NovelToon NovelToon
Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:256.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mukarromah Isn.

Atas nama jodoh, diantara garis takdir dan do'a yang panjang, mana yang akan terjadi?


"Kamu nikah sama aku aja"

"Nggak mau, nama kamu Qais dan aku Layla"

"Memangnya kenapa?"

"Kamu belum pernah dengar kisah Layla majnun ya? Namanya Qais dan Layla. Mereka tidak bisa bersama sampai kematian menjemput"

"Yaudah aku ganti nama aja"

Asma Layla Husna, tak mengerti dengan takdir hidupnya. Berawal dari pertemuan mereka karena hampir saling menabrak, Qais tiba-tiba langsung mengajak Layla menuju ikatan sah. Namun sekelumit kisah cinta terjadi selanjutnya, saat takdir seperti menghadirkan sosok lain selain Qais. Belum lagi kisah Fatah Bilal Alzam, yang harus terjebak ikatan dengan gadis preman pasar


Jangan lupa follow ig author ya
@mukarromatul28

Like, komen, dan vote.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukarromah Isn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Paman?

Matahari perlahan berpindah keufuk barat, menciptakan jingga pada cakrawala, angin pun mulai bertiup lembut seolah mengantar rindu yang belum terutarakan

"Ila sholat magrib dulu baru pulang"

"..."

"Iya setelah sholat Ila langsung pulang"

"..."

"Nggak perlu, Ila bisa pulang sendiri. Kasihan juga Kak Bilal dia pasti capek"

"..."

"Iya nggak kemana-mana, Assalamu'alaikum"

Setelah mendengar jawaban salam dari seberang sana, Ila mematikan handphonenya dan memasukkan kembali benda pipih itu kedalam tas

"Jadi sholat dulu?" Nessi bertanya yang dibalas anggukan oleh Layla, ia sudah memberitau Naufal kalau akan pulang setelah sholat. Mereka baru saja menyelesaikan tugas kelompok di kost teman yang tak begitu jauh dari kampus

"Yaudah aku temenin"

"Kamu kan nggak sholat Nes, pulang dulu aja. Lagian rumah kita nggak sejalurkan? Nanti ibumu khawatir"

Nessi terlihat mengusap tengkuk belakangnya sebentar "Tapi entah kenapa perasaan aku nggak enak banget La, aku takut sesuatu terjadi"

"Ada Allah yang selalu lindungi kita, kamu pulang duluan aja" Layla berusaha meyakinkan sahabatnya, walau sejujurnya ia juga merasa mereka diperhatikan sejak keluar dari kostan itu atau mungkin memang perasaannya saja?

"Tapi kamu hati-hati ya La, aku beneran khawatir"

"Iya Nessi, keburu adzan magrib, aku masuk sholat dulu, Assalamu'alaikum" Layla melangkahkan kakinya pergi kedalam mushola yang tak jauh dari kostan, sementara Nessi masih diam menatap punggung sahabatnya yang jauh setelah menjawab salam

"Mungkin emang perasaan aku aja" ucapnya dan pergi mengendarai motornya menjauh, ia juga harus mampir ke supermarket untuk membeli barang titipan ibunya

.

"Bagaimana? Apa rencana mulai berjalan?" Qais menatap laki-laki didepannya yang nampak fokus dengan ponsel

"Aman, semuanya sesuai. Kita harus berangkat lima menit lagi ke lokasi, itu waktu yang tepat"

"Bagus, malam ini aku harus bisa membalas dendam kematian orang tuaku" Qais mencengkeram pistol ditangannya erat, pistol dengan jenis yang sama beberapa tahun silam

"Kamu tidak memberitau siapapun tentang rencana pembunuhan ini kan?" Rio menggeleng sebagai jawaban

"Kalau tidak kita hancurkan, entah siapa yang akan menjadi korbannya lagi"

"Dia iblis berwajah manusia, dia manusia yang selalu mengejar kesempurnaan tanpa celah, dia serakah, tamak dan sombong. Bukankah dia memang pantas untuk mati?" Qais berbicara sembari tangannya yang memasukkan peluru dalam pistol itu

