" Ayo kita cerai....!!! " ucap Laras dengan lantang kepada Erlangga
" Ada apa kenapa tiba tiba kamu ingin bercerai..? " tanya Erlangga yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
" Aku rasa kamu sudah tau kenapa saya ingin bercerai Mas, aku ini Istri kamu tapi sejak menikah aku belum mendapatkan hak ku sebagai istri mas " jawab Laras dengan suara bergetar
Erlangga bankit dari duduknya dan menghadap Laras.
" Jangan pergi demi Nathan dan Nala Laras " ucap Erlangga
Saat mereka tengah berbicara Nathan masuk dan menghampiri keduanya.
" Bunda.. bunda jangan pergi jangan tinggalin Nathan " ucap Nathan yang mendengar ucapan kedua orangtuanya
" Nathan, ayo ikut bunda kita ke taman belakang " ucap Laras menghibur anaknya
Entah mengapa Laras tak pernah tega untuk meninggalkan Nathan dan Laras, walaupun ia sendiri tau jika kedua anak itu bukan anak kandung Laras dan Erlangga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Kondisi Laras kini sudah jauh lebih baik, luka jahitan Laras juga sudah membaik. Namun kondisi Naya sampai sekarang belum juga sadar, hal itu semakin membuat Laras sedih.
Laras duduk di kursi roda, ia menatap kearah kamar inap Naya dari luar ruangan.
" Mas Naya kuat kan mas ..? " tanya Laras dengan sendu
" Iyah sayang, Naya itu kuat seperti kamu " Jawab Erlangga yang berlutut di sebelah Laras
" Bukan seperti aku Mas, tapi seperti kamu. Seperti ayahnya "
Laras menoleh kearah Erlangga, ia bisa melihat betapa sulitnya yang Erlangga tengah lalui
" Nathan ko belum datang ya mas "
" Kita tunggu di kamar kamu yah sayang "
Laras mengangguk dan dengan segera Erlangga mengantar Laras untuk ke kemar.
Baru Laras merebahkan tubuhnya, pintu kamarnya terbuka.
" Bundaa " panggil Nathan yang langsung berlari
" Eehh ada anak Bunda, sini sayang " Laras mencoba duduk dibantu oleh Erlangga
Rian yang mengantar Nathanpun ikut masuk, ia juga menghampiri Laras.
" Gimana masih sakit ga..? " tanya Rian kepada Laras
" Engga ko, Mamah dan Bang Jeri dari kemarin ga keliatan " Laras mencari keberadaan Mamah dan Abang Angkat nya
" Lagi ada urusan Ras, udah Lo sembuh aja dulu gausah mikir yang lain lain "
Laras mengangguk dan Rian mengelus kepala Laras
" Bundaa masih sakit ?? " kini berganti Nathan yang bertanya
" Engga sayang, apalagi kalau Nathan peluk pasti Bunda cepet deh sembuhnya " ucap Nanda sambil mengelus pucuk kepala Nathan
Dengan segara Nathan memberikan pelukan kepada Laras, anak laki laki itu benar benar sangat mencintai Laras.
Erlangga mengajak Rian berbicara, mereka sedikit menyingkir dari ibu dan anak tersebut.
" Jadi gimana Raka dan Jeni " tanya Erlangga
" Jeni dibawa kerumah sakit jiwa sama Mamah, sedangkan Raka sudah diamankan dan sekarang Mamah dan Bang Jeri cuma ingin tau tentang harta Mamah yang dibawa oleh Raka dan Jeri " Ucap Rian
" Kalian kenapa bisik bisik, lagi ngobrolin apa emangnya..? " tanya Laras yang melihat keduanya sedikit menjauh
" Engga ini si Erlangga bilang katanya udah lupa sama gaya gaya " ucap Rian mengarang cerita
" Rian ada Nathan ..!!! " ucap Laras ketus
" Emang Papah mau minta ajarin gaya apa Bunda, Nathan bisa ngajarin gaya berenang kan Bunda " ucap Nathan yang polos
" Bukan Nathan, tapi gaya untuk olahraga " jawab Rian yang mengundang pukulan dari Erlangga
" Jangan didengerin yah sayang, udah Nathan sama Bunda aja oke " ucap Laras mengalihkan pembicaraan
" Iyah Bunda " jawab Nathan mengangguk dan kembali memeluk Laras
***
Siksa dan Jeri sudah sampai dirumah milik Raka, walaupun sebenarnya rumah itu adalah milik Siska namun sejak kejadian saat itu Raka mengambil alih semua harta milik Siska
" Sepertinya mereka menyimpan di lantai tiga Jer " ucap Fransiska
" Ayo kita kesana Mah " Ajak Jeri
Dengan segera Siska dan Jeri pergi ke lantai tiga, dan saat mereka sampai ruangan itu dikunci.
" Dikunci Mah, coba Jeri dobrak aja Mah " ucap Jeri yang dibalas anggukan oleh Siska
Dengan sekeras mungkin Jeri mendorong pintu tersebut, hingga dua kali dorongan akhirnya Jeri berhasil mendobrak pintu tersebut.
Dengan segera Fransiska masuk bersama dengan Jeri, dan benar saja didalam sana ada sebuah kotak berisi uang dan emas beserta sertifikat rumah dan surat surat lainnya.
" Kita bawa semuanya Jeri, dan segera tuntut Raka " ucap Siska memberikan perintah kepada Jeri
" Baik Mah " jawab Jeri
Fransiska benar benar merasa murka terhadap Raka, padahal sejak dulu Siska lah yang memberikan Raka berbagai macam fasilitas tapi ternyat Raka memilih untuk mengkhianati Siska dengan percaya ucapan Jeni.
***
Saat Laras dan Erlangga tengah menatap Naya dari luar, mereka melihat tubuh Naya yang tiba tiba bergerak.
" Kamu tunggu sini Mas mau panggil Dokter" ucap Erlangga dan Laras mengangguk
Dengan secepat Mungkin Erlangga pergi, sedangkan Laras turun menatap Naya dari luar.
" Nayaa kamu tunggu ya sayang " ucap Laras
Erlangga kembali dengan bersama dokter dan perawat, Mereka langsung masuk kedalam dan memeriksa kondisi Naya.
" Mas Naya kenapa Mas " ucap Laras dengan sedih
" Ga apa apa Naya pasti ga apa apa sayang " ucap Erlangga menguatkan Laras
Dokter keluar dari ruangan dan menatap Erlangga.
" Kenapa Dok, anak saya baik baik saja kan Dok ?? " tanya Erlangga dengan panik
" Sepertinya racun yang kemarin sudah kita keluarkan sudah menyebar diarea lainnya, jadi -" sang Dokter menjeda ucapannya
" Jadi apa Dok..?? " tanya Laras yang menunggu
" Jadi racun tersebut sudah menjalar ke bagian otak, anak Bapak sama Ibu tidak bisa di selamatkan " ucap Sang Dokter melanjutkan
" Ga Dok ga mungkin pasti ada cara lain kan Dok, katakan sama saya itu semua ga mungkin kan " ucap Erlangga dengan histeris
Erlangga langsung masuk kedalam, ia menghampiri gadis kecilnya
" Naya.. Naya bangun Nayaa " Erlangga terus menggoyangkan tubuh Naya
Laras mengikuti Erlangga masuk kedalam, ia juga ikut hancur saat mengetahui putri kecilnya pergi selama lamanya.
" Sayang " Laras memegang pundak Erlangga
" Naya sayang bangun yaah, Naya liat ada Bunda disini dia akan pulang sama kita sayang " ucap Erlangga sendiri
" Mas Erlangga " Panggil Laras dan Erlangga langsung memeluk Laras
" Kita harus ikhlas Mas, kita harus ikhlas" ucap Laras namun Erlangga hanya menangis
" Aku gagal Laras aku gagal, aku gagal menjadi ayah aku gagal menjadi suami aku gagal Laras " ucap Erlangga yang terus menyalahi dirinya
" Engga, Mas ga gagal. Mas jangan kayak gini kasian Naya, liat dia cantik mas cantik sekali " ucap Laras sambil menatap putrinya yang sudah terbujur kaku
Rian dan Nathan yang baru saja kembali dari luar melihat kamar Naya yang terbuka.
" Om Ian, kita masuk yuk pasti Naya udah bangun om " ucap Nathan dan Rian mengangguk
Rian yang tengah menggendong Nathan langsung mengajak Nathan masuk, namun begitu ia mereka masuk ia melihat orangtua mereka yang tengah menangis.
" Papah Bunda " panggil Nathan yang bingung
Rian mendekat kearah Laras dan Erlangga, ia melihat Naya yang sudah tak lagi memakai alat alat medis.
" Naya.. Naya ga apa apa kan Ras ?? " tanya Rian yang juga terkejut
" Naya kenapa om Ian, Naya lagi tidur kan ?? " Nathan pun ikut bertanya kepada Rian
Laras menggelengkan kepalanya, dan seketika Rian pun tau jika terjadi sesuatu kepada Naya.
Erlangga berlutut kepada Nathan, sedangkan Nathan masih bingung dengan keadaan yang sekarang.
" Nathan, Nathan sayang kan sama Naya?? " ucap Erlangga
" Iyah Papah, kalian semua kenapa nangis ?? Naya kan cuma tidur " ucap Nathan yang masih bingung
" Iyah Naya tidur sayang, tapi..tapi Naya ga bangun lagi Naya udah dipanggil sama tuhan " ucap Erlangga memberikan dirinya
" Engga Papah bohong..!!! Papah gendong Nathan, Nathan mau bangunin Naya " ucap Nathan yang histeris
Erlangga langsung menggendong putranya, dan ia melihat Naya yang memejamkan mata
" Nayaa bangun Nayaa kita janji kan mau main bareng terus, Nayaaa ayo bangun kamu ga boleh ingkar janji " ucap Nathan sambil menangis histeris
" Nayaaaaa " panggil Nathan yang tak sanggup kehilangan saudaranya