Stella Vivian mendeklarasikan dirinya sebagai wanita yang bisa menaklukan seratus pria sekaligus. Wajah cantik dan bentuk tubuhnya memang tidak diragukan lagi, hingga ia dengan mudahnya mendapatkan pria mana pun yang ia inginkan.
Stella Vivian tidak menyia-nyiakan kecantikan yang ia miliki, Ia memanfaatkan kecantikannya itu untuk menggaet para pria kaya, mulai dari pria single hingga pria beristri sekali pun. dan kemudian ia akan hidup bermewah-mewahan dengan uang yang ia dapat dari pria-pria tersebut.
Namun, suatu hari kekacauan terjadi saat pria yang ia goda dan membuat hatinya luluh ternyata adalah suami kakak angkatnya sendiri.
Apakah Stella Vivian akan menyerah dan menjauhi pria tersebut demi saudarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGINAP
Tidak ada yang lebih menyebalkan bagi Vivian selain menunggu dan menunggu. Sejak tadi ia telah berusaha untuk mengontrol emosinya. Menahan amarah yang ingin meledak dari dalam kepalanya. Bagaimana ia tidak merasa marah jika pria yang telah berjanji untuk datang ke rumahnya tidak juga kunjung datang, padahal sekarang sudah hampir tengah malam, itu berarti ia telah menunggu kedatangan pria itu sejak beberapa jam yang lalu hingga rasanya akan muncul gumpalan-gumpalan akar dari bokongnya yang terus menempel pada bantalan sofa.
"Tidurlah. Aku rasa dia tidak akan datang," ujar Anita, yang untuk kesekian kalinya meminta Vivian untuk beristirahat.
Vivian mendelik, menatap Anita yang berdiri di dekatnya dengan tangan dilipat di depan dada. Anita terlihat bosan, sepertinya Anita menganggap bahwa Vivian terlalu bodoh karena percaya pada ucapan pria yang baru mereka kenal beberapa hari terakhir.
"Tidak mungkin dia tidak datang. Dia janji akan datang dan mengantarku ke dokter," ucap Vivian, yang masih memiliki keyakinan bahwa Darius pasti akan menepati janji.
Anita lantas menunjuk jam yang menempel di dinding. "Lihatlah, jam berapa sekarang. Dokter tidak akan menerima pasien di jam segini keculi pasien yang sekarat, Vivian," ujar Anita, masuk akal.
Vivian menghela napas, ia tahu apa yang dikatakan oleh Anita ada benarnya. Dokter hanya akan menerima pasien dengan keluhan serius di jam segini. Dengan susah payah Vivian pun akhirnya bangkit berdiri, lalu melangkah menuju kamar dengan kaki terpincang-pincang.
"Sial, andai tahu begini, aku pasti tidak akan berdandan," gerutu Vivian, sambil berbaring tengkurap di ranjang dan melepas aksesoris yang menempel di tangan juga lehernya, lalu melempar aksesoris-aksesoris itu ke sembarang arah.
Di saat sedang merasa kesal setengah mati, ponsel Vivian berdering, dan nama Virginia terlihat jelas di layar benda pipih tersebut.
Vivian mengatur napas sebelum menerima panggilan dari Virginia. Ia tidak ingin terdengar kesal saat berbincang dengan kakak semata wayangnya itu. Bisa-bisa Virginia yang super sensitif malah salah paham.
"Ya, Kak, belum tidur?" tanya Vivian dengan suara yang ceria,
Dari seberang panggilan terdengar suara Virginia yang cekikikan. "Tidak. Aku belum tidur. Aku baru saja datang dari makan malam yang romantis bersama dengan Andra," jawab Virginia.
"Aaah, aku iri," ujar Vivian, kali ini sambil mengubah posisi tubuhnya menjadi telentang. "Makan malam romantis adalah keinginan semua wanita."
"Menikahlah agar tidak iri. Aku akan mencarikan jodoh untukmu agar kamu tidak lagi tertipu oleh pria kurang ajar macam Subroto."
Vivian tersenyum mendengar ucapan Virginia. Ia senang karena trauma Virginia tentang pernikahan sudah menghilang sejenak wanita itu menikah untuk kedua kalinya dengan pria yang baik. Nyatanya sekarang Virginia menyarankan dirinya untuk menikah juga, padahal dulu sekali Virginia akan gemetar saat mendengar apa pun yang ada kaitannya dengan pernikahan.
"Ya, Kak, carikan aku jodoh yang tampan dan yang baik seperti suami kakak. Pasti akan beruntung sekali jika aku mendapatkan suami sebaik dia."
"Akan aku tanya Andra, apa dia memiliki teman yang belum menikah. Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu tertipu lagi."
Vivian kembali tersenyum mendengar jawaban Virginia. Ia lalu kembali berujar, "Tapi, ngomong-ngomong kenapa Kakak menelepon jam segini. Tidak mungkin hanya untuk membicarakan jodoh untukku, 'kan?"
Hening sejenak, hanya suara napas Virginia yang terdengar mengisi kekosongan pada jeda pembicaraan mereka, lalu kemudian suara Virginia kembali terdengar.
"Sebenarnya aku menelepon untuk mengatakan kalau Ayah sudah keluar dari rumah sakit sejak beberapa jam lalu, dan keadaannya baik-baik saja. Maaf baru mengabarimu."
"Tidak masalah, Kak, dan syukurlah kalau ayah baik-baik saja. Aku akan ke sana besok untuk menengok ayah."
"Tidak usah dipaksakan kalau kakimu masih sakit, Vi, fokus saja untuk menyembuhkan kakimu. Apa perlu aku ke sana dan mengantarkanmu ke rumah sakit besolk" Virginia menawarkan diri.
Vivian diam saja sambil memandangi kakinya yang masih sakit, sebenarnya ia masih sangat kecewa karena rencananya untuk menemui dokter bersama dengan Darius batal, karena Darius tidak datang sesuai janji.
Baru saja Vivian akan menjawab tawaran dari Virginia, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan Anita muncul dengan senyum mengembang di wajah.
"Dia datang," ujar Anita, dengan suara sepelan bisikan.!!
Senyum mengembang di wajah Vivian, ia pun mengangguk dan mengacungkan ibu jari ke Anita. Anita yang paham maksud Vivian pun segera keluar dari kamar dan kembali menghampiri tamu istimewa mereka.
"Tunggu sebentar, dia kebetulan juga baru masuk ke kamar. Sejak tadi dia terus menunggumu. Kalau aku tidak memarahinya dan memintanya untuk tidur, dia mungkin masih duduk di sofa sambil menunggu kedatanganmu," ujar Anita, pada Darius ketika ia telah kembali tiba di hadapan Darius.
Darius hanya diam, bibirnya sedikit menyunggingkan senyuman canggung. Ia merasa sangat tidak enak karena harus datang semalam ini ke rumah seorang wanita.
"Aku masuk dulu, jujur saja aku mengantuk sekali," ujar Anita lagi, lalu segera beranjak dari hadapan Darius. Ia tahu jika Vivian membutuhkqn ruang pribadi di mana hanya ada Vivian dan Darius, itulah sebabnya Anita segera menyingkir sebelum diminta.
Sementara itu di dalam kamar, Vivian bangkit dari ranjang dengan bantuan tongkat setelah ia menyudahi obrolan teleponnya dengan Virginia. Vivian merapikan rambutnya dengan cepat, memoles lip balm rasa jeruk kesukaannya, dan langsung keluar dari kamar.
Tak, tak, tak.
Suara tongkat Vivian sekarang mulai memecah keheningan di ruang tamu, membuat Darius yang sejak tadi duduk bagai patung sontak bangkit berdiri dan mengedarkan pandangan. Detik berikutnya kedua matanya yang tajam menangkap sosok Vivian yang begitu cantik mengenakan dress selurut berwarna lilac tanpa lengan, hingga bahunya yang putih mulus terekspose dengan jelas. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja, menutupi sebagian bahunya.
"Aku baru saja akan berganti pakaian dan pergi tidur. Namun, kedatanganmu membuatku dengan bodohnya bergegas keluar dari kamar agar kita dapat segera bertemu, aku bahkan melupakan cardiganku," ujar Vivian, dengan sengit.
"Maafkan aku, terjadi sesuatu yang membuatku tidak bisa menepati janji. Aku sungguh minta maaf. Kedatanganku ke sini untuk mengatakan permintaan maaf, jika tidak, aku tidak mungkin mengganggumu di malam yang selarut ini," ujar Darius. "Istirahatlah lagi kalau begitu."
Vivian menghela napas. "Jadi, kamu sudah ingin pulang?"
"Tentu, aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan di malam yang selarut ini. aku akan kembali besok jika kamu masih ingin kutemani ke rumah sakit."
Senyum miring tersungging di bibir Vivian, ia tidak percaya jika Darius hanya datang untuk minta maaf dan berniat untuk segera pergi. Permintaan maaf Darius bahkan tidak terlihat tulus di mata Vivian.
"Kamu bahkan tidak terlihat menyesal karena telah membuatku menunggu begitu lama. Dasar kejam. Pergilah kalau begitu dan jangan kembali, aku tidak butuh dokter. Aku sudah sembuh!" seru Vivian, lalu melempar tongkatnya ke seberang ruangan, dan tanpa menunggu reaksi Darius, ia segera berbalik dan pergi meninggalkan Darius. Namun, baru bergerak selangkah Vivian langsung terjatuh.
"Aaah!" Vivian menjerit sambil memegangi pergelangan kakinya.
Darius yang melihat hal itu segera menghampiri Vivian. "Kamu tidak apa-apa?"
"Bukan urusanmu."
Darius tidak memedulikan kemarahan Vivian. Ia menyentuh pergelangan kaki Vivian dan berkata, "Bengkak. Aku akan membawamu ke rumah sakit besok."
Vivian menepis tangan Darius dari kakinya. "Tidak usah, karena aku yakin kamu pasti tidak akan datang. Sama seperti hari ini."
"Aku pasti datang."
"Aku tidak percaya. Dasar pembohong!"
"Kalau aku bilang akan datang, aku pasti datang." Darius terlihat keras kepala, ia tidak suka diremehkan oleh Vivian.
"Pergilah!" titah Vivian, mendorong tubuh Darius agar menjauh darinya. Namun, Darius tidak bergerak sama sekali. Pria itu tetap di tempatnya.
"Aku tidak akan pergi," gumam Darius.
Vivian tersenyum miring. "Apa maumu? Apa kamu akan menginap di sini? Jika tidak, enyahlah segera dari hadapanku! " Vivian hanya asal bicara. Ia tahu jika pria seperti Darius tidak akan mungkin memginap di rumah seorang wanita.
Akan tetapi, tebakan Vivian salah besar. Alih-alih pergi dari hadapan Vivian, Darius malah mengangguk.
"Aku akan memginap di sini."
Bersambung.