NovelToon NovelToon
Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:6.2M
Nilai: 4.5
Nama Author: Leny Fairuz

Dalam Sekuel kedua mengisahkan tentang lika-liku kehidupan Khaira Althafunnisa putri Hani dan Faiq dalam menemukan cinta sejati. Khaira telah menetapkan hatinya pada Abbas, seorang lelaki sederhana yang telah menggenggam hatinya sejak awal. Dengan kepergian Abbas meyakinkan Khaira bahwa mereka akan sehidup sesurga, hingga ia menutup hatinya untuk siapa pun yang mencoba mendekati dan meminangnya. Alexsander Ivandra seorang Ceo New Star Corp., tidak percaya yang namanya cinta sejati. Setelah diselingkuhi Sandra, kekasihnya yang seorang artis juga model termahal yang merupakan artis dibawah naungan manajemen artis miliknya, sulit bagi Ivan untuk mempercayai seorang wanita, hingga akhirnya pertemuan pertama hingga kesekian kali dengan Khaira membuat Ivan merasakan ada yang berbeda. Mampukah Ivan menaklukkan hati Khaira yang terlanjur membeku untuk memulai hubungan baru dengan seorang pria. Bagaimana cara Ivan untuk membuktikan bahwa perasaannya benar-benar tulus, bukan sekedar cinta biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Di restoran ternama sebuah mall besar, siang itu Adi bersama Gilang serta Johan sedang membicarakan bisnis mereka dengan rekanan Gilang yang berasal dari Belanda di sebuah private room. Setelah pembicaraan selesai dilanjutkan  dengan makan siang.

Gilang berbisik pada Adi, “Kamu tau club terbaik di kota ini? Mr. Van Delken ingin main ke sana. Dia hoby bersenang-senang.”

Adi memandang bule di hadapannya, “Apa anda ingin menikmati malam ini di club, Mr. Delken?”

“Yah, aku ingin menikmati hiburan malam selama disini. Tapi kalau urusan kita sudah selesai.” ujar  Andrew  dengan santai.

Johan hanya diam mendengar pembicaraan mereka. Selama ini ia belum pernah membawa tamu bossnya main ke club.

“Ku dengar Club 36 cukup menarik untuk dikunjungi.” Gilang berbicara dengan santai. “Bagaimana Tama, apa kamu pernah main ke sana?”

Adi menggelengkan kepalanya, “Aku tidak ada waktu untuk main ke club.”

“Wah, anda termasuk konservatif.” Mr. Delken tersenyum miring. “Apakah istrimu tergolong possesif, sehingga tidak membiarkan suaminya mencari hiburan di club?”

Gilang menajamkan pendengarannya, ingin mengetahui bagaimana kehidupan rumah tangga Aditama dan Helen sang mantan.

Aditama tersenyum tipis, “Kesibukan membuatku selalu malam pulang ke rumah. Badan sudah terlalu penat.”

“Ok, nanti aku yang traktir kita ke sana. Sudah lama aku tidak merasakan gemerlap hiburan malam. Menurut info temanku, disana banyak wanita cantik.” Mr. Delken minta Adi dan Gilang ikut menemaninya ke Club. “Waktunya ku atur …”

Saat hendak keluar dari restoran mewah itu, mereka berpapasan dengan Marisa  dan rombongan, sedangkan Faiq masih di mobil bersama si kembar. Hasya yang super aktif langsung berlari kecil, membuat Hani kelimpungan mengikutinya.

Pandangan  Adi terpaku pada sesosok bocah perempuan yang berlari lincah tanpa mempedulikan bahaya di sekelilingnya. Dengan cepat Adi menangkap Hasya yang hampir tergelincir di lantai marmer restoran tersebut.

“Telima kacih, om.” Suara kenes Hasya mengejutkan Adi.

Dadanya langsung bergemuruh cepat, ini kali pertama ia bersentuhan dengan darah dagingnya yang tidak ia akui keberadaannya.

“Maafkan putri saya,” Hani langsung meraih Hasya dari rengkuhan Adi.

“Mbak Hani…” Johan menyapanya dengan sopan, yang dibalas Hani dengan senyuman sambil menganggukkan kepala.

Gilang memandang bocah perempuan yang berada di depannya dengan raut heran. Ia bergantian memandang Adi dan Hasya.

