Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 26 Dua Lintha
Lintha terus mendorong dan tarik tuas kemudi perahunya berulang-ulang agar terus menciptakan daya dorong bagi perahunya menuju pantai.
Di perahu itu dia tidak sendiri, tetapi ada seekor ikan besar yang tergeletak menemaninya, meski ikan berukuran setengah dari besar perahu itu sudah mati.
Selagi ia dan perahunya menuju pantai, Lintha melihat keberadaan sekelompok pasukan prajurit berwarna ungu-ungu di pantai.
Sebenarnya Lintha ingin menghindari pasukan yang ia ketahui adalah Pasukan Zirah Ungu, tetapi membelokkan arah perahu di saat sudah jelas menuju pantai akan memancing kecurigaan. Akhirnya gadis berambut biru itu tetap meluruskan arah laju perahunya.
Seperti sedang ditunggu, puluhan prajurit berzirah warna ungu telah berdiri kaku dalam formasi barisan menyambut kedatangan perahu.
Sreeet!
Perahu itu bahkan meluncur hingga seluruh bagian bawahnya naik ke pasir pantai yang halus.
“Apakah aku melakukan kesalahan yang melanggar hukum sehingga disambut oleh Pasukan Zirah Ungu, Komandi?!” tanya Lintha setengah berteriak kepada pemimpin pasukan berzirah ungu itu. Zirah mereka terbuat dari logam yang tipis sejenis kaleng.
“Tidak!” sahut pemimpin dari lima puluh prajurit tanpa kuda itu. Pangkatnya Komandi, pangkat pemimpin pasukan di bawah tingkat komandan. Jadi namanya Komandi Lagee.
Jleg!
Lintha melompat turun ke pasir dengan memegang sebatang kayu kail.
Set!
Lintha lalu menarik kencang kailnya yang ternyata ujung senarnya masih tersangkut di mulut ikan besar di perahu.
Ikan besar itu terhentak dan tertarik mengudara, meluncur jatuh ke arah barisan prajurit.
Para prajurit itu terkejut, tapi mereka cepat mengangkat tinggi ujung tombaknya.
Tsuk!
Ikan besar itu menancap di ujung-ujung tombak. Lintha hanya tersenyum melihat hal tersebut.
Ia lalu memutus senar kailnya dan berjalan di depan barisan prajurit. Para prajurit di barisan terdepan hanya bisa terbeliak sambil menelan salivanya. Lintha adalah sosok wanita yang tinggi. Wajah-wajah prajurit itu rata-rata setinggi dada Lintha. Jadi, mata-mata mereka sejajar dengan dua bukit menggoda yang meski saat itu sedang berbau amis, bukan berbau susu.
“Jika aku tidak bersalah, tolong aku. Bawakan ikanku ke kuda rodaku di sana,” kata Lintha kepada para prajurit itu lalu menunjuk agak jauh ke bawah sebuah pohon kelapa berbatang lima. Di sana memang ada sebuah kendaraan kuda roda tanpa orang.
Komandi Lagee memberi kode “laksanakan”. Para prajurit yang tombaknya menusuk ikan segera berjalan kompak meninggalkan barisan menuju tanah yang lebih tinggi.
“Apa keperluanmu, Komandi?” tanya Lintha.
“Aku hanya ingin memastikan si pemilik perahu bukan orang yang sedang kami cari, Noni Lintha,” ujar Komandi Lagee.
Lintha hanya tersenyum singkat mendengar jawaban pemimpin pasukan itu.
“Aku bahkan didatangi oleh Laksamana Pasukan Penguasa Ombak saat sedang memancing di tengah lautan. Jika kau tidak keberatan, beri tahu aku siapa orang yang kalian cari,” kata Lintha.
“Lelaki manusia yang bernama Purwasaga,” jawab Komandi Lagee.
“Oooh. Itu suami lamaku,” kata Lintha.
Komandi Lagee terkejut tanpa suara. Asli, dia memang tidak tahu bahwa orang yang sedang mereka cari adalah mantan suami Lintha.
“Aku tidak tahu itu, Noni Lintha,” ucap Komandi Lagee.
“Tidak mengapa. Itu suami yang sudah aku buang. Perwira Singa bahkan sudah mendatangiku untuk mengorek keterangan,” kata Lintha. “Sepertinya kalian perlu mengejarnya ke Jurang Sungai Betina karena dia sedang mencari jalan pulang lewat Gerbang Buana.”
“Terima kasih atas keteranganmu, Noni Lintha,” ucap Komandi Lagee.
“Jika kau tidak keberatan, perintahkan prajuritmu untuk mendorong perahuku lebih jauh ke darat,” kata Lintha.
“Tentu aku tidak keberatan, Noni Lintha,” ucap Komandi Lagee.
Lintha lalu berjalan pergi menuju ke kuda rodanya. Di sana, para prajurit sudah meletakkan ikan besar di kendaraan beroda lima tersebut.
Lintha sendiri yang kemudian menyetir kuda rodanya pulang ke dalam Kota Bariah, Ibu Kota Negeri Elindra.
Kedatangan Lintha di kediamannya disambut oleh para pembantu keluarganya.
Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Lintha sempat berpapasan dengan ayahnya, Rungga Waka Wakar.
“Apakah semua baik-baik saja, Putriku?” tanya sang ayah.
“Semua berjalan baik-baik saja, Ayah. Purwasaga sudah ada di Pulau Hekhek,” jawab Lintha.
“Kau tetap harus sangat berhati-hati,” pesan Rungga Waka Wakar.
“Baik, Ayah,” ucap Lintha yang memiliki perawakan lebih besar dan tinggi dibandingkan sang ayah.
Setelah itu, Lintha pergi ke kamarnya. Tanpa mengetuk lebih dulu, dia langsung membuka pintu.
Terbukanya pintu membuat dua orang yang ada di dalam kamar agak terkejut. Mereka dengan kompak menghentikan aktivitasnya dan menengok ke pintu kamar.
Dua orang itu tidak lain adalah Lintha yang lain tapi serupa, bersama suami barunya yang berasal dari Kota Sebalak. Saat Lintha masuk, mereka sedang melakukan adegan suami istri, tetapi baru sebatas adu atas, belum adu bawah.
Lintha yang sedang bermesraan itu segera turun dari atas ranjang dan berjalan menyongsong Lintha yang baru datang tanpa sepatah kata pun.
Tanpa ada yang menolak, keduanya bertabrakan. Hasilnya, Lintha yang berjalan ke arah pintu masuk menghilang di dalam raga Lintha yang bau amis.
“Tugasmu selesai, Zangkar. Kau boleh kembali ke Sebalak. Bayaranku akan menyusulmu,” kata Lintha.
“Aaah, kenapa kau pulang terlalu cepat, Lintha,” keluh pemuda tampan yang sebelumnya diketahui adalah suami baru Lintha.
Pemuda bernama Zangkar itu lalu turun dari ranjang. Ia merapikan pakaiannya.
“Aku tunggu bayaranku. Jangan sampai terlambat, Noni Lintha,” kata Zangkar, lalu melangkah pergi menuju pintu kamar yang terbuka.
“Tutup pintunya!” perintah Lintha. Lalu tanpa menunggu Zangkar benar-benar keluar dan menutup pintu, dia langsung pergi ke kamar mandinya.
Singkat cerita dan waktu.
Setelah mandi yang membuatnya kembali tampil segar dan wangi, Lintha kembali pergi ke luar Kota Bariah. Dia pergi ke kediaman Rungga Zamar untuk bertemu dengan Azhmar.
Ternyata Azhmar tidak ada di rumahnya. Keterangan dari pembantu di rumahnya menyebutkan bahwa mantan pemimpin pemberontak itu sedang ada di Kandang Jurang.
Kandang Jurang adalah sebuah area berwujud dasar jurang yang gelap. Itu adalah lahan peternakan milik Keluarga Rungga Zamar.
“Hae hae!” Lintha memacu kudanya dengan kencang. Ia langsung pergi menuju Kandang Jurang.
Jika berangkat setelah tengah hari, Lintha kemungkinan akan tiba di Kandang Jurang saat malam memulai waktunya.
Sebagai tanah milik pribadi, Kandang Jurang memiliki penjagaan.
Untuk memastikan keberadaan Azhmar di tempat itu, Lintha lebih dulu harus bertanya kepada dua orang penjaga gerbang masuk yang berupa lubang tebing.
“Apakah Noni Azhmar ada di sini?” tanya Lintha. Dia mengenal kedua lelaki yang merupakan pekerja Keluarga Rungga Zamar.
“Noni Azhmar ada di dasar,” jawab salah satu dari lelaki berbadan besar itu.
“Sampaikan bahwa aku ingin bertemu,” ujar Lintha.
“Baik,” ucap penjaga tersebut.
Ternyata, setelah gerbang itu adalah jurang yang dalam dan gelap, terutama di awal malam seperti saat ini.
Lintha dapat melihat, penjaga itu pergi dengan membawa obor cahaya putih seperti lampu LED. Jadi bias cahayanya cukup luas untuk menerangi area sekitar.
Penjaga itu memegang tambang besar di tangan kiri. Setelah itu, dia melompat terjun ke dalam jurang yang gelap. (RH)
bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi