Musim ke tiga sequel dari
Omku Suamiku season 1 dan 2
Disarankan membaca
Omku Suamiku season 1 revisi
Omku Suamiku season 2
Julie, terjebak dalam perjanjian dengan tiga orang pemuda Bara, Neo dan Alan karena iklan tipu tipu.
Jadi pembatu ketiganya karena kontrak yang sudah terlanjur disetujui tanpa melihat isi kontrak kerja yang sudah ditandatangani.
Bagaimana Julie menjalani hari hari menghadapi Bara yang dingin dan jutek, Neo yang gak jelas kadang baik kadang lebih jutek dari kembarannya dan Alan yang hobi ngegombal.
Khas playboy cap badak bercula ?
Dan Alana, adik perempuan Alan yang baru berusia enam belas tahun, akan menikahi gurunya sendiri karena rasa dan permintaan sang Opa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Surat Perjanjian
Julie menatap Alan yang sudah tersenyum manis padanya di atas sepeda motornya.
" Bang, kan lagi sibuk nyusun ? Kenapa harus menjemput aku ? Aku bisa pulang sendiri "
Kakinya melangkah mendekati ke arah Alan yang posisinya masih belum berubah.
" Kan Abang tadi sudah bilang kalau mau menjemputmu, ayo naik ! "
Alan menyerahkan helm pada Julie.
" Bang, jangan tebar pesona padaku, aku tidak mau jadi korban berikutnya "
Julie menjatuhkan bobotnya di boncengan belakang.
Alan terkekeh.
" Kamu gak bakalan jadi korban, karena kamu akan menjadi pelabuhan hati Abang "
Alan nyengir lalu tertawa, dia lucu sendiri dengan gombalannya.
" Jangan ngegombal deh, aku jadi rindu nih sama bapak "
Bibir Julie sudah mengerucut ke depan.
" Iya iya, eh, nanti kamu mau masak apa ? "
Alan menatap wajah Julie lewat kaca spion.
" Abang, Bang Neo dan Bang Bara, mau dimasakin apa ? "
" Apa saja yang kamu bisa dan tidak memberatkan, kamu kan pastinya capek juga "
Alan mulai melajukan sepeda motornya menuju ke tempat tinggal mereka.
" Juliette, apakah kamu merasa tertekan atau merasa ...."
Alan merasa tidak enak hati untuk mengatakannya
Terlihat kepala Julie menggeleng.
" Enggak bang, kalian semua baik dan tidak pernah merendahkan aku, aku seperti punya kakak laki laki yang banyak, di tambah lagi dengan kehadiran bang Reino "
Apakah Juliette menyukai Om Reino ? Ah, sepertinya tidak mungkin.
...*****...
" Kau kenapa ? Setelah memesan cincin dengan calon tunangan-mu, kau lebih banyak melamun ? Berpikir tentang skripsi atau tentang gadis itu "
Neo yang diam menatap layar monitor komputer lipatnya hanya melirik sekilas pada kembarannya yang nyelonong begitu saja masuk ke dalam kamar.
" Kalau aku menolak bertunangan dengannya, apakah Papa akan marah ? "
Bara menautkan kedua alisnya hingga menyatu.
" Dia sudah punya kekasih ? Dia menolakmu ? Ckckck... Kasihan sekali nasibmu, berarti pria yang menjadi kekasihnya jauh lebih tampan dari dirimu, aku kira kau sudah cukup tampan "
Neo melengos.
" Wajah kita sama Bar, kalau aku jelek, kau juga jelek "
" Kau bicara pada Mama, biar Mama yang akan mengatakannya pada Papa "
" Sepertinya begitu, aku akan menghubungi Kania atau Laura, suruh mereka menjemput kemari kalau pulang dari kampus "
" Hei, kau jangan bodoh, kau ingin mereka tahu kalau di rumah ini ada Julie ? "
" ckk "
Neo menepuk jidatnya.
" Iya iya, aku akan pulang sendiri "
Sejak beberapa hari lalu sepulang dari memesan cincin dengan Alika, Neo sama sekali tidak berusaha menjalin hubungan komunikasi dengan Alika, begitu juga dengan Alika.
Neo merasa seperti pecundang jika terus melanjutkan perjodohan itu.
" Jangan seperti anak kecil yang mengadu kepada orang tua "
Sela Alan yang juga ikut nimbrung.
" Memangnya jika kau yang berada di dalam posisi ku, apakah kau masih mau melanjutkan perjodohan itu ? Ada orang lain dalam hatinya "
Neo berdecak.
" Apa Om kira, jika Om mencari perempuan lain, bisa menjamin kalau dihatinya tidak ada orang lain ? C'mon, berpikirlah realistis, sebelum janur kuning melengkung ada di depan rumahnya, yang namanya persaingan masih berlaku.
Turuti saja apa mau orang tua, jangan gunakan perasaan, siapa yang bertahan dan siapa yang kalah, lihat ! Siapa yang akan jatuh cinta duluan "
Alan menyilangkan kedua lengannya di depan dada, mengamati Bara dan Neo secara bergantian.
" Seperti diriku, Om Reino juga menantang aku untuk mendapatkan Julie, aku tidak tahu dan tidak mau tahu apakah Om Rei serius, yang perlu kita tahu, jika Opa Adam memberikan waktu singkat padanya untuk segera membawa calon istri, atau akan berakhir sama seperti Om Neo, dijodohkan, miris bukan ?
Makanya coba dari awal kita sudah ancang ancang mencari wanita yang cocok untuk kita perkenalkan pada keluarga "
" Kau jangan terlalu percaya diri, kau kira Julie sudah pasti akan menerima mu ? "
Bara mencibirkan bibirnya.
" Setidaknya aku sudah berusaha "
Ketiganya sama sama diam, larut dalam pikirannya masing masing.
" Kalian yakin Om Rei belum punya kekasih ? "
Bara dan Neo kompak menggelengkan kepalanya.
" Apa aku harus kerumah orang tua Julie untuk memintanya secara langsung ? "
" Tunggulah sampai kau di wisuda, kalau dia jodohmu, dia akan menjadi milikmu, kenapa kau terburu buru ? "
Ujar Bara berlalu dari kamar Neo, lalu Alan mengikutinya dari belakang.
...*****...
Reino menatap rumah yang ada di hadapannya, ia kembali memeriksa google maps, untuk memastikan lokasi yang tadi diterimanya.
Benar, tapi kenapa seperti tidak asing dengan daerah sini ya ?
Karena ragu, Reino membuat panggilan.
[ Apakah ini benar alamat rumahmu ? Bisa kamu keluar sebentar, aku sudah di depan rumah ]
Tanpa menunggu jawaban dari gadis yang diteleponnya, Reino menutup panggilan.
Gadis yang di teleponnya tadi keluar dari pintu rumah yang ada di depannya.
" Anda sudah datang ? Silahkan masuk ! "
Sapanya sembari membuka pintu pagar.
" Namaku Reino, panggil sesukamu, tapi jangan ber anda anda, kesannya terlalu formal "
" Pak ? "
Gadis itu meringis.
" Apa aku kelihatan terlalu tua ? "
Reino mengikat kebelakang rambutnya yang gondrong dengan pengikat yang ada dipergelangan tangan kirinya.
Kedua orang tuanya sudah acap kali menyuruh Reino memotong rambut dan berpenampilan rapi, tapi Reino beralasan jika itu seni. Dan yang membuat Reino bertahan dengan terus memanjangkan rambutnya, Malika menyukainya.
" Om ! "
" Apakah aku terlihat seperti Om Om yang sedang mencari mangsa ? "
Ckk, dia ini maunya apa sih ?
Gadis itu menarik napas panjang, lalu menghembuskan secara perlahan.
" Baiklah bang Rei-No, silahkan masuk ! Aku tadi sudah menceritakan secara garis besarnya pada Papa dan Mama "
Ucapnya sedikit jengkel melangkah lebih dulu ke dalam rumah.
Reino tertawa tanpa suara.
" Bisa menjamin jika anda tidak akan mengekspose bagian bagian tubuh Kayla yang khalayak umum tidak boleh melihatnya ? "
Pertanyaan yang sudah Reino perkirakan setelah penjelasan Reino yang panjang lebar tadi.
" Saya jamin Om, Tante atau adiknya bisa menemani sepanjang syuting iklan berlangsung "
" Apa jaminannya jika anda ingkar janji ? "
Reino menatap kearah pria yang usianya hampir sama dengan Papa Adam dengan serius.
" Terserah Om, apa maunya, saya akan menurutinya "
" Yakin ? "
Pria yang menjadi Papa dari Kayla mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap tepat pada manik mata Reino.
" Yakin Om "
" Oke, kita buat perjanjian selain kontrak dari perusahaan tempat anda bekerja "
Diam diam Reino menghembuskan napas lega, walaupun sejujurnya ada kekuatiran tersendiri di hatinya.
" Ay, ambilkan surat perjanjian yang sudah Papa buat di atas meja ! "
Perintahnya pada adik perempuan Kayla.
Reino menatap secara bergantian lembaran kertas perjanjian yang sudah dibacanya dengan teliti pada wajah pria yang terus menatapnya, lalu beralih ke wajah Kayla yang sedikit bingung.
Reino kembali menatap wajah Kayla lekat lekat, lalu ditandatanganinya surat perjanjian itu tanpa ragu.
Pria matang itu cepat mengambil surat yang sudah Reino tanda tangani, lalu memegangnya dengan erat, seakan surat itu barang yang sangat berharga.
" Isinya apa ? "
Bisik Kayla pada Ayesha - adiknya yang hanya berselisih dua tahun dengan dirinya.
Ayesha menggeleng.
" Aku takut membacanya, kau tahu Papa paling tidak suka kita ikut campur urusan orang tua "
Kayla Kembali menatap Reino, Reino hanya tersenyum tipis.
Ketika Kayla mengantarkan pulang, Kayla memberanikan diri untuk bertanya, jawaban Reino lebih mengecewakan karena Reino hanya mengangkat kedua bahunya.
...******...
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...