Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Informasi Bocor
Langkah kaki para petarung terdengar sampai di dalam kendi air.
"Cepat, cari penyusup itu." Mereka berlari melewati area sembunyi Rio di kendi air.
"Kalian penjaga menara, di mana dia!" seorang pria pakai topi bertanya.
"Saya tidak tahu tuan, dia lari cepat sekali." ucap penjaga menara.
"Dia lari ke arah sana."
"Periksa di bagian sana!"
Dua penjaga di menara lain menunjuk dekat kendi air besar. Para penjaga mulai menendang, memeriksa semua benda. Mereka melempar dan mengangkat setiap benda yang menghalangi mereka tepat berada di halaman rumah warga desa.
"Periksa kendi air itu."
"Waduh, aku ketahuan." Rio panik lalu bersiap menyerang.
"Tapi kendi air itu banyak sekali."
"Cepat periksa!" teriak seorang pria seperti pemimpin bertopi memberi perintah. ke empat para petarung memeriksa kendi air dengan membuka tutupnya.
"Disini tidak ada bos." Bosnya diam. Setelah mereka selesai memeriksa kendi air yang banyak itu. Mereka bergegas meninggalkan kendi air itu menuju ke tempat lain.
"Oooh. Aku selamat." Rio mendengar para petarung itu sudah pergi. Pria bertopi itu berdiri memeriksa setiap kendi air itu lagi.
"Hmm."
"Ada kendi yang belum terbuka."
"Maaf Bos, anda di panggil untuk berkumpul." ucap rekannya.
"Hah." pria bertopi yang hendak membuka kendi terakhir itu, berdiri bingung.
"Ayo bos, cepat. Nanti di marahi." pria itu tidak jadi membukanya, lalu pergi bersama rekannya untuk berkumpul.
"Sudah pergi. Sebaiknya aku harus bergegas." Rio bangkit dari kendi air, tubuhnya basah kuyup karena kendi itu berisi air tidak penuh. Lalu Rio mengendap di balik rumah mengintip banyak para petarung sedang berbaris di jalan setapak.
"Dia memimpin anggota sebanyak itu?" Rio merasa bingung dengan barisan di sana. Jinsin berlari ke arah jalan belakang rumah dengan melihat sekeliling penuh waspada. Di sisi lain, Johin berdiri memimpin para anggota yang sudah berkumpul. Dia memberi arahan kepada mereka untuk melakukan penjagaan terhadap tahanan wanita.
"Siap, bos." Lalu Johin memberi perintah untuk melakukan pencarian terhadap penyusup masuk. Dia menyuruh para petarung untuk menyerang langsung.
"Ooh begitu." ucap Rio mendengar teriakan Johin. Semua pasukan bubar melindungi tempat tahanan wanita dan mulai melakukan pencarian penyusup.
"Ini mempermudah aku." Rio berlari ke arah tempat dimana Jinsin di tahan.
"Haap." Rio melompat dan bergelantung di balik asbes luar rumah.
"Di sini tidak ada." mereka berhenti melangkah tepat di atas Rio bergelantung.
"Cepat cari lagi." mereka berlari lagi. Rio turun dan berlari sambil mengendap memeriksa keadaan sekitar. Setelah beberapa lama Rio mencari keberadaan Jinsin. Dia melihat banyak penjagaan di sebuah rumah itu.
"Sepertinya ada di situ ya." ucap Rio berdiri di atas pohon melihat situasi yang sulit. Karena di bawah pohon banyak para petarung lalu lalang mencarinya. Di sekelilingnya banyak penjaga menara mengawasi situasi. Dia mencari cara agar masuk ke dalam sana.
"Ini sulit bagiku." Rio menghela napas melihat sekeliling dengan tenang jongkok di dahan pohon yang tertutup rapat oleh daun dengan penuh waspada.
"Rio, cepatlah datang." Jinsin meneteskan air mata, duduk seorang diri tidak dapat memegang pedang karena di sita oleh Johin. Di sisi lain, Rio menunggu keadaan kembali lengah dengan bersembunyi.
Suasana desa pun di malam hari telah tenang. Tidak banyak para petarung melakukan pemeriksaan di dalam desa. Suara langkah kaki berkurang, namun banyak penjaga berdiri di sekeliling desa. Rio melihat para petarung masih berjaga di bangunan tempat Jinsin di tahan.
