Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran -2
Nara keluar dari taksi dengan cepat ia masuk ke dalam sebuah klub malam. Sejak tadi ia mendapat telepon dari Tama yang mengatakan jika Daffin membuat onar di klub tersebut.
Mata Nara menyapu setiap sudut ruangan klub yang rame dan pencahayaan yang minim membuatnya kesusahan mencari keberadaan Daffin.
"Nara!" Teriak Tama dengan tangan melambai pada Nara.
"Mana Daffin?" tanya Nara to the point.
"Sini ikut gue." Tama menarik Nara menuju sebuah ruangan VIP.
Cklek
"Daffin." Nara berlutut di depan Daffin yang tengah duduk di sofa tangannya terulur memegang wajah Daffin yang penuh luka lebam, "Kenapa bisa kayak gini sih?" Air mata Nara mulai menetes.
"Ngapain elo di sini?" Daffin mendorong Nara hingga jatuh ke belakang.
"Fin. Fin. " Remon mendekati Daffin, Tama membantu Nara bangun "Dia cewek elo men, gak usah kasar-kasar lah sama cewek."
"Oh jadi elo cewek laki laki baj*ng*n ini." Ucap seorang pemuda dengan wajah babak belur juga sama kayak Daffin, "bagus lah elo datang kesini, elo bisa gantiin cewek yang tadi nemenin gue, sebagai ganti rugi atas perbuatan cowok elo."
Nara mundur perlahan ia mulai ketakutan melihat tatapan devil serta seringai bibir Bimo yang menatapnya lapar.
"Apa maksud lo?" Tama mulai terpancing emosi "Dia cewek sohib gue, jangan macam-macam!"
"Hahaha.. Kenapa elo mau juga?" ucapnya dengan senyum smirknya "Kalo elo mau nunggu giliran lah."
"A*ji*g!" teriak Daffin keras "Dia cewek gue, gak ada boleh nyentuh dia sedikitpun. Termasuk elo. Ngerti!!" tangannya menunjuk Bimo dengan tatapan menyalang.
"Hahaha.." tawa Bimo semakin keras "Emang kalo gue mau dia, elo bisa apa?" Bimo berjalan mendekati Nara.
"Stop!" Daffin dengan cepat berdiri di hadapan Bimo menjadikan badannya sebagai penghalang antara Bimo dan Nara "Selangkah lagi elo maju gue patahin tangan sama kaki lo."
Bimo menyeringai, dia masih berusaha mendekati Nara yang sudah bersembunyi di belakang Daffin dengan gemetar.
"Bimo!" seru laki-laki dewasa dari belakang mereka "Stop jangan lagi berbuat ulah di klub, Om."
"Oh ayolah, Om." Bimo menatap malas laki-laki itu "Ini lagi seru."
"Cukup Bimo atau Om laporin kamu pada orang tua kamu."
"Ck. Om gak seru." Bimo pergi dari hadapan mereka begitu saja.
"Ya sudah kalian boleh bubar. Om minta maaf ya atas kelakuan ponakan Om itu, terutama pada kamu Fin." menepuk bahu Daffin pelan.
"Iya Om gak pa-pa."
"Ya sudah Om permisi dulu."
Daffin dan semua yang ada di sana menghela napas lega, tapi berbeda dengan Nara. Dia bukan gadis yang biasa berhadapan dengan situasi seperti ini. Ia hanya seorang gadis polos yang tumbuh di lingkungan dan orang orang baik dan gak pernah aneh-aneh seperti mereka.
Tapi semenjak dengan Daffin gadis itu mau tidak mau harus merasakan kekerasan yang Daffin lakukan dan ia juga masuk dalam dunia malam Daffin walau ia tidak ikut terlibat secara langsung. O
"Ra." Daffin berbalik melihat Nara "Astaga elo kenapa?" Daffin panik melihat wajah pucat Nara.
"Nara. Hei!!" menepuk pelan pipi Nara.
Brukk
Tubuh Nara ambruk di lantai membuat Daffin dan kedua temannya ketar ketir.
"Astaga."
"Nara."
"Fin angkat ke sofa aja, gue cari air putih dulu." Remon berlari ke luar.
Daffin merebahkan Nara di sofa yang tadi ia duduki.
"Ra. Bangun Ra gue mohon." Daffin menepuk pipi Nara pelan.
"Fin coba elo kasih minyak kayu putih dulu nih." Tama menyodorkan minyak angin pada Daffin.
Dengan cepat Daffin mendekatkan minyak pemberian Tama ke hidung Nara. Ternyata benar mata Nara mulai mengerjap.
"Ra. Elo udah siuman?"
"Daffin. Gue takut." Nara bangun dengan gerakan kilat ia berhambur ke dalam pelukan Daffin.
"Gue di sini. Elo jangan takut lagi." Daffin mengusap rambut Nara.
padahal kan Nara tokoh sentralnya.