Tadinya berjudul OTW Soleha- dibenarkan sesuai KBBI dan novel cetaknya Ayoo beli.
Hidup adalah pilihan, namun takdir adalah sebuah ketetapan. Bukankah kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita akan dilahirkan ? Begitulah yang selalu membuat Bening tidak pernah menyesali hidup yang di jalaninya
Dia besar dan tumbuh di pemukiman lokalisasi prostitusi, Jauh dari pendidikan moral,tata krama, apalagi agama. Yang dia tau, dia dan Ibunya adalah seorang Muslim. Tanpa dia pernah tau apa kegunaan agama itu sendiri hidupnya.
Dia selalu punya rumus berdamai dengan takdir, itu yang membuatnya mampu melewati lingkungan sosial yang menghina, mengucilkan dan selalu menganggapnya "Anak Haram".
Bening remaja mampu melewati badai kepahitan dan membalas semua hinaan dengan senyuman bangga. Bening berada di puncak karirnya sebagai seorang Fashion designer di usia belia.
Sampai pada satu titik balik yang membawanya jatuh dan hampa, sehingga dia mencari apa penyebabnya. Apakah takdir selalu berbaik hati mengiringi perjalanannya mencari jati diri ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERN JULLIAN DAN KELUARGANYA
Di dalam sebuah hunian yang megah nan nyaman, mereka sedang menikmati hidangan Idul fitri di atas meja makan. Tapi sepertinya, hanya satu orang disana yang tampak makan tanpa menghiraukan yang lainnya. Dia seolah tidak melihat keberadaan gadis cantik yang dibawa oleh puteranya. Sendok dan garpu di tangannya terus saja beradu dengan piring dan gigi yang membantunya mengunyah. Dialah yang menyebut namanya Viola Radmund, ibu kandung Bern Jullian.
"Jadi kapan jadwal yudisium kamu, Bern?" tanya wanita itu di sela pergerakannya.
"Kalau tepat waktu, mungkin tiga bulan lagi mom," jawab Bern santun.
"Bagus, kamu harus tepat waktu. Tidak perlu mengambil pendidikan spesialis dulu," tegasnya. "Rumah sakit itu harus segera atas nama kamu. Dan kamu ingat kan yang mommy bilang?"
"Cukup mom, jangan di teruskan! Aku masih ingat,"
"Humm!" kemudian dia melanjutkan makannya
Bening hanya terdiam, matanya melirik bergantian ke arah Bern dan perempuan yang dipanggilnya Mommy. Dari sekian banyak makanan yang tersaji di atas meja, Hanya kecanggungan yang bisa dinikmatinya. Ini sangat tidak menyenangkan.
Sejak Bening datang, wanita itu tidak memperdulikannya sama sekali. Dia bahkan tidak mau bersalaman dengan Bening. Entah apa sebabnya. Bening mencoba sedikit berbasa-basi untuk mencairkan suasana.
"Eum, ini enak banget tante. Apa semua ini tante masak sendiri?" tanya Bening memberanikan diri.
Viola menjeda kunyahannya dan melihat ke arah Bening dengan tatapan tidak senang. Dia sangat tidak suka berbicara dengan orang asing. Dia belum kenal dengan Bening dan tak ingin mengenalnya. Dia tau, Bern yang membawa Bening kerumahnya.
Tidak meminta Bern membawa Bening pergi, itu sudah sebuah penyambutan menurutnya. Jadi jangan harap dia akan beramah-tamah dan bermuka manis di hadapan orang yang bukan tamunya.
"Kamu sudah saya izinkan makan di meja ini, jadi tidak perlu berbasa-basi. Nikmati saja makanan yang mungkin belum pernah kamu temui di tempat lain!" ucapnya dengan sangat angkuh.
Bening menelan potongan ketupat itu tanpa sempat mengunyahnya lagi. Iya, dia tau yang akan dihadapi bukanlah orang yang hangat dan menyenangkan. Tapi Bening juga tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini. Tau begini, lebih baik dia dirumah menonton serial idul fitri di TV.
"Ning, habiskan makanan mu. Aku antar kamu pulang sekarang," ucap Bern yang bisa merasakan ketidaknyamanan Bening.
"Aku udah Bern," menenggak satu gelas besar air putih sampai tandas, tak tersisa sama sekali.
Kemudian Bening langsung berdiri dan mengambil tas kecilnya. Hati kecilnya memenrintah dia untuk menyalami Mommy Viola satu kali lagi, tapi akal sehatnya masih trauma.
"Kamu tungguin aku di mobil," perintah Bern.
"Saya pamit, minal aidin walfaizin. Mohon maaf lahir dan batin ya tante. Terimakasih jamuannya."
Tanpa berfikir panjang, Bening segera melangkah cepat keluar dari ruangan itu. Mr.Stuart yang mengenakan koko putih pemberian mami Sandra menyusul langkah Bening. Bern masih di sana, Berdiri di hadapan mommy Viola.
"Mommy keterlaluan mi, gak seharusnya mommy seperti itu terhadap Bening,"
"I Don't care. Kalau dia tersinggung, beri dia uang. Dan jangan kamu dekat-dekat dengannya lagi,"
"Apa mommy masih gak peduli kalau mommy tau dia adalah pemilik nama belakang yang sama seperti nama mommy?" ucap Bern dengan seringai licik.
"Apa maksud mu Bern?"
"Iya mom, dia adalah Bening Ivanka Radmund. Dia lebih berhak menyandang nama belakang itu dari pada mommy," ugnkap Bern.
"Shut up! dari mana dia mendapatkan nama itu? jangan main-main dengan mommy Bern!" ancam Viola kepada anaknya.
"Tentu saja itu namanya yang di akui negara ini, karena aku sudah melihat semua dokumen resmi miliknya dan tertuliskan nama itu disana. Apa mommy terkejut?"
"Bern!" geram Viola.
"Tapi mommy tenang aja, selama Bening tidak bertanya. Aku tidak akan memberi tahu Bening tentang semua ini, tapi aku akan menuntunnya untuk mengetahui semua dengan sendirinya secepat mungkin! Bening punya hak atas semunya, mom!"
Bern berlalu meninggalkan Viola dengan kegeramannya. Setelah dia mau berfikir, mana mungkin Bern mengajak seorang perempuan menemuinya jika bukan karena suatu hal. Dan karena hal inilah Bern mempertemukannya dengan puteri dari Samuel Radmund, mantan suaminya.
"Selama ini ternyata Bern sungguh-sungguh mencari keberadaan mereka, kalau itu adalah anak dari Sandra, berarti mereka tinggal di kota ini juga."
Sejenak terlintas bayangan kejadian demi kejadian dirinya membawa Sam, ayah kandung Bening menjauh dari kehidupan Sandra dan anaknya.
***
Di dalam mobil, Bening menunggu Bern sambil berbincang hangat dengan Mr.Stuart. Seketika dia terkejut melihat Bern sudah masuk dari pintu belakang. Bening pun turun dan kembali masuk lewat pintu sebelahnya, lalu ikut duduk disaamping Bern.
"Maafin sikap mommy yang keterlaluan ya, Ning?" ungkap Bern penuh penyesalan.
"Hey, kan aku udah bilang. Selama Bern Jullian disamping ku, aku tidak pernah takut menghadapi siapapun. Udah lupain aja, aku biasa aja kok,"
"Beneran?"
"Sungguh Bern, hmmm tadi sebenarnya aku pengen banget makan keringan buah apricot di sana, tapi karena toplesnya deket sama tante Viola, aku jadi takut mau ngambil,"
"Astaga, tunggu sebentar," Bern membuka kembali pintu mobilnya.
"Ee..eeh...kamu mau kemana?"
"Mengambilkan aprikot, wait ya,"
Saat Bern turun dan kembali masuk ke dalam rumahnya, Bening melanjutkan kembali pertanyaanya kepada Mr.Stuart yang sempat terputus tadi. Perbincangan mereka cukup menguras emosi. Hanya saja Bening terpaksa menahannya karena Bern sudah kembali dengan satu toples buah aprikot kering untuk Bening.
"Mommy kamu gak marah ini kamu bawa semua aprikotnya?" tanya Bening meraih toples dari tangan Bern.
Bern hanya menjawab ucapan Bening dengan tatapan malas.
"Iya deh, makasih loh ya ini," seloroh Bening yang membuat Bern gemas dan mencubit kedua pipi Bening secara bersamaan.
"Bukan muhrim Bern!" protes Bening setengah bercanda.
"Aduh iya, lupa Ning, maaf ya maaf. Maaf lahir batin!"
Mobil melaju mengantarkan Bening pulang ke kediamannya. Setelah bertemu orang tua Bern dan merasakan sendiri sensasinya. Bening tidak sedikitpun merubah pandangannya terhadap Bern. Laki-laki itu masih tetap yang terbaik di hatinya.
_______________________________________
Yang nanyain kenapa Bening sama Bern deket-deketan, kontak fisik dan lain sebagainya, padahal kan Bening udah pake hijab jadi agak risih ya kalau interaksi ke lawan jenis masih seperti itu.
Nah, ini aku jawab : Ini Bening otw soleha ya say, bukan auto soleha. Jadi ini masih awal banget dari perjalanan idupnya dia menuju soleha. Plis bersabarlah. Belum juga 25 eps loh padahal.
Disini Bening belom tau adab, hukum dan syariatnya. Masa iya baru aja masuk ROHIS langsung berubah total, kan enggak say. Ini baru niatnya aja yang berubah. Sikapnya belom. Ibarat metamorfosis kupu-kupu, Bening baru menetas dari telur menjadi ulat. Doain aja moga dia bisa lebih baik kedepannya.
Kalau Novel UTUH itu naskah ku udah mateng tiggal edit sebelum aku publish, tapi novel Bening ini baru outlnenya doang. Jadi mungkin nanti alurnya akan aku percepat aja kalau kalian tidak sabaran, hehhee.
Follow me on :
ig : enka2804
Nangis terharu aku kak enka baca novel terindahmu, serasa aku diposisinya, semoga bisa menjadikan kita hamba yg selalu mencari jalan untuk selalu taat kepada Sang Pemilik Jiwa&Raga ❤
bern kakanya bening? 😯