Arum memutuskan berhijrah, hidup dengan syari'at agamanya. Namun bukan hijrah namanya bila tanpa rintangan, suami yang dicintainya pergi untuk selamanya, berjuang keras menghidupi anaknya. Dan suatu ketika dia dikhitbah untuk menjadi madu. Bagaimakah ceritanya? Sanggupkah Arum menjadi madu?
Ini hanya fiksi ya, tidak ada kaitannya dengan cerita hidup siapapun. Happy reading 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat berhijrah
Pukul empat sore, Arum menyiapkan makanan dan kue serta minuman untuk tamu yang akan segera datang. Sedangkan Ammar, Salman, dan Rayhan membersihkan rumah dan halaman, Hanna bersama Omanya menyirami tanaman.
Setelah selesai bersih-bersih Ammar menyuruh anak-anak mandi karena tamunya segera datang. Begitu juga Arum yang sudah selesai menyiapkan hidangan, segera menuju kamar Ammar.
Arum bersandar di tepi tempat tidur menunggu Ammar yang masih di kamar mandi, saking lelahnya dia pun ketiduran. Ammar yang selesai mandi, keluar kamar mandi dan melihat Arum ketiduran. Sebenarnya dia tidak tega mau membangunkan Arum, tapi tamunya sebentar lagi datang, akan terasa aneh jika Arum tidak muncul. Dengan berat hati ia bangunkan Arum dengan perlahan.
"Dik, bangun Dik," kata Ammar sambil menggoyangkan lengan Arum. Arum pun perlahan membuka matanya.
"Mas, maaf aku ketiduran,"kata Arum sambil menutup mulutnya yang sedang menguap.
"Iya, kamu pasti capek, kalau gitu nanti malam kita tidur di sini ya," ucap Ammar sambil membelai rambut Arum.
"Iya Mas, aku nurut aja," kata Arum yang masih mengantuk.
"Kamu mandi dulu ya, jangan banyak-banyak pakai sabunnya, nanti jadi wangi, gak rela wangimu tercium sama Hendra dan Benny, wangimu khusus buat Mas aja," goda Ammar. Arum hanya tersenyum sambil berjalan gontai ke kamar mandi. Dia merasa sangat ngantuk dan capek, mandi air dingin mungkin menyegarkan.
Dan benar saja, selesai mandi Arum keluar kamar mandi. Dia terlihat segar dan tidak terlihat ngantuk sama sekali. Selesai Arum berpakaian dan mengenakan Khimar juga niqab, Ammar masuk kamar.
"Dik, sudah selesai?" tanya Ammar masih di dekat pintu.
"Sudah Mas," jawab Arum.
"Yuk keluar, mereka sudah datang," kata Ammar meraih tangan Arum. Sampai di ruang tengah Arum melihat ada dua wanita bercadar juga, mungkin itu istri teman-temannya Ammar.
"Ini ada istrinya Benny sama Hendra, mungkin kalian sudah kenal di tempat kajian, aku ke depan ya, kalian santai saja boleh niqabnya dibuka, kami yang laki-laki duduk di ruang tamu saja, nanti kalau kami mau masuk aku panggil kamu dulu Dik," kata Ammar menjelaskan.
"Baik Mas," kata Arum mengiyakan, dan dia segera bergabung dengan wanita-wanita itu di ruang tengah. Sedangkan Ammar pergi ke ruang tamu menemui Hendra dan Benny.
"Ini Mbak Arum?" tanya Asfi yang menggendong bayinya, dia istri Hendra, dia juga teman kajiannya. Begitu pula Naura istrinya Benny yang duduk dengan putrinya Aisyah yang seusia Hanna, mereka bertiga sebenarnya sudah saling kenal, tapi Arum baru tahu kalau suami mereka sudah sahabatan dari dulu.
"Iya ini aku, udah lama ya kita gak ketemu, aku lama sekali gak datang ke kajian," kata Arum yang senang melihat mereka.
"Iya Mba, pas Pak Ammar menikah itu, kita gak tahu menikahnya sama Mba," kata Naura menjelaskan.
"Oh gitu, eh sebentar ya, aku ambilkan minum dulu," kata Arum pamit ke dapur mengambil makanan dan kue juga salad untuk disajikan.
"Mas Salman, Kakak Rayhan, Umma minta tolong bawakan minuman ke depan ya, kasihkan Abi, biar Abi yang menyajikan, kalau sudah kue sama salad ini di bawa ke depan juga ya," pinta Arum kepada dua jagoannya.
"Iya Umma," mereka berdua kompak menjawab dan melaksanakan apa yang diminta Ummanya.
Di ruang depan Ammar dan kedua temannya asyik mengobrol, walau hampir tiap hari bertemu di kantor tetap ada saja yang jadi topik pembicaraan mereka.
Sedangkan di ruang tengah Mama Ammar juga berbincang dengan Asfi dan Naura. Hanya Arum yang sibuk menghidangkan makanan. Arum menyiapkan dua tempat makan, yang satu di meja makan dekat ruang tengah, untuk Ammar dan para lelaki, yang satu di dapur untuk para wanita, kerena bagaimanapun juga tidak akan nyaman makan bersama lelaki yang bukan mahram.
Tak terasa adzan Maghrib berkumandang, para lelaki pergi sholat berjamaah ke masjid. Sedangkan para wanita sholat berjamaah juga di lantai atas, Arum yang mereka tunjuk sebagai imam, berdiri di tengah shaf mereka.
Selesai sholat mereka segera turun ke bawah. Arum mengecek kembali kedua meja makan untuk memastikan semua masakan tersaji dengan baik. Setelah itu dia mengajak para wanita masuk ke dapur dan menutup pintunya.
"Ayo Asfi, Naura, yuk dimakan, gak tau ini Arum masak apa, gak tau juga rasanya gimana," ajak Mama Ammar.
"Oh iya Ma, ini yang masak semua mbak Arum?" tanya Asfi, terheran melihat dapurnya sudah bersih padahal tadi baru dipakai untuk masak besar.
"Iya, kalian makan duluan ya, sini baby Z aku yang gendong, tak ajak ke kamar ya," kata Arum sambil mengambil baby Zivanna dari gendongan Asfi.
"Makan yang banyak biar asinya lancar," kata Arum sambil membawa baby Z ke kamar. Di dalam kamar, Arum bermain dengan bayi perempuan itu, dia sebenarnya sangat ingin punya bayi lagi.
Ammar, Hendra, dan Benny juga anak-anak sudah datang dari masjid, Ammar melihat rumah sepi, namun ada suara-suara di dapur, dan mengerti bahwa para wanita sedang makan di dapur.
"Langsung makan yuk," Ammar mengajak Hendra dan Benny ke ruang tengah bersama anak-anak. Sebelum memasuki ruang tengah, tangan Hendra menarik lengan Ammar menghentikannya.
"Eh, bukannya Ummahat tadi di sini?" tanya Hendra sambil menunjukkan jarinya ke ruang tengah.
"Sudah pindah," jawab Ammar.
"Kemana?" tanya Benny ikut penasaran.
"Tuh, ke dapur," jawab Ammar sambil menengok wajahnya ke dapur yang tertutup pintunya itu.
"Ohh," Hendra dan Benny hanya ber ohh ria.
Mereka segera menuju meja makan dan duduk disana dengan nyaman, menikmati makan malam yang telah disiapkan Arum.
Mereka bertiga bersahabat sejak kuliah, kemudian selepas kuliah mengikuti tes CPNS dan Alhamdulillah diterima semua dan ditempatkan di dinas yang sama. Begitupun mereka berhijrah bersama-sama juga, berjuang bersama di jalan Allah.
Di dapur, Mama Ammar mengajak Asfi dan Naura mengobrol. Pikirnya pumpung Arum tidak ada, dia akan menelisik bagaimana jati diri Arum sebenarnya.
"Kalian sudah lama kenal Arum?" tanya Mama mula-mula.
"Mungkin baru tiga atau empat tahunan Bu," jawab Asfi sambil menyantap makan malamnya.
"Iya, kami ada tiga kajian bersama, tapi semenjak suaminya yang dahulu meninggal, mbak Arum jarang datang ke kajian," sambung Naura, sambil menambah lauk dalam piringnya.
"Malah, waktu masa iddahnya Mbak Arum benar-benar menjaga dirinya maa syaa Allah, tidak keluar rumah sama sekali, Rayhan ke sekolah diantar jemput bareng temannya,"Asfi menambahkan.
"Kalau di tempat kajian gimana?" tanya Mama lagi.
"Kami ada tiga kajian rutin bareng sih, bahasa Arab, tahsin (membaca Alquran), dan kajian fikih nisa (fikih untuk wanita), selama itu Mbak Arum baik orangnya seperti teman-teman kajian kami yang lain," Naura menjelaskan.
"Iya Bu, yang jelas selama kami berteman, in syaa Allah Mbak Arum itu Ndak pernah yang namanya nyebelin," tukas Asfi sambil tertawa.
*****?
jangan lupa mampir ya ukh di karyaku juga ya, dan beri dukungan. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman/Smile/
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bisa berbagi....
sukses
semangat
mksh
mantap