Jesyca jeje
Bolehkan sekali kita berkhayal?
Seandainya pun boleh, pastikan khayalan tersebut dapat terwujudkan.
Kisah sosok seorang pendamba cinta, setelah sekian lamanya terjebak dalam penyakit yang entah sejak kapan datangnya, dan bertemu dengan wanita yang mampu menimbulkan hasratnya kembali.
Akankah pria itu sembuh, ataukah sebaliknya, apa yang terjadi?
Yuk lanjut aja bacanya, jangan lupa dukung author dengan cara like, komen dan vote ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesyca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps #26
Pagi hari tiba. Cuaca saat itu kurang mendukung. Hujan yang lebat dan angin yang semilir membuat siapa pun malas beraktifitas dan kembali menarik selimut.
Berbeda dengan tiga gadis yang bekerja sebagai OB di perusahaan AST.
Mereka berdiri di koridor sambil menikmati segelas coffe hangat. Memperhatikan rintik-rintik hujan yang menempel di balik jendela.
Adinta sedari tadi selalu menebar senyum. Ia tidak bisa menutupi hatinya yang tengah berbunga-bunga, tetapi berbeda dengan kedua sahabatnya. Mereka memasang wajah datar dan tenggelam kedalam lamunan masing-masing.
"Kalian kenapa sih, pada gak seneng ya liat aku bahagia? "
"Lo tau gak Din, tadi malam kami menyaksikan adegan yang cukup mengerikan. "
"Iya bener Fi, gue takut pria itu sekarat atau sekarang dia sudah mat* . "
"Kalian ngomongin apaan, gue gak maksut, sapa yang mat*, coba cerita dari awal. "Tanya Adinta yang mulai penasaran.
"Gini Din, semalem setelah lo tinggal, kami kan ngajakin Amira buat seneng-seneng dan ikut joget di sana, trus ada pria yang nyamperin Amira dan ngajak dia joget bareng. "Kim yang bersemangat menceritakan prihal yang terjadi tadi malam.
"Trus apa hubungannya sama pria sekarat yang kalian maksut? "
"Aduh lo tu ya, gue kan belum siap ngomong, udah lo potong aja. "
"Yaudah lanjut! "
"Trus Bos kulkas kita dateng, mukulin pria tadi sampai setengah sekarat gitu."
"Terus. "
"Lo tau kan Bos kita gak pernah deket sama siapa pun karyawannya, dan setahu gue dia gak pernah pacaran. "
"Terus. "
"Lo terus-terus mulu, kaya orang parkir. Belokan dikit nape biar kagak nabrak."
"Ya elo nya aja cerita nanggung-nanggung gitu. "
"Kalian kapan sih gak berantem pas lagi jumpa. "Fifi ikut membuka suara karena telinganya cukup bising di buat dua sahabatnya yang selalu cekcok saat bertemu.
"Tu gara-gara dia. "Kim menunjuk Adin.
"Lo juga sama. "Ucap Fifi
"Eh, trus gemana kelanjutannya. "Adin makin penasaran.
"Yang buat kami gak habis fikir itu, Bos kita ngapain buntutin kita ke clup, trus marah saat Amira di ganggu pria lain, dan dia kaya peduli banget gitu ke Amira. "
"Yang bener lo Kim? "
"Iya bener Din, lo tanya ke Fifi deh kalo lo gak percaya sama omongan gue. "Ucap Kim dan Fifi pun menggangguk tanda membenarkan ucapan dari Kim.
"Emm.. Apa mungkin mereka pacaran ya. "Adin memautkan kedua tangannya di pinggang.
"Gak mungkinlah, secara Amira kan belum genap sebulan kerja di sini, dan kalian pada tau kan si Heny gemana. "
"Lo bener Fi, si ratu drama itu pasti bakal gak terima kalo ada perempuan yang dekat sama Bos kita. "
"Tapi mungkin aja kali, kalian apa gak lihat body Mira lebih aduhay dari gitar spanyol. "
"Lo bener juga Kim, tapi secara ni ya, gosip-gosip yang selama ini tentang Bos kita bener gak sih? "Tanya Adin sambil berbisik-bisik.
"Gue juga gak tau soal itu. "Jawab Kim dan Fifi hanya menaikkan bahunya tanda ia tidak mengetahuinya juga."
"Udahan yuk gosipnya, entar mak lampir ngomel-ngomel liat kita santai di jam kerja. "
Mereka kini pergi meninggalkan tempat itu dan kembali mengerjakan pekerjaan masing-masing.
++++++++++++++++++++++++
Lelaki yang berpakaian rapi dan cukup dengan satu ekspresi saat bertemu karyawannya itu, kini ia sedang berkutat dengan berbagai map di hadapannya.
Pekerjaan yang menumpuk tidak membuatnya kelelahan, entah apa yang membuatnya cukup berstamina dan ingin cepat membereskan pekerjaannya dan segera pulang.
Suara nada dering benda persegi di sampingnya yang dapat membuyarkan rasa fokusnya.
Pria itu sedikit melirik kearah benda yang canggih itu dan dengan berat hati ia menjawab panggilan tersebut.
"Halo pi? "
Setelah mendengar suara Adit, pria di sebrang sana langsung memberi perintah kepada anaknya itu. "Segera pulang kerumah papi, karna ada hal penting yang harus papi bicarakan sama kamu. "
"Masalah apa itu pi? "
"Cepat selesaikan urusan mu dan kemarilah. "
"Tapi Adit ada miting hari ini pi. "
"Papi sudah membatalkannya tadi. Dan segera selesaikannpekerjaanmu sekarang. "Begitulah Edo Mahendra, meskipun perusahaan kini di alihkan kepada anak lelaki satu-satunya itu, tapi tidak 100% ia menyerahkannya, semua masih dapat ia handel dari rumah, tanpa harus pergi ke kantor.
Dengan berat hati Adit mengiyakan perintah papinya itu. Ia pun mencari kontak Anggun dan mengirimkan pesan.
Dek, tolong belikan baju dan makanan untuk Amira dan kamu antar kerumah Abang ya, karna hari ini Abang sibuk, tidak sempat membelikannya, mungkin Abang pulang sedikit terlambat.
Selang beberapa menit, lampu handphone Adit kembali menyalak dan menerima notif sms.
Memang kemana baju Amira Bang, jangan aneh-aneh deh, jangan Abang pumpa balon sebelum waktunya.
*Jangan banyak tanyak, anak kecil tidak boleh mencampuri urusan orang dewasa. Cepat antar sekarang, dan temani Amira sebentar.
Kita hanya berbeda lima tahun, dan aku sekarang cukup dewasa untuk mengetahui hal itu.
Sudahlah, cepat pergi sekarang.
Baiklah kakak ku, baik. Adik mu ini akan menjalankan tugas. Dan jangan lupa
transferannya*.
Adit sedikit menyunggingkan senyum setelah membaca sms dari adiknya itu. "Ck.. Dasar wanita matre, dikit-dikit transferan. "Tapi Adit tetap mentrasfer uang yang cukup banyak ke rekening Anggun. Ya begitulah Adit, walaupun cukup menakutkan bagi orang lain, tapi itu tidak berlaku kepada keluarganya.
*******************
Di sisi lain. Wanita yang berbalut selimut tebal berwarna abu-abu. Wanita itu berulang x menggeliat, tapi tak kunjung bangun. Entah kemana tulang di tubuhnya, ia rasa tubuhnya kini tidak memikili tenaga hanya sekedar untuk duduk.
"Ah.. Pusing sekali kepala ku."
"Ahhuummmm. "
"Lapar sekali rasanya. "Dengan tenaga yang tersisa, seperti orang yang sedang memikul beban cukup berat. Amira memaksakan tubuhnya untuk duduk. Gadis itu mengedarkan pandangannya di setiap inci ruangan itu.
"Kenapa mirip seperti kamar Adit. "Ia berulang kali memerjapkan matanya dan menggosok-gosok dengan tangannya. "Benar ini kamar Adit. " Sekilas ingatannya sedikit kembali.
Gadis itu melotot dan berjingkat turun dari atas ranjang. Ia melihat penampilannya di depan cermin yang cukup besar di sana.
Penampilan yang kacau, rambut berantakan dan hanya memakai baju kemeja yang kebesaran. Tanpa memakai dalaman apapun.
Amira meraba-raba bagian tubuh tertentunya. "Enggak.. Gak mungkin ini terjadi, Adit gak mungkin tega ngelakuin ini saat aku mabuk. "
Wanita itu kesulitan mencari tasnya di sana, ia membuka semua laci dan mengedarkan pandangannya, dan kini ia sudah menemukan tasnya yang tergantung di samping lemari. Ia membuka tas itu dan mengambil handphonenya.
Amira mencari kontak Adit dan memencet tanda hijau di layar. Berulang kali ia menelpon, tetapi tidak ada jawaban.
Amira teralihkan dengan suara seorang wanita yang memanggilnya. Ia cukup mengenali suara wanita itu, dan dengan cepat ia keluar kamar menghampiri sahabatnya.
BERSAMBUNG..
Jangan lupa like, komen dan votebya temen-temen.
Biar aku makin semangat nulisnya.
😘😘😘😘😘
..adit good joob