Kisah seorang mahasiswi, berasal dari keluarga berada dan di jodohkan paksa dengan seorang pengusaha muda tampan dan berbakat. Namun sayangnya mereka tidak saling mencintai, hingga akhirnya beberapa peristiwa membuat hubungan keduanya berubah setelah kehadiran orang ketiga...
Akan kah keduanya saling mencintai, atau semakin membenci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom mimu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Bagaimana pun juga, mereka masih belum selamat dan belum bisa lega jika Polisi belum menangkap Jimmy. Lulu menyarankan agar mereka berpindah tempat dari persembunyiannya yang sekarang. Namun dengan cepat Luis menolaknya. Akan sangat beresiko jika Jimmy sampai mengetahui pergerakan mereka berdua. Bisa-bisa salah satu dari mereka, atau bahkan mereka berdua mendapat serangan tembakan dari pistol yang Jimmy pegang.
"Huu... aku benar-benar merasa bersalah pada Karina dan Loli. Sebelum aku memutuskan bertemu dengan Jimmy di Kafe, mereka berdua sempat mencegah aku supaya tidak menemuinya. Tapi, aku malah tak mendengarkan saran mereka!" Lirih Lulu.
"Sudahlah! aku mengerti, mereka berdua adalah sahabat-sahabat terbaikmu, mereka pasti akan memaafkan kamu nanti!" Sahut Luis.
Di kamar sebelumnya, Jimmy mengamuk karena tak menemukan mangsanya. Dia mengobrak-abrik isi bangunan tua tersebut hingga menimbulkan suara gemuruh yang bisa di dengar Luis dan Lulu di persembunyiannya.
"Sepertinya Jimmy sudah menyadari sesuatu di sana!" Gumam Luis.
"Benar, apa tidak sebaiknya kita pindah saja! aku takut, jika Jimmy akan mencari kita sampai ke tempat ini!" Tutur Lulu mulai gelisah dan takut.
"Tenangkan dirimu, Lu! aku yakin dia tidak akan menemukan kita di sini! jika kita bergerak sekarang, mungkin akan membuat dia curiga dan menemukan kita dengan mudah!" Sahut Luis.
"Tapi aku mulai takut, Jimmy pasti tidak akan membiarkan kita pergi dengan selamat jika kita ketahuan!" Racau Lulu mulai panik.
Seketika, Luis membawa Lulu ke dalam dekapannya. Di saat seperti ini, mungkin pelukan menenangkan lah yang Lulu butuhkan. Namun sayangnya, entah mengapa perasaan Lulu tak kunjung membaik. Dengan terpaksa Luis melepas pelukannya karena Lulu terus berusaha melepaskan diri.
"Maaf, aku hanya tak terbiasa di peluk orang lain selain, Papa dan keluarga ku!" Ucap Lulu merasa tak enak. Dia tau jika Luis hanya mencoba menenangkan dirinya.
"It's ok, Lu! kamu tidak perlu merasa tak enak padaku! justru aku yang harus minta maaf karena sudah lancang memeluk kamu barusan!" Sahut Luis penuh pengertian.
"Ya sudah, sebaiknya kita fokus dengarkan lagi pergerakan Jimny. Kita tidak boleh lengah sedikit pun!" Ucap Lulu.
Keduanya akhirnya sama-sama terdiam kembali mendengarkan langkah Jimmy yang saat ini semakin terdengar menghampiri tempat persembunyian mereka. Lulu semakin ketakutan, dia memejamkan kedua matanya seraya merapalkan doa-doa dalam hatinya.
"Ya Tuhan, aku mohon selamatkan kami berdua dari pengawasan Jimmy, buat dia tidak melihat kita yang sedang bersembunyi di tempat sempit ini!" Batin Lulu.
Setelah mendengar langkah kaki yang kian menjauh, Lulu dan Luis yakin jika Jimmy pun sudah pergi dari tempat yang mereka yakini dapur itu. Perlahan, Luis mengintip dari celah pintu kitchen set yang mereka pakai sebagai tempat persembunyian.
Setelah memastikan semuanya aman, Luis mulai mengajak Lulu untuk bergerak keluar. Namun, saat mereka baru saja hendak melangkah keluar. Luis di sergap benda mirip ujung pistol dari belakang kepalanya.
"Astaga! apa kita ketahuan?" Batin Luis.
"Jika kalian berani keluar satu langkah lagi, maka kalian tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari rumah tua ini!" Ancam Jimmy yang ternyata sudah mengetahui keberadaan Luis dan Lulu.
"Jim! jangan tembak Luis, dia tidak bersalah. Kamu hanya menginginkan aku bukan? bawa saja aku, cepat lepaskan dia!" Cegah Lulu.
"Cih! kamu pikir aku akan percaya begitu saja? aku akan membunuh dia terlebih dahulu, sebelum merebut kesucian kamu, sayang!" Sahut Jimmy terdengar mengerikan di telinga Lulu.
"A...aku tidak akan berbohong, Jim! aku tidak akan kabur, kamu boleh melakukan apa pun padaku, tapi kamu tidak boleh membunuh Luis!" Ucap Lulu bernegosiasi.
"Hm... kalau begitu, cepat lepaskan semua pakaian kamu sekarang juga! jangan sampai ada sehelai pun yang masih menempel di tubuhmu itu!" Seru Jimmy memerintah.
Luis membulatkan kedua matanya, dia tidak mungkin membiarkan Lulu menelanja*ngi dirinya sendiri di depan mereka berdua. Sebisa mungkin Luis memutar otak dan mencari cara agar bisa terlepas dari sandraan Jimmy.
"Aku harus gerak cepat! pria gila ini harus segera di ringkus dan di beri hukuman!" Batin Luis.
Di saat Jimmy tengah lengah mengancam Lulu agar cepat membuka pakaiannya. Luis memanfaatkan momen tersebut untuk melepaskan diri. Setelah berhasil, Luis juga berusaha merebut senjata api tersebut dari tangan Jimmy. Namun sayangnya, Dia kalah cepat, sehingga Jimmy berhasil meloloskan satu tembakan peluru di lengan kiri Luis.
Dor...
"Luis!" Jerit Lulu hendak menghampiri.
Namun Jimmy ternyata tak membiarkan itu terjadi, secepat kilat dia menjambak rambut Lulu dan menariknya hingga ke pintu luar. Jimmy berencana untuk membawa Lulu pergi dari tempat tersebut.
Disaat bersamaan, Polisi yang sejak tadi di hubungi Luis pun datang dan mengamankan lokasi tersebut dengan cepat.
"Jangan bergerak! Anda sudah kami kepung, serahkan tawanannya sekarang juga!" Ucap Polisi.
"Syukurlah, bantuan sudah tiba, semoga Luis bisa bertahan! aku harus mencari cara agar cepat terlepas dari situasi ini!" Batin Lulu.
Lulu memikirkan cara agar Jimmy melepaskannya. Saat ini, Jimmy tengah menodongkan pistolnya di kepala Lulu.
"Jika aku mengigit tangan Jimmy, seharusnya dia kesakitan dan menjatuhkan pistolnya, bukan?" Batin Lulu lagi.
Tanpa aba-aba, Lulu segera mengigit tangan Jimmy sekuat yang dia bisa. Alhasil Jimmy mengerang kesakitan dan benar-benar menjatuhkan pistolnya. Secepat kilat, Polisi segera menangkap Jimmy dan memborgol kedua tangannya.
Lulu merasa lega setelah mengetahui jika Jimmy sudah di bawa pergi oleh Polisi. Kini, Lulu harus memberitahu Polisi yang lainnya jika Luis masih ada di dalam dengan keadaan tertembak.