"Sebaiknya aku lempar batu ini ke arah mereka." ke empat batu besar terkena wajah para petarung.
"Hei, siapa yang lempar ini." Kesal melihat wajahnya di lempar, ke empat petarung berlari mencari orang yang melemparnya.
"Terpaksa aku harus turun menyerang mereka semua. Huuuuft.." Rio bersiap untuk turun menyerang mereka di malam hari.
"Hap.."
"Itu dia cepat kepung!" teriak seorang prajurit.
"Baru turun sudah di kepung." Rio berdiri melihat sekeliling dengan tatapan mata tajam."
"Aku tidak punya waktu untuk melawan kalian. Sebaiknya mundur semua!" Rio berteriak kepada para petarung. Mereka sampai melangkah mundur karena mendengar suara Rio menakutkan.
"Mereka tidak bisa mempermudah ku." Rio berlari ke arah kerumunan penjaga pintu tahanan Jinsin.
"Semuanya, dia datang. Bersiap semua!"
"Terlambat." para petarung menahan serangan Rio, namun dengan cepat mereka sudah terkena tebasan pedang di tubuhnya sampai terjatuh.
"Hah. Kok bisa." para petarung yang mengepung dari arah lain kaget melihat serangan Rio yang cepat.
"Haaaaaa...." Rio menebas pedang mereka dengan cepat, sampai para petarung itu kalah dengan cepat. Rio menendang pintu rumah, lalu dia berlari masuk memeriksa keberadaan Jinsin.
"Loh kemana dia." lalu dia berlari memeriksa sekeliling bangunan dan membuka setiap pintu. Tapi dia tidak melihat Jinsin. Di sisi lain, Johin tertawa terhadap laporan yang di terima bawahannya. Lalu dia bergegas untuk melihat kondisi Rio di dalam sana.
"Cepat, tutup pintunya." para petarung langsung menutup pintu dengan memberikan papan kayu di paku lalu di rantai besi. Kemudian para petarung berdiri mengarahkan pedang ke pintu gedung kosong.
"Sial. Apa mereka menjebak ku." Rio sadar kalau disini tidak ada siapa pun. Lalu Rio mendengar suara ketukan dari luar. Rio menutup mata dengan duduk di sebuah ruangan kosong di depan pintu yang rusak, di tutup kembali.
Lalu Rio bangkit, membuka mata menatap pintu penuh amarah. Dia merasakan kesulitan yang di hadapi dalam mencari Jinsin. Kedua petarung terjatuh karena pintu masuk rumah terlempar keluar mengenainya.
Ketiga petarung bersiap menyerang. Rio berjalan keluar di selimuti asap, di pintu sudah di buatnya rusak. Para petarung penasaran dengan sosok di balik asap menyelimuti pintu itu. Rio berdiri menatap wajah para petarung dengan penuh amarah."
"Wow. Ini dia, keluar juga. Hahahaa." Johin tertawa berdiri dari kejauhan.
"Kalau kalian ingin hidup. Sebaiknya kalian mundur." ucap Rio. Lalu para petarung yang berdiri mengelilinginya tidak memberi jalan. Rio berjalan mendekati ketiga orang yang memegang pedang ke arah Rio. Dia menatap matanya dengan amarah.
"Bagaimana ini." Rio melewatinya tanpa perlawanan.
"Sial, apa yang mereka lakukan. Kenapa tidak di tebas." Johin menggerutu. Lalu Rio menarik kepala seorang petarung dan mengarahkan ke kepala dia menatap melotot.
"Hei, cepat katakan. Di mana tahanan wanita itu." ucap Rio suara bisik menakutkan. Petarung itu tidak melawan dan tidak mampu menjawab. Karena ketakutan sampai tangan kanan sedang memegang pedang bergetar.
"Ayo jawab." ucap Rio. Lalu pria itu tidak bisa menjawab lagi, karena mendengar suara Rio membuat tubuhnya mati rasa. Rio melempar wajah seorang petarung ke lantai. Lalu dia berjalan melewati mereka.
"Sekarang ku tanya padamu. Di mana tahanan wanita itu berada?" seorang pria berbadan besar kaget mendengar suara Rio yang halus. Dia menatap matanya penuh aneh.
"Ayo jawab!" bibirnya bergetar. Rio menendang kepala pria besar itu. Lalu perutnya dan melompat menarik kepalanya untuk di jedutkan ke lantai.