follow igku @zariya_zaya
Bagaimana perasaanmu jika melihat calon suamimu berada di dalam kamar hotel dengan wanita lain dimalam pernikahanmu? Pasti nyesek senyesek-nyeseknya.
Itulah yang terjadi pada Kinan. Wanita malam itu dikhianati oleh calon suaminya sendiri dimalam sebelum acara pernikahan berlangsung. Alih-alih menadapat simpati karena tersakiti, Kinan malah di caci dan di cemooh karena bertubuh gendut dan berwajah pas-pasan.
Banyak hal yang tejadi dan Kinan hampir bunuh diri, tapi seorang pemuda desa menyelamatkannya dan membantu mengatasi maslahnya. Kinan mulai menjalani program pengurusan berat Badan dengan pemuda desa bernama Pram. Ia ingin membuktikan pada mantan yang mengkhianatinya, si Andra, kalau Kinan juga bisa berubah jadi cantik seperti wanita lainnya.
Apakah Kinan berhasil? Simak kisah Kinan dan ikuti terus ceritanya.
Seperti apa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26 Menikahlah Denganku!
Beberapa bulan Bersama harusnya Pram tahu seperti apa cinta Kinan untuknya. Selama ini, Kinan tak banyak bertanya soal pekerjaan yang digeluti Pram karena bagi Kinan, Pram sudah sangat baik padanya. Kekasihnya itu membantu memenuhi kebutuhan hidup Kinan walau tanpa diminta karena Kinan tidak bekerja. Kinan percaya sepenuhnya kalau Pram adalah pemuda baik yang bersahaja.
Bersama Pram, Kinan sangat bahagia. Namun, entah apa yang dipikirkan pria itu karena tiba-tiba saja Pram meragukan cinta Kinan yang hanya ia berikan pada Pram seorang. Kinan sendiri juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membuktikan bahwa Kinan sangat mencintai Pria yang selalu ada untuknya dan tak ada pria lain lagi selain Pram dihati Kinan.
"Mas Pram menyebalkan sekali, kalau dia ragu kenapa mau sama aku?" gerutu Kinan sambil memukul-mukul bantalnya sendiri.
Tok tok tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Kinan. "Masuk saja, tidak dikunci!" seru Kinan dari dalam.
"Sayang, keluar dong ... aku mau pamit pulang, nih." Orang yang mengetuk pintu kamar Kinan ternyata adalah Pram.
"Pulang aja sana? Buat apa pamit sama wanita yang nggak cinta sama mas Pram!" sindir Kinan masih kesal. Sudah mau ditinggal keluar kota bukannya dibaiki malah dituduh yang bukan-bukan.
"Oke, aku minta maaf. Mas cuma nggak bisa pisah jauh sama kamu, Kinan. Pemuda di desa ini pada lomba-lomba dapetin kamu. Makanya aku seperti itu. Buka dong, Sayang ... masa bicara sambil depan pintu gini?" bujuk Pram.
"Mas aja yang masuk, biasanya juga Mas langsung nyelonong tanpa izin dulu sama Kinan."
"Kali ini beda Sayang, kamu yang keluar," pinta Pram dan membuat Kinan heran.
Apanya yang beda? tanya Kinan dalam hati, dan ia turun dari ranjang. Kinan langsung membuka pintu kamarnya karena penasaran.
Mata Kinan terbelalak antara percaya dan tidak percaya kala melihat dihadapannya sudah ada sebuket bunga yang bertuliskan kata 'Menikahlah denganku' dan yang membawa buket bunga indah itu, siapa lagi kalau bukan Pram.
Berkali-kali Kina mengusap matanya berharap ini bukan mimpi, tapi begitu Pram melongokkan kepalanya, Kinan sadar kalau yang ia lihat ini nyata, bukan mimpi belaka.
"Kinan, Will you marry me? Aku janji, begitu aku kembali dari kota, aku akan datang dengan membawa seluruh keluargaku untuk melamarmu secara resmi. Kita akan menikah secepatnya," ujar Pram dengan senyuman yang menggoda.
Kinan hampir saja pingsan, tapi ia tak ingin melewatkan momen bahagia yang terjadi dalam hidupnya. Sungguh, Kinan tak percaya ini, matanya berkaca-kaca dan langsung menangis dihadapan Pram sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Terima dong, mau nggak? Nikah sama aku?" tanya Pram sekali lagi. Ia menyodorkan sebuket bunga indah itu pada Kinan.
"Mas ini selalu bisa bikin aku nangis, ya?" ujar Kinan malu bercampur haru.
"Aku nggak minta kamu nangis Sayang, aku minta kamu jadi istriku, calon ibu dari anak-anakku. Kamu belum jawab loh, mau nggak? Jangan nangis terus. Aku nunggu jawaban kamu nih," Pram membantu mengusap air mata Kinan yang tak kunjung berhenti mengalir.
"Mas Pram nggak bercanda, kan?" tanya Kinan, ia masih belum percaya kalau Pram benar-benar melamarnya.
Pram terdiam dan iapun berlutut dihadapan Kinan. "Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa belah dadaku supaya kamu tahu kalau dihatiku dan jantungku, cuma terukir nama kamu." Mata Pram menatap lurus manik mata wanita pujaan hatinya.
Air mata Kinan semakin deras mengalir membasahi pipi. Gadis itu ikut berlutut dan mensejajarkan diri dengan Pram tanda ia sudah tak meragukan lagi ketulusan pria yang hendak menikahinya. Gimana nggak bahagia kalau dilamar kekasih dengan cara tak terduga.
Tanpa menunggu waktu lama, Kinan langsung memeluk tubuh Pram dengan sangat erat sambil berkata, "Iya, aku bersedia. Aku mau jadi istri mas Pram." Kinan tertawa senang.
Sungguh hari ini Kinan sangat bahagia sampai hatinya berbunga-bunga mengalahkan keindahan bunga yang diberikan Pram padanya. Pram pun juga sangat bahagia dan ia langsung menggendong tubuh Kinan lalu menari-nari dan berputar-putar bersama. Keduanya saling tertawa lepas menuju masa depan cerah yang akan mereka arungi bersama.
Setelah malam indah dan berkesan itu, Pram tetap pergi keluar kota untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda tanpa memberitahu Kinan tentang siapa pram sebenarnya. Pram merasa akan lebih baik kalau Kinan tidak tahu apa-apa soal siapa Pram sampai hari H pernikahan mereka tiba.
Selain itu, Pram juga ingin menguji, setulus dan sedalam apa cinta Kinan padanya jika nanti ia tahu siapa Pram sesungguhnya. Tidak ada yang tahu apa rencana Pram kali ini. Kenapa ia tak mengungkapkan jati dirinya pada Kinan? Apa yang Pram sembunyikan? Hanya pria itu saja yang tahu.
***
Sebulan telah berlalu sejak kepergian Pram ke kota dan meninggalkan Kinan di desa sendirian. Mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel itupun tidak setiap hari. Baru sebulan Pram pergi, Kinan sudah sangat rindu dan ingin sekali bertemu dengan pria yang sudah melamarnya. Kinan juga tak berani mengganggu Pram kalau ia tak menghubunginya lebih dulu. Sebab, Pram pasti sangat sibuk bekerja.
Sayangnya, hidup tak selalu mulus seperti jalan tol. Selalu saja ada badai yang menerjang tak terkecuali kehidupan Kinan. Sore itu, Kinan dikejutkan dengan ibunya yang tiba-tiba tak sadarkan diri di dapur. Tentu saja Kinan panik dan meminta bantuan beberapa orang yang lewat di depan rumahnya agar membantu Kinan membawa ibunya ke rumah sakit.
Kinan langsung shock kala dokter mendiagnosis ibunya terkena struk ringan dan harus segera menjalani operasi agar tidak berakibat fatal. Kinan diminta menyiapkan uang 50 juta saat itu juga untuk biaya operasi. Kinan langsung bingung, mau cari uang di mana?
Gadis itu mencoba menghubungi Pram, tapi nomer Pram saat ini sedang tidak aktif. Kinan panik karena pesan yang ia kirim ke Pram juga cuma centang satu. Ibunya semakin kritis dan Kinan harus mendapatkan uang sesegera mungkin. Ia menghubungi Cecyl dan sepupunya itu juga tak dapat dihubungi. Semakin bingunglah Kinan sekarang.
"Neng, mending Neng pinjam uang sama orang yang tinggal disebelah rumah Neng itu. Beberapa warga yang butuh uang juga pinjam kesitu kok, Neng. Coba aja, pemilik rumahnya baik dan selalu meminjamkan uangnya pada warga yang membutuhkan," saran bapak-bapak yang tadi membantu Kinan membawa ibunya ke rumah sakit.
Mungkin bapak-bapak paruh baya itu tahu kesulitan yang dihadapi Kinan sehingga ia menyarankan hal tersebut pada Kinan.
"Tapi saya nggak kenal sama pemilik rumah itu, Pak."
"Pemilik rumahnya jarang di rumah, Neng. Cuma ada asistennya. Tapi kayaknya beberapa hari lalu ada mobil mewah masuk ke dalam. Mungkin tuan Rangga, pemilik asli rumah itu pulang, coba aja ke sana Neng. Ibu Neng lebih penting sekarang," terang bapak-bapak itu.
Sudah tidak ada waktu lagi, Kinan harus segera mengambil keputusan sebelum nyawa ibunya melayang. Kinan sudah kehilangan Ayah, ia tak mau kehilangan ibunya juga. Tidak ada salahnya mencoba saran bapak-bapak ini. Nanti kalau Pram sudah bisa dihubungi, ia akan minta calon suaminya itu mengganti uang yang Kinan pinjam dari orang yang bernama Rangga.
"Pak, saya minta tolong, jagain ibu saya sebentar ya, Pak. Saya akan segera kembali, seru Kinan dengan wajah cemas yang amat sangat.
"Siap Neng, semoga berhasil," ujar bapak-bapak itu menyemangati Kinan.
BERSAMBUNG
***
ceritanya Keren👏aq suka..
pengajaran: jangan pernah memandang hanya berdasarkan luaran sahaja.. sebenarnya d novel ini tuu banyak pengajaran yg bisa d ambil...
Terima kasih author udah bikin novel yg bagus ini...yg paling bikin seneng itu, HAPPY ENDING 😍💖...
#SUKSES SELALU AUTHOR ✨🌹