NovelToon NovelToon
Gondo Kembang

Gondo Kembang

Status: tamat
Genre:Horor / Spiritual / Rumahhantu / Iblis / Tamat
Popularitas:109.8k
Nilai: 4.6
Nama Author: Lylia

Apa kalian pernah mendengar tentang alas ruwah? Itu adalah tempat bersemayamnya ribuan iblis.

Sebuah hutan yang di selimuti kekuatan mistis dari para iblis penguasa hutan ini. Banyak orang yang berlomba lomba mendapatkan ingon dari Alas ruwah, tak terkecuali keluarga Wijaya, seorang ningrat yang menguasai tanah dan lautan.

Namun nyatanya wijaya tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, ia menginginkan lebih dan lebih. Sebagai seorang pengabdi ia telah menggadaikan nyawanya dengan perjanjian darah, wijaya tak segan segan menghabisi siapapun yang menghalangi jalannya, termasuk sekutunya dahulu keluarga Darmoloyo yang telah ia babat habis dengan alasan yang tak masuk akal.

Mereka semua yang terlibat terikat takdir , bisakah mereka lepas dari simpul pati yang mengikat takdir mereka?
Ataukah pada akhirnya mereka hanya akan mempererat simpul pati dari perjanjian darah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kotak misterius

Menjelang siang matahari bersinar terik , udara pengap menutupi kota dari asap asap kendaraan yang berlalu lalang. Masyarakat mulai keluar dari zona nyaman nya, melatih otot lengan dan kaki nya, menjadikan nya pondasi untuk bertahan hidup.

Kicauan burung murai tak lagi terdengar seperti saat berada di dalam hutan, Aroma lumpur dan rumput basah tak lagi tercium dari hiruk pikuknya perkotaan, hanya asap asap industri yang membumbung tinggi mencemari lapisan atmosfer bumi.

Alingga dan rombongan nya berdiri di pinggiran jalan raya, mereka berteduh diantara pepohonan Ketapang dari teriknya matahari. Alingga menurunkan kembali zainal dari punggung nya, ia tidak mengizinkan siapapun menyentuh sahabat nya itu, terutama laras entah mengapa sekarang ia begitu membenci nya. Namun, Alingga selalu bersikap dewasa, meskipun ia tak menyukai laras namun ia tetap harus bersikap baik kepada perempuan itu.

Syarif menatap sendu ke arah Zainal, melihat kondisi zainal yang seperti seonggok daging tak bernyawa, air matanya perlahan menetes membasahi pipi dan kumis tipis nya. Alingga yang menyadari gelagat Syarif segera menghampiri nya, ia sebisa mungkin menenangkan sahabat karib nya itu.

Selang tak berapa lama sebuah angkutan umum lewat melalui jalur itu, mobil itu berhenti tepat dipinggiran trotoar. Seorang pria paruh baya menjulurkan kepalanya keluar jendela, orang tersebut menawari mereka tumpangan ke terminal, Alingga tak banyak berfikir lalu mengiyakan ajakan orang tersebut.

Selama di perjalanan mereka semua membisu, alunan musik dari radio jadul mengantarkan mereka dalam pikirannya masing-masing, Membungkam mereka dalam hawa pengap mobil tanpa pendingin.

Mobil masih melaju dijalanan padat pengguna, suara klakson mobil menggema memantul mantul dari sisi jalan yang berlawanan, mobil itu berbelok di sebuah pelataran luas tempat angkutan kota tengah mangkal, sebuah terminal yang tak terlalu luas namun cukup untuk menampung 20 an mobil berukuran sedang.

"Mas Syarif udah di kasih yang saya titipkan?" Tanya laras sambil berbisik kepada syarif di sebelahnya.

Syarif melirik ke arah laras, ia berfikir sejenak apa yang dimaksud dengan perempuan itu. Syarif memeriksa sesuatu dalam saku celananya, ia kemudian memberikan barang tersebut kepada Alingga tanpa berbicara. Alingga enggan, namun ia juga penasaran, ia membuka perlahan lalu buru buru menyimpan nya kembali, Alingga menatap tajam kearah laras tanpa ekspresi namun berbeda dengan laras, perempuan itu tersenyum ramah menyambut sikap dingin Alingga.

"Gimana mas Ali? Masih mau dilanjut atau sampe sini aja?" Tanya laras kepada Alingga. Alingga tak merespon dia hanya diam lalu membuang muka.

"Kenapa mbak laras?" Tanya Syarif keheranan.

"Ndak papa mas Syarif, sebentar lagi kita berangkat, siap siap dulu mas." Ucap laras mengalihkan pembicaraan.

Lima belas menit kemudian mereka melanjutkan perjalanan, di sepanjang jalan banyak mata yang tertuju kearah mereka, Menatap zainal dalam gendongan Alingga, atau Menatap laras yang berpakaian tidak biasa. Mereka tidak memperdulikan tatapan aneh itu dan terus Melanjutkan perjalanan, hingga mereka tiba disuatu persimpangan laras meminta mereka untuk berbelok kearah utara.

"Mbak laras sebenernya kita mau kemana sih, kaki saya masih capek lo mbak jalan ber kilometer tadi malam."Keluh Syarif karena merasa sudah tak sanggup lagi.

"Sebentar lagi kok, masuk kedalam gang sana." jawab laras dengan santai.

Mereka memasuki sebuah pelataran rumah yang cukup luas, sebuah rumah kayu yang dikelilingi pepohonan besar. Laras memimpin jalan mencari pemilik dari rumah ini, laras menatap seorang lelaki yang sudah cukup berumur ia tengah membersihkan rumput liar dipekarangan rumah.

"Mbah..." Sapa laras lembut.

