Bara Dirgantara, pria berusia 27 tahun ini merupakan seorang pewaris tunggal Dirgantara Grup. Rumah tangga orang tuanya yang tak berjalan mulus sampai ibunya harus dirawat di rumah sakit jiwa karena mengalami depresi berat.
Bara menaruh dendam pada selingkuhan ayahnya yang sempat merusak keutuhan keluarga mereka. Hingga pada suatu hari, Bara mengetahui bahwa anak dari selingkuhan ayahnya adalah bawahannya di kantor bernama Rosaline.
Bara sengaja bersikap manis pada Rosaline, mengajak wanita tersebut masuk ke dalam perangkapnya, dan setelah itu memberikan penyiksaan terhadap Rosa.
Akankah Bara terus menyimpan dendam pada Rosa? Bagaimana akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Informasi
Baru saja Bara hendak masuk ke dalam gedung pencakar langit yang ada di hadapannya. Tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang yang amat dikenalnya. Bahkan, wanita itu bergelayut manja di lengan Bara.
"Sayang, ..."
Mendengar panggilan seperti itu, membuat Bara langsung membelalakkan matanya. Bagaimana tidak? Keadaan sedang berada di lingkungan kantor, dia berstatus sebagai pria beristri, dengan sesuka hatinya gadis yang bernama Luna ini memanggilnya dengan kata sayang dan bergelayut manja.
"Lepaskan!" tukas Bara menatap Luna dengan tajam. Ia mengedarkan pandangannya, tentu saja beberapa orang yang baru datang melihat tingkah Luna.
"Hentikan semua ini, Luna. Jika kamu muncul di hadapanku, maka kamu akan mendapatkan akibatnya!" cecar Bara sembari menunjuk Luna.
"Kamu tidak bisa berbuat seperti ini sesuka hatimu, Bara." Luna mendengkus kesal, ia menghentakkan kakinya saat Bara mengacuhkannya dan memilih untuk pergi dari hadapan Luna.
Luna tak ingin mengalah sedikit pun. Ia bahkan menyusul Bara dan mengekor pada pria tersebut. Tak peduli pria yang di hadapannya itu akan mengacuhkannya.
Bara masuk ke dalam lift, Luna menahan pintu lift tersebut agar tidak tertutup. Gadis itu ikut bergabung bersama Bara masuk ke dalam lift tersebut.
"Bisakah kamu tidak bersikap seperti ini? Aku muak, Luna!" tegas Bara dengan suara yang lantang.
Luna menutup telinganya, suara Bara terdengar begitu nyaring, apalagi saat ini mereka tengah berada di lift.
"Kamu menciumku sesukamu, lalu sekarang kamu akan membuangku begitu saja? Aku tidak mau, Bara!" balas Luna yang juga tak mau kalah.
"Tolong ... untuk tidak memperpanjang masalah. Jujur, aku tidak menyukai kamu, Luna. Yang kemarin, aku minta maaf jika kamu keberatan. Aku akui, aku hanya memanfaatkan kamu untuk menyakiti Rosa. Namun, sekarang aku sadar. Sebanyak apapun aku menyakitinya, justru berimbas kepadaku pula. Aku mencintai Rosa, aku mengakuinya sekarang," ujar Bara panjang lebar.
Bara tak ingin Luna terus menaruh rasa padanya. Ia ingin Luna pergi dari kehidupannya, karena sudah cukup bagi Bara untuk menyakiti perasaan Rosa. Kali ini, pria itu akan benar-benar menjaga istrinya meskipun harus dicap durhaka oleh ibunya.
Tinggg ...
PLAKKK ...
Pintu baja itu terbuka, bersamaan dengan tamparan yang dilayangkan oleh Luna pada pria yang bernama Bara.
Semua orang yang sudah berdiri di pintu lift tampak terkejut atas apa yang dilakukan oleh Luna. Gadis itu baru saja menampar atasan mereka.
Sementara Bara, ia hanya terdiam, seolah mengakui bahwa sedari awal dialah yang salah. Dan sudah seharusnya Bara mendapatkan hal tersebut. Namun, yang lebih pantas menghukumnya adalah Rosa. Wanita itu lah yang paling tersakiti oleh sikap Bara.
Rasa panas menjalar di pipi Bara. Pria tersebut melangkah pergi meninggalkan Luna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Pegawai Bara menundukkan kepalanya saat sang atasan berlalu dari hadapan mereka. Sementara Luna, gadis itu menatap nanar Bara. Ia menghapus jejak air matanya, lalu kemudian menekan pintu lift untuk kembali mengantarkannya ke lantai dasar.
Bara masuk ke dalam ruangannya. Ia mendudukkan dirinya di atas kursi kebesarannya. Pria itu memijat keningnya. Merasa frustasi dengan semua yang terjadi saat ini.
TOKKK ... TOKKK ...
Terdengar suara ketukan pintu. Agam masuk ke dalam ruangan sang atasan. Pria itu menghadap Bara lalu kemudian menundukkan kepalanya.
"Saya ingin melaporkannya sesuatu, Tuan."
"Bisakah kamu melihat kondisi ku saat ini? Aku sedang pusing, nanti saja!" tukas Bara sedikit membentak asistennya.
Agam pun kembali menundukkan kepalanya. Pamit undur diri dari hadapan atasannya yang tampak pusing karena ulahnya sendiri.
Bara mencoba menenangkan dirinya kembali, menghidupkan komputer dan fokus dengan pekerjaannya. Namun, lagi-lagi pikiran tentang kejadian saat di parkiran, saat di lift, semua orang melihat Luna menampar ataupun bergelayut manja padanya, tentu saja mengundang rumor tidak mengenakan nantinya.
Bara membanting dokumen yang ia pegang, pria tersebut memijat keningnya kembali. Sungguh, keadaan sekarang ini benar-benar kacau.
.....
Tak terasa, jam pun sudah mulai menunjukkan waktu makan siang. Pegawai yang lain sibuk beristirahat, sementara Bara, pria itu seolah bekerja tak mengenal waktu.
Terdengar kembali suara ketukan pintu. Sang asisten lagi-lagi datang menemui Bara. "Apakah Anda ingin saya pesankan makan siang, Tuan?" tanya Agam.
"Iya, pesankan seperti biasanya saja," ucap Bara.
"Baik, Tuan." Agam pun menarik diri dari tempat tersebut, memilih untuk pamit undur diri dari hadapan Bara.
Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba Bara kembali memanggil asistennya itu.
"Agam, ..."
Sang asisten yang merasa namanya di panggil pun langsung berbalik dan kembali menghadap atasannya.
"Iya, Tuan."
"Apa yang ingin kamu katakan pada saya tadi pagi," ujar Bara menutup dokumen yang ada di tangannya.
"Tentang kami menemukan sebuah informasi baru, Tuan." Agam menjawab ucapan Bara.
"Informasi? Apakah tentang keberadaan Tina?" tanya Bara lagi.
"Untuk keberadaan Tina, kamu belum menemukan lokasinya, Tuan. Tapi kami mendapatkan sebuah informasi, bahwa Tina memiliki dua orang putri dan ternyata salah satu dari putrinya itu bukanlah putri kandung Tina," tutur Agam.
"Apa maksudmu? Siapa yang bukan putri kandung Tina?" tanya Bara yang mulai panik.
"Nyonya Rosaline, istri dari Tuan Bara, bukanlah anak kandung Tina."
Deggg ....
Seketika tubuh Bara menegang, tangannya bergetar mendengar ucapan dari asistennya itu. Yang mengatakan bahwa Rosa, bukanlah anak kandung dari Tina.
Bersambung ....