Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Di ruangan lain, Alex menjatuhkan tubuhnya ke sofa setelah mendengarkan penjelasan Samuel mengenai kondisi Keisya.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa putri bungsunya hanya mengalami cedera kepala ringan hingga sedang. Meski begitu, Keisya tetap harus menjalani observasi selama beberapa hari untuk memastikan tidak ada komplikasi lanjutan.
Alex mengembuskan napas panjang, rasa lega memang ada. Namun kegelisahan di hatinya justru semakin besar.
"Sam..."
Samuel mengangkat wajahnya dan bertanya, "Ada apa?"
Alex menatap kosong ke arah jendela beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.
"Menurutmu... Syena dan anak bungsuku, apa mereka masih hidup?"
Samuel terdiam. Ia tahu persis siapa yang dimaksud sahabatnya.
"Anak yang tadi?," tanyanya pelan.
"Keyla?"
Alex mengangguk.
"Wajahnya..." Ia menarik napas panjang.
"Menurutmu dia mirip aku?"
Samuel tidak langsung menjawab. Melihat sahabatnya tetap diam, Alex kembali melanjutkan.
"Kalau dipikir-pikir... Dia memang lebih mirip Alden."
Senyum pahit muncul di wajahnya.
"Versi yang lebih lembut."
"Hidung dan matanya... Lalu bentuk wajah, bibir, bahkan auranya..."
Alex menundukkan kepala.
"Semuanya mengingatkanku pada Syena."
Nama istrinya membuat suasana ruangan menjadi semakin sunyi.
Bayangan Syena Agatha yang mengembuskan napas terakhir di dalam pelukannya kembali memenuhi ingatan Alex.
Rasa kehilangan itu ternyata belum pernah benar-benar hilang.
"Kalau aku bilang aku nggak merindukan anak bungsuku.. itu bohong."
Selama sembilan tahun Alex hidup dengan rasa bersalah karna gagal menemukan putri bungsunya dan gagal memenuhi janjinya kepada Serina.
Samuel menghela napas pelan. Setelah berpikir cukup lama, ia akhirnya berkata, "Kalau memang begitu, ayo kita cari tahu latar belakang anak itu."
Samuel melanjutkan, "Bagaimana kalau sekalian melakukan tes DNA?"
***
Keisya kembali mengembuskan napas panjang. Entah sudah yang keberapa kalinya sejak ia sadar dan dirawat di rumah sakit.
Tatapannya kosong menembus jendela kamar rawat, memandangi langit biru yang dipenuhi gumpalan awan.
"Yah.. begini juga udah lebih baik."
Ia bergumam pelan kepada dirinya sendiri.
"Cepat atau lambat mereka pasti bakal tahu."
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Setidaknya caranya lebih baik daripada kejadian di kehidupan sebelumnya."
Ia kembali menghela napas lalu mendesah panjang.
"Haah... Gagal ikut acara perpisahan." Nada kesalnya terdengar begitu jelas.
Hari itu adalah hari kedua dirinya dirawat, yang berarti hari kelulusan SMP akhirnya tiba tanpa kehadirannya.
"Jangan kebanyakan ngeluh."
Suara yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu membuat Keisya langsung menoleh. Matanya membulat, ia sama sekali tidak menyadari sejak kapan Geo masuk ke dalam kamar.
'Astaga... Dia dengar nggak ya?'
Sedikit rasa panik muncul di wajahnya ketika Geo berjalan santai menuju meja kecil di samping ranjang. Ia meletakkan kunci motor, sekantong buah, dan beberapa kotak susu sebelum menarik kursi.
"Dari tadi, Kak?" tanya Keisya dengan senyum canggung.
Gio terkekeh pelan lalu menjawab, "Nggak.. Baru aja nih.."
Ia duduk di samping ranjang.
"Bosen, ya?"
"Makanya sampai nggak sadar kalau Kakak udah datang."
Tangannya kembali mengusap lembut rambut Keisya.
Mendapat perlakuan itu, Keisya diam-diam mengembuskan napas lega.
'Untung saja.. Berarti dia nggak dengar.'
Ia lalu mengangguk cepat.
"Iya.. Bosen banget kak.."
Melihat ekspresi adiknya yang menggemaskan, Geo sampai harus menahan diri agar tidak mencubit kedua pipinya.
Kalau bukan karena Keisya sedang sakit, mungkin pipi itu sudah menjadi sasaran kejahilannya.
"Kak..." Keisya menarik ujung lengan baju Geo pelan.
"Ayo pulang."
Ajakan itu membuat Geo tersenyum tipis, perhatiannya beralih pada tangan Keisya yang masih terpasang infus.
Jemari adiknya ia genggam perlahan dan berkata, "Sabar, ya.. Lukanya belum sembuh."
Nada suaranya terdengar lembut.
Tatapannya penuh kasih sayang ketika menatap adik bungsunya yang masih terlihat murung di atas ranjang rumah sakit.
Keisya hanya bisa mendengus kesal sambil mengembuskan pipinya, jelas menunjukkan rasa sebal yang tak mampu ia sembunyikan.
Melihat tingkah adiknya, Geo tersenyum kecil. Namun, senyum itu perlahan memudar, berganti dengan guratan tipis yang nyaris tak terlihat. Ada keraguan yang terselip di balik sorot matanya.
"Dek..." panggilnya pelan.
Keisya hanya menjawab dengan deheman singkat. Tatapannya masih terpaku ke langit yang membentang di balik jendela, seolah sibuk menikmati awan yang berlalu.
Setelah menarik napas perlahan, Geo akhirnya memberanikan diri melanjutkan pertanyaannya.
"Kalau... misalnya suatu hari nanti kamu tahu ternyata kamu masih punya saudara yang lain... menurutmu gimana?"
Kalimat itu membuat Keisya mengalihkan pandangannya dari jendela. Bola matanya bertemu dengan milik Geo yang sejak tadi ternyata sudah menatapnya lekat, seakan tengah menunggu jawaban yang begitu berarti. Suasana mendadak terasa hening, hanya menyisakan tatapan dalam yang saling mengunci di antara keduanya.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu