WARNING!!
Cerita ini akan ada season 3 nya ya, yang sudah baca selesai season 2 yuk balik lagi baca season ke 3 nya. Semoga suka.
Ayu, gadis manis berkulit kuning Langsat, hidup sebatangkara di sebuah desa. Setiap harinya dia selalu berusaha untuk bisa bertahan hidup.
Hingga hal tak terduga tak pernah di bayangkan oleh Ayu sebelumnya, dia bertemu dan mencintai seorang pria yang ternyata berasal dari sebangsa jin.
Lalu, bagaimana kelanjutan kisahnya?
ikuti terus ceritanya ya😊
Jangan lupa follow akun penulis, beri vote serta like nya ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Viraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Season 2 TAMAT
Hari ini, penduduk desa Sepuh mulai datang satu persatu. Khusus untuk teman-teman Layla, datang untuk mendekorasi kamar dan setiap sudut rumah. Sedangkan ibu-ibu, mengurus bagian dapur, dan bapak-bapak, untuk memasang tenda bagian depan rumah.
Untuk sejenak, Layla kembali tersenyum, karena teman-temannya datang menghibur. Salah satu dari temannya itu, memakaikan henna di jari kaki dan tangannya.
Saat sudah mulai sedikit melupakan, Layla kembali tak sengaja melihat Braspathi, yang berdiri di luar rumahnya. Terlihat oleh Layla, Braspathi menyamar menjadi seorang pemuda, dan tersenyum kearah Layla. Tentu Layla, sangat bersemangat melihat kehadiran Braspathi.
Braspathi melangkah masuk, lalu tersenyum kepada Layla. Setelah mendekat, Braspathi mengulurkan sebuah kotak kecil berwarna merah muda, dengan dihiasi pita kecil juga.
"Dari dia, dia tak bisa datang, lebih tepatnya dia hanya memperhatikan mu dari jauh saja. Ini, terimalah." ucap Braspathi sedikit berbisik pada Layla.
Layla mengambil kotak kecil itu, dan tersenyum.
"Aku pergi, aku tak bisa berlama-lama." ucap Braspathi kembali.
Setelah itu, dia keluar dari rumah Layla, tanpa ada yang merasa curiga. Layla memperhatikan kotak kecil, yang saat ini sudah berada di pangkuannya, karena kedua tangannya hampir semua menghitam karena henna.
Mata Layla terus memandangi kotak kecil itu, hingga ke fokusannya hanya pada itu. Dia bahkan tak lagi memperhatikan orang-orang yang ada di rumahnya, dan tak lagi berbicara atau bercanda pada teman-temannya.
Tak terasa, sudah hampir sore. Satu persatu dari mereka, mulai meninggalkan rumah Layla. Besok adalah hari terakhir Layla, menjadi lajang. Untuk dekorasi dan makanan, sudah selesai, besok adalah hari yang sebenarnya.
Saat rumah sudah sepi, Layla bergegas masuk kedalam kamarnya. Fajar dan Risma, masih sibuk dengan kegiatan masing-masing mereka.
Saat sudah berada di dalam kamar, dengan cepat tangan Layla yang sudah indah di ukir henna itu membuka kotak kecil, yang sudah bersamanya beberapa jam yang lalu. Saat terbuka, mata Layla berbinar melihat isinya. Sebuah cintin bermatakan permata berwarna putih berkilau.
Bersamaan dengan di bukanya kotak kecil itu, di dalamnya terdapat gumpalan asap kecil keluar. Kemudian terbang, tepat di depan wajah Layla.
"Itu adalah hasil jentikkan jariku, aku pernah melihatnya di tempat yang sejuk itu, saat pergi bersamamu waktu itu. Indah bukan? Aku yakin, jarimu akan cantik jika memakainya. Bahagia lah, karena kebahagiaanmu sumber dari kebahagiaan ku juga." ucap dari gumpalan asap kecil itu.
Meski tak terlihat wujudnya, namun Layla tau bahwa itu adalah suara Arjun.
Layla mengambil cincin itu, dan dengan segera memakaikannya ke jari tengahnya. Tanpa sengaja lagi, Layla menangis dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi cincin itu.
TOK! TOK! TOK!
Sebuah ketukan pintu, sedikit mengejutkan Layla. Dia berlari menuju kaca, menyeka air matanya, lalu menyapu sedikit bedak diwajahnya, agar tak ada yang tau, bahwa dia baru saja menangis.
Layla membuka pintu, ternyata itu adalah ibunya.
"Nak, ini kebaya nya. Di simpan dengan baik ya? Pilihanmu bagus, ibu suka dengan model kebayanya." ucap Risma.
"Siapa yang mengantarkan nya, Bu?" tanya Layla.
"Tadi Reihan, bersama seorang temannya. Sudah, ibu mau lanjutkan pekerjaan ibu."
Kemudian Layla kembali menutup pintu kamarnya, menggantung kebaya itu di salah satu bagian dinding kamarnya. Bukan pilihannya, tapi pilihan Arjun waktu itu, yang langsung menjadi pilihannya.
Layla duduk di ujung ranjang, memperhatikan kebaya itu. Tiba-tiba, dia teringat akan calon suaminya Reihan. Dia mulai merasa, bahwa pemuda itu baik. Terbukti dengan, jarangnya dia untuk berkunjung kerumahnya.
Reihan pasti tau, bahwa Layla sangat menjaga pandangannya pada pemuda di desa Sepuh ini, selain Arjun. Bisa jadi, itu juga alasannya tidak begitu sering untuk berkunjung kerumah Layla.
.
.
Malam harinya, setelah mandi dan berganti pakaian, juga makan malam, Layla berbaring di ranjangnya dengan cincin yang masih melekat di jarinya itu. Dalam hati, dia masih berharap untuk kembali bertemu dengan Arjun. Karena, besok adalah hari terakhirnya.
"Mau berjalan-jalan?"
Layla tersentak, dan menegakkan kepala. Terlihat di sudut pintu, Arjun telah berdiri tersenyum menatapnya.
Layla turun dari ranjangnya dengan semangat, kemudian sedikit berlari menuju Arjun lalu memeluknya.
"Setelah ini, aku tak akan bisa melakukannya lagi. Ketika sudah memiliki suami, aku akan memiliki dosa besar jika melakukan ini dengan pria lain." ucap Layla pelan.
"Meskipun aku ada makhluk halus, aku juga tau akan hal itu. Maka dari itu, sebelum itu terjadi, maukah berjalan-jalan denganku?" jawab Arjun.
"Malam ini? Mau kemana kita?"
"Entahlah, aku pun sebenarnya tak tau." jawab Arjun, menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ke tebing saja, itu cukup bagus." ucap Layla.
Arjun tersenyum, menggenggam tangan Layla dan sekejab mereka telah berada di tepi tebing.
Karena malam, tentu keadaan sekitar tebing gelap. Arjun lalu menjetikkan jarinya, sekejab kemudian segerombolan kunang-kunang datang. Terbang tepat di atas mereka, membuat suasana seketika terang benderang.
"Apakah sebangsamu, juga memiliki seorang gadis?" tanya Layla membuka suara.
Arjun menoleh seketika, dan tersenyum.
"Tentu, sebangsaku juga sama seperti kalian. Mengapa?"
"Lalu kenapa kamu tak coba untuk mencari seorang gadis dari sebangsamu? Setidaknya, kisah di kehidupan kedua ini tak begitu menyedihkan." jawab Layla.
Arjun tertawa kecil, dia menggeleng-gelengkan kepala tanpa menoleh kearah Layla.
"Setelah kamu, tak ada yang bisa menggantikan. Aku tak masalah jika hidup tanpa pendamping, karena itu bukanlah hal yang paling penting bagiku."
"Tapi ..."
"Sudahlah, Layla. Sebentar lagi, hari bahagiamu akan tiba. Belajarlah untuk tidak memikirkan aku, dan belajarlah untuk memahami keadaan ini secara perlahan. Setelah hari pernikahanmu, aku tak akan lagi datang untuk menemuimu. Meskipun begitu, bahkan sampai di kehidupan selanjutnya, aku akan tetap mencintaimu."
Layla tak menjawab, dia dengan cepat memeluk Arjun dengan kuat.
"Kuharap, di kehidupan selanjutnya, aku akan bertemu denganmu dalam wujud manusia seutuhnya. Aku akan memperjuangkan apapun, demi bisa hidup bersamamu di kehidupan nanti." ucap Layla.
"Sudah, aku membawaku bukan untuk bersedih. Ya sudah, ayo kita pulang. Sudah larut, besok kamu harus bersiap." ucap Arjun.
.
.
Hari ini adalah hari nya, Layla sudah bersiap dengan kebayanya, dan telah duduk di depan sebuah cermin. Saat berada di depan cermin itulah, membuat Layla kembali teringat, dimana hari pernikahan nya bersama Raja di kehidupan sebelumnya. Layla teringat, dulu dia mengenakan sebuah gaun yang sangat cantik, dengan polesan yang memperindah wajahnya. Meski waktu itu dalam keadaan lumpuh, Raja masih tetap ingin menikah dengannya, dan bersedia untuk menggendongnya sampai ke singgasana.
Tanpa sadar, Layla kembali meneteskan air mata. Membuat sang perias, sedikif terkejut.
"Aku tau kamu merasa sedang bahagia saat ini, tapi ku mohon, jangan biarkan air mata itu terus mengalir. Itu membuat riasannya akan luntur." ucap sang perias itu, dengan nada sedikit tertawa kecil.
