Note: Novel genre High Fantasi. se-chapter berjumlah 3000 sampai 4000 kata. Harap maklum, jika lama untuk membacanya.
Di dunia di mana ras monster dan manusia terpaksa bertarung untuk bertahan hidup, Serena, seorang gadis naga, bermimpi tentang perdamaian yang selama ini sulit diwujudkan. Meskipun dihadapkan pada penolakan dan ketidaksetujuan, dia bertekad untuk mengubah nasib rasnya sendiri.
Dengan tekad yang kuat, Serena berusaha untuk menciptakan sebuah dunia di mana kedamaian antara monster dan manusia bukan lagi sekadar impian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quinnela Estesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Selanjutnya (4)
Violina dengan cepat merogoh saku bagian dalam jubahnya. Tangannya agak gemetar, saat ia mengeluarkan sebuah surat bersampul tebal bersegel.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Violina menyerahkannya kepada Nona Irin.
Nona Irin menyambutnya dengan gerakan lambat dengan penuh rasa ingin tahu.
Jemari rampingnya yang tersembunyi di balik lengan jas putih menyentuh amplop itu seperti seorang kolektor seni menyentuh benda antik. Mata beliau langsung membelalak begitu surat berada di tangannya, seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan langka di tumpukan barang bekas.
"Hmm." Beliau mengangkat surat ke dekat hidungnya dan mengendus dalam-dalam. "Kertas mahal dan bau herbal sintetis kelas A. Ah, aroma dokumen serius."
Dengan kuku jarinya yang mengilap, beliau membelah segel surat dengan rapi.
Ketika bagian dalam surat dibuka, beberapa berkas tebal berjatuhan di atas meja dengan bunyi berat seperti kayu tipis dipukul ke meja marmer. Lembarannya tak seperti kertas biasa: teksturnya keras, padat, dan penuh dengan tanda sihir serta materai riset.
Tanpa menunda, Nona Irin menyusun lembaran itu dengan rapi, lalu mulai membacanya. Matanya yang besar bergerak cepat mengikuti baris demi baris, jemarinya membalik halaman seperti angin badai menyapu pepohonan.
“Astaga,” gumam beliau dengan suara tertahan. Bola matanya membulat, lalu pupilnya menyempit. “Ini sungguh tidak dapat dipercaya.”
Tuan Nagus yang berdiri di sampingnya menatap wajah Irin dengan waspada, merasa ada sesuatu yang sangat serius sedang terjadi.
"Nona Irin, ada apa sebenarnya?" tanyanya sambil menyipitkan mata.
Tak hanya Nagus, beberapa karyawan yang sedang sibuk bekerja di balik bilik pun menengok ke arah mereka, penasaran dengan kegaduhan yang tiba-tiba muncul.
Nona Irin menatap Nagus tajam, lalu mengulurkan tumpukan surat ke arahnya.
"Nagus, kau baca dan segera beritahu semua peneliti di Serikat Pengobatan. Sepertinya kita akan menghadapi tugas besar kali ini."
Seketika, wajah beliau berubah menjadi senyum lebar penuh rencana, mata yang semula serius kini menyipit dengan kesan seperti seorang penjahat yang tengah merancang sesuatu.
Tuan Nagus mengambil kertas itu dan melirik beberapa lembar dengan cepat. Ekspresi wajahnya ikut berubah drastis, dari tenang menjadi panik.
"Baik, Nona Irin. Aku akan segera menyebarkan berita ini ke seluruh tim. Tapi, apakah ini saja yang harus kita lakukan?"
Nona Irin berdiri dari sofa dengan anggun, lalu melangkah ke arah jendela besar yang memandang menara megah di kejauhan — bangunan yang tampak seperti perpaduan antara hotel mewah dan gereja kuno.
Beliau mengangkat kedua tangannya ke atas, meregangkan tubuh seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang, lalu menoleh ke arah Nagus dengan tatapan penuh tekad.
"Iya. Itu saja dulu. Aku harus segera mengadakan rapat dengan dewan Serikat, sebelum membuat rencana lanjutan. Event besar sudah dekat soalnya dan ini bukan main-main."
Tuan Nagus membungkuk hormat. "Baiklah, Nona Irin. Saya akan mengabari yang lain nanti."
Nona Irin menggelengkan kepala, memotong dengan nada tegas dan sedikit memerintah.
“Tidak, beritahu sekarang juga! Aku ingin memeriksa kedua anak ini dulu. Kau boleh pergi sekarang, Nagus.”
Tuan Nagus mengangguk, lalu menatap Serena dan Violina dengan lembut.
“Saya pamit dulu. Semoga semuanya berjalan lancar. Sampai jumpa nanti.”
Tuan Nagus melangkah pergi, kaki-kaki kelabangnya berdetik cepat di atas lantai ubin seperti denting jam yang terburu waktu.
Beliau berjalan menuju sebuah lift tua di sudut ruangan, dinding logamnya berpendar dengan silau lembut akibat diterpa cahaya lampu ruangan dan cahaya rembulan yang menyelinap dari jendela kaca besar.
Saat pintu lift menutup perlahan, suara gesekan logam menggema samar, seolah menandai dimulainya babak baru, yang hanya menyisakan mereka bertiga.
Nona Irin memutar tubuhnya perlahan dan menatap Serena dan Violina dengan tajam. Tatapannya bukan sekadar pengamatan, melainkan seperti seorang ilmuwan yang sedang mengurai sebuah teka-teki yang diberikan oleh seseorang.
"Baiklah." suara Nona irin terdengar tenang. Namun, penuh tekanan, "bagaimana ceritanya kalian bisa mengalami kejadian itu?"
Beliau menyilangkan tangan di dada, satu alis terangkat penuh curiga.
Serena dan Violina saling melirik, lalu memiringkan kepala seperti anjing bingung. Ekor naga milik Serena berkibas pelan, sementara telinga serigala Violina bergerak-gerak tak tenang.
"Maksudnya? Kami nggak paham," ujar Serena jujur.
Violina hanya mengangguk, ekspresinya sama bingungnya.
Nona irin mendengus, lalu mengangkat satu tangan menepuk jidatnya sendiri dengan gaya dramatis. “Astaga. Sepertinya, kalian belum tidur berhari-hari ya? Otak kalian lemot sekali.”
Beliau menghela napas, lalu kembali menatap mereka. “Maksudku, bagaimana kalian bisa menerima surat resmi dari Serikat Pengobatan Kota Chirandian? Surat itu seharusnya dikirim langsung ke kantor pusat Serikat di Hiddenama. Bukan diberikan lewat kalian.”
Serena mengangguk, kini ia mulai paham arah pembicaraan. Ia melangkah maju satu langkah, lalu mulai menjelaskan.
“Itu karena kami diselamatkan.”
Nona Irin diam, menyimak, lalu Serena melanjutkan. Ia mulai menjelaskan panjang-lebar.
“Begini, Nona Irin. Surat itu kami terima dari dua petualang monster asal Chirandian yang menyelamatkan kami. Awalnya, kami sedang dalam perjalanan kembali ke kota, tapi di perbatasan, kami diserang oleh lima petualang manusia.
Sebelumnya kami sempat menang melawan dua dari mereka, yang mencoba merebut barang-barang kami. Padahal kami hanya membawa peta portal dan selembar kertas reward quest biasa.
Tapi, setelah kami menang, teman-teman mereka datang. Kami tak sanggup melawan lagi, dan saat mereka mulai menggunakan senjata beracun, Violina terkena tembakan. Ia langsung kejang dan berdarah parah. Mereka mengancamku, 'jika aku tidak menyerahkan peta portal, temanku akan mati' karena racun itu sangat mematikan bagi ras dunia sihir."
Nona Irin mengangkat dagunya sedikit. Raut wajahnya perlahan berubah lebih serius.
"Karena tidak ada pilihan dan aku tidak mau kehilangan Violina, akhirnya aku menyerahkan peta itu. Sebagai gantinya, mereka memberiku potion penawar. Setelah kuminumkan ke Violina, tubuhnya mulai stabil, kejangnya berhenti, dan pendarahan pun tertutup.”
Violina menyentuh bekas luka di dadanya yang kini sudah kering, lalu menunduk.
Serena melanjutkan, suaranya sedikit bergetar.
“Namun, saat mereka hendak membiarkan kami pergi, mereka mencium bau vanilla dari kami. Setelah itu, niat mereka berubah.
Mereka bilang kami terlalu ‘berharga’ untuk dilepaskan. Mereka ingin menjual kami ke pasar sihir. Kami mencoba kabur ke hutan, tapi mereka mengejar. Mereka mengikat kami dengan tali rune dan hendak mengaktifkan alat sihir untuk membawa kami pergi.
Saat itulah, dua petualang monster dari Serikat Chirandian muncul. Mereka menolong kami, melawan balik para manusia itu. Bahkan mereka bersedia membantu kami untuk mengambil kembali peta portalnya, tapi situasinya makin kacau. Pasukan polisi militer tiba-tiba muncul di hutan. Mereka bersenjata lengkap. Semua jadi panik dan berpencar.
Kami ikut bersama dua petualang Chirandian itu, karena mereka tahu cara kembali ke Hiddenama. Mereka juga merasa bersalah karena gagal mengambil peta kami. Jadi mereka menawarkan bantuan dan mereka yang akhirnya memberi kami surat itu, sebagai pengantar langsung ke Serikat Pengobatan Hiddenama.”
Nona Irin mengangguk pelan, ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih lembut. Beliau tampak benar-benar memahami apa yang telah dilalui oleh dua gadis muda di hadapannya.
Tubuh mungilnya yang tingginya hanya setinggi dada Serena, melangkah pelan ke arah mereka. Kedua tangannya yang tertutup lengan jas panjangnya, perlahan terangkat.
“Tundukkan kepala kalian!"
Tanpa banyak tanya, Serena dan Violina langsung menunduk dengan hormat. Mereka bisa merasakan aura hangat dari wanita munggil di depan mereka.
Dengan gerakan lembut, Nona Irin mengelus kepala mereka berdua.
Sentuhan itu bukan hanya menenangkan, tapi seperti mengandung perasaan perlindungan dan kasih sayang. Serena dan Violina membiarkannya, merasakan kenyamanan dari sosok yang terasa seperti pelindung bagi mereka.
“Untung kalian enggak sampai dijual di pasar peralatan monster,” ucap beliau dengan nada bercampur kekesalan dan kekhawatiran. “Kalo sampai tubuh kalian dijadikan bahan senjata sihir, manusia mungkin sudah punya senjata tier-S lagi sekarang. Gawat banget itu. Jangan sampai terulang, ya!”
Serena dan Violina saling melirik. Wajah mereka menegang. Kekhawatiran terpancar jelas.
Violina menyenggol lembut ekor Serena dengan ekor serigalanya, sebuah pengingat bisu: sebagian dari ekor naga itu memang sempat diambil.
“Iya, Nona Irin,” jawab Serena pelan. “Semuanya masih aman, sejauh ini.”
Nona Irin mengangguk, lalu menarik tangannya perlahan. Wajahnya berubah cerah, senyumnya kini seperti milik seorang anak kecil yang baru saja mendapat kabar gembira.
“Bagus. Begitu dong!” kata beliau dengan semangat. “Apalagi kau, Serena. Sepertinya kau bukan monster biasa.”
Beliau menunduk sedikit, mencium kain jubah yang menempel di telapak tangannya. Hidungnya mengendus-endus seperti sedang menilai aroma anggur tua.
“Bau vanilla yang keluar dari tubuhmu itu bukan aroma sembarangan. Itu bau khas pemuaian mana dari bangsa monster bangsawan.” beliau mengangkat alis, lalu menatap Serena dengan ekspresi menyelidik. “Pantas saja mereka ingin menjualmu, tapi bisa juga menjadikanmu sebagai pasangan mereka." jemari jempol dan telunjuk beliau mengapit dagunya. "Aku dengar, beberapa bangsawan dari bangsa manusia seperti itu.”
Serena membeku. Kata itu kembali diucapkan: bangsawan. Matanya membulat, ia langsung menatap Nona Irin dalam-dalam, seolah berharap wanita itu bisa menjawab misteri yang selama ini mengganggunya.
“Nona Irin. Kalo memang saya bangsawan monster. Apa Nona tahu, siapa orang tua saya?”
Violina menoleh cepat, ikut menatap Nona Irin. Topik ini bukan baru bagi mereka.
Setiap kali pembahasan tentang bau Vanila di badan Serena muncul, Serena pasti akan bertanya mengenai kedua orang tuanya. Violina tahu rasanya, bagi Serena, hal itu seperti membuka luka lama.
“Sudah banyak sepuh monster di kota Hiddenama yang bilang begitu,” lanjut Serena. “Katanya, saya punya aura bangsawan dari Nona Ra, Pak Snade, Pak Altrez dan lainnya, bahkan pak Agran dan tuan Malvier: ketua dan wakil Serikat Chirandian juga, tapi saat saya tanya lebih lanjut, mereka tidak ada yang tahu, saya dari kerajaan mana? bahkan di dunia sihir sendiri. Semua naga bangsawan berambut hitam, tapi rambut saya.” Ia memegang helaian rambutnya yang memutih seperti salju. “Berwarna putih begini.”
Nona Irin mendekat perlahan, mata berwarna coklat hazelnya menatap lekat Serena yang masih menunduk.
"Tuan Agran dan Tuan Malvier sampai memberitahumu juga, kalo kau itu bangsawan monster, ya, nak Serena?" tanya beliau dengan suara lembut.
Serena mengangguk pelan, kepalanya menunduk lebih dalam. Matanya terasa berat. “Iya. Mereka bilang begitu,” ucapnya pelan. “Tapi, aku tidak tahu harus percaya atau tidak.”
Wajah Nona Irin berubah sedikit. Ada senyum tipis, bukan senyuman orang yang sedang bahagia. Beliau menatap Serena seperti melihat bagian dari teka-teki yang telah lama hilang.
"Apa aku harus ceritakan sejarahnya dulu ya? Kenapa bau vanila itu bisa keluar dari tubuhmu?" gumam Nona Irin, sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang, kebiasaannya saat sedang berpikir keras.
Violina langsung menyela cepat, tidak ingin pembahasan itu kembali berputar ke masa lalu yang sudah dijelaskan orang lain.
“Maaf, Nona Irin. Ketua Serikat dan Wakil Serikat Chirandian sudah menjelaskan asal-usul bau itu kepada kami. Jadi, apa Anda bisa langsung saja menjelaskan caranya?” Violina menunduk sedikit, suaranya sopan dengan penuh harap. “Anda kan orang yang hebat, paling banyak tahu soal dunia ini.”
Mendengar itu, Nona Irin tersenyum bangga. Beliau bahkan sedikit mengangkat dagunya, merasa tersanjung dan dimuliakan.
“Benar juga,” katanya sambil mengangguk penuh percaya diri. “Aku tahu beberapa cara untuk menjawab pertanyaanmu.”
Mata Serena langsung membesar. Ia menatap Nona Irin dengan sorot penuh harap.
“Benarkah, Nona Irin? Apa aku bisa menemukan orang tuaku dan orang tua angkatku juga?”
Senyum Nona Irin perlahan meredup. Beliau menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
“Sepertinya bisa,” kata beliau pelan. “Tapi kalian tahu, kan? bahwa kita sekarang berada di dunia manusia, dunia yang sedang dipantau oleh kekuatan misterius yang mereka sebut sebagai sistem permainan dewa?”
Serena dan Violina sama-sama menatap serius. Fokus mereka menyatu, tubuh mereka sedikit condong ke depan, mendengarkan.
“Dalam sistem ini,” lanjut Nona Irin, “semua orang diatur oleh hukum tak terlihat. Kita harus menyelesaikan sesuatu yang disebut quest, dan akan diberi hadiah setelahnya. Itulah kenapa kita menyebutnya reward quest.”
Dari lubang di telapak tangan jasnya, Nona Irin mengeluarkan selembar kertas lusuh, seperti sulap. Beliau membuka lipatannya tanpa menyentuhnya dan memperlihatkan tulisan di dalamnya.
“Setiap quest yang kalian selesaikan akan menghasilkan kertas seperti ini. Ini adalah kertas quest reward barang. Biasanya akan menghasilkan item atau barang sihir yang diperoleh setelah menyelesaikannya melalui negosiasi dengan NPC penjaga quest.”
Serena dan Violina mengamati kertas itu dengan rasa ingin tahu yang besar.
Lalu Nona Irin mengeluarkan lagi beberapa lembar dari lengannya, kali ini dua warna berbeda.
“Ada tiga jenis kertas quest penting yang perlu kalian ketahui,” ujarnya, mengangkat masing-masing satu per satu.
