"Ikutlah dengan ku, aku akan membantumu membalaskan semua rasa sakit yang telah mereka berikan padamu!" seru Bram.
Sepuluh tahun kemudian...
Gadis kecil yang dibawa oleh Bram kerumahnya setelah menangis dan memeluk gundukan tanah, makam kedua orang tuanya itu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat menawan.
Syaheera sedang menunggangi kuda kesayangan nya dan mengarahkan anak panahnya ke sasaran bergerak yang sudah disiapkan oleh Bram.
Syut!
Suara tepuk tangan membuat Syaheera menoleh.
Prok! prok! prok!
"Good job, my little princess! kemampuanmu semakin baik!" puji Bram.
Syaheera telah di didik Bram menjadi gadis muda yang energik dan pintar.
Sesungguhnya Bram yang akan membantu Syaheera balas dendam, atau sebaliknya?
Happy reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembatalan Perjodohan
Syaheera sedang sangat mencemaskan kondisi Bastian, saat Johan mengeluarkan Bastian dari ruang interogasi tadi. Syaheera diam-diam melihatnya dan kondisi Bastian sungguh sangat mengenaskan.
Syaheera menggenggam erat tangannya sendiri, Bastian babak belur itulah yang membuat Syaheera sangat sedih.
Bastian datang ke tempat ini untuknya, artinya karena Syaheera lah Bastian sampai dalam kondisi yang seperti itu.
Karena tengah melamun, Syaheera sampai tidak menyadari kalau sedari tadi Bram sudah duduk di belakangnya dan memperhatikan semua tingkah cemasnya.
"Sudah mulai mencintai nya?" tanya Bram yang membuat Syaheera terkejut dan segera menoleh ke belakang.
"Om!" jawab Syaheera canggung.
Syaheera kembali menundukkan kepalanya, dia tahu kalau Bram tidak suka melihatnya mencemaskan Bastian.
Syaheera mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Bram perlahan.
"Aku hanya berfikir, kalau kalian terlalu berlebihan saat memukulinya." ucap Syaheera pelan.
Bram berdiri dari kursinya dan berjalan pelan mendekati Syaheera.
"Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, mereka hanya mematahkan lengan kanan nya saja!" ucap Bram dengan santai.
Syaheera membulatkan matanya.
"Lengan kanan nya patah?" tanya Syaheera cemas.
Bram duduk di samping Syaheera dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
"Tidak terlalu parah Sya! dua sampai tiga bulan dia akan sembuh seperti sediakala. Mungkin akan lebih cepat, karena dia keluarga Anggara, apa yang tidak bisa keluarga itu lakukan demi kepentingan mereka!" tegas Bram
Syaheera melihat wajah Bram yang datar saat mengatakan kalimat itu, tapi dia sangat paham dalam kata-kata Bram itu terdapat makna menyinggung yang sangat dalam.
Syaheera menyandarkan kepalanya di dada Bram. Bram yang terkejut sempat tidak bergerak beberapa detik. Lalu dia kembali membelai lembut kepala gadis yang sudah selama sepuluh tahun hidup bersamanya itu.
"Om, maafkan aku. Seharusnya aku tidak ragu lagi. Mulai sekarang aku berjanji padamu, aku akan melakukan apapun yang Om perintahkan, tanpa bertanya ataupun menolak." ucap Syaheera lembut.
Sebuah senyum terlukis di bibir Bram, dia sangat senang Syaheera kembali menjadi penurut.
Syaheera sangat nyaman berada dalam dekapan Bram. Sewaktu kecil saat dia tidak bisa tidur karena trauma pada masa lalunya, Bram selalu mendekapnya seperti ini sampai dirinya tertidur.
Sementara itu di kediaman Anggara, Aisyah masih terus menunggui Bastian yang belum juga sadarkan diri. Dokter sudah memasang gips di lengan kanan Bastian.
Aisyah sangat sedih melihat kondisi putra bungsunya itu. Tapi tiba-tiba saja dia mendengar keributan dari arah ruang tamu.
Aisyah mengelus tangan Bastian lalu membuka pintu melihat apa yang sedang terjadi.
Tuan Alexander bersama beberapa pengawalnya memaksa masuk ke kediaman Anggara. Wajahnya terlihat marah, dia juga membentak Sarah dan Angel yang kebetulan sedang berada di ruangan itu.
Beberapa penjaga rumah Anggara juga menahan pengawal Alexander agar tidak ikut masuk lebih ke dalam lagi.
"Dimana suami mu yang tidak tahu aturan itu!!" bentak Alexander yang bertanya pada Sarah.
Sarah yang memang sudah biasa menghadapi orang-orang semacam ini tidak terkejut. Suaminya itu memang suka membuat amarah orang lain, jadi mau tidak mau Sarah sudah terbiasa dengan orang-orang seperti ini.
"Tuan Alexander, suami ku sedang tidak ada di rumah. Dia ada urusan di luar! Jika anda ingin bertemu dengannya tidak bisa sekarang!" jawab Sarah dengan santai.
Alexander bertambah emosi, namun dia memilih untuk duduk saja dan menunggu tanpa bicara lagi pada Sarah.
Angel yang gemetar melihat tatapan kesal Alexander hanya bisa bersembunyi di belakang Sarah.
"Bu, kita masuk saja yuk!" bisik Angel pelan pada Sarah.
Sarah tersenyum pada Angel, dia tahu anaknya itu ketakutan tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Alexander, atau saat Burhan kembali nanti dia akan sangat marah padanya.
Sarah mengelus lembut kepala Angel.
"Masuklah ke dalam, dan suruh pelayan menyediakan suguhan untuk para tamu kita. Panggil Arthur kemari!" perintah Sarah dengan suara lembut tapi tetap dengan tegas.
Angel pun berjalan dengan cepat ke kamar Arthur, dia membuka pintu ketika Arthur sedang tidur.
Angel mendekati kakaknya itu dan menggoyangkan lengan Arthur.
"Astaga, pantas saja dia tidak mendengar keributan di luar!" gumam Angel lalu melepaskan headset dari telinga Arthur.
Merasa terusik, Arthur mendengus kesal.
"Pastikan urusan mu penting, mengganggu saja!" pekik Arthur sambil mengusap wajahnya lalu memposisikan dirinya duduk.
"Kakak, di ruang tamu ada tuan Alexander, dia bicara sangat kasar pada ibu. Cepat temani ibu, aku takut!" ucap Angel dengan cepat.
Arthur kembali berdecak kesal.
"Aku pusing dengan urusan para orang tua ini, mengesalkan sekali!" gerutu Arthur yang langsung berdiri dan berjalan ke luar kamarnya.
Para pelayan datang membawakan makanan dan minuman lalu meletakkan nya di atas meja.
"Silahkan, tuan Alexander!" tawar Sarah dengan sopan.
Alexander tidak menghiraukan Sarah, dari jauh Arthur yang melihat ibunya di acuhkan hanya berdecak kesal lalu mendekati sang ibu.
"Ada apalagi ini Bu?" tanya Arthur santai.
Sarah tersenyum dan menggeleng pelan. Dia sendiri pun tidak tahu alasan Alexander marah.
Di rumah Bram.
Bram menggendong Syaheera ke tempat tidur nya. Setelah beberapa menit berada dalam dekapan Bram. Syaheera pun tertidur.
Bram memakaikan selimut sebatas perut Syaheera.
Lalu membelai lembut kepala Syaheera, Bram memandangi wajah cantik gadis kesayangannya itu.
Jantung nya tiba-tiba berdetak dengan cepat, dia segera memalingkan wajahnya dan pergi dari kamar Syaheera.
Bram kembali berjalan menuju ke ruang kerjanya. Johan yang sejak tadi menunggu Bram pun segera melaporkan apa yang sudah terjadi pada keluarga Anggara pada Bram.
"Katakan!" seru Bram yang langsung duduk di kursi kebesaran nya dan mengangkat sebelah kakinya dan bersandar pada sandaran kursi itu.
"Seperti yang anda perkirakan tuan, setelah mengetahui siapa nona Syaheera sebenarnya, Burhan Anggara segera membatalkan perjodohan antara Bastian dan putri tuan Alexander yang bernama Sharen, menurut orang kepercayaan kita yang berada di kediaman Anggara, saat ini tuan Alexander sedang membuat keributan disana dan membawa banyak sekali pengawal." jelas Johan.
Bram tersenyum penuh kemenangan.
"Benar-benar licik kan Jo, Burhan Anggara memang benar-benar licik, dia bahkan tidak bisa memegang ucapannya sendiri. Bagus! kita akan lihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya." ucap Bram penuh misteri.
"Tuan benar, setelah Burhan tahu nona adalah calon nyonya Andrew, dia segera memerintahkan beberapa orang untuk mengakses data diri nona, tapi mereka tidak tahu kalau kita sudah lebih dulu merubahnya!" sahut Johan.
"Sekarang, semua rencana ini tergantung pada Syaheera.." ucap Bram sedikit melemahkan intonasi nya.
Johan bisa melihat bahwa sebenarnya tuannya ini sangat mencemaskan Syaheera, hanya saja dia selalu berusaha mengingkari perasaan nya sendiri.