Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian II)
...Pengetahuan yang Berpengertian...
..."Ilmu dapat memenuhi kepala seseorang. Tetapi hanya pengertian yang mampu melapangkan hatinya." —Petuah Ompu Sada Uluan...
Pagi itu, embun turun lebih lambat daripada biasanya.
Siboru Rintik berjalan di antara padang bunga langit sambil membawa kendi-kendi kristal bening. Setiap tetes embun yang jatuh ditampung dengan hati-hati, sebab embun pertama dipercaya menyimpan ingatan semesta sebelum matahari menyentuhnya.
Namun pagi itu, bahkan embun seolah enggan berpisah dari daun.
Pohon Agung Hariara Bolon berdiri dalam keheningan. Daun-daunnya tidak berguguran.
Burung-burung tidak terdengar bernyanyi.
Angin hanya berembus pelan, seperti sedang menunggu seseorang mengucapkan pertanyaan yang belum pernah terdengar sebelumnya.
...****************...
Deak berjalan sendirian menuju sebuah lereng yang dipenuhi batu-batu putih berkilau.
Di sanalah Ompu Sada Uluan biasa mengajar. Tidak ada balairung. Tidak juga ada singgasana. Beliau lebih senang duduk di atas sebuah batu besar yang telah dihaluskan oleh waktu.
Di sampingnya mengalir sungai kecil yang airnya begitu jernih hingga dasar sungai tampak seperti langit yang terbalik.
Ketika Deak tiba, Ompu Sada Uluan sedang menanam sebutir benih kecil di sela-sela batu.
Deak tersenyum dan menyapa hormat: "Opung... Apakah batu pun bisa ditumbuhi benih sekarang ini?"
Tetua tua itu tidak langsung menjawab. Beliau hanya menimbun benih itu dengan segenggam tanah dan menjawab: "Lihatlah kembali beberapa musim lagi. Kalau benih itu memiliki kemauan hidup... bahkan batu pun akan dapat belajar menjadi tanah baginya."
Mereka lalu duduk berdampingan. Tidak lama kemudian, Jonggi datang dan bertengger di sebuah dahan yang rendah.
Parhudon terlihat meminum embun di kejauhan.
Parhobas Rambu melintas di langit, menyentuhkan tongkat kristalnya pada pelangi yang mulai memudar.
Segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.
Namun hati Deak tidak. Ia kembali berkata: "Opung... Aku ingin bertanya."
Ompu Sada Uluan tersenyum dan berujar, "Kalau engkau berhenti bertanya... barulah aku akan merasa khawatir."
Deak ikut tersenyum sambil menatap aliran sungai, lalu ia bertanya: "Apakah semua yang diciptakan akan berubah?"
"Ya." jawab sang Opung perlahan.
"Apakah semua yang hidup akan bertumbuh?" tanya Deak lagi.
"Ya." jawab Ompu Sada Uluan lagi.
"Apakah semua yang bertumbuh suatu hari akan menyerahkan tempatnya kepada yang lain?" tanya Deak lagi.
Tetua tua itu mengangguk perlahan, "Itulah cara semesta bernapas."
Deak terdiam cukup lama. Kemudian ia mengangkat wajahnya dan bertanya kembali: "Kalau begitu... mengapa para tetua sepertinya tidak pernah berganti?"
Angin berhenti. Air sungai tetap mengalir. Namun suara alirannya seakan menjauh.
Ompu Sada Uluan tidak tersinggung. Beliau justru tersenyum dan menjawab: "Engkau telah memperhatikan banyak hal."
Deak menunduk malu, sadar akan pertanyaannya yang mungkin menyinggung sang Tetua Bijak, "Aku hanya ingin mengerti Opung."
Tetua tua itu mengambil sebutir pasir bercahaya dari kantong kecil di pinggangnya. Beliau menjatuhkannya ke telapak tangan Deak. Pasir itu memancarkan cahaya keemasan.
"Apakah ini pasir biasa?" tanya Deak tertarik.
"Tidak." jawab sang Opung dan melanjutkan penjelasannya, "Ini berasal dari Jam Pasir Bintang milik Ompu Tiktik."
"Apakah jumlahnya banyak?" tanya Deak.
"Tak terhitung." jawab sang Opung.
"Kalau terus mengalir... apakah suatu hari akan habis?" tanya Deak lagi.
Ompu Sada Uluan tersenyum, "Itulah pertanyaan yang sama yang pernah kutanyakan kepada Ompu Tiktik ribuan musim lalu."
Beliau lalu memandangi langit sambil berkata: "Ompu Tiktik pernah berkata kepadaku... 'Waktu bukan sungai yang mengalir membawa hari-hari pergi.'"
Beliau mengambil ranting kecil. Lalu menggambar lingkaran di tanah, "'Waktu adalah penenun. Ia menenun setiap musim menjadi kehidupan. Ia tidak pernah tergesa-gesa. Dan ia tidak pernah terlambat.'"
Deak memperhatikan gambar lingkaran itu.
"Lalu Opung, siapa yang mengajari waktu menenun?" tanya Deak penasaran.
