Sebuah rumor tentang kedekatan seorang pria bernama Arsyad Mahendra dengan pengusaha batu bara yang memiliki jenis kelamin sama dengan Arsyad tiba-tiba saja menjadi trending topik di laman media sosial dan juga berita televisi.
Arsyad yang merupakan seorang publik figur sekaligus pengusaha tentu saja tak bisa tinggal diam, ia harus memikirkan cara untuk menepis rumor tersebut demi nama baiknya.
Sampai suatu hari ketika dirinya dan Tim dikejar oleh awak media, tanpa sengaja managernya mengatakan jika Arsyad akan segera melangsungkan pernikahannya pekan depan bersama wanita yang masih di rahasiakan identitasnya dan selama itu pula Arsyad mulai ketar ketir dan mencari sosok wanita yang pantas untuk di jadikan istrinya.
Bagaimana kelanjutannya? Akankah Arsyad menukan wanita itu untuk menutupi rumor yang tersebar? Dan apakah rumor itu benar adanya atau hanya isu belaka? Ikuti terus ceritanya ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zia Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang ketiga setan
Dari kejauhan Arsyad yang tadi berniat untuk menghampiri istrinya mengurungkan niat saat melihat sang istri tengah menggendong seorang anak laki-laki yang tak ia kenal.
Selain seorang anak laki-laki, Arsyad juga melihat seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam menghampiri Michelle dengan senyum ramahnya.
"Siapa mereka?" gumam Arsyad penasaran, tapi gengsi untuk menghampiri dan menanyakannya secara langsung. Ia lebih memilih memperhatikan mereka sembari bertanya pada dirinya sendiri.
.
.
.
"Maaf sudah merepotkan anda, Tuan muda memaksa ingin menemui anda jadi saya membawanya kemari tanpa persetujuan anda lebih dulu," tutur Rendi kaku.
"Tidak usah terlalu formal, panggil saja aku Michelle," cetusnya sambil tersenyum lalu, memperkenalkan Rendi pada Ella.
"Oh ya sekretaris Rendi, Aku baru ingat jika tempat itu dijaga dengan ketat oleh banyak pengawal. Aku harap kalian tetap berhati-hati dan bisa kembali berkumpul dengan keadaan selamat," tutur Michelle membuat Ella mengernyitkan dahinya penasaran pada apa yang dibicarakan oleh Michelle dan pria yang baru saja dikenalnya.
"Anda tidak perlu khawatir, kami sudah paham dan sedang mempersiapkannya," jawab Rendi.
"Baguslah semoga berhasil jika sudah berhasil jangan lupa mampir ke rumahku, maksudku rumah suamiku," kekeh Michelle.
Rendi mengangguk dan berjanji pada Michelle, karena hari sudah hampir gelap Rendi membujuk Clay untuk segera pulang. Namun, bocah dengan tubuh gempal itu menolak dan masih ingin bersama Michelle.
Michelle tersenyum pada Clay dan membantu membujuk, setelah di iming-imingi sebuah coklat besar yang akan Michelle kirim ke rumah Clay. Bocah pintar itu akhirnya mau pulang dan berpindah ke pangkuan Rendi.
Keduanya berpamitan dan sebelum mereka pergi, Clay memberikan mainan lato-latonya pada Michelle. Lato-lato yang terbuat dari marmer mahal yang diberi nama oleh Clay dengan lato-lato pembawa keberuntungan.
Clayton mencium pipi Michelle dan melambaikan tangannya sampai bocah kecil itu menghilang dibalik pintu keluar.
.
.
.
.
Keesokan harinya. Michelle yang masih merasa sakit hati karena Arsyad menuduhnya kemarin, terlihat mendelik pada Arsyad. Ia sangat enggan untuk bertegur sapa dengan pria jahat seperti Arsyad yang suka menuduh sesuka hatinya.
Ini bukanlah kali pertama Arsyad memfitnahnya, bahkan saat awal pertemuannya dengan pria yang kini menjadi suaminya itu Arsyad sudah menuduh Michelle sebagai pencuri ponsel dan menyebarkan foto-foto aib Arsyad ke internet.
Karena Michelle yang masih menyimpan dendam pada Arsyad, membuat kegiatan syuting pun harus diulang berkali-kali.
Ella menghentikan syutingnya sejenak, untuk memberi waktu pada keduanya agar kembali membangun chemistry seperti biasanya.
"Arsyad, bujuk dia … kamu mau syuting ini nggak kelar-kelar karena konflik kalian berdua," tegur Ella.
Arsyad hanya mendengus kemudian pergi meninggalkan Ella dan lokasi syuting.
Kegiatan syuting pun terpaksa harus dihentikan dan dilanjutkan besok lagi, akibat konflik yang terjadi pada Arsyad dan Michelle semuanya jadi harus kena imbas.
Michelle kembali ke kamarnya bersama Lala, wanita itu terlihat begitu tidak bersemangat seperti biasanya. Ia kini berbaring di atas ranjang sembari memainkan ponselnya.
"Non, saya permisi dulu," pamit Lala saat melihat Arsyad datang ke kamar Michelle.
"Hem," jawab Michelle tanpa menoleh.
