Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Suasana di dalam ruang kerja lantai teratas kembali hening setelah kepergian Cia. Dixon berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap kosong ke luar jendela besar yang menampilkan hamparan gedung-gedung pencakar langit. Tangan kanannya bergerak perlahan, meraba lehernya sendiri, tepat di tempat bekas gigitan dan sesapan Cia yang kini mulai samar, namun efeknya masih terasa begitu nyata membakar kulitnya.
Tok, tok.
Ketukan pintu memecah lamunan Dixon. Asher melangkah masuk dengan rapi, membawa selembar map tebal berisi data personalia yang baru saja ia verifikasi langsung dari divisi sumber daya manusia.
"Tuan," panggil Asher dengan nada sopan, menghentikan langkahnya tepat dua meter di belakang Dixon. "Ini informasi mendalam mengenai saudari Valencia yang Anda minta."
Dixon tidak berbalik. Ia hanya memberikan gumaman rendah, memberi isyarat agar asisten pribadinya itu langsung membacakan intinya.
"Dari data yang saya kumpulkan, Valencia adalah karyawan yang sangat teladan selama tiga tahun terakhir di Aethelgard Group. Dia tidak pernah mengambil cuti tanpa alasan jelas, performa kerjanya selalu berada di grafik teratas, dan dia sama sekali tidak banyak tingkah," lapor Asher serius. "Berdasarkan testimoni dari rekan kerja dan manajer divisinya, Valencia dikenal sebagai gadis yang sangat ramah, sopan, dan suka membantu pegawai lain. Dia tidak pernah terlibat konflik atau politik kantor apa pun, Tuan."
Mendengar penuturan asistennya, Dixon perlahan membalikkan tubuh tegapnya. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah Asher.
"Gadis baik?" ucap Dixon lirih. Nada suaranya terdengar seperti sebuah ejekan, namun ada sejumput keraguan yang terselip di sana.
Pria itu kembali teringat bagaimana liarnya gadis itu saat menggodanya di bar, cara sensualnya meraba dadanya, hingga ciuman panas mereka yang memabukkan di kamar hotel. Predikat 'gadis baik' rasanya sangat kontradiktif dengan ingatan liar yang menari-nari di kepala Dixon sejak kemarin.
Namun, sedetik kemudian, ingatan Dixon terlempar pada untaian kalimat Cia yang diucapkan sembari menangis terisak di depan pintu jatinya beberapa saat lalu.
“Malam itu saya... saya sedang patah hati dan minum terlalu banyak di bar. Saya benar-benar mabuk berat dan tidak sadar dengan apa yang saya lakukan!”
Dixon terdiam. Alis tebalnya bertaut rapat. Pikiran logisnya yang terkenal dingin sebagai seorang pengusaha mulai menimbang-nimbang. Jika melihat rekam jejaknya sebagai karyawan teladan yang bersih tanpa cela, ditambah fakta bahwa dia tidak pernah mendekati area VIP atau mencoba mencari muka di depan jajaran direksi selama tiga tahun ini... bisa saja gadis itu tidak berbohong. Bisa saja malam itu ia murni sedang hancur karena patah hati, mabuk, dan tak sengaja menjadikan Dixon sebagai pelampiasan emosinya.
Deg.
Dada Dixon mendadak berdesir hebat saat bayangan adegan panas malam itu kembali terlintas tanpa permisi di benaknya. Mengingat bagaimana tubuh indah Cia yang polos melengkung pasrah di bawah kungkungannya, desahan sensual yang menyerukan rasa nikmat, dan yang paling krusial... momen penyatuan mereka.
“Dia...” batin Dixon, rahangnya mengeras sempurna dengan tatapan mata yang mendadak menggelap. “Akulah pria pertama yang menyentuhnya. Akulah yang mengambil keperawanan gadis itu.”
Fakta bahwa dirinya adalah orang pertama yang menodai kesucian seorang 'gadis baik' yang sedang patah hati mendadak menghantam ego Dixon dengan telak. Ada rasa kepemilikan purba yang sangat kuat, yang tiba-tiba mengikat paksa kesadaran pria 39 tahun itu pada sosok Valencia.
Dixon mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat dan gusar. Ia mengacak rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi dengan kasar. Rasa kesal yang teramat sangat seketika merayap di dadanya.
"Tuan? Apa ada instruksi lebih lanjut untuk mencari keberadaan Nona Valencia?" tanya Asher yang menyadari perubahan atmosfer dari sang atasan.
"Tidak perlu. Keluar," perintah Dixon dengan suara baritonnya yang ketat dan dingin.
"Baik, Tuan." Asher membungkuk hormat lalu bergegas keluar dari ruangan, meninggalkan sang miliarder sendirian dengan kekacauan pikirannya.
Dixon mengepalkan tangannya di atas meja marmer. Ia mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Bagaimana bisa seorang Dixon Luca Alessandro pria yang belasan tahun menutup rapat hatinya dari wanita mana pun kini justru merasa frustrasi hanya karena memikirkan seorang gadis muda yang baru saja ia pecat? Mengapa wajah ketakutan dan aroma manis tubuh Valencia seolah menjelma menjadi hantu yang terus-menerus mengejarnya tanpa ampun?
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
biar si duda karatan kelabakan