Perjodohan adalah hal keramat yang paling tidak aku sukai. Menurutku di jaman serba modern seperti sekarang ini tidak perlu yang namanya jodoh menjodoh.
Hal yang tidak aku suka malah menghampiriku, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Novel ini merupakan kelanjutan MBA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shy. ineng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar Putih
"Maaf, Ucap Varel merasa tidak enak karena menyentuh perut Nasya.
"Ngak apa, kita langsung pulang kerumah Papi aja." Nasya merapikan pakainnya yang sedikit berantakan.
" Oke, Varel menstater mobil dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah Nasya. Sunyi, Nasya maupun Varel sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Varel melirik Nasya, Nasya melihat kearahnya dengan cepat dia mengalihkan pandangannya ketempat lain begitu sehingaa beberapa kali.
"Apa?" Tanya Nasya setelah sekian kali Menangkap basah Varel yang meliriknya diam-diam.
"Kamu cantik." Melirik ke arah Nasya.
Nasya hanya diam, dia meraba mukanya yang tiba-tiba memerah ngalahin kepiting rebus. Melihat reaksi Nasya membuat Varel tiba-tiba ingin menyanyi.
Dengan suara merdunya Varel bernyanyi.
🎵🎵Aku tak tau apa yang lain
Darimu hari ini
Apa itu karena sepatu flatmu?
Atau kukumu
Yang baru kau warnai?
Pernahkah kau bertanya
Seperti apa bentuk air tanpa wadah?
Pernahkah kau mengira
Seperti apa bentuk cinta?
Rambut warna warni bagai gulali
Imut lucu walau tak terlalu tinggi
Pipi chubby dan kulit putih
Senyum manis gigi kelinci
Membuatku tersadar
Bentuk cinta itu
Ya kamu
Menoel pipi Nasya dan mengahiri lagu yang dia nyanyikan. Tersenyum puas setelah memperhatikan muka Nasya yang bersemu merah. Aku yakin kamu juga menyukaiku, hanya enggan mengungkapkan nya.Batin Varel.
Varel aku meleleh, batin Nasya.
"Tambah jatuh cinta pada suara merdumu." Nasya menatap Varel yang tengah mengemudi.
"Sama yang empunya suara merdu ngak jatuh cinta?" Tetap fokus mengemudi.
Nasya tak menjawab dia memilih memamerkan senyum manisnya pada Varel.
Kembali sunyi hingga mereka tiba di kediaman Nasya.
****
Di lain tempat, di Group Sanjaya. Kenzo duduk dengan gelisah, dia tidak fokus berkerja. Raganya di kantor sementara pikirannya berada di rumah. Dia memikirkan apa kesalahan yang telah dibuatnya sehingga Nancy marah besar.
"Makluk Tuhan yang bernama Wanita memang aneh dan unik." Guman Kenzo pelan. Mengingat-ingat kembali aktifitasnya selama bersama Nancy.
"Astaga, masa itu ya. Ingat ketika dia memukul Baim. Reaksi yang berlebihan memang, Ngak seharusnya dia melakukan itu."
"Fiks, ini gara-gara reaksiku yang berlebihan memukul Baim." Beranjak dari duduknya.
"Siapkan mobil saya akan pulang." Perintah Kenzo pada sekertarisnya.
Dengan cepat sekertarisnya mengubungi sopir anang yang sudah standby di lobi perusahaan.
"Ayo berangkat sekarang, kita mampir di toko bunga sebelum kerumah." Perintah Kenzo setelah masuk ke dalam mobil. Sopir Anang mengemudi dengan pelan membawa sang majikan pulang.
"Tuan, di situ ada toko bunga." menunjukan sebuah toko bunga yang tidak terlalu luas, tetapi memiliki koleksi yang lumayan banyak.
Kenzo turun dan menghampiri si empunya toko bunga yang sedang merangkai bunga.
"Ada yang perlu saya bantu? tanya si empunya toko bunga menghentikan aktifitasnya.
"Saya ingin membeli Satu bucket bunga mawar merah."
"Mawar merah kosong, adanya cuma mawar putih."
"Adu gimana, Ya sudah mawar putih aja." Kenzo memutuskan membeli mawar putih. karena menurutnya merah atau putih sama aja sama-sama mawar tak ada bedanya.
Mengenggam satu bucket mawar putih dia kembali ke mobil. Sopir anang menatap aneh padanya. "Kenapa belinya mawar putih, kalau untuk nyonya bisa tambah marah dia." Ucap Sopir Anang pelan. Tetapi sopir Anang engan menegur tuannya tersebut.
Dengan wajah sumringah dia memasuki rumah, terlihat Varel dan Nasya duduk ngbobrol di ruang tamu.
"Papi udah pulang?" Nasya menatap aneh pada sang ayah yang membawa satu bucket mawar putih.
"Mami mana?" Balik bertanya, berjalan menuju kamarnya.
"Mami di dapur pi," Teriak Nasya.
Kenzo berbalik arah, berjalan menuju dapur dengan mengenggam mawar putih yang dibelinya tadi.
"Kenapa Papi bawanya mawar putih. Kalau mau kasih untuk Mami mawar putih marah besar mami." menatap punggung sang papi.
"Kenapa memangnya, mawar putih cantik kok."
"Cantik memang, tetapi mawar putih biasanya di kasih ke orang yang sudah meninggal."
"Apa?"
"lo baru tahu juga. awas ya kalau kasih ke aku mawar putih." Ancam Nasya.
"Kamu mengharapkan aku mati! " Terdengar teriak marah Nancy dari dapur.
"Ngak sayang, bukan begitu maksudku. Aku tadi mau beli mawar merah, tetapi mawar merahnya kosong adanya cuma mawar putih. makanya aku belinya mawar putih."
"Ngak ada bunga lain, kenapa harus mawar putih."
"Aku tahunya kamu suka mawar, aku pikir mawar putih/merah sama aja."
"Kamu banyak alasan.Menjauh dari ku, aku muak melihatmu." membelakangi Kenzo.
Menghampiri dan Memeluk Nancy dari belakang.Menyandarkan dagunya di bahu Nancy dan berkata dengan lembut
"Maafin aku, aku ngak sengaja kasih kamu mawar putih dan maafin aku karena reaksiku berlebihan di rumah sakit tadi pagi. Aku ngak
tahan di cuekin begini sama kamu. Baru kemaren kita baikan, masa hari ini juga marahan. Aku janji ngak akan mengulanginya lagi."
"Lepasin, kamu berat tahu!"Suara Nancy lembut.
"Maafin aku." Masih memeluk Nancy.
"Aku maafin, lepasin dulu. Kamu ngak malu di liatin sama anak-anak." Menunjuk kearah Nasya dan Varel yang hanya senyum-senyum menonton live drama di depan mata mereka.
"Hah? Kenzo terkejut dengan kehadiran Varel dan Nasya yang berdiri menatap dirinya.
"Kalian ngapain di sini?" Tanya Kenzo melepaskan pelukannya pada Nancy.
"Lagi nonton drama pi." Jawab Nasya dengan senyum jahilnya.
"Ngak ada Televisi di dapur, nonton apa?"
"Nonton live drama antara Papi dan Mami." Nasya mengoda Papinya.
"Nasya... " Ucap Kenzo dengan kesal.
"Kayaknya Varel harus belajar dari paman nih." Varel ikut menimpali.
"Kalian ngapain masih di sini, Nasya bantuin Mamimu masak dan Varel ayo ikut Paman." Perintah Kenzo duluan meninggalkan dapur. tak lupa memungut mawar putih yang di bawanya tadi.
Gagal aku mesra-mesraan, anak-anak ini ganggu aja.batin kenzo.
Sesuai perintah kenzo, Nasya membantu maminya memasak makan malam di dapur. Varel mengikuti Kenzo,mereka duduk santai diruang tamu.
"Bagaimana persiapan pernikahan kalian?" Tanya Kenzo di sela-sela obrolan mereka.
"Sekitar 25% Paman. Tadi kita cuma Menentukan tema resepsi,undangan dan menentukan tema prewedding aja. Kalau untuk catering kita mau Mama atau bibi Nancy yang mengurusnya."
"Baguslah. Kami sengaja tidak banyak membantu kalian dalam mengurus acara pernikahan kalian karena menurut kami kalian berhak menentukan apa yang kalian suka. Kalau kami ikut campur takutnya nanti tidak sesuai dengan keinginan kalian. Di pahami ya, bukan kami tidak peduli sama pernikahan kalian. Kami hanya memberikan kalian kesempatan untuk memilih dan menentukan konsep pernikahan yang kalian inginkan."
"Varel paham kok paman. Terima kasih karena memberikan kami kesempatan untuk memilih dan menentukan konsep pernikahan yang sesuai kami inginkan.
.
.
.
.
.
🕊🕊
Semoga kalian menyukai part ini.😘😘