Arsyad menatap istrinya, lalu menyodorkan satu kotak kue mochi ke hadapan Michelle. Gadis itu tersenyum saat melihat kue kesukaannya, tapi senyum itu seketika hilang saat tau jika yang memberikannya adalah Arsyad.
"Maafkan aku, karena sudah menuduhmu," kata Arsyad melunak.
Michelle hanya mendelik dan fokus pada ponselnya.
"Michelle, dengarkan aku. Aku minta maaf," ulang Arsyad. Michelle masih tak bergeming.
"Begini saja, jika kau mau memaafkanku aku akan membawamu makan malam ke restoran mewah malam ini."
"Tidak mau, tidak kenyang."
"Baiklah, kau yang pilih tempatnya."
"Setuju, tanpa kamera," jawab Michelle mengulurkan tangannya pada Arsyad yang langsung disambut oleh sang suami.
Syuting pun kembali dilanjutkan tanpa harus menunggu besok, mood Michelle yang sudah kembali sepenuhnya kini mempermudah para kru karena tak perlu mengulang sampai berulang kali.
Kegiatan syuting pun telah usai, Arsyad dan Michelle menghampiri Danu untuk melihat hasil rekamannya. Mereka tampak begitu puas dengan hasil kerjanya dan mereka pun yakin jika kali ini para penggemar akan lebih menyukai mereka karena chemistry keduanya yang semakin natural, apalagi ketika Arsyad mengelus kepala Michelle itu terlihat sangat tulus dari dalam diri Arsyad.
.
.
.
Hari menjelang sore.
Pasangan suami istri itu kini telah bersiap untuk pergi, dengan pakaian yang senada keduanya terlihat begitu serasi.
"Kalian berdua mau kemana?" tanya Raymond saat melihat kekasihnya dan Michelle sudah tampak rapi.
"Mau jalan-jalan dong," timpal Michelle seraya meledek.
Raymond menatap Arsyad, menanti jawaban.
"Iya kami akan pergi makan malam bersama," jawab Arsyad menatap Raymond datar.
"Aku ikut," sambar Raymond.
"Nggak—," ucapan Arsyad terpotong oleh Michelle.
"Boleh, tapi kita harus berpegangan bersama," sela Michelle.
"Sorry ya, aku nggak mau bersentuhan denganmu," tolak Raymond mendelik lalu menggandeng tangan Arsyad.
Michelle tersenyum kecut pada Raymond yang bersikap menggelikan.
"Lepaskan Ray, banyak orang disini," ucap Arsyad melepaskan tangan Raymond dari lengannya.
Raymond berdecak sembari menoleh pada Michelle yang sedang menahan senyumnya.
"Sudah aku katakan, sini genggam tanganku saja kita jalan bertiga. Tapi kata orang tua kalau kita berduaan yang ketiganya itu setan, gimana dong," sindir Michelle pada Raymond.
Raymond mengeraskan rahangnya. "Kau siluman kecil menyebalkan yang pernah aku temui," dengus Raymond pergi meninggalkan Arsyad dan Michelle.
Arsyad ingin mengejar tapi Michelle menghentikannya, karena Arsyad sudah berjanji akan mengajaknya makan malam. Pria dengan kemeja hitam itu diam sejenak menatap punggung kekasihnya yang pergi dalam keadaan marah.
"Ayo, nanti keburu malem," ajak Michelle yang disambut oleh anggukan kepala Arsyad.
.
.
.
🌸🌸🌸
Street food kota edelweis.
Surganya makanan bagi semua orang pencinta kuliner. Semua makanan tersedia disana, dari mulai yang manis,asin, pedas, asam, dingin, panas , kriuk sampai lembut semuanya tersedia dan membuat lapar mata.
Manik mata Michelle langsung berbinar, saat ia melihat berbagai macam makanan yang dijajakan oleh para pedagang. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk mencicipi satu persatu makanan tersebut yang mengeluarkan aroma harum yang begitu menggoda.
"Michelle kau yakin mau makan disini?" Arsyad mengerutkan dahinya merasa tidak nyaman.
Michelle mengangguk dan menarik lengan baju Arsyad, karena ia ingat jika tidak boleh menyentuh suaminya jadi ia memilih menarik lengan baju Arsyad untuk mengunjungi satu persatu stand makanan yang berjejer panjang.
"Michelle lepaskan aku, sebaiknya kita pergi dari sini dan mencari restoran," protes Arsyad yang baru pertama kali datang ke street food.
"Restoran mahal, lebih baik disini aku jamin kau akan menyukai makanannya."
"Tidak, aku tidak mau," tolak Arsyad melepaskan tangan Michelle darinya.
"Kenapa?"
"Ini tidak sehat Michelle."
"Dih, kata siapa ini tuh menyehatkan tau … udah ayo jangan protes Mulu." Michelle kembali menarik lengan baju Arsyad dan membawanya masuk ke area street food dan membaur dengan orang-orang yang juga sedang berburu makanan lezat dengan harga ekonomis.
.
.
.
.
.
Bersambung.
klo d film kn,,"adikku menantuku"🤣🤣
dr awal aku baca,supirnya nm nya kanza ku kira cewek..🤣🤣🤦