Tetua tua itu tertawa pelan dan berkomentar: "Putri, pertanyaanmu semakin indah."
Beberapa saat kemudian Deak kembali berkata, "Opung... Sebelum menjadi tetua... siapa yang mengajari Opung menjadi tetua?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Tidak ada nada menantang. Tidak juga ada nada meragukan. Hanya penuh rasa ingin tahu yang jernih.
Namun, untuk pertama kalinya sejak Deak mengenal beliau... Ompu Sada Uluan tidak segera menjawab.
Beliau hanya memandang jauh ke arah Hariara Bolon. Kemudian berkata perlahan, "Semesta. Semesta yang mengajariku. Angin. Air. Bintang. Kesalahan. Kesedihan. Dan waktu."
Deak mengangguk pelan. Lalu bertanya lagi, "Kalau begitu... mengapa semesta tidak lagi diberi kesempatan mengajar tetua-tetua baru?"
Keheningan turun seperti kabut. Jonggi menghentikan kepakan sayapnya. Bahkan dedaunan Hariara seolah ikut mendengarkan.
Ompu Sada Uluan menarik napas panjang dan akhirnya menjawab dengan pelan: "Mungkin karena kami telah terlalu sibuk menjaga apa yang telah ada."
Beliau menatap kedua telapak tangannya yang mulai dipenuhi garis-garis usia lalu lanjut berkata: "Terkadang... penjaga bisa juga lupa tentang taman tidak hanya membutuhkan pagar. Taman juga ternyata membutuhkan benih-benih baru."
Deak merasakan dadanya menghangat. Bukan karena akhirnya memperoleh jawaban. Melainkan karena melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana seorang tetua telah berani mengakui bahwa kebijaksanaan pun masih dapat bertumbuh.
Namun pertanyaan Deak belum selesai, "Opung... Apakah kebijaksanaan dapat diwariskan?"
Tetua tua itu menggeleng, "Tidak."
"Kalau begitu, apakah ia bisa dicari?" tanya Deak lagi.
"Juga tidak." jawab sang Opung.
"Lalu bagaimana seseorang menemukannya?" tanya Deak kemudian, masih dengan rasa penasaran.
Ompu Sada Uluan tersenyum dan menjawab: "Kebijaksanaan... akan menemukan orang yang cukup rendah hati untuk terus belajar."
Beliau mengambil tiga batu kecil. Menyusunnya membentuk sebuah tungku sederhana, "Lihatlah Dalihan Na Tolu. Apakah ketiga batu ini sama besar?"
"Tidak." jawab Deak.
"Apakah salah satunya lebih penting?" tanya sang Ompu lagi.
"Tidak." jawab Deak.
"Kalau salah satu batu diganti dengan batu baru lain... apakah tungku itu akan kehilangan maknanya?"
Deak menggeleng dan menjawab: "Selama ketiganya tetap saling menopang... tungku itu tetap dapat memasak kehidupan."
Ompu Sada Uluan mengangguk puas, "Begitulah seharusnya sebuah generasi. Bukan menggantikan. Bukan pula mempertahankan. Melainkan saling menopang."
...****************...
Sore mulai turun. Burung Erung tampak melayang tinggi di langit. Sinar matahari memantul pada sayapnya seperti lembaran emas.
Di kejauhan, Jam Pasir Bintang milik Ompu Tiktik terus mengalir tanpa suara. Deak memandang butiran-butiran cahaya itu dan merasa kembali harus bertanya: "Opung... Kalau waktu terus menenun... mengapa benangnya seolah berhenti pada generasi Opung?"
Pertanyaan itu begitu lembut. Namun terasa seperti desir angin yang mampu menggoyangkan seluruh hutan.
Ompu Sada Uluan menutup matanya. Untuk waktu yang lama. Lalu beliau membuka mata dengan senyum yang begitu damai, "Barangkali... bukan benangnya yang berhenti."
Beliau memandang Deak dan melanjutkan menjawab: "Barangkali... kami yang terlalu lama takut menenun corak yang baru."
...****************...
Saat matahari tenggelam, Deak berjalan pulang melewati Tebing Pamatang Langit. Samudra purba di Banua Tonga itu kembali terlihat berkilau diterpa cahaya senja.
Tiba-tiba, lingkaran cahaya yang beberapa kali pernah dilihat Deak, tampak muncul kembali. Kali ini lebih besar. Terlihat lebih terang. Terasa aga lebih dekat.
Dari dalam keheningan itu, sebuah bisikan menyentuh relung terdalam hatinya. Bukan suara yang memaksa. Bukan pula rayuan. Melainkan sebuah panggilan yang penuh kerinduan.
..."Tidak semua yang baru akan merusak."...
..."Ada yang baru... agar kehidupan dapat terus dilahirkan."...
Deak memejamkan mata. Ia tidak menjawab. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa sedang memandang dunia yang asing. Ia merasa, sedang dipandang kembali.
Dan jauh di bawah permukaan samudra purba, sesuatu bergerak perlahan. Belum terlihat bentuknya. Belum terdengar namanya. Tetapi semesta tahu, roda takdir telah mulai berputar kembali.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 13. Sidang Para Penjaga Keseimbangan.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/