Kea membenci Sandi, karena Sandi sudah membuat masa kecilnya suram, begitupun Sandi yang membenci Kea karena Kea lemah dan selalu menjadi prioritas semua orang.
Sandi tak suka orang lemah seperti Kea, selain lemah Kea juga tampak menyedihkan dengan kekurangannya yang tak bisa mendengar. Dan ntah bagaimana rasa kebencian saat anak-anak dulu terbawa hingga mereka dewasa, Sandi senang mengganggu Kea. Tapi Kea yang sekarang adalah Kea yang kuat, egois dan juga mempunyai banyak akal busuk untuk membalas dendamnya.
lalu apa jadinya, jika dua orang yang saling membenci, egois dan penuh dendam itu terjerat oleh ikatan pernikahan yang bahkan mereka lakukan hanya untuk bisa saling menyakiti satu sama lain?
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atmosfera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S-1 Gimana nih?
Sandi menurunkan ponselnya, "Dikeluarkan" gumamnya.
"Iya, buka grup angkatan anjing, bukan cuma lo tapi gue, Deni sama beberapa anak-anak yang lain juga kenak. Gila!"
Sandi langsung membukanya dan tubuhnya terasa mati sesaat saat ia mendapati foto dirinya dan juga beberapa temannya yang sedang mabuk memegang alkohol disebuah klub. Foto ini-
adalah foto yang sama yang membuat ia dan Lusi putus waktu itu..
Jangan bilang-
Bangsat!
***
Aura mencekam meliputi seluruh anggota keluarga Sandi dan Kea, bahkan kakeknya yang waktu itu sempat pulang ke Bandung kembali lagi karena mendengar kabar kenakalannya.
Sekolah memberinya surat panggilan. Yang tidak Sandi tau sama sekali.
Ternyata foto itu mulai disebar kegrup angkatan ketika ia selesai bimbingan dengan pak Sohibi.
Plak
Sandi diam saja ketika papanya, yang notabene nya memiliki sifat bijak dan tak pernah main tangan dengannya itu menamparnya. Didepan semua orang, termasuk Kea yang kini pura-pura menunduk dirangkulan mamanya , padahal Sandi dapat melihat perempuan itu menahan senyum dibalik wajah pura-pura sedihnya.
"Uda berapa kali papa bilang, selesaikan sekolah mu dulu. Fokus sama ujian mu dulu. Fokus sama isteri mu dulu. Tinggali semua dunia sesat kamu itu San. Tinggali!" Bentak Surya lepas kendali, emosinya tak terkontrol saat ia menerima Surat panggilan sekolah.
"Kamu! Kamu tau apa akibatnya hah! Kamu dikeluarkan dari sekolah!"
"Pa, tapi-
"Tapi apa!"
"Itu foto lama pa! Dan apa-apaan sekolah ngeluarin aku buat masalah itu doang. Aku 2 bulan lagi ujian pa!" Teriak Sandi ikut frustasi, jangan bilang nilai sekolah yang selalu ia pertahankan itu hangus begitu saja. lalu apakah sekolah tak memberinya keringanan, bukan kah ia selalu menyumbangkan piala olimpiade untuk sekolahnya. Ayolah, jika ia dekeluarkan dengan tak terhormat begini, lalu apa gunanya selama ini ia berusaha berakting baik disekolah.
"Itu kamu tau 2 bulan lagi ujian." sinis Kakeknya yang tadi hanya diam.
"Pa, papa sendiri kan yang bilang kalau aku harus tamat sekolah terus kalau-
"Kalau kamu tau kamu harus tamat sekolah, kenapa kamu masih bertingkah kayak berandalan hah!" Teriak papanya.
"Itu foto lama pa!" Teriak Sandi tak kalah emosi.
"Oh, yang itu yang foto lama, terus yang ini foto kapan?" Tanya Surya menarik foto yang ada dimeja dekat mereka.
"Foto kapan ini!" Bentak Surya melemparkan beberapa foto kedepan Sandi. Sandi menunduk, ia melihat foto-foto yang berjatuhan dikakinya.
foto pertama adalah foto ketika ia balapan motor, Sandi lupa kapan, tapi yang pasti itu sebelum ia menikah dengan Kea.
foto kedua adalah foto ia yang berciuman dengan ntah siapa, Sandi Lupa. Yang Sandi ingat itu adalah kejadian hampir setengah tahun yang lalu. Ada yang tiba-tiba memberinya selamat atas kemenangannya balap motor lalu memberinya ciuman waktu itu.
Dan foto ketiga adalah foto hitam putih, tampaknya foto yang diambil dari tangkapan rekaman CCTV itu menampilkan Sandi yang merokok disamping sekolah.
"Dan, kamu pikir sekolah mana yang nerima murid berstandar kriminal kayak kamu,"
Sandi terdiam, ia menatap Kea secara terang-terangan. Bagaimana bisa perempuan itu mendapatkan foto-foto lama itu untuk menghancurkannya.
Tangan Sandi terkepal ketika ia melihat sudut bibir Kea tertarik keatas. Seolah mengejeknya.
