"Aku bersumpah demi setiap tetes darah Chaca yang menyatu dengan air, demi setiap air mata yang ia keluarkan hari ini, dan demi setiap detik rasa sakit yang ia rasakan. Kau ... Devon Albara dan yang lainnya, jika suatu hari nanti kalian tahu kebenarannya, kalian akan merasakan yang namanya kematian itu lebih baik daripada hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Dan untukmu Darent Al Jeck, semoga kau bahagia setelah menghianatiku dan memilih dia. Sekarang aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup, semuanya sudah terbawa bersama buih lautan darah Chaca, jadi untuk apa aku tetap tinggal di dunia ini, selamat tinggal, semoga suatu hari kita bisa dipertemukan lagi di akhirat teman-teman."
~Lisa~
"Enggak ada gunanya gue hidup, semua teman-teman gue udah pergi menyusul Chaca, dan satu-satunya orang yang gue cintain ternyata tega ingin membunuh gue karena rekaman palsu yang di buat seseorang, jadi ... selamat tinggal."
"Tidaaaakkk!"
~Lista~
__________________
JAUH JAUH SANA PLAGIAT!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha_Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembantaian 2
"Kalian jahat! Apasih sebenarnya mau kalian? Kenapa kalian tega menyakiti Chaca seperti ini? Dan buat lo Devon, Chaca sangat mencintai lo dengan tulus, dia gak pernah ngehianatin lo, itu semua fitnah! Dia yang udah fitnah kami ...!" teriak Lisa penuh emosi.
"Fitnah? Trus apa maksudnya foto-foto ini?" tunjuk Devon pada semua foto-foto yang sudah berserakan di tanah.
Dengan penasaran, Lisa mengambil salah satu foto tersebut dan melihatnya dengan seksama.
"Dia kak Damian, kakak angkatnya kita, BlackBerry Girls. Ini pasti ulah lo kan? Lo dari dulu gak ada kapok-kapoknya yah gangguin kita, sebenarnya apasih maunya lo nuduh kita? Lo mau balas dendam karena udah dikeluarin dari agensi? Gak gini caranya, dasar pengecut, cuih!" Lisa meludahi Vila dengan jijik.
"Akhhhhh!" teriaknya histeris karena jijik.
"Lo bener-bener gak tahu diri yah, lo pengecut, beraninya main belakang doang dengan cara memanfaatkan Devon dan yang lain, pantas aja sih ... Jeck mutusin lo dan lebih milih Sinta, lo dan yang lain tuh munafik, serigala berbulu domba," kilah Vila mencaci maki Lisa dan membalikkan semua fakta.
"Jangan pernah sebut nama binatang itu di depan gue, atau lo bakal menerima akibatnya." Mata Lisa sekarang berubah menjadi setengah kecoklatan, pertanda bahwa Clara mencoba menguasai tubuh Lisa.
"Binatang? Gak kebalik mbak? Harusnya lo yang lebih pantas di julukin seperti itu dan bukannya Darent, ups!"
Seketika mata Lisa berubah sepenuhnya menjadi kecoklatan dan langsung menyerang Vila dengan brutal, berbagai pukulan dan tendangan ia berikan namun vila terus saja menghindari serangannya.
Hingga Vila terpojok dan tidak memiliki cela untuk menghindar lagi dari serangan Lisa yang semakin lama semakin kuat.
"Mam*us kau jal*ng!" Lisa memusatkan semua energinya di tangan untuk menonjok Vila sekali lagi.
Tapi sebelum itu terjadi ... ia merasakan sakit yang amat sangat di bagian tengkuknya, sepertinya ada yang memukulnya dari belakang. Kemudian semuanya menjadi gelap bersamaan dengan dirinya yang sudah tak sadarkan diri.
"Huh ... untunglah kalian datang tepat waktu," syukur Vila.
"Huh ... menyusahkan saja," ucap Jeck dan Sinta.
SKIP ⏩
"Eughh," erang Chaca yang baru saja terbangun.
"Ke ... kenapa semuanya gelap? Kepala gue di tutupin pakai apa lagi nih? Lah kok gue gak bisa gerakin tangan sama kaki gue sih ...," lirih Chaca gelisah.
"Aduh ... kok banyak cipratan air sih di sini? Jangan-jangan ... gue di pantai lagi nih."
"T ... T ...." Chaca berusaha mengeluarkan suara namun tak bisa.
"Kok ... gue gak bisa ngomong dengan jelas, suara gue kenapa?" batinnya lalu mencoba untuk berbicara sekali lagi.
Tiba-tiba Chaca mencium bau aneh, "ini ... sepertinya bau ... racun ...." Chaca semakin di buat gelisah, detak jantungnya seperti memompa 3 kali lebih cepat dari biasanya.
"Aaakhhhh!" Racun itu mulai merusak organ Chaca satu persatu, membuat dirinya mengerang berkali-kali.
"Ouh ternyata mantan gue udah bangun, yah? Mau bermain-main dulu atau langsung ke menu utamanya Sayang?" tanya Devon menyeringai licik.
"Akhhhhh!"erang Chaca semakin menggila.
"Ayo jawab!" bentak Devon sembari mengguncang tubuh Chaca dengan kasar.
Sepertinya racun itu sudah merusak pita suaranya, ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, ingin sekali ia mengatakan sesuatu yang menggambarkan suasana hatinya.Sayangnya air mata tidak bisa berbicara, padahal sedari tadi terus saja mengalir tanpa henti namun ctak berguna.
Ingin rasanya ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa berkutik di depan kekasihnya.
"Lo bodoh Cha ... bodoh! Lo belajar bela diri dari kecil dan di saat-saat seperti ini enggak berguna sama sekali, lo lemah di hadapan cinta, lo orang tertolol yang pernah ada." Chaca mengutuk dirinya sendiri karena bisa tertipu dengan yang namanya cinta.
"Sayang ..., kamu suka boneka enggak?" tanya Devon pada Vila.
"Suka ... suka banget malah, apalagi kalau boneka yang namanya Chaca," jawab Vila menyeringai senang.
"Yaudah, aku serahin dia sama kamu, kamu boleh lakuin apapun sama dia, selama itu bisa membalaskan rasa sakit hati aku ke dia." Devon segera meninggalkan mereka berdua di tepi jurang laut tersebut lalu Vila segera melancarkan aksinya.
Vila membuka karung yang menutupi kepala Chaca yang ikatannya meninggalkan bekas kemerahan di lehernya.
"Saatnya bermain Chaca, santai dan nikmati saja, biar aku yang memimpin permainan ini," seringai Vila licik, sedangkan Chaca berkali-kali menggeleng tak mau dengan air matanya yang belum juga berhenti sehingga bagian bawah matanya mulai bengkak.
"Bughh ... Bughh"
"Brakk!"
"Gubrak!"
"Akhhhhh!" batin Chaca kesakitan namun tak mampu mengeluarkan sedikitpun erangan dari mulutnya.
Teman-teman Chaca yang lain tak bisa berkutik untuk menyelamatkan Chaca dari keganasan Vila menganiayanya karena tangan dan kaki mereka di ikat.
"Hentikan! Tolong hentikan kelakuan Vila, Chaca bisa mati kalau terus-terusan dianiaya seperti itu ...," pinta Lisa dan yang lain karena sudah tak tahan melihat temannya di siksa seperti itu.
"Nikmatin saja pertunjukannya sayang, mumpung gratis ... kamu kan paling suka sama yang gratisan." Leo tersenyum licik sambil memegang dagu Lista.
"Cuih!" Lista meludahi Leo tepat di wajahnya.
Leo mengusap kasar wajahnya lalu ekspresinya seketika menjadi seram.
"Dasar bit*h, sini lo gue kasih pelajaran!" Leo menyeret Lista ke dekat Chaca yang sudah terkapar lemah dengan berbagai luka menganga di sekujur tubuhnya.
Leo menutup mulut Lista dengan selembar kain miliknya, lalu menjambak rambut Lista. Ia mengambil sebuah senjata dari balik jaketnya dan mengarahkannya ke kepala Lista.
"Ini balasan karena lo udah bohongin gue dengan cinta palsu, dan menganggap semua perhatian gue sebagai permainan lo saja."
Air mata Lista sudah mengalir deras saat ini, ia tak menyangka bahwa Leo bisa berbuat sejahat ini padanya.
Chaca tak bisa melihat temannya tersakiti, dengan sekuat tenaga ia berdiri dan berlari menubruk Leo sehingga terpental beberapa meter hingga ke pinggir jurang.
"Huh ... untunglah." Tinggal beberapa centimeter lagi jarak Chaca dengan jurang, Chaca melihat ke bawah dan melihat betapa curamnya jurang tersebut lalu dibuat bergidik ngeri dengan bebatuan yang tajam di bawah sana.
"Chaca awas ...!" teriak Lisa dari kejauhan.
"Ap—"
"Brukkk!" Chaca di tendang oleh Vila dari belakang secara tiba-tiba. Chaca yang tidak siap, langsung kehilangan keseimbangan lalu terjatuh kedalam jurang yang penuh dengan bebatuan tajam.
"Tuhan ... sungguh tragis nasib hidupku, dari kecil sudah menderita dan sampai akhir hayat pun juga menderita. Aku kira kisahku akan berakhir seperti dongeng Cinderella, tapi dongeng tetaplah dongeng, hanya khayalan yang sudah pasti bukan kenyataan." Itulah ucapan terakhir Chaca sebelum merasakan sakitnya hantaman bebatuan tajam yang menusuk punggungnya, terjun ke dalam air laut yang dingin hingga berasa ke tulang belulang, melihat darahnya sendiri menyatu dengan air asin, merasakan seluruh udara di dalam paru-parunya memaksa untuk keluar bagai barisan, serta kegelapan laut yang merenggut kesadarannya secara penuh.
"Chaca!!!" teriak Lista dan yang lain saat melihat air laut yang berubah menjadi merah.
Seperti ada yang hilang dalam dirinya ketika melihat Chaca jatuh kedalam jurang, itulah perasaan Devon saat ini, ingin rasanya ia memarahi Vila saat ini juga, tapi egonya mengalahkan hatinya.
"Kalian keterlaluan, kalian iblis! Kalian di buatkan oleh amarah sehingga tidak bisa membedakan suara asli pacar kalian dengan yang palsu, dasar bedebah!!" teriak Lisa frustasi.
"Aku bersumpah demi setiap tetes darah Chaca yang menyatu dengan air, demi setiap air mata yang ia keluarkan hari ini, dan demi setiap detik rasa sakit yang ia rasakan. Kau ... Devon Albara dan yang lainnya, jika suatu hari nanti kalian tahu kebenarannya, kalian akan merasakan yang namanya kematian itu lebih baik daripada hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Dan untukmu Darent Al Jeck, semoga kau bahagia setelah menghianatiku dan memilih dia. Sekarang aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup, semuanya sudah terbawa bersama buih lautan darah Chaca, jadi untuk apa aku tetap tinggal di dunia ini, selamat tinggal, semoga suatu hari kita bisa dipertemukan lagi di akhirat teman-teman." Lisa menjatuhkan dirinya kedalam jurang dalam keadaan tersenyum layaknya orang yang sedang berbahagia.
Tapi dalam hatinya ... sebarnya yang tengah ia tengah pikirkan saat ini adalah ....
"Aduh, sakit gak yah? Langsung mati gak yah? Bodohnya aku!" batinnya😒.
"Lisa!" teriak Lista dan Lia bersamaan, meskipun Lista tidak bisa berbicara dengan jelas karena mulutnya tertutup kain, namun air matanya yang sudah bercucuran menjadi saksi bisu kesedihannya.
"Hiks ... sepertinya sudah tidak ada lagi alasan kita untuk tetap hidup Lis, gue mau ikut nyusul mereka ke alam sana. Selamat tinggal Ronald ... Sayang." Ronald seketika mematung tak percaya dengan ucapan Lia barusan, selam ini Lia tidak pernah memanggilnya dengan sebutan sayang, lalu saat kata itu terucap pertama kali dari bibir tipisnya, ternyata itu juga untuk ke terakhir kalinya.
Dengan sisa air di pelupuk matanya, Lia menjatuhkan dirinya kedalam jurang sambil merentangkan tangan yang baru saja terlepas dari jeratan tali seolah-olah ia menikmati angin yang bertiup di udara di detik-detik terakhir hidupnya.
"Eummm ... Emm ... Eumm." Lista berusaha berteriak dalam keadaan mulut yang masih terikat kain, air matanya semakin banyak bercucuran membasahi kain tersebut.
Lista terisak-isak dalam tangisnya, dengan bahunya bergetar hebat sesuai ritme isakannya.
"Untuk apa gue hidup sekarang? Semuanya telah pergi mengikuti Chaca, dan itu semua terjadi karena gue. Harusnya gue yang mati karena terkena tembakan pistolnya Leo, harusnya gue yang berada di posisi Chaca sekarang. Kalau gue hidup, gue akan terbelenggu dalam rasa bersalah kepada sahabat-sahabat gue, mendingan gue ikut mati saja sekalian, daripada harus hidup satu alam dengan para bedebah itu," lirih Lista membatin.
Devon dan yang lain masih saja tidak bergeming, mereka masih diam kaku menatap air laut yang semakin berwarna merah darah, tidak sadar bahwa ada satu orang lagi yang akan bergabung di bawah sana.
Dengan bersusah payah, akhirnya Lista sampai di sisi tebing yang lain. Sebelum menutup matanya, ia melihat Leo yang sepertinya telah sadar dengan apa yang akan ia perbuat.
"Tata ...!" Leo berlari secepat mungkin untuk menghalangi Lista bunuh diri. Untunglah ia dapat menggapai tangan Lista tepat waktu.
"Apa yang mau lo lakukan bodoh!" runtuk Leo membentak Lista.
"Enggak ada gunanya gue hidup, semua teman-teman gue udah pergi menyusul Chaca, dan satu-satunya orang yang gue cintain ternyata tega ingin membunuh gue karena rekaman palsu yang di buat seseorang, jadi ... selamat tinggal." Lista melepaskan genggaman tangan mereka, lalu terjatuh ke dalam laut.
"Tidaaaakkk!" teriak Leo.
semngat thor..
pada nunggu nih kita kita
apa ni crita mau di berhentikankah thor
kok udah habis sih 🥺🥺🥺🥺
Lagi dong, please🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Next....
Semangat buat kelanjutan ceritanya ya...
Semangat....
ih jahat banget sih🥺🥺🥺🥺