"Boleh saya bicara?" tanya Monika sambil mengangkat tangannya. Kedua laki-laki itu menoleh.
"Apa?" tanya dua pria beda warna mata itu.
Monika nyengir sebelum bicara."Apa tidak ada yang bertanya pendapat saya gitu, yang mau nikah kontrak itu saya lho. Bisa bicara lho, masih idup seger buger di sini."
"Yang bilang kamu mayat hidup siapa?" tanya Yoonji balik.
"Kamu tidak ada hak bicara, mau atau tidak kamu akan menerima pernikahan kontrak ini selama satu tahun, gaji kamu tiap bulan 10 juta dengan kompensasi 1 milyar jika kontrak berakhir, paham!"
Monika tak dapat lagi berkata-kata, angka-angka itu berlari dengan riang mengelilingi kepala. Yoonji tersenyum miring, melihat ekspresi gadis itu yang terkejut sekaligus bahagia. "Semua wanita sama saja, kalau dengar uang langsung ijo."
Melamar sebagai OB malah jadi sekertaris, di paksa nikah pula sama yang punya perusahaan.Begitulah mujur Monika Anggraeni, mujur apa buntung kita simak. kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
"Wow ... wow... maaf seharusya aku ketuk pintu terlebih dahulu. Aku tidak tahu kalau Nonya Min sedang berkunjung," ujar Fredrick sambil terkekeh.
Monika tersipu malu, dia segera menggeser duduknya sedikit mejauh dari Yoonji. Sementara manusia salju itu dengan santai menikmati makan siangnya lagi, dia bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Padahal tadi tubuhnya juga menegangsaat Monika mencium pipinya untuk mengucapkan terima kasih.
"Jangan banyak bicara, mau apa kemari?' tanya Yoonji sambil memasukan lagi makanan ke mulutnya.
"Emh .. lebih baik nanti saja, aku tidak ingin menjadi penganggu untuk pengantin baru hahahhaha," Fredrick tertawa lebar, sambil berjalan keluar dari ruangan Min Yoonji. Tak lupa dia menutup kembali pintu yng ia buka dengan keras tadi.
Hening hanya suara kunyahan Yoonji yang terdengar jelas di telinga Monika, in merasa canggung seteah mencium pipi Yoonji tadi. dia melakukakn itu reflek saja, dia sangat senang Yoonji memberi dia ponsel lipat keluaran terbaru. Apalagi warna ponsel itu sangat ia sukai.
"Sudah ada nomornya, kau tinggal pake saja," ucap Yoonji tiba- tiba.
"Benarkah terima kasih, kau memang orang yang sangat baik," ucap Monika sambil menatap Yoonji dengan mata berbinat.
"Ehm ..." Yoonji berdehem untuk menutupi rasa malunya, entah kenapa dia merasa salah tingkah mendengar Monika menyanjungnya seperti itu. Padahal setiap hari Yoonji mendengar orang-orang mengatakan hal yang lebih dari Monika untuk menjilatnya.
"ini, gajimu sepenuhnya ada di sana. Dan untuk kartu yang ini untuk biya hidupmu, beli apapaun yang kau mau dengan ini."
Yoonji memberikan dua kartu untu Monika, dua kartu itu Yoonji buat atas nama Monika. Mata gadis iu berkaca-kaca, ia tak tahu lagi harus mengatakan apa. Yoonji terlalu baik padanya, ia kira pernikahaan kontrak ini akan terasa seperti neraka. Tapi nyatanya, Monika merasa senang karena Yoonji memperlakukakn dia dengan baik.
"Terima kasi Yoon, kau sungguh baik," ucap Monika sambil menatap dua kertu yang di letakkan Yoonji di telapak tanganya.
"Apa ada kata lain selain terima kasih dan kau sangat baik, sebentar lagi kau akan dapat piring canti kalau mengatakan itu sekali lagi."
"Hehehhe ..." Monika menyengir kuda sambu mengoyangkan tubuh ke kanan-kiri.
Yoonji hanya tak mengatakan apapaun lagi, dia hars kembali berkerja. Baru saja Yoonji bangkit dari duduknya, ponsel pria itu sudah menjerit keras.
"Halo."
"......"
"Baik aku mengerti."
Yoonji menutup teeponnya, ia menatap Monika dengan tatapan yang sulit diartikan. Gadis itu mengerutkan keningnya, ia merasa aneh dengan ekpresi wajah Yoonji.
"Ada apa?" Monika pun memutuskan untuk bertanya.
"Nenek masuk rumah sakit, kita harus ke sana sekarang," ucap Yoonji datar, tapi Monika bisa melihat guratan kekhawatiran di wajah pria itu.
"Ne-nek, kenapa? tadi pagi dia masih baik-baik saja. Nenek bahkan bahkan membantuku membuat makn siang ini?" cerca Monika tak kalah khawatir, dia menyayangi Pratiwi seperti neneknya sendiri.
Yoonji memakai jas yang ia letakkan di sandaran kursi. Ia segera menarik tangan Monika yang masih terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Aku juga tidak tahu kenpa? kita harus ke sana sekarang!' tegas Yoonji, Monika hanya bisa mengangguk. Mata wanita itu sudah berkabut, dia sungguh sangat mengkhawatirkan Pratiwi.
Setelah menyerahkan sisa hari kerja pada Fredrick. Monika dan Yoonji pegi menuju rumah sakit, dalam mobil Monika terus saja menremas tangan Yoonji. Wanita itu seolah sangat ketakutan, atau khawatir. Entahlah yang pasti bisa merasakan keringat dingin membasahi telapak tangan Monika.
"Tenanglah nenek akan baik-baik saja," ucap Yoonji seraya menepuk pelan punggung tangan Monika. Monika tersebum dengan terpaksa mennggapi ucapan Yoonji.
Dia sangat sennag Yoonji begitu perhatian dengannya. Ya, Monika memang khatir dengan keadaan Nenek, tapi ada sesuat yang lain yang belum pernah Monika ceritakan pada siapapun. Ada hal lain yang membuat Monika seprti ini.
Saat mobil yang mereka tumpangi masuk ke area rumah sakit Monik semakin terlihat cemas, tapi wanita itu berusah untuk menutupi sebisa mungki. Kini ia menganggam sediri tangannya yang gemetar hebat.
"Ayo turun, apa kau tidak apa-apa?" tanya yoonji yang melihat wajah pucat Monika.
"Tidak, aku hanya merasa sedikit nyeri saja. Mungkin mau datang bulan lagi," jawab Monika asal, Yoonji menggeleng mendengar jaaban random istrinya itu.
Mereka pun turun dan melanhkah cepat ke ruangan dimana Pratiwi rawat. Tak perlu mencari terlalu lama karena rumah sakit ini milik keluarga Yoonji dia tahu benar neneknya dirawat dimana.
Monika berjalan dengan gelisah, nafasnya tersengal pendek-pendek. Monika tidak mengatakan apapun pada Yoonji, dia tidak ingin fokus laki-lakiitu terpecah. Sekarang Yoonji pasti sangat sedih karena Nenek yang begitu ia sayangi sedang sakit.
"Nenek? Kenpa nenek bisa sakit? apa yang terjadi sebenarnya?" cerca Yoonji pada wanita tua yang terbaring lemah di atas ranjang.
Nafas Monika tercekat, ia meremas dadanya yang kian terasa sesak. Monika sudah sangat berusaha untuk sadar dia tidak ingin rasa sesaknya menganggu Sebastian.
Monika menyadarkan tubuhnya di tembok. Ia merasa tak kuat lagi, tubuh Monika bergetar hebar, perlahan dia merosot kelantai sayup ia mendengar suara seseorang.
"Mochi!" pekik seseorang dengan suara yag sangat ia kenal, sebelum semuanya gelap.
perjanjian kalian harus dibatalkan