Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klinik Pasar Gelap
Bau amis darah yang pekat menyesakkan kabin SUV. Rara membeku di kursi belakang, dadanya naik-turun tak beraturan. Tangannya yang tadi menahan tubuh Arka agar tidak terjerembap ke tanah, kini berlumuran cairan merah hangat yang mulai mengering lengket di kulitnya.
Di balik kemudi, Bara menginjak pedal gas dalam-dalam, melesat liar membelah jalanan pinggiran kota yang sepi dan berkabut. Matanya menatap tajam ke depan, sesekali melirik tegang ke kaca spion tengah untuk mengecek kondisi di belakang.
"Tahan sebentar lagi, Bos!" seru Bara memecah suara deru mesin.
Tak ada sahutan. Arka terkulai lemas, kepalanya kini bersandar berat di pangkuan Rara. Wajah pria berotot itu sepucat porselen. Dadanya nyaris tak bergerak, napasnya sangat dangkal dan putus-putus.
Rara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan isakan. Air mata hangat menetes jatuh mengenai kening Arka. "Heh, buka mata lo," bisiknya bergetar, kedua tangannya kembali menekan perban di perut sang mafia sekuat tenaga. "Jangan mati sekarang, sialan. Lo utang kopi sama gue."
Kelopak mata Arka bergetar pelan merespons tekanan di perutnya. Perlahan, mata tajam yang biasanya mengintimidasi itu terbuka setengah, menatap Rara dengan pandangan buram.
"Kau berisik sekali," bisik Arka sangat parau. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara mesin, tapi arogansi khasnya tak luntur sedikit pun. "Saya tidak akan mati semudah itu."
"Masih sempat-sempatnya lo sombong?!" Rara akhirnya menangis, bahunya terguncang hebat di dalam gelapnya kabin. "Kalau lo kenapa-napa, gue sumpahin lo gentayangan tiap hari di kamar kos gue!"
Bukannya marah, sudut bibir pucat Arka justru berkedut tipis, nyaris seperti senyuman mengejek. Tangan kanannya yang sedingin es bergerak pelan, menahan pergelangan tangan Rara yang gemetar menekan lukanya.
"Tanganmu kotor lagi," gumam Arka lemah. Napasnya tersengal sejenak sebelum ia melanjutkan dengan sisa tenaga. "Tapi setidaknya, kau tidak lari."
"Arka? Arka, melek!" Rara makin panik saat genggaman tangan pria itu perlahan merosot dan jatuh lunglai. Kelopak matanya kembali tertutup rapat.
Suara decit ban beradu dengan aspal memecah keheningan malam saat SUV hitam itu mengerem mendadak. Tubuh Rara nyaris terdorong ke depan jika tak tertahan sabuk pengaman. Mereka berhenti di sebuah gang buntu di depan bangunan tua kumuh berkedok bengkel rongsokan—sebuah klinik bawah tanah rahasia.
Bara langsung melompat keluar, menggedor rolling door besi itu dengan keras sebelum membukanya paksa. "Dokter Hans! Siapkan ruang operasi sekarang!"
Dari dalam, seorang pria paruh baya berjas lab yang tampak kusam bergegas keluar dibantu seorang asisten, mendorong sebuah brankar besi beroda. Dokter Hans menyorotkan senter kecil ke mata Arka sejenak. "Syok hipovolemik parah! Bawa ke ruang tindakan, cepat!"
Rara ikut mendorong brankar itu, berlari menyusuri koridor sempit yang berbau obat tajam. Namun begitu sampai di depan sebuah ruangan dengan lampu terang, perawat berpakaian kasual langsung menahan bahunya.
"Anda tunggu di luar, Nona."
Cklek.
Pintu tertutup rapat. Rara mematung di ambang pintu, lalu perlahan merosot duduk di kursi plastik panjang yang menempel pada dinding lorong. Ia menatap nanar kedua telapak tangannya yang penuh noda merah gelap. Napasnya masih terengah-engah, tak percaya dengan rentetan kegilaan yang baru saja ia lewati.
