Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Session 1 - Xavier - Cassandra [Tamat]
Session 2 - Roman - Alesha [Tamat]
Session 3 - Ongoing
Tiga tahun menjalani pernikahan akhirnya membawa Alesha pada keputusan penting, yaitu meminta perceraian dari sang suami, Roman Alvero.
Apakah keretakan rumah tangga itu akan berakhir di persidangan? Atau mampukah Roman, mempertahankan Alesha sekali lagi?
~Selamat membaca terima kasih sudah mampir~ ♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Flashback
"Semuanya terasa sia-sia. Aku telah gagal menjadi seorang ayah." Herdian.
.
.
.
2 TAHUN LALU.
Herdian memukul dadanya keras. Menyampaikan pesan melalui bahasa tubuhnya, berharap gadis yang baru menginjak dewasa itu mengerti perkataannya. Istrinya Murni, masih menatap nanar pada sosok gadis yang berada di ruang tamu dengan kilatan matanya yang tajam. Tampak seolah mereka tidak lagi memiliki kekuatan sebagai orang tua, bahkan untuk mengendalikan anak perempuan mereka yang tampak semakin beringas dari hari ke hari.
Herdian memberikan isyarat dengan tangannya. Jangan pergi! Kau tidak punya siapapun di dunia ini!
Matanya menatap penuh harap pada gadis berambut pendek, berwarna pirang keemasan karena telah melalui pengecatan berulang kali. Kuku-kukunya berwarna-warni, dan dia berdiri acuh tak acuh memandang Herdian yang berdiri di depannya.
Gracia mencelos.
"Aku tuh bosan hidup susah!" serunya lantang, membuat bola mata Herdian memutar sempurna. Dia tidak menyangka anak yang dibesarkannya akan memberikan respon seperti ini.
Herdian kembali menggerakkan tangannya. Kau tidak boleh begitu. Inilah keluargamu, meskipun kita berada dalam kondisi sulit seperti ini. Inilah keluargamu, Gracia.
Tidak mempan. Gadis itu tetap cuek dan tidak menunjukkan rasa hormat sama sekali. Tampaknya hatinya memang sudah membeku, dia tidak menaruh simpati sama sekali.
"Jangan pergi, Gracia," ujar Murni lirih, menahan air mata yang telah berkumpul di pelupuk matanya.
Gracia menoleh pada perempuan berdaster itu. Bukannya mendengarkan apa yang Murni katakan, Gracia malah mengomentari gaya pakaian Murni yang dirasa sungguh 'enggak banget' di dalam hatinya.
"Aku gak mau tinggal di sini lagi! Aku mau cari kehidupanku sendiri, biar aku bisa bergelimang harta! Gak miskin terus kayak begini!" katanya berapi-api.
PLAK! Sebuah tamparan keras dilayangkan Herdian tepat pada pipi gadis itu.
Jangan kau sakiti perasaan Ibumu!
Herdian menatap penuh emosi pada Gracia, yang dibalas dengan tatapan penuh kebencian dari manik bulat gadis itu. Gracia memegangi pipinya yang memerah, menahan gejolak emosi yang mulai membuncah.
Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis itu masuk ke dalam kamar. Mengambil sebuah tas ransel, memasukkan beberapa helai baju dan pakaiannya ke dalam ransel itu, sekaligus menyambar sebuah dompet yang berisi kartu ATM dan buku tabungan dari sebuah rekening bank.
Masih dengan situasi tegang di antara mereka, Gracia menenteng ranselnya. Berdiri di depan pintu kamarnya, menatap benci pada kedua orang yang berada tepat di depannya.
Murni melangkah mendekat, dia tahu Gracia mungkin telah tersinggung dengan perlakuan suaminya barusan. Mungkin saja gadis itu sedang berada dalam emosi yang tidak stabil. Murni melirik ransel yang dikenakan Gracia di punggungnya, berfikir cepat apakah mungkin Gracia berniat untuk pergi dari rumah. Dia harus menghentikan gadis itu sebisanya.
Wanita paruh baya itu meraih lengan Gracia, menahannya sekuat tenaga. Gracia menatapnya sinis, berusaha melepaskan pegangan Murni darinya.
"Maafkan Ayahmu, Gracia. Dia tidak bermaksud demikian," bisiknya pelan, berharap akan meluluhkan hati gadis itu.
Herdian menggerakkan tangannya. Kau akan menyesal karena mengejar laki-laki, Gracia. Dia tidak baik untukmu!
Herdian berusaha menjelaskan situasinya, memberitahu pada Gracia bahwa keputusannya untuk meninggalkan rumah adalah keputusan yang salah. Apalagi gadis itu lebih memilih seorang laki-laki asing dari pada keluarganya sendiri.
Gracia berdecak sinis.
"Lepaskan!" teriaknya kencang ke arah Murni, menghempaskan lengannya yang masih di pegang oleh wanita itu, membuat Murni tersungkur ke lantai.
Herdian menggapai istrinya, menahannya dengan lengannya. Murni telah menangis.
"Kau bukan Ibuku!" teriaknya pada wanita itu, semakin menggoreskan luka pada hati Murni.
Herdian masih memegangi istrinya, menatap nanar pada Gracia yang sama sekali tidak melembut. Hati gadis itu malah semakin mengeras.
"Aku tak sudi menjadi anak orang miskin seperti kalian!" teriaknya kasar, penuh kemarahan pada Herdian dan Murni.
Tanpa menunggu apapun, gadis itu melangkah cepat meninggalkan rumah kecil dan sederhana itu. Baru saja dia hendak berbelok di gang, Cassandra muncul sembari berjalan menuju rumah mereka.
Cassandra melihat Gracia yang datang dari kejauhan dan menenteng sebuah ransel besar di punggungnya. Gadis itu menghentikan langkah Gracia karena berhenti tepat di hadapannya, membuat Gracia kembali berdecak kesal.
"Minggir kau, bocah!" katanya kasar.
Cassandra mengernyitkan dahinya.
"Kau mau kemana?" tanyanya penuh selidik.
Gracia melemparkan tatapan tajamnya pada Cassandra. Dia selalu benci berada di keluarga miskin itu.
"Kau urus saja orang tuamu yang miskin itu, dan jangan pernah mencariku!" seru Gracia penuh emosi, menabrak bahu Cassandra yang sekaligus membuat tubuh gadis itu terhuyung ke belakang.
Cassandra memperhatikan langkah cepat Gracia yang berjalan menjauh, menuju pertigaan jalan. Gadis itu berlari kecil, kemudian masuk pada sebuah mobil mewah yang telah menunggunya di sana.
***
Cassandra mengerjapkan mata. Dia merasakan keringat di sekujur wajahnya, dan menyekanya cepat. Mimpi itu terulang lagi. Kejadian yang sama. Melayang pada hari dimana dia melihat Gracia pergi dari rumah dan tidak pernah kembali hingga detik ini.
Cassandra duduk perlahan. Meraih botol minum yang terletak di atas meja belajar bututnya, menenggak air itu untuk membasahi kerongkongannya. Dia menarik napas dalam. Mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai, memeriksa jam. Belum pukul tiga pagi.
Gadis itu merenung. Kembali mengingat bagaimana dia menemukan orang tuanya bersimpuh di lantai, dengan air mata yang mengalir deras di pipi ibunya, sesaat setelah Gracia meninggalkan rumah.
Dia ingat betul bagaimana tatapan nanar ayahnya, bercampur dengan kesedihan pada raut wajah ibunya.
Cassandra berdiri di ambang pintu kala itu, melihat ayahnya memukul dadanya keras.
Maafkan aku. Aku gagal membesarkannya.
Begitulah arti dari isyarat yang ditunjukkan ayahnya, yang dibalas dengan gelengan ibunya.
"Aku yang tidak bisa membuatnya menjadi anak baik," sesal ibunya, memohon maaf pada ayahnya.
Cassandra masih berdiri di ambang pintu, menyaksikan bagaimana kepergian Gracia kala itu menyisakan luka mendalam bagi keluarga sederhana mereka.
Dia lalu teringat sesuatu. Buru-buru dia masuk ke kamarnya, tanpa menyapa orang tuanya terlebih dahulu, menuju lemari buku dan mengobrak-abrik mencari sesuatu di sana.
Panik, dia semakin brutal mencari, menjatuhkan benda-benda yang ada di meja buku itu namun tidak menemukan apa yang dia cari. Cassandra terduduk lemas.
Tabungan ayah yang akan digunakan untuk mendaftarkannya kuliah telah raib. Tabungan itu tidak lagi ada di sana. Gracia telah membawa tabungan itu pergi.
Cassandra kembali mengusap wajahnya kasar. Dia telah begitu lama melamun, membuka luka lama. Kepergian Gracia kala itu, pasti menyisakan luka menganga pada hati ibu dan ayahnya.
"Sialan kau, Gracia. Cepatlah mati dan membusuk di neraka!" umpat Cassandra penuh kebencian, menatap nanar pada kegelapan di kamarnya dini hari itu.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Makasih untuk semua like, vote dan komennya ya kak.. semoga suka dan selamat membaca 🙏
kalau novel ini kayaknya seru jadi mau lanjut baca dulu