Mohon maaf, karya sedang dalam revisi agar semakin lebih baik.
--------------------
SINOPSIS :
Hanssel Adamson merupakan pria casanovo yang awalnya tidak menyukai sekertaris kunonya yang menyebalkan. Siapa sangka dia justru mendadak bucin pada Karennina yang ternyata sudah memiliki putra dari pernikahan sebelumnya yang telah gagal.
Siapa yang tahu ternyata Karennina merupakan wanita yang berasal dari keluarga ternama negeri tetangga. Demi menyelesaikan misinya dia menyamar sedemikian rupa untuk menutupi status sosial serta keterlibatannya dalam jaringan hitam.
Yuks kepoin kisah mereka!!!
---------
Please give me some appreciation, don't forget to smash Like, comment, vote, gift and love! Saranghae ♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayang aku ga?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 - Kalah Telak
Seminggu kemudian...
"Hans, ini laporan yang harus kamu periksa," ujar Nina sambil meletakkan map berwarna biru di meja kerja suaminya.
"Taruh aja di situ, sayaaang..." balas Hanssel sambil memonyongkan bibirnya, menirukan gaya manja Nina yang bikin dia ngakak tiap kali lihatnya.
Nina nyengir jail, dan Hanssel cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil. Sudah seminggu mereka hidup sebagai suami-istri dan jujur, buat Hanssel ini rasanya kayak mimpi yang jadi kenyataan.
Rumah baru Nina di kawasan PIK sudah resmi ditempati. Lokasinya pun nggak jauh dari rumah besar Hanssel hanya berbeda blok saja. Sekarang mereka tinggal serumah dengan bantuan seorang nanny dan satpam pribadi. Semua terasa lebih tertata dan nyaman.
Setiap pulang kerja, Hanssel selalu disambut pelukan hangat dari Jimmy. Bocah kecil itu jadi cahaya baru di hidup Hanssel. Malam hari pun biasanya dihabiskan bertiga dengan main bersama sebelum Jimmy tidur, atau kadang mereka jalan ke playground di mall buat sekadar santai.
Setelah urusan sidang hak asuh selesai, Rangga mulai sibuk lagi. Kali ini dia dapat proyek gede di luar kota, jadi makin jarang kelihatan. Dan jujur, buat Nina itu sedikit melegakan. Dia belum siap cerita ke Rangga soal pernikahannya dengan Hanssel. Ada rasa nggak enak, ada rasa bersalah juga. Nina tahu Rangga masih intens berhubungan dengan Jimmy, tapi... yah, dia butuh waktu. Sementara itu di kantor...
"Bro, lu di mana?" tanya Hanssel sambil bersandar santai di kursi kerjanya.
"Gue lagi di luar kota, ada kerjaan. Kenapa emangnya?" jawab Rangga dari seberang telepon.
Hanssel senyum lebar, terpancar wajahnya yang penuh kebahagiaan. Dia sangat ingin bercerita pasal kehidupannya beberapa waktu terakhir ini.
"Gue udah married, Bro."
Rangga diem sebentar. "Lah, bukannya elu emang sering... ya kan?"
"Astaga. Itu mah kawin!" Hanssel ngakak.
"Gue serius nikah, Bro. Akte nikah, cincin, sah secara hukum dan agama."
"Serius?!" Rangga hampir teriak. "Demi apapun lu nggak ngundang gue?!"
"Ya ampun... Ini bukan karena nikah diam-diam, tapi karena kondisinya ribet waktu itu. Nanti gue jelasin deh."
"Eh tunggu... Lu nge-prank gue ya?" Rangga masih nggak percaya. "Mana mungkin pewaris keluarga Adamson nikah diem-diem? Gak ada pesta gede? Undangan mewah? Ga ada kabar di media?"
Hanssel cuma tertawa. "Yah... kadang hal paling penting di hidup kita nggak butuh sorotan kamera, bro."
Rangga terus mencecar sahabatnya, antara terkejut dan tidak percaya. Mengingat reputasi Hanssel sebagai seorang casanova, tidak aneh baginya jika pria itu tiba-tiba menikah—entah dengan salah satu teman kencannya atau mungkin karena ada yang tengah mengandung darah keturunan Adamson.
Terlebih lagi, beberapa hari lalu Rangga menerima notifikasi bahwa Catherina akan segera kembali ke Indonesia. Ia sempat mengira Hanssel akan menikahi wanita itu. Sejauh yang Rangga tahu, Catherina adalah cinta pertama sekaligus pacar pertama Hanssel. Hubungan mereka berakhir ketika Catherina memilih mengejar karier modeling di luar negeri. Sejak saat itu, Hanssel yang dulunya dikenal sebagai pria baik berubah menjadi seseorang yang memperlakukan wanita seperti pakaian sekali pakai—digunakan, lalu ditinggalkan.
"Emm... Pestanya menyusul, ya!"
"Terlebih lagi, aku belum memberi tahu Mama dan Papa."
"Apa?!"
"Memangnya kamu menikah dengan siapa?"
"Sama sekretaris gue,"
"Astaga..."
"Kamu menikahinya karena dia hamil duluan atau bagaimana?"
"Dasar!"
"Aku serius mencintainya."
"Kalau begitu, cepat pulang! Kita rayakan. Minum di MO—aku yang traktir!"
"Tiga hari lagi sidangku selesai."
"Deal!"
Hanssel menutup sambungan telepon, tepat ketika suara pintu ruangannya terbuka. Ia segera beranjak dari kursinya dan menyambut wanita yang kini menjadi pusat hidup dan perhatiannya.
"Sayang..." gumamnya lembut sebelum memeluk dan menciumi leher Nina bertubi-tubi.
"Hans..." Nina menghindar secara halus, menahan perlakuan suaminya yang sedikit berlebihan.
"Ayo makan siang di luar. Sekalian jemput Jimmy. Sudah lama kita tidak menikmati waktu di luar kantor," ajak Hanssel dengan semangat.
"Bolehlah…" sahut Nina sambil tersenyum, kemudian menaruh beberapa berkas di depan dada Hanssel. "Tapi sebelum itu, tolong tandatangani dokumen ini terlebih dahulu."
Hanssel mendesah pelan sambil menerima berkas tersebut. "Kamu benar-benar suka memperbudak suamimu, ya..."
"Aku hanya mencoba menyederhanakan pekerjaanku agar tidak menumpuk, dan tidak dikejar oleh para kepala departemen," jawab Nina tenang.
"Tentu saja. Karyawan teladan, bukan?"
Hanssel kembali duduk dan mulai memeriksa berkas-berkas tersebut satu per satu.
"Kamu sudah memastikan semua nominal ini benar?"
"Sudah. Ada yang tidak sesuai?"
"Hmm... sepertinya pengeluaran divisi keuangan bulan ini cukup besar dibanding bulan sebelumnya."
"Oh, itu karena Anda telah menaikkan gaji saya... dua belas kali lipat dari bulan lalu," jawab Nina datar namun cukup menusuk.
Hanssel langsung terbatuk pelan, menatap Nina dengan senyum pasrah. Wanita itu memang berhasil ‘memeras’ dirinya dalam waktu singkat, tapi entah mengapa Hanssel tetap merasa bahagia.
Ia menandatangani dokumen dengan cepat lalu menyerahkannya kembali kepada sang sekretaris, yang kini juga adalah istrinya, untuk diproses dalam payroll bulan ini.
"Aku mencintaimu, Nenek Lampir," serunya sambil tertawa kecil.
Nina hanya mengangkat jari tengahnya tanpa menoleh ke belakang, membuat Hanssel tertawa terpingkal-pingkal di balik meja kerjanya.
***
Nina melangkah tenang menuju divisi keuangan. Di tangannya ada dokumen yang harus segera diproses, tanggung jawab yang ia emban sebagai sekretaris pribadi CEO Adamson Group. Namun ketenangan itu sontak terusik oleh sorot mata sinis milik Jessica—salah satu staf keuangan yang sejak awal selalu menunjukkan ketidaksukaan.
Jessica memelototi Nina dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dari penyelidikan kecil yang ia lakukan diam-diam melalui informan bayaran, dia tahu bahwa Hanssel sering terlihat bersama Nina. Bahkan, dia punya bukti berupa foto: Hanssel, Nina, dan anak kecil yang tak lain adalah Jimmy yang keluar dari apartemen milik Nina. Terlalu mesra untuk sekadar hubungan atasan dan bawahan. Terlalu "akrab" untuk disebut kebetulan.
Cih. Gayanya sok dingin, tapi kelakuannya? Murahan... Jessica menggumam sinis, bibirnya menyungging senyum puas.
Saat Nina melewati mejanya, Jessica dengan sengaja berdiri dan bersuara lantang, seolah tak takut menantang badai.
“Ehem... Dengar-dengar, sekretaris suci kita yang terkenal alim ternyata punya anak di luar nikah, ya?” ucapnya keras, penuh nada ejekan.
Langkah Nina terhenti. Matanya menyipit. Denting keheningan mengisi ruangan sesaat sebelum berganti bisik-bisik tajam dari para staf lain.
Jessica kini berdiri, menyilangkan tangan di dada, memainkan ujung rambut panjangnya dengan gaya menantang. Ekspresinya pongah. “Heh... Akhirnya si malaikat turun juga dari langitnya,” sindirnya sembari menyeringai puas. “Ternyata sayapnya bukan putih, tapi kotor dan penuh lumpur!”
Nina berbalik perlahan. Sorot matanya kini dingin seperti es Arktik, menusuk langsung ke pupil Jessica. Aura dominannya mulai terasa, membuat para staf lain otomatis mundur selangkah. Mereka tahu, badai sedang dirakit di depan mata.
“Gue acungi jempol buat Jessica... Berani banget nyentil si Ratu Antagonis,” bisik salah satu staf.
“Dia tuh ga kapok ya? Padahal udah pernah dihukum langsung sama Pak Hanssel!”
“Lagian enak bener sih Nina tuh... Bos kita jelas dukung dia mentok!”
“Cantik, seksi, terus deket sama bos... Siapa yang gak baper?”
“Eh katanya sih tiap makan siang langsung ngecheck-in ke hotel deket kantor, loh!”
Desas-desus itu menampar telinga Nina. Ia sudah terbiasa menjadi bahan gosip, tapi hari ini dengan Jimmy terseret dalam hinaan, api amarah dalam dirinya tersulut sempurna. Jessica tertawa, membentangkan kedua tangannya seolah menang dalam perang opini.
“See? Bukan cuma aku! Seluruh kantor Adamson tahu siapa kamu sebenarnya!”
Nina mendekat. Sekuat tenaga ia menahan emosinya, tapi sorot matanya kini menyala seperti kobaran api.
“Sudah selesai?” tanya Nina datar, suaranya rendah tapi menusuk.
Jessica mencibir. “Atau kamu mau nambah drama? Kamu jago kok dalam urusan itu... Menipu, merayu, menjerat.”
"Aku nggak masalah dibilang murahan…" Nina menatap Jessica tajam, senyumnya setipis silet. "Karena setidaknya aku nggak sebodoh kalian semua yang gampang banget percaya sama omongan dari mulut wanita yang hidupnya cuma penuh iri dan frustrasi."
Desisnya meluncur tanpa ampun, menampar harga diri semua orang yang masih bergosip di belakangnya.
Nina berjalan mendekat, high heels-nya terdengar nyaring menginjak lantai kantor yang mendadak sunyi. Jessica menahan napas, matanya menatap penuh amarah namun tubuhnya mulai menegang.
"Kau tahu, Jessica?" Suara Nina merendah, tapi tajam seperti bisikan iblis di telinga. "Apa bedanya kamu... dengan aku?"
Jessica menahan diri untuk tidak melompat menyerang. Tapi Nina sudah terlalu dekat, dan kata-katanya jatuh tepat di telinganya, menusuk tajam ke dalam ego yang selama ini ia bangun tinggi-tinggi.
"Bedanya..." Nina menyeringai, lalu membisikkan kata-kata yang mengiris seperti belati.
"Kamu kejar-kejar dia seperti anjing lapar, tapi gak pernah sekalipun bisa mencicipinya. Sedangkan aku... aku tahu rasanya."
Jessica terperangah. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku jarinya memutih.
Tanpa memberi ruang, Nina mengangkat dagu Jessica dengan ujung telunjuknya. Tatapannya merendahkan, layaknya ratu hutan yang menemukan musuhnya hanyalah seekor serigala ompong.
"Hanssel bahkan gak akan mau memelukmu meski kamu telanjang di depannya. Melihat tubuhmu saja—aku yakin hasratnya langsung mati rasa." Tatapan Nina meluncur ke dada Jessica yang tak sebanding dengannya, membuat Jessica otomatis menutupi dadanya dengan tangan sendiri karena merasa dipermalukan.
“Kau ja-lang!”
Jessica berteriak. Tangannya melayang, hendak menghantam Nina. Tapi sebelum sempat mengenai, tangan itu dihentikan—dicekal kuat oleh Nina, dengan tatapan membunuh.
“Ingin bersaing denganku?” Suara Nina rendah, berat, dan menusuk. “Berkacalah dulu. Lihat siapa dirimu… dan siapa aku.”
Tangannya menghentak tangan Jessica hingga menjauh. Jessica terdorong mundur selangkah, kehilangan pijakan harga dirinya.
Nina tak menunggu respon. Dia melangkah anggun meninggalkan divisi keuangan. Riuh rendah komentar kembali terdengar.
“Wah gila sih! Nina savage banget!”
“Jessica kena mental asli…”
“Bener-bener hiburan tengah hari…”
Seseorang menyeruput es kopinya sambil tertawa. Yang lain mengunyah keripik sambil mengangguk puas.
Di lantai atas, tanpa Nina sadari, seseorang sudah menyaksikan drama itu dari layar monitor CCTV ruangan. Hanssel bersandar santai di kursi kerjanya. Tawanya meledak pelan, suaranya dalam dan penuh kepuasan.
"Nenek lampir yang mempesona..." gumamnya dengan senyum mengembang. Ia lantas meraih ponselnya dengan cepat, lalu mengambil kunci mobil dari meja.
“Sepertinya Ratu Antagonis ini butuh reward... Lunch romantis, mungkin?”
Dengan langkah mantap, Hanssel melangkah keluar ruangannya, bersiap menjemput wanita yang baru saja membuat satu kantor bungkam hanya dengan kata-kata dan auranya yang sadis.
Bersambung…
pusing,, pusing,, pusing,, pusing,, kepala ini 🤕