NovelToon NovelToon
Fisherman'S Book

Fisherman'S Book

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:92.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Skyligh

[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya Yang Memanggil

Udang dan lobster telah selesai dikemas rapi. Dengan bantuan tangan-tangan cekatan Paman Johan, kotak-kotak Styrofoam berisi hasil laut terbaik dari pulau kecil itu kini telah diangkut menuju tempat Mr.franky. Di sana, pengiriman akan diteruskan kepada Mr. Franky—pelanggan setia yang tak pernah jemu memesan dari Alvarez.

Dari bibir pantai yang sunyi, Alvarez berdiri bersama Toni dan Max, ketiganya memandangi mobil pengangkut yang perlahan menjauh. Lampu belakang mobil itu berkedip satu kali, seolah mengucapkan selamat tinggal, sebelum lenyap ditelan kelok jalan desa dan kegelapan malam.

Tak lama setelah itu, mereka bertiga kembali menyebrangi laut menuju pulau, menggunakan perahu kecil milik Alvarez. Malam membentang sunyi di atas kepala, dan laut memantulkan bayangan bintang dengan tenang. Hanya suara lembut dari mesin perahu yang memecah keheningan. Toni dan Max duduk bersandar di buritan, mata mereka menyipit menahan kantuk dan tubuh terasa berat setelah hari yang panjang.

Setibanya di pulau, Max dan Toni mulai mendirikan tenda tak jauh dari gubuk kayu Alvarez. Di bawah cahaya bulan yang temaram, mereka mengikat tali terpal dan menggelar matras seadanya. Sementara itu, Alvarez masuk ke gubuknya, mengganti pakaian basah yang lengket oleh peluh dan air asin, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur kayu beralaskan tikar daun kelapa.

Angin malam berhembus dari arah laut, membawa debur ombak dan aroma garam yang akrab. Daun kelapa di atas berdesir lirih, seperti melantunkan nyanyian tidur dari zaman purba. Perlahan, napas Alvarez melambat, dan ia pun terlelap.

Namun, tepat pukul satu dini hari, tubuhnya mulai gelisah. Dahinya berkeringat, jemarinya bergerak seperti menari di atas pusaran mimpi. Dalam sekejap, jiwanya tersedot masuk ke dalam ruang bawah sadar, ke tempat yang tak asing namun selalu berubah.

Ia berdiri di dermaga yang sunyi. Air laut sekelilingnya begitu tenang, seperti cermin yang tak pernah retak. Lalu dari kejauhan, muncul sebuah sosok raksasa—sebuah kapal, namun bukan kapal biasa. Strukturnya menyerupai laba-laba kayu, dengan kaki-kaki panjang menjulur ke segala arah dan dua belas bola lampu besar memancarkan cahaya putih menyilaukan: enam di kiri, enam di kanan.

Alvarez terdiam. Dadanya bergemuruh. Apa yang sedang ia lihat?

Langkah kaki terdengar dari belakang.

Sosok lelaki tua muncul perlahan dari balik kabut. Rambutnya putih seperti kapas laut, jubahnya berkibar oleh angin tak terlihat. Ia adalah bayangan masa lalu, penuntun mimpi, lelaki yang pernah muncul sebelumnya dalam tidur Alvarez.

Lelaki tua itu berhenti di sampingnya. Matanya menatap lurus ke arah kapal laba-laba itu.

"Itulah yang dulu pernah ditinggalkan. Dan kini kembali... untukmu," ucapnya pelan, suara yang bergema seperti gaung dalam batin.

Alvarez menoleh, suara itu memecah kesunyian batinnya. "Apa itu... kapal?"

"Namanya... Bagan," jawab lelaki tua itu. “Kapal nelayan yang tak berlayar hanya di tarik oleh kepal kecil, namun seluruh lautan akan mendatanginya.”

