Siapa sangka bekerja di sebuah hotel akan mengantarkan kesucian yang di jaganya, Dhea harus kehilangan mahkotanya di saat seorang pria memaksanya untuk melayaninya saat mengantar minuman.
Hingga gadis itu hamil dan melahirkan anak kembar yang sangat cantik.
Arya Ghora prasida, bahkan pria itu pun tak tau siapa wanita yang sudah berhasil membuatnya puas hanya dengan satu malam, hingga rasa itu menjadi candu baginya, dan Arya tak bisa melupakannya walaupun sekejap.
Sampai lima tahun penantian yang hampa, akhirnya mereka di pertemukan kembali, meskipun tak saling mengenal, Arya merasa ada sebuah aliran listrik yang menyengat di saat ia berdekatan dengan Dhea.
apakah dunia akan mempersatukan mereka dengan hadirnya si kembar yang hebat?
ataukah Dhea memilih untuk hidup sendiri, dengan kedua putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Arya
Di salah satu ruangan rumah sakit Reina di rawat, Arya semakin tegang saat mendengarkan penjelasan sang dokter yang panjang lebar, bukan masalah kesehatan Reina, akan tetap Arya menanyakan tentang tes DNA.
''Apa dokter yakin kalau rambut saja bisa menjadi bukti yang valid?'' Masih memastikan dengan apa yang di perintahkan Dokter Hendi.
Dokter Hendi itu tersenyum.
''Bisa sekali Tuan, bahkan itu cara yang paling mudah, apa lagi darah Tuan dan darah Reina sama, itu juga sudah menguatkan bukti nantinya.''
Arya kembali menyandarkan punggungnya, saat ini ia begitu mantap untuk melanjutkan misinya yang terus menjanggal dalam hati.
Darahku dan darah Reina sama, dan sekarang tinggal satu langkah lagi untuk membuktikan semuanya.
''Baiklah, sekarang ambil rambut saya Dan Rania.''
Rania yang tertidur pulas itu sedikit menjingkat saat sang Dokter mencabut helaian rambutnya.
''Maaf, Tuan,'' mencabut rambut Arya.
Sssstttt.... Arya kembali menenangkan saat Rania terusik.
''Kapan hasilnya keluar?'' tanya Arya pelan, takut mengganggu Rania yang kembali terlelap.
''Satu minggu, Tuan.''
''Apa nggak ada yang lebih cepat?''
Andaikan bisa, Arya ingin mengatakan nggak sabar dengan hasilnya. namun itu di urungkannya.
''Itu yang paling cepat.''
''Baiklah, jangan bilang ini pada siapapun, termasuk Mamanya Rania.''
Dokter Hendi mengangguk, menyimpan sesuatu yang kini menjadi tanggung jawabnya. Karena sedikit saja sampai salah pasti akibatnya akan fatal.
Setelah selesai dengan urusannya, Arya kembali beranjak dan keluar menghampiri Jojo dan Jeki yang ada di depan pintu.
''Kalian yakin, kalau Dhea yang waktu itu masuk ke kamarku?''
''Saya yakin Tuan, kalau Nona Dhea lah yang masuk ke kamar Tuan, bahkan sedikitpun wajahnya belum berubah. Dia masih tetap cantik.''
Srring....bagaikan hunusan pedang, Arya menatap tajam ke arah Jeki yang bicara asal.
Kedua pria itu kembali menundukkan kepalanya, takut jika kena pelampiasan Arya.
''Hemmm....sekarang kalian pergi, aku nggak mau ada yang curiga dengan kedatangan kita ke sini.''berbisik.
''Dengan langkah gontainya Arya membawa Rania kembali ke kamar Reina, dan betapa terkejutnya saat Arya melihat sang mama yang ada di sana juga.
''Mama.'' serunya mendekati wanita paruh baya yang saat ini duduk di samping Restu dan Dhea.
''Ya ampun Arya, kenapa kamu nggak bilang sih kalau kamu ada di sini, ponsel juga nggak aktif, mama telepon Jojo dan Jeki juga mereka nggak angkat, dasar pengawal laknat.'' Gerutunya memaki penjaga setia Arya.
''Kasihan sekali cucu oma,'' mengelus pipi gembul Rania.
Arya membaringkan tubuh Rania di sofa dan menghampiri Nyonya Septi.
''Jangan keras keras Ma, malu.'' Melirik ke arah Dhea yang tersenyum simpul.
''Biarin saja, lagian sudah tua masih saja bandel, mana Jojo dan Jeki, biar mama pecat sekalian.'' Nyonya Septi menjewer telinga Arya, gedeg dengan kelakuannya yang tak sembuh juga.
Kali ini nyonya Septi benar benar menjatuhkan seorang Arya dengan caranya yang begitu strategis, di mana ia masih di perlakukan kayak anak kecil yang bandel, dan itu di lihat langsung oleh Restu dan Dhea serta Yesi.
''Nggak ada cara lain selain ini, Ma?''
Nyonya Septi menggeleng.
Akhirnya Arya memeluk mamanya dan mencium keningnya, ''Maafkan Arya, sudah membuat mama marah.''
Ternyata di balik kesuksesan Tuan Arya ada sang mama yang selalu mendukungnya, nggak nyangka pria segagah itu masih sangat patuh pada Ibunya.
''Saya yang harusnya minta maaf, karena putri saya Tuan Arya ada di sini.''
Dhea mencium punggung tangan Nyonya Septi.
''Sudah lah Dhe, ini anak memang seperti itu, suka bikin mamanya ini darah tinggi.'' Tukas lagi Nyonya Septi.
Arya hanya bisa diam karena itu memang kenyataannya, dan entah kenapa itu menjadi hiburan sendiri baginya.
Dhea kembali mendekat tubuh Reina yang masih berbaring tak berdaya.
''Sayang, bangunlah, banyak yang menunggumu disini,'' bisik Dhea.
Dan benar saja, tiba tiba saja tangan Reina itu bergerak pelan, Arya yang melihatnya ikut tersenyum dan lebih mendekat lagi.
Segera Restu memencet tombol darurat saat Reina mulai membuka matanya.
Dhea dan Yesi kembali menitihkan air mata, namun kali ini bukan kesedihan, melainkan kebahagiaan.
Reina mengedarkan pandangannya ke arah Dhea yang ada di sampingnya, beralih ke arah Restu sejenak, lalu ke arah Yesi dan kembali beralih ke arah Nyonya Septi, dan yang terakhir Reina menghentikan pandangannya ke arah Arya.
Mulutnya yang tadinya tertutup rapat itu kembali terbuka.
''Jangan bicara dulu ya,'' Ucap Arya menggenggam tangan mungil Reina yang masih lemah.
''Om akan di sini untuk Reina, dan Om janji tidak akan meninggalkan kamu dan Rania.''
Arya makin mendekatkan wajahnya dan mencium kening Reina, ini pertama kalinya Arya perhatian sama seorang bocah, bahkan selama masa hidupnya bisa di anggap ini pertama kali Arya mengenal sosok lembut yang di penuhi dengan kelucuan itu.
''Permisi, biar saya periksa dulu,'' Semua orang mundur, kecuali Arya, karena Reina menggenggam tangannya dengan erat.
''Nggak apa apa tuan, mungkin Reina memang ingin bersama Tuan.''
Semua hanya bisa diam, meskipun dalam hati bertanya tanya, entah apa yang di pikirkan Reina sampai tak mau jauh dari Arya.
Setelah beberapa menit memeriksa Reina, Dokter itu tersenyum lebar saat menatap Arya.
''Keadaan Reina semakin membaik, mungkin ini pengaruh dari keluarga juga yang selalu support untuk kesembuhannya.''
Kini Dhea benar benar lega, mentarinya akan kembali terbit dan menerangi dirinya.
''Terima kasih ya, Dok,'' ucap Dhea menangkupkan kedua tangannya.
''Kamu yang sabar ya Dhe, pasti semua akan baik baik saja.''
''Terima kasih nyonya, Anda sudah jenguk putri saya.''
''Dhe,'' Nyonya Septi memegang lengan Dhea dan membawanya duduk, sedangkan Arya dan Restu serta Yesi kini sibuk menghibur Reina yang baru saja membuka matanya.
''Kamu itu calon istri Restu, nggak usah panggil Nyonya, panggil saja Tante.''
Arya melirik ke arah Dhea, tak tau kenapa saat mamanya mengatakan itu hatiya tercubit, meskipun ia sudah menjadi tunangan Maya, namun hatinya masih terombang ambing.
Seandainya kamu tau kalau aku adalah orang yang merenggut keperawanan kamu, apa kamu akan marah padaku, apa kamu akan membenciku, tapi jika Reina dan Rania adalah putriku, aku akan tetap mengatakannya, bahwa akulah laki laki berengsek yang sudah menodaimu malam itu. lirih hati Arya.
''Kak,'' suara Restu membuyarkan lamunan Arya, pria itu terkejut saat Restu menepuk lengannya.
''I.. iya, ada apa ya?'' tanya Arya tergagap.
Kenapa bisa ganteng banget sih Tuan Arya, sayang sekali dia sudah punya calon istri, kalau belum, aku akan mati matian memperjuangkannya.
Bisa bisanya Yesi menatap wajah Arya dalam diam, tak peduli, yang pastinya Yesi sangat meng idolakan pria tampan itu.
''Kakak ngelamunin apa?'' tanya Restu.
Arya menggeleng, tak mungkin ia mengatakan apa yang ada di pikirannya.
''O.... m....'' Suara Reina tersendat, bocah itu nampak sekuat tenaga untuk membuka suara.
''Iya sayang, apa Reina butuh sesuatu? biar om ambilkan.'' Tanya Arya bertubi tubi.
''Mi... num...''
Secepat kilat Arya mengambilkan segelas air putih yang ada di meja tepat di belakangnya.
Dengan telatennya Arya dan Restu membantu bocah itu untuk meneguk air dengan sedotan. Dan itu tak luput dari pandangan Dhea.
''Reina cepat sembuh ya, nanti Om akan ajak jalan jalan Reina dan Rania kemanapun yang kalian mau.''
Reina hanya tersenyum tipis, wajahnya nampak berseri, meskipun masih merasakan sakit setidaknya kehadiran Arya juga menjadi obat.
Dan seandainya kamu putriku, aku tidak akan melepaskan kamu dan Rania, kalian akan hidup bersama papa.
typo ya thor,yg paling aneh di apartemen tapi denger klakson dan deru mobil 🙈
kok di klakson mobilnya naik keatas 🙈😛
terharu biru 💕
makasih Thor 🙏
cerita ny keren 👌👍
Arya vs Dhea wkwkwkwk
cocok nih Restu sama Yesi 🤔 akhirnya Restu menemui tambatan hatinya yaitu sahabatny Dhea c Yesi 🤔
terus Maya sama siapa nih 🤔