📖Harap sediakan tissue karena cerita mengandung bawang. 📖
"Kak Dibi, bolehkah Pelangi minta gendong?"
"Pe, kamu lagi hamil! Kalau jatuh bagaimana?"
"Kalau minta suap, mau nggak?"
"Jangan manja ya, Pe. Kakak sedang buru buru!"
"Oh...ya uda tak apa. Tapi Kak, jangan lupa tutup pintu rapat-rapat ya. Takutnya, Pe pergi dan hanya ada badai yang menggantikan kepulanganku."
Galaksi Miller Al Malik, kerap disapa Dibi, tidak tahu kalau istrinya--Pelangi Sagara sedang sakit keras seraya mengandung. Permintaan sederhana terakhir istrinya itu tidak terpenuhi olehnya sampai sang istri meninggal.
Selama pernikahan terpaksa itu, Dibi hanya mempedulikan seorang mantan kekasihnya yang sama halnya sedang sakit dan minta perhatian seorang Dibi.
Sampai saatnya, Istrinya meninggal baru ia menyadari kalau cinta besarnya itu hanya pada sang istri.
Penyesalan tak terkira dan tiada henti menggerogoti hari Dibi setelah kepergian Pelangi.
Benarkah Pelangi meninggal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sina Tu Narti Ajj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Apa?
" Palangi! Sayang, hei... Bangun!!!"
Dalam air hujan yang semakin deras, Biru dibuat panik, cemas, pokoknya khawatir sampai seluruh tubuhnya gemetar karena menyadari denyut nadi anaknya sangat lemah. Biru dengan segera menggendong tubuh hamil itu, tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya yang sudah basah kuyup.
Syukurnya, saat ia kebingungan dan kesusahan mau pulang ke rumahnya mengambil mobil, tiba-tiba ada kendaraan mewah berhenti dan menawarkan bantuan tumpangan.
"Pak, tolong antar saya ke rumah sakit, aku mohon bantu anak saya."
"Baik, Pak!" ujar lirih orang itu seraya menatap Pe yang terpejam melalui kaca kemudinya. Orang yang berkaca mata dan bertopi itu pun segera melajukan mobilnya dengan laju cepat membela jalanan licin yang masih sedang diguyur hujan.
"Pe, bangun! Jangan buat Ayah ketakutan, Nak. Kamu cuma letih kan, ya? Pokoknya kamu nggak kenapa kenapa!"
Biru yang kebingungan dengan kondisi Pelangi yang ia tidak ketahui sama sekali, dibuat gelagapan dan ketakutan luar biasa di kabin belakang. Air matanya yang sudah lama tidak hadir di matanya itu, kini berderai jatuh tanpa permisi. Ia memangku kepala Pelangi seraya menggosok gosok tangan Pe yang anyep kedinginan itu, berharap anaknya tersalurkan kehangatan.
Pemilik mobil yang menyetir itupun semakin menginjak pedal gasnya demi bisa menggapai rumah sakit. Ia kasihan pada Pelangi.
***
"Suster, tolong...!"
Sampai di rumah sakit, Biru segera berlari membawa Pelangi di gendongannya dalam basah kuyup. Tidak mau mengambil resiko terjatuh karena licin, Biru segera menaruh Pe ke brankar dorong.
Sang petugas pun ikut membantu dengan sigap.
" Tolong anak saya, Sus."
"Pasti, Pak!" jawab sang suster seraya terus mendorong cepat brankar itu.
"Sus, Ibu ini adalah pasien spesial Dokter Mori. Tolong segera melapor."
Salah satu suster di antara tiga orang itu, mengenali Pelangi. Dan satu temannya pun segera mengindahkan titah teman kerjanya, berjalan setengah lari demi cepat menggapai ruangan sang Dokter.
" Hah, Pelangi?!" Dokter itu pun segera berlalu cepat setelah mendapat laporan dari sang suster.
"Suster....! jangan di bawah masuk ke ruangan UGD, kita keruangan operasi sekarang juga!"
Saking hakikinya suara Dokter Mori yang bertoa dari kejauhan. Semua pandang mata pun tertuju padanya saat ini dari orang-orang yang berlalu lalang di lorong itu.
Biru saja sampai terkejut. Istimewa mendengar kata operasi sebelum anak tersayangnya itu di periksa yang cuma pingsan karena lelah kata anaknya saat menyender di bahunya tadi.
Dokter Mori tidak mempedulikan tatapan Biru yang minta penjelasan. Ia terus mendorong cepat brankar itu dengan cepat. Ia diberi pertanggungjawaban penuh oleh Pelangi atas keselamatan calon bayi itu. Ia juga sudah memegang surat pernyataan yang disahkan Pelangi, kalau semua tindakan Dokter itu sudah di beri wewenang penuh oleh Pe langsung. Jadi, ia tidak membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga Pe lagi sebagai prosedur rumah sakit bila mana ia dan gedung itu di tuntut.
"Sus, tolong segera panggil Dokter Adnan untuk membantu saya menyelamatkan bayinya, sebelum pasien saya keburu hilang nafas."
Apa apaan Dokter itu? Biru jadinya menahan murka dibilang nafas anaknya akan berhenti. Ia tidak sabar juga ingin bersuara.
"Anda hanyalah seorang Dokter, tidak pantas berkata kata yang mendahului Tuhan. Anak saya cuma pingsan karena kelelahan."
Dokter Mori tak mengindahkan suara marah Biru. Ia lebih fokus pada ruangan operasi yang ada di depan sana. Semakin cepat sampai maka akan semakin ada peluang bagi pengorbanan Pe, pikir sang Dokter.
Biru yang merasa di cuekin, semakin kesal. Namun ia tahan tahan karena anaknya lebih penting.
Dan tepat di pertigaan koridor itu, brankar Pelangi dan Kiara sehabis operasi, saling berpapasan. Ada Dibi di antara keluarga Kiara. Suami Pe itu tadinya tidak memperdulikan sekitar, namun saat mendengar suara Biru yang bertanya tegas pada Dokter Mori, ia baru tersadar, namun belum mengetahui siapa yang sedang di dorong oleh Biru dan beberapa petugas itu yang sudah keburu lewat di belakang sana.
"Ayah..." lirih Dibi. Aksa dan Rere berikut adik Kiara pun berhenti sejenak dan membiarkan Kiara yang sedang terbius itu di bawa duluan oleh suster.
"Biru!" gumam orang tua Kiara pun.
"Om, Tante, aku ke sana dulu!" izin Dibi. Dan berlari cepat ke arah Biru tanpa mempedulikan jawaban orang tua Kiara.
Suami Pe itu tiba tepat brankar akan masuk ke ruang operasi yang baru akan dibuka lebar pintunya oleh sang suster.
"Ayah sedang apa ___Pe! Ayah, Pe___" kaget Dibi berturut tidak jelas, tepat matanya melihat wajah cantik nan lembab istrinya yang sedang terpejam di bed itu. Ia pun terjeda oleh Dokter Mori yang menghadang di pintu.
"Maaf ya, Bapak-bapak. Saya tidak bisa menjelaskan lama di sini karena saya harus menyelamatkan janin Pelangi. Kalau telat sedikit saja, maka pengorbanan Pelangi yang sakit keras dalam menjaga kesehatan janin nya hanya akan sia sia semata."
Dokter Mori segera menutup pintu secepatnya setelah bertutur seadanya. Membuat Dibi dan Biru terhenyak nan terenyuh dalam kebisuan masing-masing, tatkala mendengar untaian cepat Dokter itu, lebih lebih ada dua kata yang mengerikan masuk ke dalam inderanya.
"Sakit keras?" Dua pria berbeda umur itu saling pandang dengan pertanyaan yang sama, seakan-akan saling meminta penjelasan satu sama lain.
Mereka kebingungan! Apa yang sedang Pelangi hadapi? Debaran jantung mereka pun berdetak dua kali dalam kekalutan terhakiki.
"Dibi....!" Biru sudah mulai mengeluarkan suara dinginnya. "Pelangi sakit keras, tetapi kamu menyembunyikan pada kami! Apa maksud mu, hah? Anak ku sakit apa, coba katakan?!"
Dibi mau jawab apa? Ia saja tidak tahu menahu. Dan dalam kebingungan didominasi cemas, dan ketakutan luar biasa pada keadaan Pelangi, suami yang amat dicintai Pe itu hanya menggeleng pertanda tidak tahu menahu.
"Gelengan? Apa maksudnya, hah?" Biru menyudutkan Dibi ke tembok seraya kerah baju itu ia cengkeram begitu kuat. Bagaimana tidak naik pitam, anak emasnya ia serah terima untuk Dibi jaga dengan baik, tapi ditanya istri nya sedang sakit apa, eh... Malah dapat gelegan yang enteng. Damn!
"Ayah, Dibi pun tidak tahu. Pelangi nggak sama sekali memberi tahukan apapun. Pe__"
Bugh....
Satu jab Biru sudah berhasil membuat hidung Dibi mimisan. Ingin kembali menghajar, tapi terhenti dari suara Dokter Adnan yang akan membantu Dokter Mori di dalam sana.
"Kalau Anda Anda ini keluarga dari Ibu Pelangi, maka lebih baik berdoa saja dari pada harus ribut di antara perjuangan Ibu Pelangi di dalam sana. Mari...." Dokter itu berlalu cepat masuk ke ruangan setelah memberi sentilan kata kata pedas untuk dua pria itu.
pelakor dan pebinor sama laknat
jika ada yang membela pelakor dia sama laknat nya begitu juga kalau ada yang membels pebinor sama laknat nya juga
dan lagi thor apakah jika suami berpelukan dengan wanita lain dengan alasan pelukan teman, apakah kau Terima begitu saja dan anggap itu hal benar
thor jadi lah wanita bijak