Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya
Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita
Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Tok tok tok
Irine sudah berulang kali mengetuk pintu Sastra, tapi sang pemilik rumah tidak juga keluar.
"Rin, kok gak dibuka-buka ya? Gue jadi khawatir, Rin," ucap Secil dengan gelisah.
Irine menoleh. Ia sedikit merasa aneh dengan Secil yang tampak cemas. Tapi ia berusaha menyangkal pikiran negatif.
"Mungkin dia lagi keluar. Lo gak usah cemas gitu," ucap Irine sambil menenangkan Secil. Ia pun sebenarnya juga merasa cemas dengan keadaan Sastra.
"Neng."
Irine dan Secil menoleh ketika ada seseorang yang memanggil mereka.
"Ah, iya, Bu? Ada apa?" tanya Irine sambil menghampiri ibu-ibu didepan.
"Cari Sastra ya?"
Irine mengangguk.
"Iya, Bu. Ibu tau dimana Sastra sekarang?"
"Ooh, barusan saya lihat kalau dia sama bibinya keluar bawa koper gitu, Neng," jelas ibu itu.
"Bawa koper, Bu? Memangnya mereka mau kemana?"
"Kalau itu ibu kurang tau. Soalnya Sastra gak bilang apa-apa sama ibu."
Irine mengangguk-angguk.
"Oh, gitu ya, Bu? Terima kasih ya, Bu."
"Kalau gitu ibu pergi dulu."
"Iya, Bu."
Irine menghampiri Secil yang menunggu sambil duduk.
"Kenapa?"
"Sastra sama bibinya pergi bawa koper. Tapi ibu itu bilang gak tau mereka pergi kemana."
"Duh, Rin. Emangnya mereka pergi kemana sih? Kenapa juga mereka gak bilang?"
Irine kini penasaran.
"Cil, gue mau tanya."
"Tanya apa?"
"Lo punya perasaan sama Sastra?"
[[]]
"Lho, lo ngapain kemas-kemas barang ke koper?" tanya Yuan bingung ketika Irine pulang langsung mengemas barangnya ke koper.
"Lo mau pulang kerumah, Rin? Tapi lo ama siapa disana kalau bi Surti pulang kampung?" tanyanya lagi.
Irine berdiri dan menatap Yuan.
"Puncak."
"Hah?"
"Sekarang."
"Lo bilang besok kesananya? Kenapa mendadak?"
"Yuan, gue bilang kesana ya kesana. Kalau lo gak mau, yaudah. Biar gue pergi kesananya sendirian." Irine mengemas barangnya lagi.
"Ck! Lo kenapa sih? Datang bulan lagi lo?" sinis Yuan.
Irine mendelik tajam.
"Yaudah, gue kemas barang gue juga."
Irine dan Yuan pun berangkat ke puncak secara mendadak. Entah apa yang terjadi ketika Irine dan Secil pergi kerumah Sastra.
"Lo kenapa sih? Terus, gimana sama Sastra?" Yuan memecah keheningan antara keduanya.
"Gak tau."
"Kok ga--" Ucapan Yuan harus terpotong karena Irine.
Irine langsung menyetel lagu. Lagu Alec Benjamin - Must Have Been Wind mengalun sangat indah.
Yuan sempat menikmati alunan musik itu, tapi Irine menggantinya. Terus menerus hingga membuat Yuan mendecak kesal tapi tak niat protes.
Sampai dimana Lagu dari Jason Mraz ft. Meghan Trainor - More Than Friends kini yang mengalun. Irine ingin menggantinya lagi, tapi Yuan mencegah Irine.
"Ini aja." Irine menoleh ke Yuan. Kemudian ia hanya membiarkan saja.
Alunan itu mulai memenuhi suasana itu. Yuan sungguh mengiyakan dari lirik lagu itu. Sementara Irine, ia hanya memandang jalan dengan tatapan tak bersemangat.
Rin, lirik lagu itu yang gue inginkan.
[[]]
Yuan menjadi khawatir apa yang sudah terjadi pada Irine. Bahkan ketika mereka sampai pun, Irine tidak mengatakan apapun, selain "iya" dan "tidak".
"Bunda Jess, Irine kemana?" Yuan bertanya pada Jessy ketika ia mencari Irine tapi tidak menemukannya.
"Bunda gak tahu, Yuan. Emang di villa gak ada?"
Yuan menggeleng.
"Gak ada, Bun. Dia kemana sih, masa dicariin kemana-mana gak ada?"
"Yuan!" Yuan tak menoleh ketika panggilan itu mengarah padanya. Bunda Jessy menoleh. Dan ia melihat Ersa berjalan kearah mereka.
Kenapa Ersa bisa ada disana? Karena Rena mengundang Jiya. Dan pastinya, Jiya akan mengajak anaknya itu, Ersa.
Sedari tadi, cewek itu selalu saja mengekori kemanapun Yuan pergi hingga Yuan merasa risih.
"Apaan sih? Gak bisa Lo gak ngerecokin gue apa? Gak disekolah, gak disini. Beban tau gak lo?" sinis Yuan.
Yuan hendak pergi tapi tangannya dicegah. Dengan sekali hentakan, kaitan tangan itu terlepas.
"Pergi lo!"
Yuan pergi. Ia harus mencari Irine. Karena ia takut akan terjadi apa-apa dengan cewek itu.
Ersa mendecak ketika Yuan lagi-lagi pergi.
"Yuan!"
Jessy berdiri.
"Ersa, mending kamu bantuin Tante. Mau?"
Ersa menoleh.
"Oh, bantuin apa, Tan?" tanyanya.
"Bantuin panggangin daging ini." Tunjuk Jessy ke semua daging sapi yang sudah dipotong kecil-kecil itu.
Ersa mengangguk.