Orang tua tersebut menoleh kearah Suara yang memanggil nya, ia sedikit heran dengan kedatangan orang yang dianggap nya asing. Lelaki itu berdiri, membersihkan tangan nya dari tanah yang menempel, ia kemudian mempersilahkan Alingga dan yang lainya untuk masuk kedalam rumah.

"Anak ini, Sudah dibilang jangan ikut campur urusan orang lain." ucap orang tua tersebut saat menatap Zainal.

"Njenengan kenal sama temen saya Mbah?" tanya Alingga penasaran.

"Beberapa waktu yang lalu temen mu ini main main di pohon beringin, tempat nya ganjang. Udah mbah pesenin jangan ikut campur sesuatu yang bukan urusannya, ya seperti inilah jadinya." Jelas orang tua tersebut sambil mengiba melihat kondisi zainal.

"Pohon beringin mbah? Maksud e pohon beringin di belakang kost kostan itu?" Tanya Alingga penasaran, mbah slamet hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara sepatah katapun.

"Terus ini gimana mbah temen saya?" Tanya Alingga lagi.

Mbah Slamet terdiam dia kemudian masuk kedalam kamarnya, lama Alingga menunggu namun mbah Slamet masih belum juga keluar dari tempat tersebut.

Mbah slamet keluar dari ruangan nya membawa sebuah kotak yang dibalut kain berwarna merah, kotak tersebut ia letakkan diatas meja bambu. Mbah slamet meminta agar zainal dibaringkan diatas tanah, meskipun Alingga sedikit ragu namun ia tetap menuruti perkataan mbah Slamet.

"Le.. Konco mu iki sukmo ne keiket karo kemuning." ( Nak .. temen kamu ini Sukma nya terikat dengan kemuning.)Jelas mbah Slamet setelah zainal dibaringkan ditanah. Alingga terkejut dengan penjelasan mbah Slamet, bagaimana bisa itu terjadi, Alingga masih belum bisa mempercayai nya.

"Kotak iku enek barang seng nahan sukmo ne, tapi resiko ne kemuning yo bakal metu juga." (Kotak itu ada barang yang menahan Sukma nya, tapi resikonya kemuning akan terlepas juga.) lanjut mbah Slamet.

"Njenengan oleh barang iki seko sopo Mbah?" ( Mbah dapet barang ini dari siapa?) tanya Alingga penasaran lagi. Mbah Slamet lagi lagi terdiam,ia enggan menjawab pertanyaan Alingga, mbah Slamet meminta agar Alingga mengambil seember air dari sumur di belakang rumah mbah slamet.

"Le.. tutupan lawang e."(Nak.. tutupkan pintunya.) pinta mbah Slamet ke pada syarif, syarif segera menutup pintu sesuai intruksi dari mbah slamet tersebut.

Alingga masuk kedalam rumah dengan membawa seember besar air yang tadi diambilnya, ia meletakkan air tersebut tepat disebelah mbah Slamet. Mbah Slamet masih sibuk dengan kotak didalam kain merah tersebut, entah apa yang akan dilakukannya Alingga hanya berharap zainal segera lepas dari maut.

Mbah Slamet berdiri ia kembali masuk kedalam ruangan nya, ia berada disana tidak selama yang sebelumnya. Selang tak berapa lama mbah Slamet membawa sebuah buku tebal bersampul kuning kecoklatan, Ia memberikan buku tersebut kepada Alingga.

Alingga menerima buku yang diberikan mbah Slamet dengan sedikit bingung, mbah Slamet meminta agar Alingga membuka isi dari buku bersampul kuning kecoklatan tersebut. Saat buku itu dibuka Alingga semakin dibuat bingung karena tulisan nya sedikitpun tidak diketahui oleh Alingga, ia tidak mengerti buku tersebut menggunakan bahasa apa, Alingga sama sekali tidak memahami nya.

Mbah Slamet mengerti kebingungan Alingga, kemudian mbah Slamet membantu Alingga untuk memahami isi dari buku tersebut dengan menggenggam pergelangan tangan Alingga, saat itu lah mata Alingga berbinar, ia benar-benar dapat memahami segala isinya.

1
praptiningsih
Br download novltoon lngsung cari genre horor dan nemu krya kk senang rasanya 🥰
estycatwoman
the best lah dri aeal sampe akhir bkin greget , Top BGT 👏👌💯👍❤
Eckho Mbahkokz
Luar biasa
falea sezi
lah terusannya mana
falea sezi
juhri ama. doni beda orang kah
falea sezi
moga dilirik sutradara sumpah keren bgt loh ini novel nya
falea sezi
kaet paham alurnya q jd zaenal. keponakan Wijaya trs laras ini anak ki sedo akirnya punya anak yg bs memecahkan semua misteri ini
falea sezi
bahasane kek bahasa Jawa Timur an agak kasar/Facepalm/ kebetulan q jatim jg
Mamake Nayla
aku hadir tor ...paling seneng kalo bca novel
bahasa nya campur bhsa jawa...
Febri Yanz
Lumayan
Febri Yanz
Biasa
TDT Angreni
ceritanya bagus. Serem, dan ada sedikit lawaknya.
TDT Angreni
waaahhhh.... ceritanya buat terhayut untuk terus baca... serem tapi penasaran.
TDT Angreni
awalan yang bagus dan buat merinding.
VLav
waah episode pertama sudah mendebarkan
salam dari keluarga besar arsgaf 🙏
🦊⃫⃟⃤Haryani_hiatGC𝕸y💞🎯™
keren banget, kental banget magisnya, sukses selalu kakak
Risfa
Hadir ka
Axella
⭐⭐⭐⭐⭐ ceritanya bagus kak
Alitha Fransisca
Semangat terus Thor Lylia, semoga sukses!!
Sakura_Merah
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!