Vianne Collins, seorang wanita yang berhasil mendapat gelar dokter, karena bantuan dari seorang pria paruh baya bernama George Orlando. Baginya, tak ada yang lebih penting selain Tuan George Orlando.
Zayn Richard, atau dikenal dengan nama Zero, merupakan asisten pribadi dari Axton Williams. Ia menjalin hubungan dengan Vianne, demi melupakan seorang wanita yang tak lain adalah adik dari atasannya sendiri, Alexa Williams.
Namun, Zero menganggap bahwa ia tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Vianne karena ia tak bisa mencintai wanita itu dan memutuskan untuk mencintai Alexa dalam diam, meski wanita itu sudah menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANAS HATI
Keesokan paginya, mereka kembali sarapan pagi bersama. Pemandangan di mana Wesley begitu perhatian pada Vianne, terus saja menyita fokus Zero. Meskipun semalaman ia sudah berkeyakinan untuk melupakan semuanya, tapi ketika dihadapkan pada kenyataan di depannya, ia seperti mulai bimbang lagi.
"Kalian sangat serasi sekali. Aku suka sekali setiap melihat kedekatan kalian," ucap Jeanette yang memuji kedekatan dan keserasian antara Wesley dengan Vianne.
Dad Orlando tersenyum lalu tertawa, "Kamu pikir begitu, sayang?"
"Ya, Dad. Apa Dad tidak melihatnya?"
"Ya, tentu saja Dad melihatnya, bahkan setiap hari," ucap Dad Orlando.
Hal itu tentu saja membuat panas hati Zero yang mendengarnya. Sementara Wesley hanya tersenyum menanggapi ucapan Jeanette dan Tuan Orlando.
"Bagaimana kalau kita nikahkan saja mereka," ucap Axton tiba tiba, membuat Zero yang berada di sebelahnya langsung menoleh ke arah Axton kemudian ke arah Wesley dan Vianne. Bagaimana bisa atasannya itu memberikan ide seperti itu? Axton biasanya tak pernah ikut campur dalam suatu hubungan.
Dad Orlando kembali tertawa, "Aku akan sangat senang sekali jika mereka berdua bisa menikah. Tapi saat ini Vianne masih dalam tahap pemulihan. Mungkin setelah ia sembuh nanti, aku akan kembali menanyakan idemu itu."
"Uncle! Aku masih ingin kuliah lagi," ucap Vianne merajuk. Ia mendengar semua pembicaraan mereka karena mereka berada dalam satu meja makan. Ia kembali pada mode aktingnya. Tak apalah, hanya Wesley saja yang mengetahui kebohongannya.
"Aku akan menunggu sampai kamu lulus kuliah mastermu, bagaimana?" tanya Wesley dengan lembut sambil menatap Vianne. Vianne yang ditatap oleh Wesley pun tahu kalau pria itu sedang berpura pura juga. Vianne hanya tersenyum, tanpa menjawab.
Zero mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Ia benar benar panas melihat interaksi itu.
"Apa kamu akan menikah dengannya dalam keadaan amnesia seperti itu? Bagaimana kalau sebenarnya dia memiliki kekasih?" tanya Zero tiba tiba, yang tentu saja membuat semua yang ada di meja makan melihat ke arah Zero.
"Jangan melihatku seperti itu. Aku hanya memberikan pendapat, seharusnya kalau kalian ingin menikah, Vianne harus sembuh dulu dari amnesianya," lanjut Zero lagi untuk meluruskan perkataannya.
"Tapi dia mengingatku dan tak ada apapun yang kusembunyikan darinya. Ku rasa tidak akan ada masalah dengan pernikahan kami, kapan pun kami mau melakukannya," ucap Wesley tersenyum.
Zero semakin kesal saat melihat senyum Wesley. Pria itu seakan mengejek dirinya karena bukan dia yang mendapatkan Vianne.
"Aku tahu Vianne tak pernah berhubungan dengan siapa pun. Jadi tak akan ada kekasih yang harus kupikirkan perasaannya," ucap Wesley.
Suasana sarapan pagi itu tiba tiba saja berubah tak enak karena Wesley dan Zero. Kilatan mata mereka seakan mengatakan permusuhan. Axton yanh nelihat keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
*****
Beberapa hari berada di Jepang, hanya membuat hati Zero semakin panas saja. Ia yang awalnya ingin mencoba melupakan, tapi kini rasanya tak terima jika Vianne bersama dengan Wesley.
Hari ini mereka akan kembali ke London, sementara Axton akan kembali ke Indonesia. Dad Orlando akan ikut bersama dengan Axton dan Jeanette ke Indonesia. Ia ingin bertemu dengan Alex karena sudah sangat rindu sekali dengan cucunya itu.
"Nanti aku yang akan mengantarkan Dad Orlando kembali ke London. Kalian tidak perlu khawatir," ucap Axton.
"Aku tidak khawatir karena aku yakin Tuan dan Nona Jean akan menjaga Tuan Orlando dengan sangat baik," ucap Wesley.
"Baiklah, kami pergi dulu," Axton membawa Dad Orlando dan Jeanette ke pesawar pribadinya, sementara Wesley, Vianne, dan Brox akan kembali ke London dengan menggunakan pesawat komersil.
Wesley segera merangkul Vianne dan hal itu tentu saja dilihat oleh Zero.
"Wes ..."
"Sebentar saja. Aku hanya ingin membuat seseorang panas hati," ucapnya tertawa kemudian memegang dagu Vianne.
Dan benar saja, di dalam pesawat Zero sangat kesal melihatnya. Ia terus mengepalkan tangannya dan wajahnya terlihat dingin dan geram. Di mata Zero, Wesley seakan ingin mengajaknya bertarung.
Lihat saja nanti apa yang akan kulakukan padamu. Dasar pria sok romantis! - batin Zero menggerutu.
*****
Sudah lewat 1 minggu sejak kepulangan mereka ke London. Selama itu pula Vianne tak pergi ke universitas. Ia justru pergi ke OR Trade untuk melakukan pekerjaannya kembali.
Bagi Vianne, ia memang lebih suka bekerja dan ke universitas hanyalah sebuah akting. Namun untuk membuat semuanya lebih terlihat natural saat Tuan Orlando kembali, Vianne meminta bantuan Wesley untuk memberinya pekerjaan di universitas.
Di luar Mansion Orlando, sebuah mobil berwarna kuning masih dengan setia mengawasi setiap gerak gerik keluarga itu.
"Sampai kapan kita di sini, aku bosan sekali," gerutu Four.
"Besok kita tak akan mengawasi lagi. Kamu bisa kembali ke markas," ucap Five.
"Benarkah? Aku tidak salah dengar kan?" tanya Four.
"Ya, kamu tidak salah dengar. Kak Zero akan memberikan tugas lain untukmu," jawab Five.
"Lalu dirimu?"
"Tentu saja aku akan bersantai seperti biasanya," jawab Five. Mendengar hal itu, Four berdecak kesal. Five memang terlihat lebih santai daripada dirinya. Tapi ketika wanita itu mendapatkan tugas, maka ia harus turut serta menemani.
"Enak sekali tugasmu," gerutu Four.
"Tentu saja, siapa dulu adik kesayangan Kak Zero," Five memuji dirinya sendiri.
Four menghela nafasnya pelan, "Ya tidak apa lah tugas lain. Setidaknya aku tidak diam menunggu seperti orang bodoh, mana harus selalu bersamamu."
Akhirnya keduanya kembali ke Markas Black Alpha. Five langsung pergi untuk melaporkan beberapa hal pada Zero.
🧡 🧡 🧡