"Sini, Tan. Saya bantu."
Jessy tersenyum.
"Makasih, ya."
[[]]
Beda ceritanya dengan Irine. Cewek itu justru menghabiskan waktu sendirinya dengan duduk di pinggir danau yang tak jauh dari villa.
Dengan tangannya yang melemparkan kerikil ke danau, tatapan cewek itu benar-benar kosong. Tak ada semangat seperti biasanya. Seharusnya, ia bisa kesini dengan perasaan senangnya, tapi ia justru tidak mendapatkan perasaan itu.
Justru dengan perasaan sedih, kecewa, kesal, dan marah bercampur aduk di hati dan pikirannya.
"Gue cariin dari tadi. Taunya lo malah duduk-duduk disini? Bisa banget bikin orang nyariin ya?"
Irine tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa orang itu. Tentu saja Yuan. Kini, Yuan mengambil posisi tempat disebelah Irine.
"Lo kenapa sih? Tumben banget lo gak sesenang kek biasanya?"
"Badmood."
Yuan terkekeh.
"Badmood? Ternyata cewek kayak Lo bisa badmood juga," cibir Yuan.
"Yuan,"
"Kenapa? Oh, jangan bilang lo badmood gini karena lo lagi datang bulan ya? Makanya sikap lo lebih aneh."
"Gue salah gak, kalau gue ngebenci orang yang udah lama bareng sama gue?" tanya Irine serius.
Yuan mengernyit.
"Lo benci sama gue?" tudingnya.
"Jawab aja, Yuan."
"Kalau lo bencinya sama gue, ya salah lah. Salah besar!"
"Yuan," peringat Irine. Karena ia benar-benar tidak mood untuk bercanda saat ini.
"Karena masalah apa dulu? Cowok? Atau apa?"
"Cowok," lirih Irine.
Ah, Yuan mengerti arah pembicaraan ini.
"Siapa yang suka sama Sastra?"
Irine langsung menoleh. Ternyata ia tidak akan pernah bisa menutupi apapun pada Yuan. Karena sekarang aja, cowok itu bisa langsung mengetahuinya.
"Secil."
"Kalau lo ngebenci temen lo, salah. Apalagi dia selalu bareng sama lo kemana-mana. Tapi lo ngebenci dia hanya karena masalah sepele. Bukannya lo bilang, lo benci sama hubungan hancur? Kalau lo ngebenci temen lo sendiri dan mengakibatkan hubungan kalian hancur, justru cuma kebencian yang selalu ada di diri lo." Yuan menarik napasnya.
"Tapi kenapa harus Sastra? Kenapa bukan cowok lain?"
Sesak. Yuan benar-benar sesak. Ternyata ia sudah mendapat jawaban yang sangat akurat. Jika sahabatnya itu, jika perempuan yang disebelahnya itu, ternyata menyukai orang yang paling tidak ia sukai.
"Kalau emang udah jodohnya, juga gak akan kemana."
Rin, ternyata gue cuma salah paham sama diri gue sendiri. Gue kira lo akan selalu natap gue, tapi waktu terus berjalan hingga menghantarkan lo ke dunia lain selain gue.
"Udah ayo. Bentar lagi mau gelap nih. Lo mau disini aja apa?" Yuan sudah berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Irine. Irine mendongak. Lalu menerima uluran tangan dari Yuan.
"Jangan terlalu melihat ke depan sampai lo lupa untuk menoleh ke belakang ataupun ke arah samping lo." Yuan berbicara seperti itu tapi Irine tak bisa memahami dari ucapannya itu.
Tapi Irine bersyukur, masih ada Yuan yang selalu ada untuknya.
"Makasih."
"Pokoknya selama ada disini, jangan pernah lo tunjukkin wajah jelek lo ini dihadapan gue. Gue gak suka."
Irine mengerucutkan bibirnya.
"Jahat."
Yuan menghadap Irine secara sempurna. Kemudian ia menarik senyuman di bibir Irine.
"Lo cantik kalau kayak gini."
Irine terkekeh. Begitupun juga Yuan.
"Gombal mulu lo ah. Sejak kapan lo bisa gombal? Deket sama cewek aja gak pernah," cibir Irine.
"Mulai deh, tanda-tanda mulut reseknya keluar," Sindir Yuan.
"Biarin."
[[]]
Ketiga keluarga itu kumpul bersama dengan duduk melingkar. Dimana Yuan yang pastinya berada disebelah Irine. Tapi disebelah sisi lainnya, Ersa duduk disebelah Yuan. Meskipun begitu, Yuan hanya terus bicara dengan Irine tanpa memperdulikan ucapan Ersa disebelahnya.
"Yuan, lo itu dengerin gue ngomong gak sih?" kesal Ersa. Pasalnya ia sudah berbicara banyak, tapi Yuan sama sekali tak memperhatikannya.
"Rin, lo mau coba ikan bakarnya gak? Kalau mau gue ambilin," ucap Yuan.
"Mau."
"Bentar ya." Yuan bangkit dari posisinya. Ersa benar-benar kesal karena Yuan mencuekkinya.
Irine tahu itu. Irine melihat itu. Tapi Irine ingin seperti ini dulu. Membiarkan Ersa tidak ditanggapi oleh Yuan. Karena sekali-kali ia ingin Ersa itu dikasih pelajaran sedikit. Agar cewek itu sadar dengan sikapnya.
Ersa mendekati Irine. Kemudian tanpa tak terduga, Ersa menjambak rambut Irine hingga tanpa sengaja, kepala belakangnya membentur meja dibelakang.
Irine sontak berteriak. Dan detik itu juga yang akan membuat seseorang lebih membenci dirinya hanya karena sikapnya.
To be continued
Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih
Mencintaimu kaka
Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung