( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan (Part 2)
"Kak Riz, gimana udah mendingan?" Taani berdiri di hadapan Rizwan, menyodorkan air mineral yang dibelinya beberapa menit yang lalu.
Rizwan memalingkan wajah, matanya terpejam erat menahan malu. Dalam hati terus merutuki kebodohannya.
Saat ini keduanya tengah duduk diluar gedung bioskop.
satu jam yang lalu, Rizwan dengan percaya diri memilih genre horor untuk film yang akan di tonton nya malam ini.
Menurut informasi yang dibacanya siang tadi menonton film horor dengan pasangan akan lebih menyenangkan, karena ketika ketakutan perempuan akan refleks memeluk atau menggenggam tangan.
Entahlah informasi dari sumber mana yang Rizwan dapatkan.
Tapi itu semua benar-benar melesat jauh dari ekspetasinya.
Rizwan hanya mampu bertahan dua puluh menit saat film diputar.
Rizwan berteriak mencengkram pinggiran kursi menutup telinga dengan kedua tangannya.
Berusaha menghalau suara suara yang begitu terdengar memekakkan telinga.
Karena seumur hidupnya baru kali ini Rizwan menonton film di bioskop.
Dirinya berfikir akan sama seperti menonton di televisi.
Tapi ternyata dia salah, tempat ini jauh lebih menyeramkan, juga mencekam.
Dia benar-benar merasa sangat malu, sementara perempuan disampingnya hanya menelan ludah bingung apa yang terjadi dengan suaminya.
Bukankah dia sendiri yang memilih film ini.
Karena tidak tega akhirnya Taani memutuskan mengajaknya keluar dari dalam ruangan yang Sudah seperti gua kematian bagi Rizwan.
"Minum dulu ya!" Duduk di samping Rizwan.
Wajahnya sudah merah menahan tawa menyaksikan raut wajah ketakutan suaminya.
Ya Tuhan, kenapa dia terlihat menggemaskan sih.
"Maaf, An.." berbicara setelah membuang jauh jauh rasa malu di hatinya.
Dalam hati berjanji tidak akan pernah lagi masuk kedalam ruangan yang sudah membuatnya malu malam ini.
"Untuk?" Taani mengernyitkan dahi.
"Semuanya, acara nonton filmnya jadi berantakan gara gara saya," meremas botol plastik air mineral yang sudah tandas.
"Oh.." Taani terkekeh menutup mulutnya menatap orang orang yang berlalu lalang di hadapan mereka.
"Nggak apa apa kali Kak, lagi juga ini masih sore, aku belum mau pulang. Gimana kalau kita ke alun alun kota aja." Memberikan penawaran memiringkan tubuhnya menghadap Rizwan.
"Sebentar aja ya." Rizwan menatap jam yang melingkar ditangannya, tersenyum sekilas kemudian berdiri.
Taani mengangguk antusias," tapi beliin aku permen kapas lagi ya, Kak."
"Empat aja," berjalan mengikuti Rizwan dengan senyum yang terus tersungging.
"Tapi kita cari makan dulu Kak, aku laper." Taani nyengir. Banyak sekali permintaannya memang.
Lagi pula siapa yang membuatnya menunggu lama sebelum berangkat tadi hingga membuatnya lupa untuk makan terlebih dahulu. Dan siapa juga yang membuatnya keluar dari bioskop sebelum film selesai diputar.
Apa ini akan menjadi kencan kedua yang sangat menjengkelkan bagi Rizwan.
Semoga saja tidak.
Karena yang di langit selalu mendengarkan apa kata hatinya selalu melihat apa yang dilakukan Rizwan untuk membuat hati istrinya bahagia.
.
.
"Kak.." Taani sedikit berteriak karena bising oleh suara kendaraan lain. Keduanya sudah ada di atas sepeda motor Rizwan yang terus melaju menuju Alun-alun kota.
"Aku mau makan bakso ya," menepuk pundak Rizwan.
Posisi duduknya sudah tidak sejauh tempo hari hanya tas kecil yang menjadi penghalang keduanya.
"Jangan terlalu sering makan makanan yang tidak sehat, An." Matanya masih fokus kedepan.
"Orang nggak tiap hari kok." mencebikkan bibirnya. Astaga sumpah demi apapun pria ini benar-benar seperti ayahnya.
"Lantas yang suka beli bakso mas marino siapa dong?" Rizwan tersenyum mengejek karena dia tahu istrinya gemar sekali membeli bakso di manapun.
Rizwan selalu mendapatkan laporan dari Ibu panti, bahwa setiap sore Taani akan mencegat mas Marino pria paruh baya, pedagang bakso keliling yang biasa melewati panti.
"Ya, itukan nggak tiap hari juga." Taani tetap kekeh dengan keinginannya.
Lagi pula bakso yang akan dibelinya hari ini beda versinya meskipun terbuat dari bahan yang sama hehe.
Rizwan hanya diam kedua sudut bibirnya sudah sempurna tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
Sepeda motor yang di tumpangi keduanya terus melaju membelah jalan yang malam ini tidak terlalu ramai.
**
"Satu mangkok berdua." Taani membuka suara saat keduanya sudah duduk berhadapan di kedai bakso.
"Nggak An, saya makan yang lain saja."
Mengibaskan tangannya.
"Ih, ini tuh nggak ada porsi untuk satu orang kak!" Membolak-balik buku menu di hadapannya.
"Ya, bantuin aku Kak, sedikit aja nggak apa apa." Menatap Rizwan dengan tatapan memohon.
Demi apapun Rizwan dengan cepat mengangguk.
Lupa sudah dengan semua ucapannya yang melarang Taani untuk tidak terlalu banyak makan makanan yang kurang sehat menurutnya.
Menunggu pesanan datang keduanya hanya diam, suasana di kedai bakso itu sangat ramai pengunjung. Entahlah kenapa sepertinya makanan yang satu ini cukup banyak digandrungi oleh semua usia.
Saat kedua netra itu bertatapan dengan satu garis lurus saling melempar senyum, Taani yang memutuskan tatapan itu matanya kembali sibuk menatap menu makanan di hadapannya.
Membolak-balikan kertas itu padahal hatinya menjerit ingin kembali menatap wajah Rizwan.
"Selamat malam mas, mbak maaf menunggu lama" Seorang pria tanggung membawa nampan.
Membungkukkan badan, kemudian menaruh semua pesanan keduanya.
Satu mangkuk besar bakso pesanan Taani.
Keduanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih bersamaan.
Dengan sopan pria itupun berpamitan meninggalkan meja Rizwan dan Taani.
"Kak Rizwan, ayo makan!" Menyelipkan rambut dibalik telinga wajahnya sudah berbinar.
Rizwan hanya menelan ludah jakunnya terlihat turun naik.
Oh ibu bagaimana ini.
Demi melihat wajah bahagia Tani malam ini, demi rasa bersalah nya karena sudah menggagalkan acara nontonnya, Rizwan menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Setengah mati mengunyah makanan yang seumur hidup baru di sentuhnya itu.
Dalam hati terus berdo'a Semoga tidak apa apa.
Oh Ibu, ini cinta Bu.
Aku tidak akan mati hanya karena makan makanan ini kan Bu!
Rizwan kembali menyuapkan makanan yang terasa asing di mulut dan tenggorokan nya itu.
**
Pagi ini setelah menyiapkan bekal makan siang untuk Rizwan. Taani merasa ada yang janggal. Biasanya sebelum matahari muncul pria itu sudah berdiri di taman menyirami tanaman kesayangannya.
Tapi pagi ini berbeda, Taani tidak menemukannya.
Mengetuk pintu kamar Rizwan berkali-kali karena hari sudah hampir siang.
Kemana dia?
Tadi malam Sepulang dari alun alun kota Rizwan memang terlihat lebih banyak diam.
Hanya menjawab dengan berdehem atau Anggukan kepala ketika Taani bertanya padanya.
Perempuan itu tidak merasa curiga karena memang sifat Rizwan sudah seperti itu.
Karena merasa khawatir Taani memberanikan diri memutar handle pintu kamar Rizwan.
KLEK!
Tidak dikunci!
Membuka pintu perlahan matanya mengerjap saat menatap tubuh jangkung Rizwan yang masih terbaring bergelung dengan selimut tebalnya.
Mata terpejam erat, hanya erangan yang keluar dari mulut pria itu.
"Kak Rizwan.." Taani bergerak mendekati tempat tidur.
Hening.
"Ya Tuhan, Kak Rizwan!" Taani menjerit saat tangannya menyentuh dahi Rizwan yang panas seperti terbakar.
Wajah pria itu sudah terlihat merah, tubuhnya Menggigil.
Lantas seperti kesetanan, Taani berlari keluar kamar mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter.
Ya Tuhan tolong, jangan terjadi apapun
Aku mohon.
**
Taani mondar-mandir di samping tempat tidur Rizwan, sesekali menggigit ujung kukunya.
Wajahnya sudah pucat karena khawatir.
Dalam hati terus merutuki kecerobohan dan ketidaktahuannya.
"Ayo bangun Kak! aku mohon. mengguncang tubuh Rizwan pelan. Saat ini perempuan dengan raut wajah cemas itu, sudah duduk di samping Rizwan.
Dokter yang memeriksa Rizwan sudah pulang beberapa menit yang lalu.
Sebelum berpamitan dokter mengatakan bahwa penyebab sakitnya Rizwan pagi ini adalah bakso yang di makannya tadi malam.
Rizwan alergi bakso dari kecil.
Kebodohan apalagi yang dilakukan rizwan hingga dia tidak perduli dengan alerginya.
Ya Tuhan Kak Rizwan.
Bulir-bulir air mata sudah sempurna meluncur di pipi Taani.
Bersambung...
sukses
semangat