Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
“Delvin, ada apa? Siapa yang menghubungimu?” tanya Moly.
“Kuasa hukum Viona. Dylan benar-benar menunjuk pengacara untuk memaksa kita membayar uang itu,” jawab Delvin sambil menahan kesal.
“Pa, jangan berikan!” seru Sanny. “Selama ini Viona tinggal dan makan gratis di rumah kita. Aku bahkan sering memberikan pakaian bekasku untuknya. Papa juga membayar biaya rumah sakit adiknya. Bukankah kita sudah menghabiskan banyak uang untuknya selama ini?”
Delvin menggeleng pelan.
“Papa juga tidak ingin membayar. Tapi Dylan tidak main-main kalau menyangkut Viona. Sungguh tidak kusangka, anakku sendiri malah membela orang lain sampai sejauh ini.”
“Delapan juta yuan bukan jumlah yang kecil,” ujar Moly dengan wajah cemas. “Kalau uang itu kita keluarkan, dari mana biaya pengobatan Sanny? Belum lagi perusahaan sedang kekurangan dana.”
Delvin menghela napas panjang.
“Kalau tidak membayar, kita bukan hanya menghadapi tuntutan hukum. Reputasi perusahaan juga akan hancur. Saat itu, investor bisa menarik dananya, bank menghentikan pinjaman, dan kondisi Grup Jiang akan semakin buruk.”
Sanny langsung panik.
“Jadi bagaimana? Aku masih membutuhkan transplantasi hati. Aku tidak mau terus menjadi pasien.”
Delvin memejamkan mata beberapa saat sebelum akhirnya mengambil keputusan.
“Daripada menghadapi tuntutan sekarang, lebih baik kita bayar dulu. Setelah masalah ini selesai... kita cari cara lain untuk mendapatkan Viona.”
***
Mansion Dylan.
Viona membuka lemari dan mengambil beberapa pakaian lamanya. Saat itu, pintu kamar terbuka dan Dylan melangkah masuk.
“Kenapa tidak istirahat?” tanya Dylan.
“Aku hanya ingin menganti baju,” jawab Viona.
Dylan mengeluarkan sebuah kartu bank dan menghampiri gadis itu.
“Kartu ini milikmu. Delapan juta yuan sudah ditransfer oleh Delvin. Mulai sekarang gunakan kartu ini kalau membutuhkan sesuatu.”
Viona langsung menggeleng.
“Tuan Muda, saya tidak bisa menerima uang ini.”
Dylan mengambil tangan Viona dan meletakkan kartu itu di telapak tangannya.
“Ini adalah upahmu selama enam belas tahun. Kenapa tidak boleh diterima? Simpan saja. Kelak uang ini bisa kau gunakan untuk dirimu dan adikmu.”
Mata Viona langsung memerah.
“Terima kasih, Tuan Muda... karena sudah membantu saya.”
Dylan tidak menjawab. Tatapannya beralih ke dalam lemari.
Ia melihat beberapa pakaian lama yang warnanya sudah memudar.
“Pakaian itu milikmu?”
“Iya.”
“Bukankah itu pakaian bekas yang diberikan Sanny?”
Viona mengangguk pelan.
“Iya.”
“Jay.”
“Iya, Tuan.”
“Buang semuanya.”
Jay langsung menghampiri lemari.
“Tuan Muda...” Viona terkejut.
“Mulai hari ini, semua barang yang berasal dari Sanny tidak boleh ada di rumahku. Buang semuanya. Termasuk pakaian yang sedang kau pakai. Tapi... bukankah sebelumnya Jay sudah membelikan banyak pakaian baru untukmu? Kenapa masih memakai pakaian murahan itu?” tanya Dylan.
“Karena masih bagus... saya tidak tega membuangnya. Lagi pula saya sudah terbiasa memakainya,” jawab Viona pelan.
Tanpa menunggu lagi, Jay langsung mengeluarkan seluruh pakaian dari lemari.
Dylan melangkah mendekati Viona.
Tanpa sadar, Viona mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh lemari.
“Aku adalah majikanmu sekarang..Bukankah kau seharusnya mematuhi semua perintahku?”
Viona menundukkan kepala.
“Iya... saya mengerti. Saya akan segera berganti pakaian.”
Baru saja hendak melangkah, Dylan menahan pergelangan tangannya.
Viona spontan menoleh.
Dengan satu tarikan pelan, Dylan membuat jarak mereka menjadi sangat dekat.
Tatapan Dylan tertuju lurus ke mata Viona.
“Siapa yang mengajarimu menggunakan pisau untuk melukai diri sendiri?”
“Tidak... tidak ada.”
“Tidak ada?” ulang Dylan. “Kau adalah pelayanku. Tanpa izinku, kau berani mempertaruhkan nyawamu sendiri.”
Suaranya terdengar rendah, tetapi dipenuhi amarah yang ditahan.
“Atau... apa karena kau tidak percaya kalau aku bisa melindungimu?”
“Tentu saja bukan,” jawab Viona pelan.
Dylan tetap menatapnya. “Karena aku telah memilihmu, maka mulai hari ini semua kebutuhanmu, kesehatanmu, bahkan seluruh hidupmu menjadi tanggung jawabku. Apa kau mengerti?”
“Iya, Tuan Muda,” jawab Viona sambil mengangguk.
“Pergi ganti pakaianmu. Mulai hari ini aku tidak ingin lagi melihat barang-barang milik wanita sialan itu di rumahku,” perintah Dylan.
“Baik, Tuan Muda.”
Viona membawa pakaian baru yang telah disiapkan Jay, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Jay yang sedang memegang setumpuk pakaian bekas itu hanya bisa menatap Dylan dengan bingung.
"Selama ini Tuan selalu bersikap dingin kepada semua wanita. Kalau hanya ingin membalas budi karena donor ginjal, rasanya tidak mungkin sampai memperhatikan Viona sedetail ini. Bahkan pakaian saja juga diatur."
Jay melirik ke arah pintu kamar mandi yang baru saja ditutup Viona.
"Sepertinya... Tuan sudah benar-benar menganggap Viona sebagai orangnya sendiri."
Sementara itu, di sisi lain...
Sebuah rekaman tiba-tiba tersebar luas di internet dan hanya dalam hitungan menit telah ditonton jutaan orang.
Video tersebut memperlihatkan seorang pria yang tak lain adalah Delvin Jiang sedang berada di sebuah kamar hotel bersama Moly. Dilihat dari penampilan keduanya, rekaman itu diambil belasan tahun yang lalu, saat mereka masih jauh lebih muda.
Yang membuat publik semakin geger, video itu disertai sebuah judul besar:
"Pemilik Jiang Group Diduga Berselingkuh di Hotel Saat Istrinya Sedang Sakit. Selingkuhannya kini yang telah menjadi istrinya setelah istri pertama Direktur Jiang meninggal"
Dalam waktu singkat, rekaman itu langsung menjadi topik utama di berbagai media sosial.
Kolom komentar dipenuhi kecaman.
"Jadi selama ini dia berselingkuh?"
"Kasihan sekali istrinya."
"Pantas putranya memusuhi keluarga itu."
"Kalau ini benar, citra Jiang Group benar-benar tamat."
Tak lama kemudian, berbagai media berita mulai mengangkat kasus tersebut hingga nama Jiang Group menjadi perbincangan di seluruh negeri.
***
Berita yang menggemparkan seluruh negeri itu segera sampai ke telinga Dylan. Ia berdiri santai di depan jendela mansion sambil mengisap sebatang rokok. Tatapannya tenang, seolah semua yang terjadi sudah berada dalam perhitungannya.
Jay melangkah masuk ke ruangan.
“Tuan, Jiang Group sedang dalam masalah besar. Banyak investor mulai menarik dana mereka, harga saham juga terus anjlok. Kali ini mereka benar-benar berada dalam kesulitan.”
Dylan mengembuskan asap rokoknya perlahan.
“Itu yang aku inginkan.”
Jay kembali melihat laporan di tabletnya.
“Selain itu, Tuan Jiang dan Nyonya Moly kini menjadi sasaran kemarahan netizen. Reputasi mereka hancur, bahkan beberapa rekan bisnis mulai menjaga jarak.”
Sudut bibir Dylan terangkat membentuk senyum tipis. “Ini baru permulaan.”
Jay mengangguk.
“Tuan, apakah kita lanjut ke rencana berikutnya?”
Dylan memadamkan rokoknya.
“Belum. Biarkan mereka semakin terdesak. Saat mereka benar-benar berada di jalan buntu...baru kita jalankan rencana kedua.”