***
"Jadi... Gimana nih serangan pertama gue?"
Sandi baru membuka pintu kamar saat suara menyebalkan perempuan berkaca mata itu menusuk telinganya.
Sandi menatap Kea, tangannya terkepal dan hanya butuh sepersekon detik kemudian tangannya sudah mencekik leher Kea.
"Bajingan"
"Eh, sstt Santai dong San, didepan masih banyak keluarga kita loh, Lo gak mau makin di salahkan kan?"
"Lo kan yang nyebar foto itu?" Desis Sandi marah.
Kea menelengkan kepalanya dengan susah payah karena cekikan Sandi dilehernya, "Kok lo tau?"
"Lo beneran cari mati ya Ke?"
"Nggak, gue loh-uhuk- cuma cari kesenangan." Kata Kea masih berusaha menantang, walaupun cekikan Sandi semakin terasa dikerongkongannya.
"Lo gak takut kalau gue balea dendem Ke?" Desis Sandi.
"Uhuk-uhuk, apa lo mampu?" Ejek Kea.
Sandi melepas cekikannya, ia lalu tersenyum remeh. "Lo pikir ngeluarin gue dari sekolah uda bisa buat lo diatas angin?"
Kea menaikkan dagunya sambil memegangi lehernya. Taka mau lagi teroihat lemah didepan Sandi.
"Sori aja nih Ke, seonggok daging kayak lo gak sebanding sama gue. " Kata Sandi penuh penekanan.
Sandi melepas kaos putihnya yang sudah kotor oleh bekas oli, melempar kemeja sekolahnya kearah Kea. Laki-laki itu terkekeh pelan ketika melihat Kea yang mengalihkan pandangan dari tubuhnya yang sudah bertelanjang dada. "Munafik banget lo jadi orang. Dijamah Yuda aja mata lo melotot. Giliran sama gue, pejemin mata."
Kea meliriknya, "Setidaknya Yuda gak iblis kayak lo" Kata Kea hendak berjalan keluar kamar. Namun suara Sandi mengintrupeksinya. "Kayaknya kalau gue sebarin fakta kalau lo ****** gue. Kira-kira lo bakal masih bisa sekolah nggak ya Ke?"
Kea mengepalkan tangannya, perempuan berkaca mata itu lalu menampar pipi Sandi dengan kuat, "Bajingan! Gue bukan ****** bangsat!"
Sandi terkekeh, "Oya? Lo bukan ****** ya? Oh" Kata Sandi tersenyum. "Yakin?" Tanya Sandi memajukan tubuhnya kearah Kea.
Kea mengerjapkan matanya, perempuan itu perlahan mundur saat Sandi mulai mengikis jarak mereka.
"S-san?"
"Hm,"
"S-San, ada keluargaku didepan." Kata Kea terbata. Ternyata dominasi Sandi belum bisa ia kalahkan. Perempuan itu masih menyimpan ketakutan tersendiri pada laki-laki didepannya ini.
"Kenapa? Gue kan cuma tanya sama Lo, lo yakin lo bukan ******?" Sandi memundurkan tubuhnya, mengambil ponselnya yang tertumpuk jaketnya yang kotor. Laki-laki itu lalu mengotak atik pinselnya sebentar sebelum menjambak rambut Kea untuk mendekat kearahnya.
"Akh" Desis Kea kaget, perempuan itu memegangi rambutnya saat sandi kian kencang menjambaknya. "Coba liat Ke, Kalau vidio ini gue sebar kesekolah. Lo apa kabar ya?" Kata Sandi menunjuk ponselnya yang menampilkan Vidio tak fokus suasana klub, rekaman itu terlalu gemerlap dan bising tapi Kea dapat melihat dengan jelas dibeberapa detik kemudian adegan yang menampilkan Ciumannya dan Sandi saat diklub dulu.
Dividio itu mereka berciuman dengan suara tawa siperekam yang tampak puas. Kea ingat saat itu ia menangis, tapi pengambilan rekamanan ini yang diambil dari Agle berbeda justru membuat Kea benar-benar seperti ****** dengan pakaian tidur. Pada kenyataannya ia menangis terisak, Tapi direkaman seolah ia menikmati ciuman itu.
"Gimana? Kaget?" Tanya Sandi. "Kaget dong kan yah. Akhirnya vidio gak guna yang diambil temen-temen gue bermanfaat juga ya." Kata Sandi memutar-mutar ponselnya.
"Berhubung, reputasi gue uda lo hancurin, jadi... Gimana kalau kita hancur bersama Ke? " Tanya Sandi saat melihat wajah kaku Kea yang ketakutan.
***
Oke, Up yes
Awalnya bingung knapa ga minta pindah rumah ato sekolah kl hubungan Sandi n Kea mengganggu mental Kea n mereka saling terluka. Kog bisa2nya ortu Kea tidak seprotektif Sandi mengurus Aiko, membiarkan semuanya terjadi di depan mata tetapi akhirnya mengerti di penjelasan Author terakhir cerita ini. Author berhasil memainkan perasaan saia. Terima kasih untuk pembelajaran hidup di cerita ini 🙏