NovelToon NovelToon
Pernikahan Dalam Perjanjian

Pernikahan Dalam Perjanjian

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:704.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: Imelda Agustine

Naya dan Brama terjebak dalam perjodohan, mau menikahi Naya hanya karena sebuah perjanjian.

Brama : "Aku tidak mengijinkanmu untuk menyukaiku, karena itulah aku menikahimu."

Naya : "Tapi aku sudah menyukaimu."

Brama : " Hapuslah!"

AKU TIDAK MUNGKIN MENYUKAI BOCAH SMA SEPERTIMU, SUNGGUH BUKAN TIPEKU. - Brama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kacamata

Brama sedang menekan pelipisnya, tak hentinya bertanya-tanya.

"Aku salah apa, sih?" gumamnya bingung, namun ia berpikir kembali. "Terus kenapa memangnya kalo dia marah, kenapa aku harus mikirin dia sih."

Brama menggelengkan kepalanya, bingung. Ilham yang berdiri disampingnya juga ikut bingung.

"Apa Tuan sedang ada masalah?" tanya Ilham, penasaran.

"Ya, si Bocah itu pagi-pagi buta berangkat ke sekolah. Aku tahu dia rajin tapi kan tidak mungkin sampai segitunya."

"Apa Tuan telah melakukan salah?" tebak Ilham, membuat Brama tercengang.

"Kenapa kamu juga menanyakan hal itu sih? Aku bahkan tidak tahu salahku apa."

Ilham terdiam sejenak. "Ya, mungkin Nona tersinggung karena sesuatu."

Seketika Brama teringat. "Ah iya, apa mungkin dia tersinggung karena kata-kataku, ya? Tapi dia memang bodoh sekali." sahutnya berpikir. "Tapi gak mungkin kayaknya."

"Apa tidak sebaiknya Tuan tanyakan langsung saja kalau begitu?" Ilham memberikan solusi, karena melihat Tuannya semakin bingung saja.

"Hm, kamu benar tapi.." tentu Brama merasa malu. "Kita jemput dia pulang sekolah aja nanti."

"Baiklah Tuan."

****

Kini Brama sudah berada di depan gerbang sekolah Naya, tepat dimana Naya sudah keluar dari gedung sekolahnya.

"Ham! Itu dia sudah pulang, kamu samperin dia sana!" pinta Brama pada Ilham.

"Baik Tuan."

Segera Ilham menghampiri Naya, menyuruh agar gadis itu mengikutinya masuk kedalam mobil.

"Nona." sapa Ilham, dan Naya menoleh.

"Kak Ilham." sambut Naya tersenyum.

"Saya kesini untuk menjemput Nona, bersama dengan Tuan Bram." ucapnya memberitahu.

Seketika Naya berubah cemberut, tak ada semangat. Segera gadis itu mengikuti langkah Ilham memasuki mobil.

Membungkuk memberi hormat terlebih dahulu pada Brama sebelum ia duduk tanpa suara.

"Kak Ilham cocok banget deh pake kacamata itu." puji Naya, pada kacamata model baru yang dipakai Ilham.

Ilham jadi malu. "Terimakasih Nona." balasnya.

Brama yang mendengar itu merasa sangat risih, ketika mobil melaju. Brama minta dihentikan didepan supermarket terlebih dahulu.

"Belikan minuman dingin dua!" pinta Brama.

"Baik Tuan." sahut Ilham, ingin beranjak pergi.

"Aku tidak menyuruhmu." cegat Brama, dan Naya tahu itu.

Naya hanya menoleh tanpa berkata, ia langsung beranjak keluar mobil dan masuk supermarket untuk membeli dua minuman dingin disana.

"Huh, dirumah kan ada minuman dingin. Dia juga bisa menyuruh pelayan untuk membuat jus atau apalah. Kenapa harus menyuruhku sih." gumam Naya, kesal.

Sedangkan Brama yang berada didalam mobil menatap kesal pada asistennya, Ilham.

"Buka kacamatamu!" pintanya dengan nada dingin.

"Kacamata Tuan?" ulang Ilham, tak percaya.

"Apa harus ku ulangi?" Brama bertanya balik dengan nada kesal yang kental.

Mendengar itu seketika Ilham langsung gugup, segera mencopot kecamatanya lalu ia berikan pada Brama. "Memangnya untuk apa Tuan?" tanya Ilham memberanikan diri.

Tanpa menjawab, Brama membuka kaca mobil sedikit lalu melemparkan kacamata milik Ilham tersebut. "Kacamata itu sangat jelek untukmu, mulai besok pakai kontak lensa saja untuk menjernihkan pandanganmu!"

"Baik Tuan." Ilham tak ada pilihan lain selain meng-iyakan saja, temperanmennya yang buruk membuatnya ngeri sendiri.

Cinta memang membuat orang jadi bodoh ya, pikirnya begitu heran.

Setelah selesai membeli minuman, Naya kemudian masuk membaik kedalam mobil lalu memberikannya pada Ilham.

"Aku yang minta, kenapa kamu memberikannya pada Ilham?" tanya Brama heran.

Segera Ilham memberikan lagi pada Naya. "Ini Nona." ucapnya seraya berbisik, ngeri.

"Maaf mas." ucap Naya, menyodorkan dua botol minuman kedepan Brama. "Ini minumannya."

"Aku sudah tidak mau, berikan saja pada Ilham!" ucapnya tanpa menoleh, membuat Naya jengkel dan mengomel tanpa bersuara.

Ilham kemudian dengan sukarela mengambil minuman itu kembali lalu melajukan kembali mobil sampai kerumah.

Sesampainya dirumah, Brama meminta Ilham langsung pergi karena ini masih sore hari dan ia bisa langsung pergi ke apotik untuk membeli kontak lensa.

Sedangkan Naya seperti biasa melayani suaminya dengan suka rela, tapi kali ini tanpa disuruh bahkan Naya tak mau memprotes atau mengucapkan satu patah katapun.

Sekalipun Brama menyuruhnya bermacam-macam.

"Dia itu kenapa sih?" gumam Brama bingung.

****

Naya kembali belajar seorang diri di meja ruang tengah, dan Brama bersiap untuk menemuinya.

Kali ini ia mencoba mengenakan kacamata, menghadap pada cermin.

"Dilihat darimanapun, tetap aku yang paling oke." ucapnya penuh percaya diri.

Lalu kemudian ia melangkah menghampiri Naya, duduk didepannya.

"Bisa ngerjain soalnya? Perlu aku bantu, gak?" tawar Brama, sembari membenarkan kacamatanya. Berharap Naya memperhatikannya.

"Gak usah, bisa kok." sahutnya, tanpa memperhatikan Brama.

Brama berdehem, kemudian pura-pura batuk. "Bisa ambilin aku air, gak?" pintanya.

Naya menghela nafas, tanpa banyak bertanya langsung ke dapur mengambil air putih lalu ian berikan pada suaminya. "Ini mas." ucapnya.

Namun segera ia mengemas buku, berhenti untuk belajar.

"Loh, udah belajarnya?" tanya Brama lagi, heran.

"Naya mau pergi tidur aja." sahutnya, kemudian langsung masuk kamar.

Brama jadi berdecak sebal, melepas kacamatanya lalu melemparkannya begitu saja. "Argh! Kenapa sih." mengacak rambutnya frustasi.

Lalu kemudian Brama mendapat panggilan telefon dari asistennya, Ilham.

"Apa? Ku harap ini penting ya!" sahutnya diimbuhi dengan nada ancaman.

"Begini Tuan, saya lupa memberitahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Nona. Mungkin karena itu Nona moodnya jadi tidak bagus."

"Kenapa kamu baru ngasih tau, sih?" dengusnya, sebal. "Terus, apa yang harus ku lakukan?"

"Kalau menurut saya, sangat bagus jika membawa Nona keluar. Ucapan Tuan adalah hadiah terbesar untuknya."

"Ya, kamu benar. Baiklah." Segera Brama menutup panggilan teleponnya dan segera ke kamar memanggil Naya.

****

Kamsamida :*

1
Anisa Febriyanti
ko cuman sampe efisode 37 sih padahal ceritanya rame, :(
Siti Halimah
semangat
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel. upthor
Arikaa Ubaidiah
Lumayan
Khusnul Khotimah
Thor knp ceritanya ngambang gini , lnjut dong Thor gimana hubungan Naya dan Brama selanjutnya...moga mereka bisa hidup bersama bahagia selamanya... semangat terus ya thor
Purnita
seru thor aku makin meleleh neh lanjut kan thor 👍🏻😘
Siti Jubaedah
semangat....author.....
Wiwin Wiwin
👍👍👍
Rosari Nan
ini mn sih klnjtanya
Nur Halimah
tterusin cerita nya
Nur Halimah
lanjutkan lagi cerita nyA biar jelas
Selviah Selviah
mungkin aku suka nanti
zia kinara
ko ga da klanjutannya ya,,
arfan
up
Mishbah Ando Ibang
endingnya?.... tdk jelas
FUZEIN
Nah....tak jadi baca.....sakit jiwa raga..kalau syok baca...tapi menghilang...
Diana Mansiu
lanjutkn ya ceritanya
Sriamul Sbc
Lo kok....... lanjutannya mana?
Gilang Ayyash
2 tahun tk berlanjut.....sesaaaaattttt
Virginia Maniku
ngak azyik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!