Clara Ansilla, seorang gadis periang yang berubah menjadi pendiam akibat satu kejadian yang menimpanya. Hanya berusaha menolong seorang pria, Chris Neutron, membuatnya kehilangan kehormatan.
Clara kehilangan penglihatannya, sekaligus mengalami kelumpuhan akibat kejadian itu. Hingga beberapa tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
"Sudah kamu diam, tunjukkan saja unit apartemen kamu,” kata Chris.
Clara tahu bahwa wajah Chris saat ini sedang menunjukkan kemarahan, ia pun tak ingin berdebat. Clara menyembunyikan wajahnya menghadap tubuh Chris, ia bisa mencium harum maskulin dari tubuh pria itu.
Setelah memasuki apartemen milik Clara, Chris mendudukkan Clara di sebuah sofa di ruang duduk apartemen itu.
"Kamu punya es batu?" tanya Chris.
"Ada kak,” jawab Clara.
Chris mengambil kain bersih yang ada di laci meja dapur, seperti yang ditunjukkan oleh Clara, kemudian ia mengambil es batu dan membungkusnya.
Ia kembali menghampiri Clara dan mulai mengompres memar di kaki Clara dengan pelan dan hati hati, kemudian ia berkata …
"Lain kali kalau mau nyebrang lihat kanan kiri dulu. Kalau tadi nggak ada yang lihat, udah nggak ada kamu sekarang."
"Maaf Kak. Terima kasih,” kata Clara.
"Kamu sedia obat memar?" tanya Chris.
"Belum, Kak. Aku belum lama disini, jadi belum beli."
"Kamu tunggu di sini, Kak Chris belikan dulu,” kata Chris yang kemudian keluar dari apartemen Clara.
Clara tersenyum, sambil mengeluarkan air mata. Ia tahu ia tak salah menilai Chris, meskipun saat itu ia tak bisa dengan jelas melihatnya. Ia pribadi yang baik, hanya berada dalam situasi yang ia pun sulit menjelaskannya.
Tak lama, Chris kembali membawa beberapa jenis obat. Ia membuka obat tersebut dan mulai mengolesi salep pada memar di kaki Clara.
Setelah selesai,
"Sudah, kamu istirahat sekarang, jangan terlalu banyak berjalan dulu."
Chris merapikan obat-obat yang tadi ia beli dan memasukkannya kembali ke dalam plastik. Setelah itu Ia berdiri dan kembali mengenakan long coat nya.
"Aku pulang dulu, sudah malam,” kata Chris.
"Kak Chris tinggal di London?" tanya Clara.
"Tidak. Aku ambil penerbangan terakhir kembali ke Switzerland,” jawab Chris.
Ada tampak raut kekecewaan di wajah Clara.
"Ini sudah malam kak, apa tidak sebaiknya kembali besok saja?" tanya Clara lagi.
"Besok ada meeting penting yang harus dihadiri. Ingat, jangan terlalu banyak berjalan, kaki kamu perlu waktu untuk pulih,” kata Chris. Ia perlu memberanikan diri untuk muncul di hadapan wanita itu. Janjinya pada Tuan Brandon sebenarnya menahannya. Namun, ia tak mungkin membiarkan Clara terluka.
**
Matahari pagi menyinari Kota London yang hampir memasuki musim dingin. Cahayanya memasuki kamar Clara, di mana Clara masih terlelap di balik selimut warna peach-nya.
Kakinya masih terasa sedikit berdenyut, sehingga Clara malas untuk bangun dari tempat tidurnya.
Ponsel yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya berbunyi, menandakan ia bangun lebih cepat dari alarm yang ia atur semalam.
Hari ini ia sudah berjanji untuk menghubungi Mom Kezia di pagi hari dalam pesan singkatnya kemarin malam. Clara menekan layar ponselnya dan melakukan video call.
"Hai, Mom,” sapa Clara yang baru terbangun dengan muka bantal dan rambut yang masih acak-acakan
"Ya ampun itu anak perempuan apa bukan? kamu baru bangun sayang?"
"Iya ma, semalam aku tidur agak malam karena membaca buku jadi aku bangun kesiangan,” jawab Clara sedikit berbohong. Ia tak ingin Mom Kezia kuatir jika mendengar kakinya terluka. Baru beberapa hari di sana, masa sudah kembali membuat kedua orang tuanya kuatir, demikian pikirnya.
"Ayo bangun, sudah siang ini. Kamu sudah beli sarapan?" tanya Mom Kezia.
"Aku sudah sedia stock makanan di kulkas, Mom. Nanti tinggal aku masak sebentar saja,” kata Clara dengan senyum, meskipun kakinya masih terasa sakit.
"Kamu belajar yang rajin dan jaga kesehatan. Kalau Daddy ada waktu, Mommy akan ajak ke sana untuk menemui kamu ya."
"Okay, Mom. Aku tunggu, asal jangan tiap kali disuruh pulang aja,” kata Clara setengah bercanda.
"Dasar nih anak. Orang tuanya pengen dekat, malah dia mau jauh-jauh."
Terdengar suara bel dari arah pintu.
"Ya sudah, Mom. Sepertinya ada tamu,” kata Clara.
"Tamu?" tanya Mom Kezia heran, karena Clara belum lama di sana, masa sudah kedatangan tamu.
"Palingan Jason, Mom. Kemarin Clara ada sempat hubungi dia, karena sekarang kan dia kerja di sini."
"Ya sudah kalau begitu, Bye Clara sayang."
"Bye Mom muahhh,” kata Clara, kemudian dengan perlahan menuruni tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu masuk.
Ia mengintip terlebih daulu siapa yang datang.
"Siapa?" tanya Clara.
"Delivery."
Delivery? - batin Clara.
Ia merasa tak memesan apapun, apa yang mau di delivery pikirnya. Ia membuka pintu sedikit, terlihat seorang pria muda menggunakan pakaian casual berwarna hitam dengan rompi berwarna kuning membawakan sebuah paperbag.
"Clara?" tanya kurir pengantar makanan tersebut.
"Ya, benar.”
"Ini pesanan anda, Nona.”
"Tapi saya tidak memesan apa-apa,” kata Clara.
"Saya hanya bertugas untuk mengirimkan. Silakan diterima.”
"Terima kasih,” pada akhirnya Clara pun menerimanya. Ia tak ingin berdebat panjang yang mungkin akan membuat kurir pengantar malah menghabiskan waktunya sia-sia di depan pintu apartemennya.
Setelah menerima paperbag itu, ia berjalan ke arah meja makan kecil dengan 2 buah kursi. Ia membuka paperbag tersebut dan memeriksa isinya.
Seporsi makan pagi lengkap dengan omelet, sosis dan salad, seperti makan pagi Clara biasanya. Ya, makan pagi saat ia masih berada di rumah Aunty Kelly, di Kota Malang.
Kak Chris? - batin Clara.
🌹🌹🌹
sama perempuan kayak gitu aja susah banget beresinnya...huh..
jadi laki kudu setrong pribadi tangguh Chris, jangan mental tempe
kan mom Hera krn ga tau jadi mikirnya ella bagus ajah
terimakasih kak, as always ceritanya bagus 👍👍👍😍😍😍