Faiq yang baru muncul terkejut melihat Hasya dan Hani dikelilingi empat orang lelaki dewasa. Ia mengerutkan jidat saat melihat Adi diantara keempat lelaki itu.

“Maafkan aku, nggak bisa menahan adek, larinya kenceng banget.” Hani memandang Faiq dengan raut khawatir.

Faiq tersenyum tipis ia pun melihat kejadian itu, “Terima kasih atas bantuan anda, tuan Aditama. Dedek ini emang nggak bisa diam.” Faiq langsung menggendong Hasya.

“Apa kalian saling mengenal?” Gilang jadi kepo melihat suasana yang tampak tegang.

“Ya. Tuan Adi adalah salah satu klien papa saya.” jawab Faiq santai.

“Papa, ayo ke sana. Oma udah nungguin dari tadi.” Ariq dan Ali muncul bersamaan di hadapan mereka.

“Wah, ganteng-ganteng sekali bocah ini.” Gilang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.” Tatapannya beralih pada Hani yang terdiam sejak tadi.

“Maafkan kami, karena mengganggu kegiatan anda. Kami permisi.” Faiq langsung menggandeng tangan Hani memisahkan diri dari mereka. Ia tak ingin  Hani menjadi obyek fantasi liar para lelaki di sana. Ia menyadari beberapa pasang mata tak berkedip menatap Hani.

Adi tidak mengalihkan pandangan dari kelima sosok yang berjalan semakin jauh. Rasa perih terasa menggores di sudut hatinya. Ia melihat sendiri bagaimana perlakuan tulus dan kasih sayang Faiq terhadap anak dan mantan istrinya, yang tak pernah ia lakukan selama mereka masih bersama.

“Walaupun janda tapi sangat menarik. Tatap matanya melumpuhkan iman.” Gilang mulai mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. “Kelihatan masih muda juga sih, paling belum tiga puluhan.”

“Yah, umurnya hampir 29 tahun.” Adi berkata lirih. Ia mengingat perbedaan umur antara ia dan Hani. Pernikahan karena perjodohan, tapi kini telah berakhir karena kebodohannya.

Gilang melongo mendengar perkataan Adi, “Apa kau mengenalnya? Aku jadi curiga…”

“Benar. Dia mantan istriku.” Adi menjawab dengan lugas, wajahnya menyiratkan kesedihan yang teramat dalam.

“Astaga!” Gilang terkejut. “Apa yang terjadi?” keduanya berjalan agak pelan khawatir perbincangan mereka didengar Andrew yang masih asyik berbincang dengan Johan,

“Inilah kesalahan terbesar yang kulakukan seumur hidupku.” Adi berkat dengan lugas.

Gilang memandang Adi dengan raut bingung, “Bukankah kamu sudah memiliki Helen, atau jangan-jangan…?”

“Ceritanya sangat rumit. Aku tak berdaya dengan keadaan yang telah terjadi.” Adi mengusap wajahnya dengan kasar. “Ketiga putra putriku tidak mengenaliku…”

Otak Gilang bekerja cepat. Ia paham sekarang. Ketiga bocah yang menggemaskan itu adalah darah daging Adi.

Pikirannya melayang pada Helen, “Apakah Helen yang menyebabkan perpisahan mereka?” batin Gilang penuh tanya. Ia tak berani bertanya pada Adi.

Akhirnya Gilang mulai memikirkan sesuatu. Ia harus bertemu dengan Helen. Ada permasalahan yang belum terselesaikan antara ia dan Helen. Tapi ia ragu untuk meminta nomornya pada Adi, karena ia tak ingin menimbulkan kecurigaan pada temannya itu.

Siang itu di sebuah restoran terkenal tampak Helen sedang duduk berdua dengan Gilang. Ia benar-benar kesal, karena harus bertemu dengan orang yang berusaha ia hindari seumur hidupnya.

“Darimana kamu mendapat nomor ponselku?” Helen berkata dengan gusar. Ia merasa kesal sekali saat bangun tidur sudah mendapat chat dari Gilang yang mengajak ketemuan. Bukan hanya chat biasa tapi penuh ancaman. Jika Helen tidak menemuinya, maka Gilang akan menceritakan hubungan masa lalu mereka pada Adi.

“Rosi teman sosialitamu itu adalah sepupuku. Jadi nggak sulit untuk dapetin nomormu.” Jawab Gilang santai.

“Cih, apa yang ingin kau katakan? Kau pikir aku takut dengan ancamanmu?” Helen menatap Gilang dengan pandangan sinis.

Gilang menatap Helen dengan lekat. Ia mengingat kembali kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan terhadap perempuan dewasa di depannya itu. Walaupun umur Helen sudah tidak muda, tetapi pesonanya masih terlihat jelas, dan Gilang menikmati wajah mahkluk ciptaan Allah di depannya sambil menghela nafas berat.

“Apa yang ingin kau katakan? Aku tidak bisa berlama-lama keluar rumah.” Nada suara Helen terdengar ketus.

“Aku hanya ingin minta maaf atas kesalahanku di masa lalu…” Gilang berkata dengan sungguh-sungguh.

“Cih, kau pikir aku akan dengan mudah memaafkanmu.” Helen membalas tatapan Gilang dengan mata memerah menahan rasa sakit dan amarah.

“Aku tau, kehidupanmu sekarang sangat nyaman. Seharusnya kita saling memaafkan atas segala kesalahan, dan hidup dengan damai.”

Helen tertawa sinis, “Yah, kehidupanku sekarang lebih baik. Adi begitu memanjakanku dan menjadikanku ratu satu-satunya dalam kehidupannya.”

Gilang hanya terdiam mendengar perkataan Helen. Namun pertemuannya dengan mantan dan anak-anak Adi tiba-tiba mengganggu pikirannya, “Apakah kamu yang menyebabkan Tama berpisah dengan istri dan anak-anaknya?”

Helen terkejut mendengar pertanyaan Gilang yang diluar ekspektasinya. Senyum yang tadi tergambar di wajahnya tiba-tiba hilang. “Dari mana kau mengetahuinya? Dan kurasa aku tak perlu menjawabnya. Itu nggak ada hubungan denganmu.”

Gilang tersenyum tipis, “Kau tidak perlu bertanya dari mana info ini kudapatkan. Aku hanya kasian melihat Tama, tampaknya ia tertekan. Ku lihat tidak ada sorot kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.”

“Kau tidak perlu mengurus kehidupan rumah tangga kami.” Helen merasa terganggu atas ucapan Gilang. Memang tanpa sadar di hati kecilnya mengakui. Dua tahun belakangan ini kehidupan pernikahan mereka terasa hambar, tidak seperti di awal kedekatan mereka yang sangat hangat dan penuh gairah, hingga akhirnya Adi menikahinya karena ia hamil.

Gilang meraih tangan Helen dan membelainya dengan lembut. “Aku tidak menyangka kamu tega berbuat seperti itu. Dan aku yakin semua ini karena kesalahanku di masa lalu.”

Helen menarik tangannya dengan kesal, “Aku sangat membencimu. Dan akan selalu membencimu seumur hidupku. Jadi jangan salahkan aku atas apa yang ku perbuat. Aku hanya ingin  bahagia.”

“Tapi kau berdosa, karena telah memutuskan ikatan seorang anak dan ayah.” Gilang memandang Helen dengan prihatin, “Sadarlah Helen, jangan karena membenciku, kamu menjadi manusia yang tidak punya hati.” Gilang kembali menarik tangan Helen yang tampak bergetar di atas meja sambil menggenggam gelas.

“Jadi ini yang kamu lakukan di belakang suamimu?” Suara perempuan mengejutkan keduanya.

Helen menoleh sumber suara. Tampak Linda berdiri dengan angkuh dan penuh kemarahan, apalagi ia melihat tangan menantunya itu berada dalam genggaman Gilang yang merupakan teman dekat anaknya.

“Tante, maafkan saya.” Gilang segera melepaskan tangan Helen dan berdiri mendekati Linda, “Semunya tidak seperti yang tante bayangkan. Saya dan Helen bertemu disini karena kebetulan.”

“Hah! Rupanya nasib baik aku janjian di sini dengan temanku, sehingga melihat perbuatan kalian berdua yang telah bermain api tanpa sepengetahuan Adi.” Linda mulai melangkah penuh amarah. “Lihat saja, apa yang akan ku katakan padanya nanti.”

