Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Rin, aku mau mengembalikan uang yang kamu pinjamkan saat aku membuka usaha." ucap bu Soraya menyodorkan segepok uang ke arah bu Rini.
"Apa kamu sudah punya uang untuk mengembalikannya? " ucap bu Rini, hanya menatap uang yang di berikan oleh sahabatnya itu.
"Alhamdulillah... sudah, ini berkat kamu dan keluarga suamimu yang sudah baik kepada ku dan anak anakku, kalian meminjamkan modal dan meminjamkan tempat usaha untuk ku, klau bukan karena kalian, entah bagaimana nasib aku dan anak anakku saat ini." ucap bu Soraya.
"Kamu sudah ku anggap sebagai saudaraku, dan anak anak mu susah ku anggap anak anakku juga bagaimana mungkin aku akan tega melihat kalian terus menderita, dan harga diri kalian di injak injak oleh suami medusa mu itu." ucap bu Rini geram mengingat kehidupan yang di jalani oleh sahabatnya itu selama ini.
Bu Soraya hanya tersenyum pahit mengenang masa lalunya itu.
"Aku akan buktikan kepada mereka, tanpa mereka aku dan anak anak ku pasti bisa sukses." ucap bu Soraya.
"Bagus.... Aku akan selalu ada untuk kalian, jangan pernah sungkan meminta bantuan kepada ku." ucap bu Rini menepuk punggung tangan bu Soraya dengan pelan, menunjukan klau dia selalu ada untuk bu Soraya.
"Terimakasih Rini." ucap bu Soraya tersenyum tulus.
"Wahhhh.... sepertinya sedang seru nih? " ucap seseorang di pintu masuk.
"Mas sudah pulang?" balas bu Rini lansung berdiri dan menyongsong sang suami yang baru pulang kerja, dan mengalaminya dengan takzim.
"Hari ini lagi nggak ada kegiatan luar, jadi mas bisa pulang lebih awal." sahut Pak Riki berjalan masuk dan duduk di sofa berhadapan dengan bu Soraya.
"Ya sudah lah, aku pulang dulu klau gitu. " ucap bu Soraya tidak enak hati berasa di antara sepasang suami istri itu.
"Jangan pulang dulu, ada yang mau sayang omongin sama kamu Ya." ucap pak Riki tersenyum tulus.
"Ada apa bang? " tanya bu Soraya heran dan juga was was, takut pak Riki meminta warung yang sedang dia tempati.
"Jangan tegang gitu." kekeh pak Riki melihat wajah tegang bu Soraya, bu Rini pun ikut terkekeh.
"Begini, kantor tempat saya bekerja sedang mencari catering untuk makan siang karyawan, saya ingin mengajukan kamu sebagai calon cateringnya sama bos saya, apa kamu sanggup untuk membuat pesanan untuk lebih kurang 300 porsi setiap hari? " tanya pak Riki yang mana membuat bu Soraya shok dan menutup mulut dengan ke dua tangannya, dan mata berkaca kaca.
Sementara bu Rini tersenyum penuh syukur, matanya pun ikut berkaca kaca, sungguh dia sangat bahagia mendengar berita yang di bawa oleh sang suami, tak ada sedikitpun rasa iri di hatinya, saat sang suami memberikan tender itu kepada sahabatnya, justru dia sangat bersyukur, semoga ini langkah awal sahabatnya untuk bangkit.
"Allahuakbar abang.... Terimaksih banget, Ya Allah... Bagaimana cara saya membalas kebaikan kalian ini, hiks.... " ucap bu Soraya dengan tangis harunya.
"Balas kebaikan saya dengan kesuksesan kamu." ucap pak Riki ikut tersenyum haru, bukan kenapa pak Riki sangat baik kepada bu Soraya, karena dia pernah merasakan posisi anak anak bu Soraya dulunya, saat sang ayah berselingkuh, hidupnya hancur berantakan, ayahnya lebih memilih membesarkan anak selingkuhannya, dari pada anak sendiri.
Bu Soraya hanya mengangguk patah patah, dan tangannya sibuk mengelap air mata dan air hidup yang sudah balapan keluar.
"Jadi... Gimana? kamu mau menerima tawaran ini? " tanya pak Riki.
"S-saya menerimanya, t-tapi saya butuh modal lebih besar, apa lagi saya harus mempunyai peralatan dapur yang lebih memadai lagi." ucap bu Soraya.
"Klau itu, kamu tenang saja, nanti ada orang kantor yang datang ke sini, biasanya klau cocok mereka pasti meminjamkan modal awal, nanti di potong dengan bayaran cateringnya." ucap pak Riki.
"Haaa.... Syukur lah klau begitu, terimakasih banyak ya bang." ucap bu Soraya tak bosan bosannya berterimakasih kepada pak Riki.
"Kamu ini, apa nggak capek sebentar sebentar bilang "terimaksih", kuping saya aja capek mendengarnya." ucap pak Riki menjulingkan matanya.
Bu Soraya tersenyum tipis, air mata masih saja mengalir, namun ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagian.
"Besok, saya akan bikinkan abang rendang spesial." janji bu Soraya.
"Nah, itu yang paling benar." pak Riki menunjuk bu Soraya.
"Klau begitu, saya pulang dulu, takut anak anak nyariin." ucap bu Soraya meninggalkan rumah Rini dengan langkah ringan.
"Benarkah ma!! " pekik Ares, Laras dan Gibran, anak anak itu juga sangat bahagia mendengar berita bagus yang di bawa oleh sang ibu.
"Mmm.... Benar." angguk bu Soraya.
"Alhamdulillah.... Semoga di sini jalan kesuksesan untuk kita ya ma." ucap Ares menggenggam tangan sang ibu.
"Aamiin.... " sahut bu Soraya.
"Klau catering itu jadi, sepertinya mama butuh karyawan ma, dan juga butuh tempat yang lebih luas lagi." ujar Ares.
"Kamu benar, setelah orang kantor om Riki datang, dan bener mau memakai catering dari kita, mama akan mencari orang untuk bantu mama dan juga mencari rumah yang di kontrakan untuk usaha kita ini." ucap bu Soraya.
Ares mengangguk tanda mengerti, " Lalu, bagaimana dengan warung kita ma, mau di lanjut apa di tutup? " tanya Ares lagi.
"Tetap lanjut dong, kenapa harus di tutup." ucap bu Soraya, mana mungkin dia menutup warungnya itu, dari sana lah usahanya mulai berkembang.
"Klau gitu, kita sewa aja rumah pak Danu, klau nggak salah rumah itu mau di kontrakan, pak Danu mau ikut anaknya pindah ke kota." ujar Ares memberi saran.
"Waahhh.... Kamu benar, jadi mama nggak jauh jauh bolak balik ke warung dan dapur besar kita nanti." ucap bu Soraya dengan wajah bahagianya.
"Abang kapan berangkat lombanya? " tanya bu Soraya setelah mereka selesai membahas soal usaha mereka.
"Dua hari lagi ma." sahut Ares.
"Semoga kamu berhasil ya nak, dan lolos sampai tingkat nasional." ujar bu Soraya mengusap sayang kepala putra sulungnya itu.
"Aamiin... Semoga ya ma, maafin abang beberapa waktu ini jarang membantu mama."ucap Ares dengan rasa bersalah kepada sang mama.
"Nggak apa apa, abang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk lomba, kerjaan mama jangan di pikirkan, ada adik adik yang selalu membantu mama." ucap bu Soraya lembut.
"Iya bang, abang nggak usah mikirin itu, ada kami di sini." ucap Gibran.
Ares tersenyum, lalu merangkul bahu adik bontotnya itu dengan penuh kasih sayang.
"Adik abang memang terbaik, nanti abang traktir beli es krim." ujar Ares.
"Asiiikkkk.... " girang Gibran.
Laras tersenyum melihat adik laki lakinya yang selalu bersemangat klau mendengar soal makanan.
Bersambung....
Haiii.... Jangan lupa like dan komen ya.... 😘😘😘
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti