Seorang duda beranak dua harus menikah demi kedua anaknya.
Arbaaz Raonar nama lelaki itu, pemilik perusahaan Arbaaz Studio. Perusahaan dengan lambang elang itu bergerak di bidang animasi.
Syazani Nur Albiru atau yang sering di panggil Biru karena memiliki mata yang kebiruan. Biru seorang pendongeng dengan teknik bayangan tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon faiz bellzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Pesan
Itu kamarku" Raon menunjuk pintu yang dekat dengan tangga di lantai 1 "ini kamarmu" Raon membuka pintu kamar yang terletak di dekat tangga juga tapi beda lantai, kamar Biru ada di lantai 2 bersampingan dengan kamar anak-anak.
Biru masuk melihat sekeliling, kamarnya luas lebih luas dari kamarnya yang di Bandung mungkin sekitar 3x lipat. Ada lemari pakaian yang sudah ada isinya juga ada meja rias.
"Istirahatlah, anak-anak sepertinya sudah tidur" ujar Raon yang di balas anggukan oleh Biru.
"Terimakasih" ucap Biru.
Raon mengangguk kemudian keluar dan menutup pintu.
Sebelum tidur Biru memutuskan untuk salat isya terlebih dahulu.
🌻
Subuh-subuh Biru sudah bangun, ia langsung mandi dan membangunkan anak-anak untuk salat subuh. Erina yang memang sudah besar langsung bangun berbeda dengan Juri yang susah di bangunkan. Akhirnya Biru memilih membiarkan saja.
Setelah Salat Biru turun ke lantai satu mengetuk pintu kamar Raon berniat mengingatkan untuk salat tapi tidak ada sahutan, pintu kamarnya juga di kunci dari dalam.
Akhirnya setelah megetuk beberapa kali tidak ada sahutan terus, Biru memilih menyerah.
Biru berjalan ke arah dapur berniat membuatkan sarapan, ternyata di dapur sudah ada bi Sumi "pagi Bu" sapa Biru.
"Eh ada nyonya Biru, perkenalkan nama saya bi Sumi, panggil saja saya bibi" ujar bi Sumi memperkenalkan diri, Biru menyambut nya.
"Bibi jangan panggil saya nyonya. .Saya tidak suka, panggil neng aja" ujar Biru memberitahu.
"Tapi gimana kalau tuan marah?" Ujar bi Sumi tidak enak.
"Gak akan bi, bibi tenang aja lagian saya lebih suka di panggil neng bi, di rumah juga saya di panggil neng sama keluarga saya" terang Biru.
"Ya sudah neng, bibi panggil neng aja" bi Sumi mengalah.
"Sekarang mau masak apa bi?"
Mereka berdua pun asyik mengobrol sambil masak, saat Biru dan bi Sumi tengah menyiapkan makanan tiba-tiba Raon masuk ke dapur dan mengambil air minum, melewati Biru tanpa menyapa.
Melihat Raon yang bersikap seperti itu membuat Biru tidak nyaman, walaupun mereka menikah karena tujuan masing-masing tapi setidaknya harus ada komunikasi agar kompak.
Selesai membuat sarapan Biru naik ke lantai atas, melihat Juri apakah sudah bangun atau belum, ternyata belum bangun juga. Sedangkan Erina sudah siap dengan seragam sekolahnya, Biru kembali membangunkan Juri karena hari sudah terang, kali ini berhasil.
"Pagi mom" sapa Juri dengan semangat saat membuka mata, jika biasanya ia akan di bangunkan Erina sekarang ada mommynya yang akan membangunkan.
"Pagi sayang, kita mandi yuk" ajak Biru dengan wajah semangat.
"Ayo-ayo Juli mau mandi" Juri menyetujui.
🌻
Selesai mandi dan memakaikan seragam juga mengucir rambut Juri kini saatnya Biru untuk membersihkan diri dan siap-siap ke kantor.
"Mommy ayo calapan, peyut Juli udah bunyi-bunyi" teriak Juri sambil mengetuk pintu kamar Biru dengan satu tangan memegang perut nya.
"Sebentar ya sayang" Biru meraih tasnya lalu membuka pintu, terlihat Juri yang masih setia menunggu. Padahal tadi Biru sudah mengantarkan Juri dulu ke bawah.
"Juri udah lapar? Maaf ya mommy lama" ujar Biru dengan raut wajah merasa bersalah. Juri mengangguk.
"Ayo kita makan, perut mommy juga lapar" ajak Biru sambil menuntun Juri.
Di meja makan sudah ada Raon dan Erina yang menunggu.
"Maaf membuat kalian menunggu" ujar Biru yang merasa tidak enak, di pagi pertama sebagai istri Biru sudah membuat ayah dan anak-anak menunggu.
"Tidak apa-apa mom" jawab Erina sedangkan Raon hanya mengangguk.
Biru duduk di sebelah Juri, melihat itu Raon mengangkat sebelah alisnya.
"Bapak mau sarapan apa?" Tanya Biru yang sudah siap mengambilkan makan untuk Raon.
"Tidak usah saya bisa sendiri" jawab Raon singkat sambil mengambil roti dan mengolesinya dengan selai srikaya.
Biru menghela nafas saat mendapat respon seperti itu, ia masih bingung harus berbuat apa untuk menghadapi Raon yang kadang baik kadang cuek.
"Ini" Raon menyerahkan black card, Biru mengangkat alisnya bingung.
"Ini untuk belanja kebutuhan sehari-hari, mulai sekarang kamu yang atur" terang Roan dengan tangan masih menggantung. Biru menerimanya.
"Ini untuk kebutuhan sekolah anak-anak" Roan kembali menyerahkan kartu pada Biru.
"Apa tidak sebaiknya di satuin saja pak sama yang ini" ujar Biru mengangkat kartu black card.
"Terserah kamu saja, jika begitu kamu bisa menggunaka kartu ini untuk kebutuhanmu" ujar Raon yang masih menyodorkan kartu atm.
"Saya sudah punya kartu atm pak, saya gunakan saja punya saya. Terlalu banyak kartu membuat saya pusing" terang Biru.
"Kalau begitu saya minta no rekeningnya, kirimkan lewat pesan" Biru mengangguk, ia lupa tentang kewajibannya mengatur kebutuhan rumah.
"Terimakasih pak, kalau begitu saya berangkat duluan" Biru meraih tangan kanan Raon dan mencium punggung tangan Raon, Raon terkesiap untuk beberapa saat dengan apa yang di lakukan Biru.
"Salamnya nanti saja, kita berangkat bersama"
"Tapi pa..." Belum sempat menyelesaikan Raon sudah memotong "Tidak ada tapi-tapian" ucap Raon tidak mau di bantah.
Biru mengangguk.
"Kenapa? Kamu tidak suka berangkat dengan saya? Apa kamu malu karena menikah dengan duda?" Tanya Raon dengan nada tinggi.
Biru terperangah dengan pertanyaan Raon, suaminya sensitif sekali.
"Maksud bapak apa? Kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Biru bingung.
"Sudah, tidak perlu di bahas" jawab Raon acuh.
Raon memanggil kedua anaknya agar cepat-cepat berangkat, mereka di antarkan dengan mang Ujang sopir di rumah. Sedangkan Biru berangkat bersama Raon, arah sekolah Erina dan Juri berbeda dengan arah ke kantor Raon.
🌻
Saat sampai di kantor ada karyawan yang tidak sengaja melihat Raon dan Biru datang bersama, hal itu membuat Biru tidak nyaman.
Mereka masuk ke dalam lift yang sama dan berpisah di lantai 6.
Pekerjaan yang menumpuk membuat Biru sibuk hingga tidak terasa waktu istirahat telah tiba.
Biru memilih melaksanakan Salat terlebih dahulu lalu menyusul Gia dan Nafisa yang sudah berada di kantin.
"Eh Bi, katanya kamu berangkat dengan pak Raon. Apa itu benar?" Tanya Gia yang kepo.
Biru hanya mengangguk.
"Wah, gimana rasanya berangkat barengan sama suami Bi?" Tanya Nafisa heboh.
"Se-dikit tidak nyaman mba" jawab Biru apa adanya.
Tiba-tiba Raon datang "ehem" Raon berdehem saat melewati meja Biru membuat Gia dan Nafisa langsung diam tidak lagi bertanya. Hal itu membuat Biru lega, Biru paling malas sebenarnya kalau membahas masalah pribadi.
Ting.....
Ada pesan masuk ke ponsel Biru, Biru melihat dan ternyata itu dari Raon yang menanyakan nomor rekening.
Karena Biru menulis nomor rekeningnya di catatan membuat Biru gampang membalasnya tinggal copy paste saja.
🌻
Terimakasih sudah mampir... jangan lupa tinggalkan jejak ya... like love vote hadiah dan komennya
keren thor
sukses
semangat
mksh