Ia mengangkat tangan. Sebuah buku tua muncul dari balik jubahnya—Buku Nelayan. Kali ini, sampulnya bertuliskan dengan ukiran perak: Bab IV – Cahaya yang Memanggil.

"Ini adalah waktumu untuk memahami warisan yang terlupakan," lanjutnya. “Bagan adalah menara di atas laut. Ia tidak mengejar ikan. Ia menunggu—dan cahayanya yang akan memanggil mereka datang.”

Alvarez menatap kapal itu—lampu-lampu yang menggantung, jaring-jaring yang melayang dalam bayang, kaki-kaki kayu yang kuat seperti tiang katedral laut.

“Cahaya itu... memikat ikan?”

“Ya,” bisik lelaki tua. “Seperti para nelayan dahulu memikat takdir dengan keberanian, Bagan memikat laut dengan terang. Dan ketika malam telah cukup dalam, jaring itu diturunkan... untuk satu tarikan besar.”

Alvarez terpaku. Sebuah keajaiban mekanik dan spiritual di hadapannya. Ia merasakan dunia yang luas—pengetahuan dari masa lalu yang hendak diwariskan.

Lelaki tua membuka halaman Bab IV. Di sana, terlukis blueprint kapal Bagan, lengkap dengan catatan dalam bahasa laut yang hanya bisa dibaca hati nelayan sejati.

Dengan khidmat, lelaki tua mengangkat buku itu ke atas kepala Alvarez. Cahaya dari bola lampu kapal mengalir seperti sungai kecil, memasuki halaman buku, lalu berputar membentuk pusaran yang menyusup ke dahi Alvarez.

Pengetahuan itu masuk. Tidak menyakitkan, tapi seperti menerima nyanyian dari masa depan. Ia melihat semuanya: bagaimana membangun rangka, menempatkan lampu, menyusun jaring, dan memilih tempat di laut yang paling tepat.

Saat membuka matanya, lelaki tua itu telah berjalan menjauh, tubuhnya memudar ditelan kabut.

“Bangunlah,” suaranya terdengar terakhir kali. “Bangun dan bangkitkan kembali kejayaan yang telah tertidur.”

Dan dunia mimpi pun runtuh.

Sekitar pukul setengah lima dini hari, udara pulau masih pekat oleh dingin laut dan aroma dedaunan basah. Di dalam gubuk kayu yang sunyi, Alvarez terjaga dengan napas tergesa. Matanya menatap kosong beberapa detik sebelum ia bangkit, seolah ada kekuatan tak terlihat yang mendorong tubuhnya untuk segera bertindak.

Ia meraih pena tua dan beberapa lembar kertas dari laci meja kecil di sudut ruangan. Tanpa menyalakan lampu, ia mengandalkan cahaya samar dari pelita minyak kelapa yang bergoyang pelan diterpa angin. Tangannya bergerak cepat namun terukur, membuat garis demi garis di atas kertas. Ia tak sedang sekadar menggambar—ia sedang menyalin mimpi, menghidupkan kembali kapal dari masa silam yang telah diberikan oleh lelaki tua penjaga dari buku nelayan.

Garis melengkung membentuk badan kapal. Enam kaki kayu yang kuat menjulur dari sisi kiri, enam dari kanan. Di bagian atas, bola-bola lampu mulai tergambar satu per satu, layaknya bintang yang ia pindahkan ke bumi. Jaring-jaring pengumpul ikan tergantung anggun dalam rancangan itu, dan catatan kecil di pinggir kertas mencatat ukuran, bahan, dan prinsip kerja tiap bagian.

Cahaya fajar mulai merambat dari balik cakrawala, mewarnai langit dengan semburat oranye pucat. Namun Alvarez belum berhenti. Matanya merah, namun tatapannya tajam. Jemarinya menghitam oleh tinta, dan keringat mengalir di pelipisnya. Ia tenggelam sepenuhnya dalam ciptaan yang muncul dari benaknya, seperti seorang pelukis yang terikat janji suci pada kanvasnya.

Di luar, Toni menggeliat dalam tidurnya. Suara ombak dan embusan angin membuatnya pelan-pelan terjaga. Dengan mata setengah terbuka dan rambut masih acak-acakan, ia berjalan menuju gubuk sambil menguap panjang.

Ia mengambil wadah kecil berisi air hujan yang di ambil dari tong yang berisikan air hujan , lalu membasuh wajahnya. Saat dingin air menyentuh kulit, kesadarannya meningkat. Ia masuk ke gubuk untuk mengambil handuk, namun langkahnya terhenti di ambang pintu.

Dari sudut ruangan, cahaya pelita menyinari tubuh Alvarez yang tengah membungkuk di atas meja. Kertas-kertas berserakan di sekelilingnya, dan di tengahnya terdapat rancangan besar yang belum sepenuhnya selesai.

“Bos... apa yang kamu lakukan?” tanya Toni, mendekat perlahan dengan nada heran.

Alvarez menoleh cepat, seakan baru sadar bahwa ia tidak sendirian. Senyumnya muncul dengan cepat, penuh semangat meski matanya tampak kelelahan.

“Eh, Ton! Kamu sudah bangun! Ini nih... saya lagi menggambar sesuatu,” jawabnya, mengangkat selembar kertas yang sudah setengah jadi.

Toni mendekat dan memandangi gambar itu. Alisnya bertaut, mencoba memahami bentuk aneh yang menyerupai laba-laba laut. Belum sempat ia bertanya lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari luar.

Max muncul, masih dengan kaus lusuh dan mata yang sembab. Ia berjalan sambil menggaruk kepala dan langsung menuju tong yang berisikan air hujan untuk membasuh wajah. Namun, seperti Toni, ia pun membeku ketika melihat apa yang dilakukan Alvarez.

“Apa-apaan ini? Rancang bangun kapal?” tanya Max sambil mengeringkan wajahnya dengan ujung kaus.

“Iya, Max. Tapi bukan kapal biasa. Ini... kapal penangkap ikan yang namanya Bagan,” jawab Alvarez, suaranya rendah namun penuh keyakinan.

Toni dan Max saling pandang. Di mata mereka, tersimpan pertanyaan yang sama: dari mana ide sebesar ini datang?

Alvarez menatap kedua sahabatnya, lalu menaruh pena. “Aku akan bangun kapal ini. Dan kalian akan jadi saksi bagaimana kapal ini mengubah cara kita menangkap ikan… selamanya.”

Mereka bertiga terdiam sesaat. Di luar, matahari mulai muncul dari balik lautan, menyinari langit dengan cahaya emas. Sebuah hari baru telah datang, dan dengan itu, permulaan sebuah perjalanan yang takkan pernah sama lagi.

......Note:"Kalau kamu suka ceritanya, jangan lupa tekan like ya! Komentar kalian juga sangat berarti buat saya—ceritakan bagian favoritmu atau tebak apa yang akan terjadi selanjutnya!"......

1
Urang sunda
luar biasa
Hary
perempuan usia 40tahun lagi enak2nya jangan coba2 bangun gairah birahinya, pasti sangat luar biasa, legit menggigit
Laizajiloh
Hai.. kapan d lanjut ceritanya kak..
Dhewa Shaied
apakah hiatus?
Kinashi Minata
he opo iki?
Kinashi Minata
🤣
Kinashi Minata
🤭
Kinashi Minata
🤭 endi
Kinashi Minata
🤭 opo iki?
Swikong
Mantul👍
Swikong
Lanjutkan........
Swikong
Ayo semuanya semangat💪💪
Swikong
👍👍👍
Swikong
👍
Swikong
Alvarez 👍👍
Swikong
Bos Alvarez👍
Swikong
Ho oh
Swikong
Mengharukan/Cry/
Swikong
Oke
Swikong
Lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!