"Apa Kak Kenzo tau tentang semua ini?" Qais terdiam sejenak kemudian menggeleng

"Dia tidak tau. Dia lebih memilih ikhlas dan mengubur lukanya sendiri. Dia lebih memilih hidup seperti biasa walau aku tau pasti dalam hatinya pernah terbesit keinginan untuk menghabisi sendiri pelakunya"

"Biarkan aku yang membalas dendam itu untuknya juga, orang itu sudah terlalu banyak membuatnya menderita. Dia yang memisahkan Kak Kenzo dengan orang tua kami sejak lahir hingga ia tumbuh sampai remaja di panti asuhan. Aku yakin sebenarnya ia terpukul karena bagaimanapun ia tak merasakan kehadiran orang tua sejak kecil"

"Manusia ternyata semenakutkan itu"

"Apa kau pikir kau tidak menakutkan?" Qais balik bertanya dengan nada terkekeh melihat tingkah Rio yang diam

"Aku becanda, ini sudah waktunya. Ayo kita berangkat sekarang sebelum terlambat"

.

Sebelum menaiki motor maticnya yang terparkir dihalaman mushola, Layla mengedarkan pandangannya sekeliling. Doa tak henti terucap dari mulutnya, entah kenapa ia merasa malam ini begitu berbeda. Dengan cepat ia menggelengkan kepala dan menghilangkan pikiran buruk itu dari kepalanya

Dengan kecepatan sedang ia mengendarai motor maticnya pulang, masih banyak kendaraan yang berlalu lalang waktu itu. Hingga sampai di tikungan dengan banyak ruko kosong dan pepohonan yang tumbuh dipinggir jalan, hanya sedikit pengendara yang lewat padahal biasanya tak seperti itu. Ia menambah kecepatan motornya, hingga ditikungan terakhir yang cukup gelap, laki-laki berbadan kekar berjumlah sekitar lima orang menghadang. Ila tak ingin berhenti bahkan sempat menabrak salah satu dari mereka. Dengan terpaksa ia mengambil jalan lurus padahal seharusnya belok kanan menuju rumahnya. Ia tak peduli sekitar, ia hanya mengikuti kemana jalan ini akan membawanya.

"Ya Allah lindungi hamba dari orang-orang yang memiliki niat buruk"

Berbagai doa tak hentinya ia panjatkan, ia hanya berharap kehadiran seseorang akan datang membantunya. Tapi siapa? Ia bahkan tak punya kesempatan sekedar mengambil ponsel di tasnya.

.

Ditempat lain, dengan gedung bertingkat dan lampu yang terlihat masih menyala dibeberapa runagan menandakan aktifitas karyawan yang lembur, seorang laki-laki dengan uban yang mulai tumbuh dirambut hitamnya berjalan dengan tegap menenteng tas kerjanya. Ia berjalan menuju mobil hitam yang terparkir di gedung perusahaan itu.

Di Pertigaan jalan dengan minim kendaraan, ia mengernyitkan alisnya bingung pada tanda kalau jalan ditutup karena ada perbaikan, seingatnya tadi pagi jalan itu tidak ada masalah sama sekali. Karena malas memeriksa dan turun menyingkirkan penghalang yang sengaja dibuat disana, ia memilih jalan lurus walau menempuh jarak yang sedikit jauh

Aneh, itulah yang ia rasakan. Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan malam, tapi kenapa terasa sunyi sekali. Seolah-olah hanya ia yang lewat dijalan itu, padahal disekitarnya ada rumah-rumah penduduk yang masih menyala terang hanya saja terasa begitu sepi. Tiba diujung jalan, ia merasa aneh pada mobilnya. Dengan tarikan nafas panjang, ia membuka pintu dan melihat ban mobilnya yang pecah. Ini jelas kesengajaan karena terlihat banyaknya paku yang berserakan dijalan itu

"KURANG AJAR!" Teriaknya keras pada keheningan malam, hanya suara jangkrik yang terdengar menyambut. Apalagi seolah sengaja lampu yang biasanya terang disana dimatikan

Saat membuka pintu mobil hendak mengambil ponsel, pukulan keras dari belakang kepalanya membuat laki-laki itu mengerang kesakitan sebelum akhirnya tak sadarkan diri

"Secepat ini?"

"Selemah ini?"

Qais dan Rio saling pandang dan menggelengkan kepala mereka berdua pelan

"Kita bawa kelokasi dan tunggu dia sadar, setelah itu biarlah ia menanti kematiannya"

.

Cahaya remang-remang dari lampu neon putih tepat diatas kepalanya membuat laki-laki itu mengerjap silau, belum sadar sepenuhnya sebuah suara cukup membuatnya terkejut

"Sudah sadar Pak Rangga Hardanto?"

"Siapa kamu? Jangan macam-macam dengan saya!"

Qais dan Rio saling pandang kemudian tertawa dengan kerasnya

"Kami hanya ingin bermain, apa tidak boleh pak?" Tanya Rio dengan nada yang dibuat-buat

"B*j*ngan!, mati kalian jika tau siapa aku?" laki-laki itu mengumpat, ia tak percaya kejadian ini akan terjadi. Pantas saja ia merasa janggal sejak dari kantor

"Memangnya kamu siapa? Rangga Hartanto kan? Si pembunuh saudaranya hanya karena sifat serakah" bisik Qais tepat ditelinga laki-laki itu yang mendadak terdiam

"Lihat pistol ini baik-baik, apa kamu ingat paman?" Tanyanya dengan menekan kata paman diakhir kalimatnya untuk menunjukkan dengan jelas ikatan diantar mereka

.

Koreksi Typo...😁🙏

1
itsme A
aduhh sumpah galmove sama kisah Naufal aqeela ya Tuhann, merinding banget /Sob//Sob//Sob/
stnk
kereeeen.....👍👍👍👍
Wayan Sucani
Menguras air mata
Wayan Sucani
Edisi menangis bersambung...
Kau kuras emosi kami Thor..
Ati Rohayati
Luar biasa
Sri Wulandari
Taj Mahal ceritanya hampir sm dg kisah orangtuamu ila😊
Sri Wulandari
Istri sholehah yg bs menenangkan hati dan perasaan suaminya ketika merasa sedih & terpuruk ❤️
Sri Wulandari
Buat ayah nessy menerima karmanya atas apa yg telah d lakukan pd klrgnya jg orang-orang yg telah d sakitinya thour
Sri Wulandari
Pasti Cewek yg suka sm qais tentunya secara qais khan suka nyamperin layla d fakultas nya
Sri Wulandari
Apakah orang tua kenzo & qais d bunuh.... itulah yg membuat kenzo d ttpkn d panti asuhan buat melindungi dia😔
Sri Wulandari
Qais adalah versi Naufal waktu jd badboy d kampusnya dulu
Sri Wulandari
Bikin nangis sj thour.... jd k ingat kisah cinta mereka berdua g k bayang sprti ap rasa sedih & rindu yg terpendam Naufal sm aqila walaupun dia terlihat kuat & tegar d dpn anak-anaknya jg klrgnya 😭😭😭😭😭
Sri Wulandari
Si kembar ngumpet dengar sepupunya datang🤭
Riyani Yahya
Luar biasa
Henny Saraswati
ceritanya bagus,,tidak bertele-tele dalam menyelesaikan konflik yg ada
Widdy Widdy
Luar biasa
Mom_Sa
kmrin sibuk nangisin kisah emak bapaknya, Skrang nangisin kisah anaknya. emng ya othor nih hobi bikin org nangis brjamaah..😭
Sri Puryani
mksh thor....cerita yg bagus....
menguras air mata😭
Sri Puryani
semoga krn kelskuan mereka baik jd dpt keringanan hukuman
Sri Puryani
klo qais & rio ditangkap, hukum jg rangga thor jgn biarkan dia hidup tenang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!