“Kertas berwarna coklat kusam ini memberikan hadiah berupa bahan mentah, seperti mineral langkah, potion, atau bahan setengah jadi yang harus diolah dulu sebelum bisa digunakan dan kertas ini juga yang banyak diberikan kepada petualang monster, saat mereka mengambil quest di Serikat Guild.”
Beliau mengangkat kertas kedua. Warnanya biru pucat, seperti langit di musim dingin.
“Sedangkan, kertas berwarna biru kuno ini, biasanya quest yang meminta saran, layanan, atau informasi dari NPC tertentu yang pengetahuannya bisa sangat penting dikemudian hari.”
Lalu Nona Irin mengangkat yang terakhir, berwarna merah keunguan, gelap dan tampak menyimpan sesuatu yang serius.
“Dan ini.” suara beliau menjadi rendah. “Kertas quest ungu tua. Sangat sulit didapat. Jika berhasil diselesaikan, kalian bisa memperoleh barang langkah di tier B ke atas, bahkan mungkin petunjuk untuk item tier A atau S dan harta karun tersembunyi lainnya.”
Violina menunduk, dagunya bertumpu pada dua jari. Ekor serigalanya yang panjang bergerak lambat ke kiri dan ke kanan, tanda pikirannya sedang sibuk. Ia mencoba menyatukan semua penjelasan tadi seperti puzzle yang belum lengkap.
“Oh. Jadi kita harus menyelesaikan quest berwarna biru untuk mendapatkan petunjuk tentang keberadaan orang tua Serena sekarang?” tanyanya, perlahan dan ragu-ragu.
Nona Irin mengangguk cepat. Jemarinya menunjuk wajah Violina dengan semangat, lalu kedua tangannya kembali bersedekap di pinggang, gaya khasnya yang membuat suasana terasa seperti sedang berada di ruang kelas.
“Iya! Bisa dibilang begitu, tapi juga enggak sesederhana itu,” ujar beliau, ekspresinya setengah serius, setengah santai. “Soalnya, kadang petunjuk dari NPC itu suka ngawur. Enggak semua NPC mau memberitahu dengan percuma. Jadi, kalian butuh menyelesaikan quest kertas ungu juga biar valid dan makin akurat petunjuknya.”
Beliau mengangkat satu bahu, ekspresinya tak yakin. “Entah itu menggunakan item atau penanda khusus dari reward quest ungunya. Ya pokoknya hal itu bisa bantu proses pencariannya deh.”
Serena menghela napas: nafas panjang. Matanya mengabur, tidak fokus. Harapan yang baru saja menyala kini seperti redup kembali, tertiup kenyataan betapa rumit jalan yang harus ia dilalui.
“Terima kasih, Nona Irin, atas bantuannya,” ucapnya pelan. Serena mencoba tersenyum, meski senyumnya lebih mirip kepasrahan daripada harapan.
Violina, yang sedari tadi duduk di sampingnya, mengelus pelan bahu Serena. Sentuhan itu lembut, menenangkan. Ujung ekor serigalanya mengait sebentar pada ekor naga Serena, menguatkan dalam diam.
Nona Irin mengangguk kecil, lalu menambahkan, “Kalo soal tempat cari kertas quest itu, kalian bisa ke Katedral saja." mata Nona Irin beralih ke kaca cendela, menatap gereja yang digabung dengan bangunan menara, berjarak beberapa puluh kilometer menjorok ke laut melalui pandangannya. "Semua quest paper yang resmi dan bisa diklaim di kota Hiddenama, asalnya dari sana.”
Beliau lalu berjalan perlahan ke arah Violina. Pandangannya menelusuri tubuh gadis serigala itu dengan seksama, seolah sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.
“Katanya, kau terkena racun paling berbahaya dari senjata manusia,” gumam beliau, suaranya berubah serius. “Tapi, kau kelihatan baik-baik saja dari tadi. Hm, aku jadi penasaran dengan penawarnya.”
Senyum Nona Irin kembali mengembang, tapi kali ini lebih tenang, seperti seorang peneliti yang menemukan subjek menarik.
“Baiklah. Ayo, kita periksa tubuhmu, Nak Violina,” ajaknya ringan.
Nona Irin mundur sedikit, menepuk-nepuk jubahnya, merapikan kainnya lalu menatap ke sekeliling.
Ruangan itu memang terlihat seperti perpustakaan yang dicampur dengan ruang praktik sihir. Tidak ada alat medis di sana, hanya layar monitor dan enam monster berjubah putih yang sejak tadi mengamati dari balik kaca, mengetikkan sesuatu.
Violina menoleh, bingung. “Tempat periksanya, di mana?”
Nona Irin terkekeh kecil. “Di rumah sakitlah. Ini akademi serikat pengobatan, bukan rumah sakit. Bedanya? Di sini kami meneliti. Kalo mau dirawat, ya pindah tempat.”
Dari lengan jasnya, beliau mengeluarkan sebuah batu kecil berwarna putih, lalu menjatuhkannya ke lantai, lalu menginjaknya.
Dalam sekejap, sebuah altar sihir bercahaya muncul di bawah kaki Nona Irin, lingkaran teleportasi yang berkilau seperti kaca basah terkena matahari.
“Ayo masuk. Kita akan ke rumah sakit sebentar lagi.”
Serena berdiri, meraih tangan Violina. “Ayo Violina. Kita harus segera menyelesaikam semua tugasnya lalu pulang.”
Violina mengangguk pelan, tatapannya berpindah dari altar ke wajah sahabatnya.
“Oke. Ayo.”
Mereka melangkah bersama ke dalam cahaya sihir yang berputar di bawah altar.
Dan seketika, tubuh mereka menghilang dari ruangan itu bersama Nona Irin, seperti ditelan gelombang cahaya menuju rumah sakit Serikat Pengobatan Hiddenama, tempat di mana jawaban, mungkin, sedang menunggu.
Sesaat setelah cahaya teleportasi meredup, Serena dan Violina berdiri di tengah sebuah ruangan luas dengan lantai marmer yang berkilauan. Ukiran rune melingkar menyala redup di bawah kaki mereka, sisa energi dari batu portal sihir yang baru saja membawa mereka ke sini.
Ruangan itu terasa seperti jantung rumah sakit: para monster berseragam putih, baik pria maupun wanita, tampak sibuk ke sana ke mari.
Beberapa sedang meracik cairan obat berwarna aneh, sebagian mencatat cepat pada lembaran kertas, dan sisanya mengganti botol infus atau menata potion ke rak-rak kaca yang berderet rapi.
Aroma antiseptik bercampur dengan wangi tumbuhan herbal menguar di udara.
Tanpa membuang waktu, Nona Irin langsung melangkah menuju pintu lift yang berdiri tidak jauh di hadapannya.
“Serena, Violina. Ayo, ikuti aku. Kita pergi ke lantai dua,” katanya sambil menunjuk ke depan.
Keduanya mengangguk, lalu mengikuti langkah cepat sang Ketua Serikat Pengobatan.
Di sepanjang lorong, para staf rumah sakit langsung menghentikan aktivitas mereka.
Beberapa menundukkan kepala dalam hormat. Ada pula yang memberanikan diri menyapa, namun Nona Irin hanya membalas dengan senyum kecil, senyum imut yang justru membuatnya terlihat seperti anak remaja, meski wibawa beliau tetap tak bisa disangkal.
“Ketua Irin! Ada apa ya tiba-tiba datang ke sini?” tanya salah satu perawat wanita, penasaran.
Begitu Nona Irin melintas, semua petugas medis langsung menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Beberapa mencoba menyapa:
“Nona Irin, selamat datang.”
“Apakah ada kasus darurat, Nona?”
Namun, Nona Irin hanya tersenyum kecil, senyum manja dan imut yang begitu kontras dengan kewibawaannya. Beliau mengibaskan tangan kanannya, tanpa menjawab.
Di dalam lift, Nona Irin menekan tombol berlambang angka dua. Tapi bukannya naik, lift justru bergerak menurun, perlahan, seperti menyusuri kedalaman dunia bawah tanah.
Bunyi lembut mengiringi terbukanya pintu lift.
Begitu pintu lift terbuka sepenuhnya, cahaya lembut dari lampu koridor yang tidak memekakkan mata, menyambut mereka.
Alih-alih pemandangan suram penuh jeritan atau suasana di lantai ini terasa hangat dan hidup. Ranjang-ranjang pasien berderet rapi, masing-masing dihuni oleh monster-monster yang sudah diperban dan terinfus. Namun, wajah mereka ceria. Ada yang saling bertukar cerita lucu, ada pula yang sedang mondar-mandir, mengobrol santai dengan pasien lainnya.
Petugas-petugas medis berseragam abu keperakan langsung menoleh saat mendengar bunyi lift. Begitu mereka melihat sosok Nona Irin melangkah keluar, gumaman dan bisikan segera menyebar ke seluruh ruangan:
“Itu Nona Irin!”
“Ketua Serikat Pengobatan datang?”
“Cepat, beritahu yang lain!”
Seorang pria monster berbadan besar dengan kepala menyerupai badak segera melangkah cepat menghampiri mereka. Bahunya lebar dan berotot, culanya tumpul, dan seragamnya memiliki lambang khusus di dada: bintang berukir ular melingkari gelas, simbol perawat senior rumah sakit Hiddenama.
Beliau menunduk dalam-dalam, suaranya dalam dan penuh hormat.
“Selamat datang, Nona Irin. Bolehkah saya tahu, ada keperluan Anda hari ini?”
Nona Irin berhenti tepat di depannya, menatap tajam dengan mata jernih yang biasanya tampak tenang, kini terasa dingin dan serius.
“Apakah ruang pemeriksaan di lantai ini sedang tidak dipakai? Kalo kosong, aku ingin menggunakannya. Ada pasien yang perlu kuperiksa sendiri.”
Pria badak itu langsung mengangguk. “Masih kosong, Nona. Silakan digunakan kapan saja. Saya akan beri tahu petugas untuk menyiapkannya.”
Dengan cepat, beliau berbalik dan memberi isyarat. Beberapa petugas segera bergerak, menyiapkan hal yang mungkin Nona Irin butuhkan.
“Baiklah,” ujar Nona Irin ke Serena dan Violina, singkat. “Ikuti aku!”
Serena dan Violina berjalan mengikuti beliau melewati koridor rumah sakit.
Sepanjang jalan, Violina tak berhenti memperhatikan sekitar. Para pasien memang tampak terluka: tangan dibalut, kaki tergips, beberapa bahkan masih terlihat perban luka yang masih basah oleh darah di kainnya, tapi tak satu pun dari mereka tampak menderita. Suara tawa ringan dan obrolan riang menggema di udara.
Melihat ekspresi bingung Violina, Nona Irin menjelaskan tanpa menoleh.
“Lantai ini khusus untuk pasien yang sudah melewati masa kritis. Mereka sudah tidak dalam bahaya, hanya menunggu masa pemulihan. Yang parah, ada di rumah sakit lain. Kami pisahkan, agar suasana tidak saling memengaruhi.”
Violina mengangguk kecil, sedangkan Serena mengucapkan kata O samar di mulutnya.
Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah ruangan berukir rune keemasan. Di atas pintu tertulis: Unit Pengobatan Khusus.
Begitu pintu terbuka, aroma jerami kering dan ramuan herbal langsung menyambut. Ruangannya sederhana, tapi bersih dengan lima bilik terpisah. Empat bilik berisi kasur biasa, satu lainnya tidak ada kasur. Namun, berisi jerami bersih yang ditumpuk membentuk alas tidur.
Namun, perhatian mereka langsung tertuju pada dua sosok yang terbaring di bilik sebelah kanan.
Violina menahan napas. “Pak Snade dan Pak Altrez?!”
Serena ikut kaget. “Apa mereka terluka parah waktu menjadi umpan, ketika di pasar itu ya?”
Di bilik pertama, Pak Altrez terlihat dalam wujud banteng penuhnya: tubuh besar dan berbulu gelap sedang bersandar santai di atas jerami, tubuhnya penuh perban, plaster luka dan jahitan dengan mengunakan kain penutup medis untuk celananya.
Di bilik sebelahnya, Pak Snade terbaring di atas kasur, tubuh slime-nya tidak sempurna dengan wujud manusianya, membuat wajah dan lengan terlihat seperti cairan kental yang terus berubah.
Keduanya, tersambung pada infus di tangan kanan yang berisi cairan merah cemerlang, menyala samar seperti mengandung sihir tingkat tinggi.
“Selamat pagi, Serena, Violina,” sapa Pak Altrez dengan suara beratnya yang khas, melambaikan tangan.
Pak Snade mencoba tersenyum. Wajah slime-nya yang biasanya, bisa menyesuaikan bentuk, kini terlihat sedikit tidak stabil. Matanya bergeser ke bawah, hidungnya mengecil dan mulutnya melenceng ke samping.
“Syukurlah, kalian kembali dengan selamat,” ucapnya dengan suara penuh kelegaan. “Bagaimana para monster yang berhasil kalian selamatkan? Apa mereka baik-baik saja sekarang?”
Serena melangkah lebih dekat, tersenyum tenang. “Iya, Pak Snade. Mereka sudah dipindahkan ke tempat aman. Ditanggani langsung oleh pengurus penginapan monster.”
Pak Snade menarik napas panjang. Dada slime-nya bergerak seolah ikut merespons emosi. “Itu melegakan. Kalian melakukan tugas luar biasa.”
Beliau lalu menyipitkan mata slime-nya, yang tidak seimbang ke arah mereka berdua. “Tapi, tunggu, kalian ke sini cuma mau menjenguk kami?”
Serena baru akan membuka mulut, saat suara langkah kembali terdengar. Nona Irin datang dari arah pojok ruangan, membawa setumpuk peralatan medis yang dibungkus rapi dalam kain cokelat bersih.
Wajah Nona Irin tetap tenang. Namun, nadanya tajam ketika berkata, “Bukan hanya itu saja, Snade. Salah satu anak buahmu terkena racun dari senjata manusia itu.”
Kata-kata itu jatuh seperti petir di ruangan.
Pak Snade langsung menegakkan tubuh dan Pak Altrez mendelik penuh keterkejutan.
“Apa?! Siapa yang terkena racun itu?!” tanya Snade cepat, suaranya tiba-tiba keras.
Violina mengangkat tangan perlahan. “Saya, Pak Snade,” jawabnya dengan sedikit kegugupan di matanya.
Pak Altrez memiringkan kepalanya, ekspresi heran membayang di wajah bantengnya. Kedua telinga besar di sisi kepalanya bergoyang pelan, menangkap kebingungan yang tak bisa disembunyikan.
“Kau?” gumamnya sambil menatap Violina dari atas ke bawah, seolah matanya mencoba untuk menemukan sesuatu yang tersembunyi. “Tapi, Nak. Kau terlihat sehat. Tidak ada luka yang terlihat di tubuhmu.”
Violina hanya menunduk sedikit, tak tahu harus menjelaskan dari mana. Kakinya terasa dingin seketika.
Nona Irin tidak langsung merespown, beliau melangkah tenang melewati bilik tempat Pak Snade terbaring. Tangannya membuka tirai sebelah dengan gerakan tegas.
Di dalam bilik itu, kasurnya kosong. Tanpa banyak kata, beliau berjongkok di tepi ranjang, menarik sebuah kotak kayu dari bawahnya. Kotak itu bukan berisi peralatan medis, melainkan tempat untuk berpijak, menaikkan tinggi tubuhnya agar sejajar dengan permukaan tempat tidur.
Setelah berdiri di atasnya dan meletakkan bungkusan kain coklat di atas kasur.
“Karena itu, Altrez." Nona Irin membuka lipatan kain satu per satu, menampilkan alat-alat medis yang kini tertata rapi di atas seprai putih. “Aku ingin memeriksa anak itu di sini. Si Ra sudah memberiku penjelasan mengenai kondisinya, jika dia terkena racun itu.”
kenapa mereka tidak bercocok tanam atau beternak? mengandalkan pasokan saja ya sulit.
pasokan itu dari mana?
serigala cukup terbayang, yang satunya belum.
Diceritakan juga bahwa mereka sepertinya berjumlah banyak, prediksiku mungkin ada belasan atau puluhan. Kalau mereka tipe agresif feel di keroyoknya itu kurang terasa buatku.
Atau mungkin karena mereka lemah ya, jadi tidak segalak para zombie bab bab sebelumnya🤣 jadi gampang buat di sikatnya
Tapi overal aku masih menikmati kok, hehe, sejauh ini belum kerasa ada minus yang benar benar merusak ceritanya..