Bara berjalan mendekat membawa secangkir air mineral kemasan, lantas menyodorkannya pada Rara sebelum duduk di kursi seberang. "Minum, Nona. Anda butuh asupan tenaga."
Rara menggeleng lemah, tatapannya kosong menatap lantai keramik yang kusam. "Dia bakal selamat kan, Bar? Darahnya keluar banyak banget dari tadi."
"Dokter Hans adalah dokter bedah terbaik di jalur bawah tanah," jawab Bara tenang, menatap lurus ke arah pintu operasi. "Bos sudah pernah melewati situasi yang jauh lebih buruk dari ini dan kembali hidup-hidup."
"Gue cuma mahasiswi biasa, Bar," lirih Rara sambil mengusap air mata di pipinya dengan punggung tangan yang tidak terlalu kotor. "Kenapa takdir hidup gue harus berantakan gara-gara terseret urusan mafia kalian?"
Bara menoleh, menatap Rara lekat dengan wajah kakunya. "Di dunia ini, pilihan kita saat terdesaklah yang menentukan siapa kita sebenarnya. Dan malam ini, Nona memilih untuk tidak lari membiarkan kami mati."
"Kenapa lo bisa setia banget sama dia?" selidik Rara, mencoba mencari bahan obrolan untuk mengalihkan rasa takutnya yang masih mencengkeram. "Padahal dia kaku, kejam, dan musuhnya banyak banget."
"Seperti yang saya bilang sebelumnya, Nona," jawab Bara lugas. "Sepuluh tahun lalu, saat orang-orang membiarkan saya kelaparan dan menunggu mati di jalanan, Bos Arka yang melempar makanan dan memberi saya pekerjaan. Kesetiaan saya ada harganya."
Rara mendengus pelan, membuang muka meski ada rasa iba dan kehangatan kecil yang menyusup di rongga dadanya. "Gue harap dia nggak bohong soal janji beli kopi setelah semua kekacauan ini beres."
Bara tersenyum tipis, pemandangan langka dari asisten berwajah batu itu. "Bos adalah pria yang memegang janjinya."
"Awas aja," sungut Rara, setengah mencibir di tengah sisa isak tangisnya. "Kalau dia berani mangkir gara-gara mati malam ini, gue sendiri yang bakal nyeret arwahnya dari alam sana buat bayar utang."
"Saya jamin itu tidak akan perlu, Nona."
Rara kembali menunduk, meremas jemarinya yang lengket. "Gue kangen kamar kos, kangen kasur gue, kangen tidur tenang tanpa dengar suara tembakan."
"Segalanya akan lebih jelas setelah Bos melewati masa kritisnya," ucap Bara, nada bicaranya kembali datar dan profesional.
Waktu terasa berjalan sangat merayap di lorong klinik rahasia yang sunyi itu. Aroma obat-obatan antiseptik menguar kuat, membuat dada Rara kian sesak. Pikirannya terus berputar, dari sekadar pusing memikirkan ACC revisi skripsi, hingga kini terdampar menunggu nyawa buronan paling berbahaya diselamatkan.
"Bara, apa musuh-musuh itu bakal nemuin tempat ini?" tanya Rara, matanya menatap cemas ke arah gang masuk. Nasib Dino yang tertinggal juga membayangi benaknya.
"Tempat ini sangat terisolasi, Nona," jawab Bara meyakinkan. "Hanya segelintir orang kepercayaan yang tahu titik pastinya. Naga Hitam tidak akan bisa melacak kita sampai ke sini malam ini."
Rara mengembuskan napas lega yang panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan sedikit mengendur. Ia menyandarkan kepala ke dinding beton yang dingin, mencoba mencari ketenangan sejenak.
Satu jam kemudian, dengung lampu indikator di atas pintu berubah warna.
Pintu ruang tindakan terbuka. Dokter Hans keluar sambil melepas sarung tangan karetnya yang penuh darah. Raut wajah pria paruh baya itu tampak kelelahan, memancing ketegangan baru di udara.
Rara dan Bara refleks bangkit berdiri secara serentak.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Bara cepat, sementara Rara menahan napas menunggu jawaban.