Rana Anandita, seorang gadis remaja yang baru saja duduk dibangku kelas 2 SMA. Disinilah Rana mulai mengenal yang namanya jatuh cinta. Bertemu seseorang yang membuatnya malu tanpa sebab. Rana tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan pemuda yang bernama Zevan, akan mengubah beberapa hal dalam hidupnya.
Bukan hanya tentang perubahan, namun sebuah kebenaran dibalik orang-orang terdekat Rana. Rana mulai menyadari, tidak semua orang yang bersikap baik padanya selalu memiliki niat baik juga.
Dengan adanya Zevan, Rana mulai menghabiskan banyak waktu dengannya, meninggalkan sahabat kecilnya Dean. Rana yang selalu bersama Dean kemanapun kini posisi Dean tergantikan oleh Zevan.
Zevan menunjukkan banyak cinta kepada Rana. Menjadikan pasangan ini layaknya bucin dimata teman-teman mereka. Namun Rana sangat beruntung, mendapatkan pemuda sebaik Zevan, pemuda yang mungkin tidak akan pernah kalian temui didunia kalian.
Selamat Membaca !!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atps0426, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LB - 26
Bara menatap mereka dari kejauhan. Ia kembali menyadari jika Rana bukan untuknya. "Setidaknya, gue udah tahu kalau loe bukan buat gue" gumamnya lirih lalu pergi meninggalkan gedung futsal itu.
Zevan menyeka air mata Rana, mengelus pipinya dengan lembut. "Lucu ya kalau nangis gini" bisik Zevan dengan gemas. Mendengar perkataan itu Rana semakin ingin menangis, ia pun kembali memeluk Zevan dengan erat. Zevan menenangkan Rana dan membawanya ke tempat duduk disekitar lapangan. Mereka berdua melihat pertandingan futsal yang masih berlangsung tanpa kehadiran Zevan.
Rana menyenderkan kepalanya pada pundak sang kekasih. Menggenggam tangan Zevan tanpa mengatakan apapun. Zevan mengerti, gadisnya sedang dalam posisi dilema, bagaimana bisa gadisnya merelakan hubungan pertemanan yang sudah lama terjalin, hanya karena sebuah perasaan yang tidak bisa dihentikan. Sekali lagi Zevan mengelus rambut Rana, mengatakan beberapa hal agar Rana tidak terlalu memikirkannya. "Udah, toh Bara juga baik-baik aja kan. Kalaupun lari, itu gak akan menyelesaikan masalah, hadapi aja seperti biasanya, oke sayang." hibur Zevan seraya mencium pucuk kepala Rana.
Gadis itu mengangguk, ia masih nyaman dalam posisinya dan tak ingin melepas Zevan. Cukup lama mereka seperti itu, bahkan sampai pertandingan futsal itu selesai. Dean berjongkok dihadapan Rana, menatap mata Rana yang terlihat sedih. Dean mengelus rambut Rana, ia tak tega melihat tuan putrinya begitu terluka hanya karena hal sepele. Ia juga merasakan sedikit penyesalan, sebab menyuruh Bara untuk menemui Rana. "Pulang yuk, pasti capek" ajak Dean seraya menggenggam tangan kecil gadis dihadapannya itu. Rana mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Mereka pun memutuskan untuk pulang setelah beristirahat sejenak.
Bukannya menuju motor Zevan, Rana malah berjalan mengikuti Dean. Dean kebingungan mengapa Rana berjalan mengikutinya dan bukan Zevan. Dean menatap Zevan yang sedari tadi memperhatikan, Zevan mengangguk mengisyaratkan agar Rana pulang bersama Zevan. Merekapun berpencar menuju ke rumah masing-masing. Tidak ada perbincangan diantara Rana dan Dean untuk pertama kalinya. Rana hanya diam dan memejamkan matanya, membuat Dean sesekali memegang tangan Rana agar gadis itu tidak terjatuh.
"Capek ya Ran? Semakin dewasa, semakin banyak masalah yang harus dihadapi" celetuk Dean memulai perbincangan. Rana menyetujui hal itu, entah mengapa tiba-tiba datang begitu banyak hal baru dalam hidupnya. Merubah hari-hari Rana tanpa persetujuannya. Entah mengapa ada kala Rana menyesali sesuatu. "Dean, apa gue salah jatuh cinta pada Zevan?" Tanya Rana dengan raut wajah sedihnya. Dean mencoba berpikir jawaban terbaik yang bisa ia sampaikan. "Kenapa semuanya terjadi setelah kenal Zevan?" Sambung Rana lagi.
Dean masih berpikir, memilih setiap kata yang akan ia sampaikan. Entah mengapa tiba-tiba semua yang Dean pikirkan menghilang, ia seakan tak memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan Rana. Rana masih menunggu jawaban Dean. Namun Dean tak kunjung memberikan jawaban, hingga saat Rana ingin kembali bertanya, mereka telah sampai didepan rumah. "Masuk gih, udah malem" perintah Dean lalu melajukan motornya masuk ke pekarangan rumah setelah menurunkan Rana. Rana menatap Dean meminta jawaban atas pertanyaannya. Bukannya jawaban, Rana malah mendapati Dean yang menggerakkan tangannya seolah mengusir Rana untuk masuk kerumah. Rana mematuhinya dan berpikir mungkin Dean sedang lelah.
Gadis itu membuka pintu, Bunda Rana terlihat tertidur disofa ruang tamu. Beliau terbangun begitu mendengar suara Rana. "Udah pulang sayang, bersih-bersih terus tidur ya." ucap Bunda Rana sembari mencium kening putrinya. Rana berjalan menuju kamarnya, ia menatap sekitar dan berbaring diatas tempat tidur. Gadis itu menatap langit-langit kamarnya, ia mulai menerka-nerka mengapa ada begitu banyak hal yang terjadi secara tiba-tiba. Mengusik kehidupan Rana yang tenang dan damai. Rana menyukai keramaian tapi tidak dengan pertikaian. Rana menyukai kedamaian tapi bukan karena memendam. Gadis itu berguling-guling diatas kasurnya dengan risau.
Terdengar suara pintu diketuk, Rana menghentikan kegiatannya dan membuka pintu kamarnya. "Papa" ucap Ranaa begitu melihat pria paruh baya berdiri dihadapannya. Papa Rana memasuki kamar putrinya, sudah sangat lama terakhir kali ia memasuki kamar Rana. Papa duduk di kursi belajar Rana, melihat tumpukan buku yang tertata rapi. Beliau tersenyum dan menyuruh Rana untuk duduk dihadapannya. Papa menatap putri kecilnya yang sudah tumbuh menjadi gadis remaja.
"Gak mau cerita ke Papa nih? Papa juga pernah muda loh, bahkan lebih ganteng dari Dean dan Zevan." ucap Papa dengan percaya diri. Rana menatap Papanya tidak percaya, jika Papanya setampan itu, apa yang akan terjadi kelak pada Dean dan Zevan saat mereka sudah tua, hahaha. Rana tidur dipangkuan Papanya malam itu, ia teringat masa kecilnya, selalu bersemangat menunggu Papa pulang setiap minggunya. Namun setelah mereka tinggal bersama lagi, Rana bahkan tidak memiliki waktu untuk sekadar berbincang ringan dengan Papa. "Maaf ya Pa, Rana sibuk dengan dunia Rana" ucap gadis itu dengan sedih.
Papa sangat memahami, anaknya sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Ini adalah saat dimana anak gadisnya itu akan sering menangis karena hal sepele dan saat dimana seorang Papa harus bisa mengawasinya dengan ketat. Papa juga pernah muda, namun ini adalah pertama kalinya beliu harus menjaga seorang remaja putri. Papa menasihati Rana dengan banyak hal. Mulai dari memilih pergaulan hingga memilih seorang pasangan. Papa tidak melarang dengan siapa anak gadisnya akan menjalin hubungan, namun ia tak ingin anak gadisnya salah memilih pergaulan.
"Rana tau, menjadi seorang wanita itu sangat sulit. Setiap perilakunya akan selalu dilihat dan dipertanyakan. Dan yang tersulit adalah menjaga dirinya sendiri. Sekali saja seorang wanita jatuh ke jalan yang salah, yang selalu orang lain ingat adalah kesalahan itu, terlepas dari sebanyak apapun kebaikan yang kamu lakukan." jelas Papa Rana dengan sangat pengertian. Rana menatap Papanya yang begitu serius menasihatinya. Membuat gadis itu menitihkan air mata untuk kesekian kalinya.
Rana bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Papa. Ia menanyakan pertanyaan yang ia tanyakan pada Dean sebelumnya. Papa mengelus rambut putrinya sayang. Mencoba menjelaskan jika semua yang terjadi bukanlah kesalahannya atau siapapun. Semua yang terjadi adalah takdirnya, sesuatu yang tidak dapat ia duga dan hindari. Dan, bagaimana bisa Rana menyalahkan perasaannya, perasaan yang tidak pernah ia ketahui kedatangannya dan perasaan yang tak pernah ia ketahui datang bersama siapa. Jatuh cinta tidak salah, mungkin hanya datang disaat yang tidak tepat.
"Seandainya seseorang bisa memilih untuk tidak jatuh cinta, Papa juga akan memilihnya sayang" sambung Papa Rana dengan senyumannya. Rana menatap Papa dengan sedih, ia mungkin mulai menyadari, ternyata rasa itu tidak bisa ia hentikan. Rasa yang tak pernah diharapkan.
Papa kembali menyuruh Rana untuk berbicara dengan Zevan keesokkan harinya. Menyuruh anak gadisnya untu meminta maaf karena menyalahkan Zevan secara tidak langsung. Ia ingin putrinya memiliki rasa tanggung jawab atas semua hal yang dilakukan. "Kalau nanti Zevan marah, itu karena kamu salah. Sudah tidur sana, besok sekolah" kalimat terakhir dari Papa sebelum pergi keluar dari kamar putrinya.