Pertemuannya dengan seorang gadis bernama Kanaya, membuat Ray bersumpah akan membuat gadis itu menyesal karena telah mengganggunya.
Namun ternyata sumpah itu berbalik padanya, dan membuat dunianya berubah. Bagaimana kisah mereka berlanjut?
Kisah ini bukan hanya sekedar tentang cinta, kalian akan menemukan badai yang besar di setiap kisahnya.
Maka siapkan hati untuk menerima setiap sentuhan yang Ray berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Single elit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 26
Mendengar perkataan ayahnya membuat Raka menghela napas berat, wajah tampannya berubah menjadi tanpa ekspresi, ayahnya tidak akan bertindak seperti itu jika tidak ada hasutan dari orang lain.
" Apa Yang ayah lakukan cuma bikin Ray makin benci sama ayah "
Raka duduk berhadapan dengan ayahnya yang kini menatapnya tajam seakan ia tidak ingin di bantah. Raka tau semua ini tidak akan mudah jika sudah ada campur tangan dari Marissa, ibu tirinya.
" Mama yang akan bicara sama Ray "
Seorang wanita berjalan mendekat yang entah darimana datangnya langsung mendudukan dirinya di samping Martin. Sudah Raka duga ini semua memang rencana Marissa, wanita yang memiliki seribu satu cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, seperti saat ini. Menghasut ayahnya untuk menjodohkan Ray dengan anak sahabatnya. Sebenarnya apa yang sedang di rencanakan wanita itu?
Marisa yang saat ini duduk di samping Martin menatap Raka dengan menampilkan senyuman termanisnya. Pakaiannya yang terlalu terbuka membuat Raka berdecih lalu memalingkan wajahnya, tatapan Marissa padanya membuat Raka muak. Kemudian, Raka bangkit dari posisinya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
" Raka! Ayah belum selesai bicara! "
Intonasi suara Martin mulai meninggi, melihat anak sulungnya mengabaikan dirinya yang sedang berbicara. Meskipun Raka bersedia tinggal satu rumah dengannya, tapi Raka tidak berbeda jauh dengan Ray yang menentang hubungannya dengan Marissa, wanita yang kini resmi menjadi istri dari ayahnya.
" Ayah cuma ingin yang terbaik untuk Ray. "
Raka seketika menghentikan langkahnya dan tersenyum miring mendengar perkataan ayahnya, sejak kapan pria tua itu mementingkan kebaikan untuk anaknya. Setau Raka ayahnya hanya mementingkan keinginannya sendiri.
" Kamu antar mama kamu menemui Ray besok "
" Raka gak bisa yah "
Raka menoleh ke arah ayahnya dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sorot mata tajam di bumbuhi nada penolakan dari Raka membuat suasana semakin panas. Marissa tau ini pasti akan terjadi, dan memang ini yang ia inginkan. Senyum manis yang mengandung racun terukir di bibir sensual Marissa yang terpoles lipstik merah di sana. Selain pandai berbicara Marissa juga pandai bersandiwara seperti yang ia lakukan saat ini, memasang wajah tanpa dosa di hadapan ayahnya seakan ia begitu peduli dengan keluarga ini. CK! Dasar penyihir.
" Yaudah, lain kali aja mama tunggu sampai kamu bisa "
Raka mengabaikan Marissa yang kini sedang bersandiwara, berjalan meninggalkan ruang tengah itu dan menaiki setiap anak tangga dengan menghela nafas panjang, jika bukan karena menghormati ayahnya sudah pasti ia akan menendang jauh wanita itu. Cih, cantik darimananya? wajahnya saja penuh warna, seperti tembok taman kanak-kanak. Apa wanita kaya selalu menghabiskan make up-nya dalam sekali pakai?
Raka membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali, lalu menjatuhkan tubuh tingginya di atas kasur tebal miliknya. Tenaga dan pikirannya benar benar terkuras habis, belum lagi sekertarisnya yang terus menghubunginya karena Raka menunda beberapa rapat sejak kemarin.
Baru saja Raka merebahkan dirinya, namun pria tampan itu sudah terlelap dalam tidurnya bahkan ia belum sempat melepas pakaiannya. Terlalu banyak Beban yang di tanggungnya hingga Raka mengesampingkan perasaannya sendiri.
Sementara di ruang tengah Martin mengeram kesal karena Raka sudah berani menentang keputusannya. Melihat ekspresi Martin Marissa langsung menyandarkan kepalanya di bahu Martin untuk mengambil simpatinya agar mendukung rencananya.
" Ayah pastikan semua akan berjalan lancar " ucap Martin sembari mengusap lembut punggung tangan Marissa yang melingkar di lengannya.
" Makasih sayang "
Wajah Marissa yang sedari tadi tersenyum kini berubah datar dengan sorot mata tajam penuh kebencian. Ia tidak boleh gagal, meskipun harus melakukan cara ekstrim seperti dulu saat dia menghabisi nyawa Anissa, istri terdahulu Martin atau lebih tepatnya ibu kandung Raka dan Ray.
🍁🍁🍁
* Di rumah sakit.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian kini Ray kembali ke dalam ruangan Kanaya. Membuka pintu perlahan agar tidak menggangu Kanaya yang sedang beristirahat, namun gadis itu ternyata sedang berbicara dengan perawat yang membawakan makanan beserta obat untuk Kanaya.
Ray berjalan mendekat setelah perawat itu keluar dari ruangan, namun detik kemudian Ray mempercepat langkahnya ketika melihat Kanaya yang sedang berusaha merubah posisi kepalanya agar lebih tinggi.
" Gue bantu "
Ray menahan bahu kanaya yang terluka kemudian mengangkatnya perlahan lalu tangan kanannya membenarkan letak bantal agar Kanaya merasa nyaman, lalu merebahkan kembali ketika posisinya di rasa sudah pas.
" Makasih Ray "
Ucap Kanaya dengan senyum yang mengembang, menatap wajah Ray yang kini hanya berjarak satu jengkal di depannya, pria yang dulu begitu kasar kini perlahan bersikap baik padanya meskipun hanya sedikit.
" Kenapa liatin gue kayak gitu? "
" hn...siapa yang liatin kamu, kepedean kamu tuh "
Ray tersenyum melihat wajah Kanaya yang tersipu malu, jelas Ray memergoki dari ekor matanya jika gadis itu menatapnya tanpa berkedip. Kemudian Ray mendudukan dirinya di samping ranjang Kanaya dan mengambil makanan yang ada di atas nakas untuk menyuapi Kanaya.
" Gak usah Ray, aku bisa makan sendiri kok "
Tangan Kanaya menahan pergerakan Ray yang memegang sendok dengan semagkuk bubur di tangannya.
" Gak usah cerewet! Lo tuh lagi sakit, biar gue bantu suapin. "
" Iya, iya "
Kanaya mendengus pasrah, baru saja ia memuji kebaikan pria itu sekarang Ray kembali ke sifat aslinya. Dengan malu malu kanaya membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Ray, ini pertama kalinya ia di suapi orang lain, dan orang pertama itu adalah Ray, si cowo pemaksa.
Tidak terasa suapan demi suapan masuk ke dalam mulut kanaya membuat Ray tersenyum, karena bubur di tangannya hampir habis.
" Udah Ray, aku kenyang. "
Kanaya menahan tangan Ray yang memegang sendok itu agar menyudahi suapannya. Saat ini Kanaya benar benar kenyang karena Ray menyuapinya tanpa jeda.
" sekarang minum obatnya "
Ray menyambar gelas di atas nakas dengan beberapa butir obat yang sudah di siapkan disana. Kanaya meminum air putih dari tangan Ray hingga tandas setelah semua obat masuk kedalam mulutnya.
Ray meletakan gelas kosong itu kembali di atas nakas. Ray mengangkat sebelah alisnya ketika melihat mata teduh Kanaya berkaca kaca menatap dirinya.
" Lo kenapa? ada yang sakit ? "
" Makasih Ray, kamu udah nolongin aku, aku gak tau kalo malem itu kamu...
" Gue yang makasih, karena Lo udah bertahan sampe gue dateng. " Ucap Ray menyela perkataan Kanaya.
Kanaya berusaha keras mencerna kata-kata Ray, jelas dia akan mempertahankan kesuciannya sampai titik darah penghabisan, ia lebih baik mati daripada harus di lecehkan oleh ******** itu.
" Setelah pulang dari rumah sakit, Lo tinggal bareng gue "
Ray sudah memikirkan rencana ini setelah kejadian itu, Ia akan menjaga Kanaya agar tidak ada Nino yang lain yang ingin menyakiti Kanaya. Meskipun gadis itu pasti akan menolak keras keinginannya.
" haaahh...mana bisa gitu Ray, gak boleh tinggal satu rumah. Kita kan belum nikah "
Mendapat penolakan Kanaya dengan alasan klasik membuat Ray memiliki ide untuk mengerjai gadis itu.
" Okeh, kalo itu yang jadi masalah buat Lo.." Ray menjeda kalimatnya dengan senyum menyeringai
" Pulang dari sini kita nikah! "
🍁🍁🍁
Wah udah ngajakin nikah aja nih🤔
Lagi Corona bang, sabar! 😂
Jangan bosen nungguin cerita cereh aku.
Makasih yang udah sumbangin poinnya buat aku.
Sampai jumpa di next chapter 😉