Layla pun membalasnya dengan tawa kecil.
Sedangkan diluar, satu persatu warga desa sudah mulai berdatangan. Dari pihak keluarga orang tua Layla, dan orang tua Reihan, satu persatu juga datang. Sehingga dalam sekejab, rumah Layla telah di padati oleh mereka. Sebagian besar, juga berada di tenda bagian luar rumah, yang juga sudah disediakan kursi.
Kini, Reihan telah duduk di depan sebuah meja yang berhadapan dengan seorang penghulu. Layla akan keluar, jika ijab qabulnya telah selesai di ucapkan.
Sambil menunggu, Layla masih tetap duduk di depan cermin nya. Sementara Risma, belum menemuinya karena tak lama lagi, ijab Qabul akan dibacakan. Mata Layla sudah di penuhi air mata, dia berusaha keras agar tak jatuh ke pipi dan merusak dandanannya.
TOK!
Layla reflek menoleh kearah kaca jendelanya, di luar sana telah berdiri Braspathi. Layla berjalan dengan cepat menuju jendela itu, lalu membukanya.
"Ayo, masuklah." ajak Layla.
"Tidak, Bu. Aku disini saja, aku datang untuk membawakan ini. Ingin mengucapkan selamat, sekaligus ucapan perpisahan untukmu. Hari ini juga, dia memaksaku untuk memulai berkelana. Jadi, aku hanya bisa mengucapkan ucapan perpisahan dengan cara ini. Ini untukmu, ambilah." ucap Braspathi, mengulurkan bucket bunga mawar. "Ambil salah satunya, dan tanamlah. Dia akan tumbuh subur, itu satu-satunya kenangan dariku." ucap Braspathi lagi.
Layla mengambil bunga itu, lalu tangan besar Braspathi mengulur kedepan, mengelus pipi Layla dengan lembut.
"Tetaplah bahagia, jaga dirimu baik-baik." ucap Braspathi lagi.
Lalu dia menghilang.
"Layla, sudah siap kamu?" ucap Risma tiba-tiba, yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
Layla mengangguk, tiba-tiba dia teringat dengan cincin pemberian dari Arjun, dia melepaskannya dahulu, lalu memasukkan nya kembali kedalam kotak. Dia tak mau, suaminya Reihan mengetahui yang sebenarnya.
Layla di bantu berjalan oleh Risma sang ibu, dengan perlahan, Layla berjalan menuju Reihan dan duduk di sampingnya. Semua mata tertuju pada mereka berdua, dengan serasinya Layla dan Reihan duduk di tengah-tengah banyak nya orang dirumah itu.
Sementara diluar sana, Arjun dan Braspathi memperhatikan dengan seksama, kegiatan yang ada di dalam rumah itu. Arjun tak bergerak, saat melihat Layla keluar dari kamarnya, dengan menggunakan kebaya pilihannya waktu itu. Sedangkan Braspathi yang sudah mulai berdamai dengan ayahnya itu, menenangkan sang ayah dengan cara mengelus punggungnya perlahan.
"Cantik sekali, tak ada yang kurang dari dirinya, walaupun sudah dua kehidupan." ucap Arjun, dengan mata yang masih menatap kearah Layla didalam sana.
"Ya aku tau, sekarang aku menunggu keputusanmu selanjutnya." jawab Braspathi.
Arjun menoleh kearah Braspathi, lalu menghela nafas dengan perlahan.
"Kali ini, kita tidak berkelana dari desa ke desa lagi. Kita akan berkelana ke beberapa kota, aku sangat ingin sekali memakan bayi-bayi yang masih merah. Karena, sudah sangat lama sekali." ucap Arjun.
"Kota? Aku baru mendengar nya, tempat apa itu?" tanya Braspathi.
"Sebelum itu, kamu harus merubah dirimu menjadi pria manusia yang sempurna. Tidak mungkin, kita pergi ke kota dengan wujud aslimu seperti itu. Di perjalanan nanti, aku akan menjelaskan nya." jawab Arjun.
Setelah itu, Arjun menatap kembali kearah Layla, yang mulai terlihat tersenyum. Meski terasa sakit, namun Arjun juga merasa bahagia karena melihat Layla sudah mulai menerima takdir yang sebenarnya.
Arjun dan Braspathi perlahan meninggalkan rumah dan desa Sepuh itu, mereka menjelma sebagai seekor burung dan mulai terbang semakin tinggi. Secara bersamaan, Arjun mulai mengerti. Inilah takdir dirinya, yang sebenarnya. Berkelana jauh, hingga keujung dunia.
🌷🌷🌷🌷
Dedi Thor dengan kisah nya ayu
reyhan jadi terabaikan