"Pak, tolong teman saya! dia sempat tertembak di lengan kirinya tadi, sekarang dia masih ada di dalam!" Ucap Lulu yang segera masuk ke dalam rumah tua itu dan menemui Luis kembali.
"Luis, kamu harus bertahan!" Ucap Lulu ketika keduanya sudah berada di dalam mobil Polisi yang mengantar mereka.
Sampai di Rumah Sakit, Luis segera mendapatkan pertolongan medis untuk mengeluarkan timah panas yang masih bersarang di lengan kirinya itu. Lulu yang baru sempat mengisi daya ponselnya akhirnya menghubungi Devin. Awalnya, Lulu hendak menghubungi Papa dan Mamanya. Namun dia urungkan karena tak ingin membuat mereka khawatir.
📞 "Ada apa? kenapa kamu menghubungiku? aku masih banyak pekerjaan, aku akan pulang larut malam ini, sebaiknya kamu tidak perlu menungguku, ok!" Ucap Devin yang memang sedang berkutat dengan file-file yang perlu dia tinjau setelah kembali dari menemani Thalita di apartemennya.
📞 "Hik... maaf sudah menganggu mu!" Sahut Lulu seraya memutuskan sambungan teleponnya.
"Kenapa dia terdengar menangis? apa terjadi sesuatu padanya, ya? Ya Tuhan, kenapa hari ini aku tidak bisa fokus sedikit pun!" Gumam Devin seraya mengacak rambutnya sendiri.
Dokter telah berhasil mengeluarkan peluru dari lengan Luis. Saat ini dia sudah di pindahkan ke ruangan perawatan.
"Jangan bergerak dulu! kamu masih harus banyak beristirahat!" Cegah Lulu saat melihat Luis yang hendak bangkit untuk duduk.
"Aku baik-baik saja, Lu! lagi pula yang luka itu hanya lenganku, bukan seluruh tubuhku!" Sahut Luis seraya memaksakan duduk di atas bangsal.
"Haist! up to you Mr.!" Ucap Lulu mengalah.
"Lu, sebaiknya kamu pulang saja sekarang, aku yakin Devin pasti sedang mengkhawatirkan kamu sekarang!" Tutur Luis.
"Tapi, siapa yang akan menjaga kamu di sini?" Sahut Lulu bertanya.
"Kamu bicara apa? di sini kan banyak Suster cantik yang ingin merawat ku! sebaiknya kamu pulang saja! aku rasa mereka pasti akan cemburu sama kamu kalau terus tinggal di sini!" Ucap Luis yang membuat Lulu terkekeh.
"Dasar Tuan genit, sedang sakit saja masih bisa bercanda, ya!" Sahut Lulu.
"Siapa yang bercanda? aku serius tau! kamu pulang saja, wajah kamu juga sudah terlihat jelek, tuh! cepat mandi gih di rumah!" Usir Luis yang tak tega melihat wajah lelah Lulu yang memaksakan diri untuk menjaganya.
"Hm... baiklah, aku akan kembali ke sini besok! kamu baik-baik di sini, ya!" Ucap Lulu seraya beranjak.
Tiba di apartemen, Lulu segera masuk ke kamar Devin setelah Bi Asih bertanya keadaanya yang sudah sangat kacau.
"Non, apa Non Lulu benar tidak apa-apa? Bibi buatkan susu hangat ya!" Ucap Bi Asih.
"Aku baik-baik aja, ko Bi! kalau Bibi mau buatkan susu, boleh deh! sekalian buatkan teh hangat untuk Dev juga ya, sepertinya dia sebentar lagi juga pulang!" Sahut Lulu bergegas ke kamar.
"Baik, Non!".
"Kenapa perasaanku mengatakan kalau sesuatu baru saja terjadi pada Non Lulu, ya? semoga saja dugaan aku itu salah," Batin Bi Asih sebelum membuatkan susu dan teh hangat untuk kedua majikan mudanya.
.
.
.
.
.
See you next bab 😘
3 like mendarat buatmu thor. semangat ya.