“Mama …” Helen merasa ketakutan mendengar perkataan Linda.  Tanpa sadar ia berlari berusaha mengejar Linda, tanpa memikirkan kondisinya yang sedang hamil 3 bulan.

“Brak…” tanpa sengaja Helen menabrak pelayan yang sedang membawa lori penuh makanan, hingga menyebabkan ia hilang keseimbangan dan…

“Argh…” Helen jatuh tersungkur. Ia mengerang kesakitan. Matanya terbelalak melihat darah kental yang mulai mengalir di sela-sela betisnya. Rasanya ia tak kuat berdiri, pandangannya mulai mengabur, hingga akhirnya…

Gilang terkejut melihat keadaan Helen. “Tante, tolong berhenti. Helen pendarahan.” Tanpa berpikir panjang Gilang berteriak membuat Linda terperangah tak percaya. Ia yang membatalkan janji dengan temannya dan berniat untuk pulang ke rumah, terpaksa berbalik menghampiri Gilang yang kini memangku kepala Helen.

 

1
DewiKar72501823
kok rada bingung ya ak..bab di atas orang tua Faiq n Adi sahabatan..pas di restoran Faiq sudah tau klo Adi mantan suami Hani, di sini kok masih bertanya klo yg lg bersama anaknya siapa?? piye Iki Thor monitor
tri sutami
faiq tellu lembek.. mending adi.. cma 1x dia khilaf.. ini brkli2 knpaa di maafin
Khairul Azam
bener bener ini novel otornya sok baik. anak dihina begitu diem aja gak ada pembelaan. baik sih boleh tapi harus tau mana yg perlu dibaiki dan mana yg nggak patut untuk dibaiki.
Khairul Azam
ini ni yg gak aku suka dinovel ini, ara gak pernah balas ucapan kasar dr orang yg sudah kasar sama dia. baik boleh tp klo sudah ngomkng kasar balas lah.
Khairul Azam
semua bilang bersatu bersatu trs klo mereka mengalami apa yg dirasaakan ara masih kah mereka bilang bersatu.
Khairul Azam
aku pun jg gak ada simpati sama sekali sama ivan.
Khairul Azam
emang bener sih ivan terlalu meremehkan ara. coba kalo anaknya bryan gak ninggak gak mungkin dia nyari ara.
Khairul Azam
orang pokigami itu pada dasarnya gak ada yg bahagia, yg bilang ikhlas ikhal dipoligami itu hanya sekedar menghibur diri nya sendiri, banyak yg tau agama yg poligami bilang adil dan khlas itu bohong mereka laki lakinya hanya memuaskan nafsunya saja memanjakan slangkangan mereka aja..
Khairul Azam
menjijikan mau balikan manusia manusia sampah
Khairul Azam
menjijikan ivan
Marni Marni
màsa lalu ivan mungkin buruk, tp jujur melihat kesungguhan dan penyesalan ivan saya lbh suka rara kembali sama ivan, biarkan anak" nya mendapatkan kasih sayang dr ayah kandungnya, setiap manusia bs berubah utk menjadi lbh baik
Bundanya Pandu Pharamadina
terimakasih sudah di ijinin baca Marathon TAMAT MBAK Author, semoga kita semua selalu di beri sehat, Aamiin 🤲
Bundanya Pandu Pharamadina
Masya Allah semoga apa yg di harapkan terqobul Ivan Khaira
Bundanya Pandu Pharamadina
adik kakak ipar rukun harmonis
❤❤❤❤
almarhum Adi, Tariq ,Hani ,pastinya bahagia
Bundanya Pandu Pharamadina
Khaira... ayo semangat dan jemput kebahagiaan mu(Khaira)
Bundanya Pandu Pharamadina
sehidup semati.
❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Andai dan andai terus Fariq, lenggah dan mudah tertipu mah iya jadi suami
Bundanya Pandu Pharamadina
Alhamdulillah Faiq sadar
Bundanya Pandu Pharamadina
Hani kamu juga harus tegas dan bila perlu ulat bulunya tumpas pakai sianida, Faiq bikin mak mak pengen ngetok pake palu biar sadar di Faiq
Bundanya Pandu Pharamadina
yg tegas dong lakinya, jangan ya ya aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!