepal erat. Dalam hatinya hanya ada satu tekad. "Kalau Viyan sudah tidak bisa dikendalikan...Berarti yang harus disingkirkan adalah Fitri."

Dan sejak malam itu... Cara Bu Mirna menghadapi aku berubah. Bukan lagi sekadar menyuruh atau memfitnah. Melainkan mulai menyusun rencana yang jauh lebih licik.

***

Suasana rumah memang terlihat lebih tenang.

Namun justru ketenangan itulah yang membuatku merasa tidak nyaman.

Bu Mirna tidak lagi membentak ku.

Tidak lagi menyuruhku melakukan ini dan itu dengan suara keras. Beliau bahkan mulai memanggilku dengan nada yang lembut.

"Fitri."

"Iya, Ma?"

"Nanti pulang kerja enggak usah beli sayur. Mama sudah belanja."

"Iya, Ma."

Aku sempat mengernyit.

Perubahan itu terlalu mendadak.

Malam harinya, saat aku sedang memasak di dapur, Bu Mirna menghampiriku sambil tersenyum.

"Capek ya, Fit?"

Aku menoleh. "Sedikit, Ma."

"Kasihan.Kerja seharian masih harus masak." Ucap mertuaku.

Aku tersenyum kecil. "Enggak apa-apa kok."

"Ya sudah, biar Mama bantu." Ucap Bu Mirna.

Aku benar-benar terkejut. Selama tinggal di rumah ini, baru kali ini Bu Mirna menawarkan bantuan. Beliau mengambil talenan lalu memotong beberapa batang daun bawang.

"Terima kasih ya, Ma."

"Iya."

Beliau tersenyum. Entah kenapa... Senyum itu justru membuat bulu kudukku merinding.

Saat makan malam, suasana juga terasa berbeda.

Bu Mirna berkali-kali memujiku.

"Masakan Fitri makin enak."

"Iya, Ma. Terimakasih, alhamdullilah mama suka" Jawabku ramah.

"Dinda."

"Iya ma?"

"Belajar masak juga sama Mbakmu." Ucap mertuaku.

Dinda tampak bingung. "Iya, Ma."

Aku melirik Mas Viyan. Beliau juga terlihat heran. Namun kami memilih menikmati makan malam tanpa banyak bicara.

Keesokan paginya...

Aku sedang bersiap berangkat kerja ketika Bu Mirna memanggilku.

"Fitri."

"Iya, Ma?"

"Kalau pulang nanti jangan langsung masuk kamar ya. Ada yang mau Mama omongin."

"Iya."

Aku mengangguk.

Sore hari. Saat aku baru tiba di rumah, ternyata ruang tamu sudah dipenuhi beberapa ibu-ibu tetangga. Aku tidak mengenali beberapa wajah-wajah ibu-ibu itu.

"Eh, itu menantunya Bu Mirna."

"Iya."

"Cantik ya."

Aku tersenyum sopan.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Bu Mirna langsung menarik tanganku.

"Nah, ini menantu Mama."

"Iya, Bu."

"Masih muda."

"Iya."

Beliau tertawa kecil.

"Tapi agak susah diatur."

Aku langsung menoleh.

"Maksud Mama?"

Bu Mirna tetap tersenyum di depan para tamunya.

"Ya namanya juga anak muda."

"Kadang kalau disuruh bersih-bersih suka milih-milih."

Aku terdiam. Padahal... Aku tidak pernah menolak pekerjaan rumah. Salah satu ibu tetangga langsung menimpali.

"Namanya juga perempuan kerja ya, Bu."

"Iya. Mungkin capek."

Bu Mirna menggeleng pelan. "Capek sih capek. Tapi rumah juga harus diurus. Di usia sekarang aduh, punggung dan badan ku udah cape sekali. Aduh.."

"Ya ampun.. kasian ya Bu Mirna..."

"Fitri, karena Bu Mirna mertua kamu, seharusnya lebih bisa di perhatikan lagi ini. Kasian orangtua" Ucap Salah satu ibu-ibu.

Aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Aku masih berdiri sambil memegang tas kerja. Dadaku mulai terasa sesak.

Semua kalimat Bu Mirna terdengar seperti pujian. Namun jika didengar baik-baik... Beliau sedang membangun kesan bahwa aku adalah menantu yang malas.

"Fitri."

"Iya, Ma?"

"Coba ambilin teh buat tamu."

"Iya."

Aku langsung menuju dapur. Selama membuat teh, aku masih memikirkan ucapan Bu Mirna tadi. Beliau tidak memarahiku. Tidak memfitnah secara terang-terangan. Melainkan menyisipkan kalimat-kalimat kecil yang perlahan membentuk opini buruk lagi tentang ku dan dia sebarkan ke ibu-ibu yang lain. Terutama ibu-ibu yang belum tau dan belum bertemu dengan ku. Cara seperti itu jauh lebih berbahaya.

Saat aku kembali membawa nampan berisi teh dan camilan, salah seorang ibu bertanya.

"Fitri kerja di mana?"

Aku menjawab ramah. "Di perusahaan konsultan, Bu."

"Wah.Gajinya lumayan dong?"

Aku tersenyum.

"Alhamdulillah."

Belum sempat aku berkata lebih banyak, Bu Mirna sudah menyela.

"Ya lumayan. Tapi sekarang uangnya juga buat bantu rumah ini."

Aku menoleh pelan. Aku memang sering membeli kebutuhan dapur. Namun itu atas kemauanku sendiri. Bukan karena diminta.

Sayangnya... Cara Bu Mirna mengatakannya membuatku terdengar seperti hanya menumpang dan membayar biaya tinggal. Salah satu ibu mengangguk.

"Bagus sih. Memang kalau masih tinggal sama mertua ya harus ikut bantu."

"Iya. Betul itu malahan seharusnya semua biaya ya di tanggung yang bekerja"

Bu Mirna kembali tersenyum puas. Aku hanya bisa diam.

Malam harinya setelah semua tamu pulang, aku sedang melipat pakaian di kamar. Mas Viyan masuk sambil membawa dua gelas susu.

"Nih. Ini khusus buat istriku." Ucap Mas Viyan tersenyum padaku.

"Terima kasih ya mas."

Beliau duduk di sampingku. "Tadi Mama ngomong apa sama ibu-ibu?"

Aku menghela napas.

"Mas...Aku boleh jujur? Aku merasa..Mama sedang membangun citra buruk tentang aku."

Mas Viyan mengernyit. "Maksudnya?"

"Beliau enggak pernah fitnah secara langsung. Tapi beliau selalu bicara seolah-olah aku menantu yang malas." Jelasku lirih.

Mas Viyan terdiam.

Beberapa saat kemudian ia berkata pelan. "Mas juga mulai ngerasa."

Aku menatapnya. "Serius? Kok mas tau?"

"Iya.Tadi waktu Mas pulang, Bu Izah tetangga depan pos kamling yang paling ujung sana empat bilang..."Yan, istrimu kasihan ya. Masih belajar ngurus rumah."' Ucap mas Viyan bercerita.

Aku mengernyit. "Padahal aku enggak pernah cerita apa-apa."

"Itu yang bikin Mas bingung." Jawab mas Viyan.

Aku menggenggam gelas susuku erat. Berarti dugaanku benar. Cerita-cerita itu mulai menyebar. Sedikit demi sedikit. Tanpa aku sadari.

Beliau kemudian mengambil ponselnya. Membuka grup WhatsApp ibu-ibu kompleks. Lalu mulai mengetik sebuah pesan panjang. Isinya bukan fitnah yang terang-terangan.

Melainkan keluhan seorang mertua yang mengaku sedih karena memiliki menantu yang "sibuk bekerja, sulit diatur, Badan capek beres-beres tiap pagi sampai sore. Ada yang pulang tinggal makan dan langsung tiduran. dan kurang peduli dengan keluarga juga."

Nama Fitri memang tidak disebut. Namun semua orang di lingkungan itu tahu... Bu Mirna hanya memiliki satu orang menantu. Tanpa kusadari...

Malam itu namaku mulai menjadi bahan pembicaraan di seluruh kompleks dan itu baru permulaan dari rencana Bu Mirna untuk membuatku kehilangan kepercayaan orang-orang di sekitarku.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!